
Baru saja akan melangkahkan kaki, Ayesha menatap ke ruang ICU. Dia menatap ke ruang kaca itu, terlihat sosok wanita yang sedang terbaring lemah dengan selang infus yang masih terpasang dihidungnya.
Ya... Indri, wanita yang disebitnya mama itu masih belum membuka matanya.
Ayesha mendekatkan wajahnya ke arah cermin pemabatas ruangan itu, menyandarkan keningnya ke cermin itu sambil memejamkan matanya. Buliran air mata itu membasahi pipinya. Sedih, itu yang dirasakannya saat ini. Namun, rasa itu tertahan dan terasa sesak didadanya.
"Aku janji ma, mama akan segera dioperasi dan aku akan selalu lakukan yang terbaik untuk mama". Gumamnya lirih. Perlahan dia mengangkat wajahnya, menghembuskan nafas beratnya. Kemudian pergi dari tempat itu.
***
Ayesha telah sampai ditempat tujuan yang diberikan oleh Victory. Wajahnya melihat sekeliling gedung tinggi dihadapannya. Kemudian melangkahkan kakinya dengan cepat ke dalam lift yang baru saja terbuka.
Seketika sosok lelaki didalam lift itu menatapnya "Ayesha?" sapa Victory.
"Victory?" dia terperanjat memperhatikan lelaki yang dihadapannya.
"Untung kau datang tepat waktu. Ayo aku akan mengantarkanmu ke ruangan CEO perusahaan ini," Victory mengajak Ayesha bersamanya menemui Abimana.
Victory mengetuk pintu ruangan itu.
"Masuk," jawab seseorang di dalam sana.
Victory membuka pelan pintu ruangan itu "permisi pak, saya mau mengenalkan seseorang pada anda," jelasnya sambil mengajak Ayesha mendekat.
Abimana menegakkan kepalanya yang sedari tadi masih memperhatikan file dimejanya. Dia melepaskan kacamata yang bertengger dihidungnya sambil memperhatikan dua orang dihadapannya.
"Silakan duduk. Siapa yang kau bawa ini Victory?"
Victory mengajak Ayesha duduk bersamanya dan mengenalkan wanita yang berasa disebelahnya "perkenalkan, ini temanku Ayesha."
__ADS_1
Ayesha mengulurkan tangannya "Saya Ayesha Klarisa," ucapnya dengan senyum ramah.
Abimana menyambut uluran tangan gadis itu.
"Jadi begini pak. Maksud saya datang kesini bersama Ayesha mau meminta persetujuan bapak, karena untuk beberapa bulan ke depan sekretaris kantor kita yang bernama Adriana sedang cuti melahirkan jadi saya bermaksud mengajak teman saya untuk menggantikan posisinya," jelas Victory.
Abimana menganggukkan kepala tanda mengerti " apa kamu membawa file lamaranmu?" tanyanya dengan tatapan intens pada Ayesha.
"Ini pak, saya sudah mempersiapkannya," ujar Ayesha sambil memberikan berkas lamarannya.
Abimana menerima file tersebut kemudian membacanya dengan perlahan. Setelah membaca dan memahami isi file yang diberikan Ayesha, Abimana tertarik dan menyetujuinya.
"Baiklah, setelah membaca profilemu saya rasa saya tertarik untuk bekerjasama dengan anda," jawab Abimana tegas.
"Benarkah? Jadi saya bisa bekerjasama di perusahaan ini pak?" tanya Ayesha masih belum percaya.
"Iya. Anda diterima di perusahaan ini," tegas Abimana lagi.
"Selamat Ayesha," ujar Victory memberikan semangat padanya.
***
Hari yang dinantikan pun tiba. Turnamen segera digelar. Tampak para pemain basket dan siswa telah hadir di acara itu.
Vico dan teamnya gloria bersiap untuk memulai pertandingan berhadapan dengan team Dynemo. Peluit dibunyikan oleh wasit, Vico telah menggiring bola, team lawan bersiap untuk menghadang, Vico memutarkan badannya untuk menghindari serangan lawan kemudian mengoper bola pada David. Disambut baik oleh David yang berada di dekat ring dan dia berhasil mencetak angka. Satu point telah tercipta untuk gloria.
Team lawan menatap mereka dengan sinis, tak mau kalah dan menghalangi agar team gloria tidak bisa mengambil bola. Namun bola berpindah tangan ke kapten team Dynemo dengan wajah dinginnya dia memainkan bola ditangannya yang lihai menggiring bola, tak ingin berbagi, masih menggiring bola itu hingga ke ring basket lawan dan dia berhasil memasukkan bola itu ke ring basket. Point jadi satu sama.
Wasit membunyikan peluit, pertanda waktu istirahat. Pelatih memberikan minum kepada mereka. Sambil membiarkan mereka beristirahat coach memberikan pengarahan untuk mengatur stragi menghadapi lawan.
__ADS_1
Sepuluh menit telah berakhir mereka melanjutkan permainan.
Vico dan teamnya meneriakkan yel-yel mereka kemudian bertanding lagi. Kali ini team lawan terlebih dulu mengambil bola dan menggiring bola ke ring basket mereka dengan sigap Richard menghadang mereka kemudian merebut bola dari tangan pemain itu dan menggiring bola basket. Beberapa saat diapun telah berada di depan ring, diapun bersiap melompat untuk memasukkan bola basket. Namun, kali ini lawan bermain curang di menciderai kaki Richard dan mengambil alih bola. Seringaian itu terlihat dari wajahnya ketika melihat Richard meringis kesakitan, Lexy yang melihat kejadian itu tidak tinggal diam, dia merebut bola itu dan mengopernya pada Vico, diapun melempar di luar garis lengkungan yang ditandai mengelilingi ring basket. Satu lemparan yang masuk dengan sukses memberikan tiga point. Merekapun meraih kemenangan.
Senyum kebahagiaan terpancar dari Vico dan teamnya saat memenangkan pertandingan. Semua siswa bersorak gembira melihat kemenangan mereka tak lupa coach juga memeluk mereka dengan penuh kebahagiaan.
Pertandingan telah selesai. Vico masih mencari-cari wajah seseorang yang dia rindukan untuk hadir diacara itu, namun dari sejak awal pertandingan hingga usai pertandingan wajah itu tidak muncul, justru yang hadir seseorang yang tidak diharapkan. Siapa lagi kalau bukan Lyora?
Dengan penuh semangat dan kegembiraan gadis itu mendatangi Vico "wah Vico keren banget tadi mainnya. Salut gue liatnya," ujarnya sambil mengelap keringat Vico dan memberi minum padanya.
Sontak saja teman-teman Vico meledeknya. Membuat Vico meras kesal dan menghembuskan nafas berat sedikit menjauh dari suara berisik teman-teman yang menggodanya.
Lyora tetap menghampiri Vico. Vico menatapnya tajam "apa-apaan sich lo. Norak banget."
"Udahlah Vic, ga usah marah-marah gitu. Santai aja lagi. Gue ke sini baik-baik kok. Cuma mau kasih ucapan selamat buat lo," ucap Lyora sambil menaikkan bibirnya menatap Vico.
"Bisa ga sekali aja lo ga ganggu gue!!!, ga selalu ngintilin gue!!!, ga dekat-dekat sama gue!!!" dengan ekspresi kesal dan nada bicara yang ditekan dilontarkannya pada Lyora.
"Ga!!! Gue ga bisa!!!" tantang Lyora padanya sambil memajukan wajahnya ke arah Vico.
"Aaarghh," teriak Vico sambil mengusap kasar wajahnya.
Dia benar-benar ingin sekali memarahi gadis itu karena selalu saja mengambil kesempatan untuk selalj berada didekatnya.
"Vico. Harusnya lo tu seneng karena gue selalu setia sama lo. Lagian apa susahnya sich kalo lo kasih kesempatan buat gue?" Harapnya sambil mengeucutkan bibkrnya melihat Vico.
"Kesempatan? Cewe jahat kaya lo ga pantes dikasih kesempatan, harusny lo ngerti gue ga pernah punya perasaan apapu sam lo!!!" tegas Vico padanya.
Lyora menatapnya dengan penuh amarah. "Dengar baik-baik Vico suatu hari nanti lo bakal meminta gue buat jalan sama lo. Dan lo bakal lupain yang namanya Silvi!!!" ujarnya dengan nada mengancam kemudian meninggalkan Vico.
__ADS_1
Lyora cukup tersinggung dengan ucapan Vico tapi dia tidak mau perduli dan tetap bersikukuh dengan obsesinya untuk mendapatkan Vico. Meskipun selalu dihadapkan dengan penolakan berkali-kali, dia tidak perduli. Dia yakin sekali bisa mendapatkan hati Vico apapun caranya.