Menikah Dini

Menikah Dini
Break Up


__ADS_3

Tepat pukul sepuluh pagi kedua orang tua Reynold dan juga Lyora telah sampai di Australia. Mereka sudah tidak sabar untuk bertemu dengan Reynold untuk mengetahui keadaannya.


Flassback On


Sebelum memutuskan untuk berangkat ke Australia, Lyora bertemu dengan Farel di sebuah cafe yang sering mereka kunjungi.


"Tumben Ly, kamu ajak aku ketemuan. Biasanya yang pertama kali ngajak pasti aku," Farel baru saja menyesap minuman cola yang ada dihadapannya.


"Hm, sebenarnya aku ke sini mau omongin sesuatu sama kamu."


"Ya, silakan utarakan aja isi hati kamu."


"Aku... aku mau nanya serius sama kamu. Sebenarnya kamu cinta ga sich sama aku Rel?" netra kecoklatan dari gadis itu kini menatap ke arah Farel.


"Kenapa? Tiba-tiba kamu nanya gitu? Emangnya penting buat kamu tahu tentang perasaan aku?" lelaki itu menjawab sekenanya.


Merasa selama ini diabaikan dan dimanfaatkan oleh Lyora, Farel mulai malas membicarakan keseriusan hubungan mereka. Lagi pula, sekarang sudah ada Winda yang mulai masuk ke dalam hatinya. Jadi tak masalah baginya Lyora masih mau meanjutkan hubungan ataupun tidak.


"Aku cuma mau mastiin aja, kamu masih mau hubungan kita tetap berlanjut atau ga,"


"Ly, jujur aja sebenarnya aku sayang sama kamu dan aku pengen hubungan kita berlanjut ke arah yang lebih serius, tapi aku rasa semua itu ga akan mungkin terjadi, karena kamu ga pernah menganggap aku sebagai orang yang kamu cintai. Kamu cuma datang ke aku kalau kamu butuh."


Kali ini lelaki itu menatap Lyora dengan intens. Dia masih berharap hubungan mereka masih bisa diselamatkan, namun terasa sangat sulit, karena dihati Lyora hanya ada Vico. Sekalipun tetap menjalani hubungan bersama Farel tetap tidak akan ada cinta diantara mereka. Parahnya lagi, menyakitkan jika hanya mencinta sendiri seperti yang dialami Farel saat ini.


"Farel, apa sebenci itu kamu sama aku?" tanya gadis itu lirih.


"Aku ga benci Ly. Lebih tepatnya aku kecewa sama kamu," Farel membuang padangannya sambil mengusap kasar rambutnya. Dia tidak ingin terlihat bersedih dihadapan gadis yang dia cintai.


"Maafin aku Farel, aku ga bermaksud mempermainkan perasaan kamu. Ya, harus aku akui pertama kali aku menerima kamu sebagai pacar aku, aku cuma pengen manfaatin kamu buat membantuku membully Silvi, tapi..." wanita itu menundukkan kepalanya sambil menautkan bibirnya.


Seakan ada suatu rasa yang tertahan disana. Ingin sekali dia mengungkapkannya, namun tidak mudah baginya mengungkapkan isi hatinya pada lelaki yang berada dihadapannya.


"Tapi apa Ly? Kenapa kamu ga lanjutin ucapan kamu?" selidik lelaki itu sambil menatap dalam netra Lyora.


"Ahm, udahlah lupain aja. Aku cuma mau jelasin aja ke kamu. Aku sengaja minta ketemuan sama kamu, karena aku mau pamit sama kamu."


"Apa? Kamu mau pamit? Emang kamu mau kemana?"


"Aku mau ke Australia, aku dapat beasiswa dan kemungkinan aku akan kuliah dan tinggal disana."

__ADS_1


Farel memundurkan tubuhnya dari meja tempat mereka makan. Sedikit terkejut, karena akan jauh dari Lyora namun dia tidak ingin terlihat perduli pada Lyora. Dia segera menghembuskan nafas berat lalu memasang wajah datar.


"Oh begitu. Selamat ya kamu bakal bisa wujudkan impian kamu," lelaki itu menyunggingkan senyum miring dibibirnya.


Lyora hanya menatap mata lelaki itu mencoba mencari tahu tentang rasa dihati lelaki yang berada dihadapannya.


"Cuma segitu aja? Kamu benar-benar udah ga perduli sama aku?"  Lirih gadis itu padanya.


Lelaki itu hanya diam tak mau menjawab lagi.


Melihat Farel yang tak bergeming sedikitpun, membuat Lyora merasa tidak perlu banyak bertanya pada Farel. Menurutnya sudah jelas jawabannya kalau lelaki itu tidak perduli padanya.


"Okay, aku udah dapatkan jawabannya. Makasih ya, aku pamit dulu," wanita itu beranjak dari tempat duduknya untuk segera pergi dari hadapan Farel.


"Tunggu," tiba-tiba saja Farel memegang tangan gadis itu. Membuat langkah kakinya terhenti. Dia hanya terpaku tak mampu berbalik. Farel masih tetap memegang tangan Lyora kemudian mendekat ke arah Lyora, dia membalikkan tubuh Lyora agar menghadap kearahnya dan dia memeluk erat tubuh ramping gadis itu.


"Kamu bakal kembali lagikan?" lirih Farel padanya.


"Aku ga tahu kapan aku bakal kembali lagi, yang pasti selama kuliah aku bakal tinggal disana, atau mungkin aku akan menetap disana," jelas Lyora sambil mengusap kepala Farel.


Sedikit merasakan ada harapan, jika melihat Farel yang memeluknya dengan cara seperti itu.


"Pasti, aku pasti bakal hubungin kamu, tapi hubungan kita bagaimana?"


"Aku udah ungkapin perasaan aku sama kamu. Hanya saja untuk melanjutkan hubungan kita, itu ga akan mungkin lagi," tukas lelaki itu sambil menggenggam erat jari jemari Lyora.


"Okay kalau begitu keputusan kamu. Aku ga akan bertanya lebih banyak lagi. Aku permisi mau pulang dulu."


Dadanya terasa sesak tidak tahu apa yang sedang dirasakannya, karena semakin ke sini dia baru menyadari ada rasa yang mulai tumbuh pada Farel, namun semua itu harus dipendamnya karena Farel telah memberikan jawaban pasti untuk hubungan mereka yaitu break up.


***


Flashback off


Baru saja sampai di pelataran rumah sakit, Lyora segera menghubungi Farel melalui video call.


Tidak perlu menunggu lama, panggilannya telah tersambung dan telah terlihat wajah Farel di seberang sana.


[ Hai Farel, aku udah sampai di Australia, hari ini aku mau jenguk kak Rey dulu]. Tampak dari layar ponselnya wanita itu melambaikan tangannya.

__ADS_1


Farel tersenyum simpul melihat wajah Lyora dari rekaman video itu.


[Cepat juga kamu nyampe ke Australia. Kamu berangkat sama papa dan mama,  gimana kabarnya?] 


[ Ini mereka ada didekatku]


Farel melambaikan tangan pada kedua orang tua Lyora dan menyapa kedua orang tua Lyora. 


[ Hai om? Tante] 


Keduanya tersenyum menyambut sapaan Farel.


[ Farel, aku cuma mau kasih tahu kalau aku udah sampai. Sekarang aku mau ke ruang inap kak Reynold. Udah dulu ya ngobrolnya]. 


Farel hanya tersenyum mendengarkan ucapan wanita yang sangat dia sayangi. Hingga akhirnya pembicaraan mereka terputus.


***


Dirumah sakit seorang perawat sedang membuka perban di kepala Reynold, karena luka di kepala Reynold sudah mengering dan tidak perlu mengenakan perban lagi. Perawat itu juga mengecek kondisi Reynold.


"Bagaimana tuan Reynold, apa anda sudah merasa lebih baik?"


"Iya suster, sudah lebih baik kok. Kepala saya juga udaha ga sakit lagi seperti kemarin."


"Baguslah kalau begitu. Tim dokter masih memantau kondisi pak Reynold. Jika memang masih ada keluhan kemungkinan kita akan melakukan city scan," jelas wanita itu sambil merapikan peralatan kesehatan yang dibawanya.


"Hm, baiklah suster."


Setelah selesai mengecek keadaan Reynold, suster itu segera keluar dari ruangan Reynold, baru saja dia membuka pintu ruangan itu.


Tiba-tiba Abimana, Lyora dan Safira telah berada dipintu masuk.


"Suster benarkah ini kamar pasien bernama Reynold.?" tanya Abimana pada perawat yang hendak keluar dari ruangan itu.


"Benar sekali pak. Silakan masuk, itu pasien lagi dibrankar." Jelas wanita itu sambil mengantarkan mereka ke arah Reynold.


"Reynold... kamu ga apa-apa nak?"


Safira yang melihat Reynold tidak bisa menahan perasaannya. Dia langsung memeluk putranya dengan penuh rasa sayang. Pelukan yang penuh kehangatan dan perlindungan dari seorang ibu pada anaknya. Dia tidak ingin sesuatu terjadi pada putranya.

__ADS_1


__ADS_2