
Hans, Riana dan Vico duduk dibangku taman dekat pakiran kantor polisi. Hans menghembuskan nafas menatap ke arah langit.
"Ga nyangka, ternyata Farel bisa sejahat itu"
Riana menoleh padanya.
"Ya, aku juga ga percaya dia sebucin itu sama Lyora. Sampai berani mencelakakan sepupunya sendiri".
Hans manganggukkan kepalanya. Sementara Vico masih diam, bingung dengan situasi yang terjadi.
"Vico, kamu mau bilang sesuatu sama Hans ga?" tanya Riana.
Vico menatap kedua orang yang berada didekatnya "Hans, makasih ya udah bantu kita buat menyelesaikan masalah Silvi. Kamu juga Ri, makasih banget untuj semua ini," Vico mulai bersuara.
Riana tersenyum menatap Vico sambil mengangguk.
"Udah seharusnya begitu. Kita kan teman," ujar Hans sambil menepuk pelan bahu Vico.
"Iya. Cuma..." ucapan Vico terhenti sesaat.
"Kenapa bro?" tanya Hans bingung.
"Ahmm gimana ya cara ceritanya. Gue bingung mau cerita dari mana?" Vico sedikit gugup dan frustasi.
"Coba lo ngomong yang jelas, tenangin pikiran lo, tarik nafas, buang, terus lo cerita sama kita," bujuk Hans padanya.
"Hans, gue udah salah sama Silvi," Vico menundukkan kepalanya menatap tanah.
"Oh. Masalah Silvi. Tenang bro, kita tunggu aja dulu kondisi Silvi membaik. Nanti kita liat perkembangannya. Kalau emang lo mesti mempertanggung jawabkan perbuatan lo, ya sebagai cowo lo harus gentle didepan ortunya". Hans mencoba menenangkan Vico.
"Masalahnya, apa om Adi dan tante Marinka bisa terima gue? Secara gue cuma anak sekolahan yang hidupnya pas-pasan. Mesti kerja keras jadi montir bengkel supaya bisa bertahan. Silvi, dia pasti udah biasa hidup serba berkecukupan. Apa nanti mereka mau terima gue?"
"Kalau itu gue ga bisa pastiin,tapi kalau emang sesuatu yang buruk terjadi. Misal Silvi hamil." ujar Hans sambil memberi kode dengan kedua jari tangan kanan dan kiri
Mau ga mau lo harus tanggung jawab"
"Iya. Cuma gue rada serem aja sama om Adi. Tadi aja Farel sampai ditampar dan dijeblosin ke penajara gitu. Nanti apa jadinya gue?" lirih Vico.
"Udah bro, lo ga usah takut. Gue kenal kok sama om Adi nanti gue coba bujuk dia dech buat urus si Farel," Hans mencoba menenangkan lagi.
Vico menghela nafas berat. Ada rasa takut, tidak siap menjalani semuanya jika keadaan terburuk itu benar terjadi.
Jangankan menjalaninya, baru membayangkan saja dia merasa takut.
"Btw gue heran kenapa om Adi bisa sampai ke kantor polisi begitu cepat, jangan bilang lo yang ceritain ini ke om Adi," Vico menebak pertanyaan yang berada dalam hatinya semenjak Adi Leonardo murka di kantor polisi.
__ADS_1
"Ya gue yang kasih tau, karena dia orang tua Silvi dan gue rasa dia berhak tau apa yang udah dilakukan Farel ke anaknya," Hans mengakui perbuaatannya.
"Tapi kamu juga bilang mengenai masalah Vico dan Silvi?" tanya Riana suaranya tercekat ditenggorokan takut Vico tersinggung akan ucapannya.
Tiba-tiba wajah Vico menjadi tegang mendengar ucapan Riana.
"Ga kok. Aku cuma bilang sama om Adi kalau Farel di kantor polisi karena kasus obat terlarang," jelasanya.
Riana dan Vico bernafas lega mendengar penjelasan Farel.
***
"Akhirnya sampai juga. Melelahkan sekali," Ayesha merebahkan tubuhnya dikasur empuk apartemennya.
Perjalanan 6 jam lebih dari Jakarta ke Australia cukup melelahkan baginya.
Ayesha mengambil handphonenya yang berada di sakunya, mendial seseorang.
"Halo, dokter. Bagaimana perkembangan kondisi mama?"
"Nona Ayesha. Ibu anda sudah melewati masa kritisnya dan sekarang kami sedang memindahkannya ke ruang perawatan," ujar seorang dokter dari rumah sakit.
"Baiklah, aku baru saja sampai di Australia. Mungkin besok aku akan menemui mama ke rumah sakit"
Victory menyeruput kopi hangatnya dan matanya masih memandangi laptonya dengan serius. File-file pekerjaannya begitu menumpuk membuatnya harus mengerjakan semua sendiri karena Reynold masih menikmati masa liburannya.
Handphonenya berdering ada panggilan masuk. Victory menekan tombol hijau pada layar handphonenya,
"Halo"
"Hai, apa aku mengganggu istirahatmu," sapa Ayesha di seberang sana.
"Oh ternyata kamu, ada apa Ayesha?" wajah pria itu langsung berubah menjadi rilex dan mengukir senyuman dibibirnya.
"Victory, setelah aku pikir kembali aku rasa aku akan menerima tawaranmu untuk bekerja di Leonardo Group sebagai sekretaris".
"Wah, itu kabar bagus. Ya sudah aku akan kirimkan shareloc padamu supaya kamu besok mudah menuju ke perusahaan. Atau apa perlu aku menjemputmu?" tukas Victory pada wanita itu.
"Tidak usah aku akan pergi sendiri ke sana, karena seblumnya aku harus menemui ibuku," jawab Ayesha dengan nada lembut.
"Ya sudah kalau begitu aku tunggu ya"
"Baiklah, terimakasih ya. Kau baik sekali Victory"
"Sudah seharusnya begitu. Kita kan berteman"
__ADS_1
Pembicaraan merekapun berakhir.
***
Silvi merasa mulai baikan, karena seharian dari pulang sekolah dia hanya tidur. Tubuhnya terasa lelah setelah melalui semuanya.
Kreekk...
Pintu kamar Ayesha terbuka dan menyembul wajah sang papa dari balik pintu tersebut.
"Anak papa sudah bangun?" tanya Adi menghampiri anak perempuannya.
"Udah pa," jawabnya singkat.
"Bagaimana keadaan kamu nak? Apa kamu udah enakan? Papa dengar dari mama kamu sakit"
"Cuma cape aja pa"
"Putri papa, sini nak papa mau kasih tahu sesuatu sama kamu," Adi duduk di tepi kasur anaknya dan menyuruh Silvi mendekat padanya.
"Ada apa pa?" tanya Silvi sambil mendekatkan dirinya pada papanya.
"Papa udah dengar semua kejadian yang menimpa dirimu dipesta ulang tahun temanmu. Maafkan papa dan mama belum bisa menjagamu dengan baik," Adi mengusap kepala anaknya dengan lembut.
Silvi hanya menunduk menahan air yang akan keluar dari pelupuk matanya.
"Papa tidak menyangka ternyata sepupumu sendiri yang menjebakmu bersama satu orang teman sekolahmu," sambung Adi menjelaskan pada Silvi.
"Maksud papa kak Farel?" tanya Silvi kembali.
"Iya nak. Farel dan Lyora yang menjebak kamu."
Silvi terhenyak mendengar penjelasan papanya. Rasanya masih tidak percaya kalau saudaranya sendiri dan teman sekelasnya tega melakukan semua itu padanya, kenapa mereka menghancurkannya padahal selama ini Silvi tidak pernah mempunyai masalah dengan mereka.
Adi sangat mengerti dengan perasaan anaknya saat ini dia hanya mengusap kepala putrinya dengan lembut dan menatapnya lembut.
"Terus sekarang bagaimana pa?" tanya Silvi kembali
"Papa sudah menjebloskannya ke penjara. Biar dia mempertanggungjawabkan kesalahannya disana," ujar Adi dengan tegas.
"Tapi pa, apa tante Farah dan om Johan sudah tahu anaknya di penjara?" Silvi mendongak ke atas memperhatikan papanya.
"Sepertinya mereka belum tahu, tapi kemungkinan mereka akan segera mengetahuinya" jelas Adi sambil berdiri.
Di luar sana terdengar suara ribut-ribut sepertinya ada orang yang baru saja mendatangi rumah Adi Leonardo. Siapa lagi kalau bukan Johan Leonardo dan istrinya Farah yang tak lain adalah orang tua Farel. Mereka sengaja datang ke sana untuk membicarakan masalah putra mereka yang sedang berada di penjara.
__ADS_1