
Hans masih memperhatikan Vico yang nampak kebingungan "Vic, lo mikir apa?
Vico menoleh kepadanya "gue bingung, kalau gue nikah secepat ini nanti Silvi bakal bahagia ga ya sama gue? Kan keadaan gue juga kaya begini," lirih Vico.
"Lo takut ga bisa biayain Silvi?" Hans coba menebak kegelisahan Vico.
Vico menganggukkan kepala pelan.
"Lo ga usah khawatir. Gue bakal bantu lo. Ini kartu nama perusahaan bokap gue. Kebetulan bokap gue tuch punya sowroom mobil. Nah kalau lo berminat, lo bisa datang ke perusahaan bokap gue. Nanti biar gue rekomendasiin dech,"
"Yang benar ni?"
"Iya, gajinya lumayan. Daripada lo kerja di bengkel ini masih bagusan ditempat bokap gue," jelas Hans padanya.
"Baiklah kalau gitu gue bakal pikirkan kembali,"
Vico sangat bahagia dengan ucapan Hans, seperti mendapat angin segar Vico yang tadinya lesu sekarang begitu bersemangat.
Setelah selesai memperbaiki mobil Hans, Vico menghubungi Silvi. Untuk mengajaknya bertemu. Dia mengambil handphonenya dari dalam tasnya.
"Halo Silvi"
"Iya Vico, ada apa?"
"Aku pengen ketemu, kamu sibuk ga hari ini?"
"Ga kok. Aku baru saja selesai mengurus papa."
"Kalau kamu ada waktu kita ketemu ditempat biasa ada yang mau aku omongin sama kamu."
Seperti biasa Vico mengajaknya ke danau tempat yang selalu mereka kunjungi saat janjian.
"Baiklah. Aku ke sana satu jam lagi."
***
Di ruang operasi lampu hijau sudah menyala, menandakan operasi telah selesai. Pintu ruang itu terbuka, seorang dokter telah keluar dari ruang operasi. Fredy dan Mila segera menemui dokter itu " dokter Raka bagaimana operasi anak saya?" tanya Fredy penuh harap.
"Maafkan saya dokter Fredy, kami sudah berusaha semaksimal mungkin tapi baby Shafa tidak bisa diselamatkan," dokter itu menjawab dengan sedih.
"Apa?!" dua orang yang berada dihadapan dokter Raka terlihat histeris. Berita yang disampaikan oleh dokter Raka membuat mereka bagai tersambar petir disiang bolong.
__ADS_1
"Iya, bayi anda telah tiada. Dia tidak mampu bertahan," tegas dokter itu kembali.
Seketika raut wajah Fredy dan Mila menyendu. Tangis mereka terpecah. Dokter Raka yang memperhatikannya menepuk pelan bahu Fredy. Menguatkannya.
Mila yang berada disamping Raka langsung menghamburkan diri ke dalam ruang operasi " Shafa, bangun nak... ini mama... bangun nak... kamu kuat. Shafa harus temani mama nak..!" Wanita itu terlihat histeris dan frustasi.
Dia memeluk tubuh mungil yang kini terlihat pucat dan dingin itu. Dia mengguncangkan pelan tubuh bayi itu berharap bayi itu akan hidup kembali. Namun tidak ada respon darinya. Wajahnya telah membiru, dia sudah tidak bernafas.
Fredy yang berada didekat Mila tidak bisa berkata apa-apa. Dia hanya bisa menangisi kepergian bayi berumur dua bulan itu sambil merangkul tubuh istrinya yang masih belum bisa menerima kenyataan.
Fredy benar-benar kecewa dan sakit hati. Dia tidak bisa menerima kepergian bayinya.
Semua ini gara-gara Marinka. Gara-gara aku mengikuti kemauannya yang tidak benar itu aku harus menerima hukuman ini. Tuhan telah menghukumku karena telah berbuat dosa dengan mengambil bayiku dariku," gumam lelaki itu dalam penyesalannya.
Dia benar-benar kecewa, karena uang suap dari Marinka telah membuatnya kehilangan bayinya. Harusnya dia tidak berpikiran pendek saat itu dengan menerima uang dari Marinka.
Hari telah berganti siang, untuk mempersingkat waktu Fredy segera mengurus biaya operasi dan biaya rumah sakit. Kemudian mengurus pemakaman anaknya. Fredy bersumpah sejak hari itu dia tidak akan pernah memaafkan Marinka dan akan menghancurkan keluarga Marinka.
***
Reynold dan Victory telah menyelesaikan proyek pembangunan Apartemen di Sidney, kali ini mereka sedang disibukkan dengan pertemuan mereka ke London.
"Iya, tadi pagi mereka baru saja memberikan jawaban atas email yang kita kirimkan. Katanya mereka tertarik untuk mengajak kita berbisnis dan mereka mau mengadakan pertemuan besok pagi di London," jelas Victory sambil melihatkan email balasan dari handphonenya pada Reynold.
"Baiklah, kamu persiapkan saja yang diperlukan untuk pertemuan besok," ujar Reynold padanya.
Seseorang mengetuk pintu ruangan itu, "masuk" tukas Reynold pada orang yang berada diluar sana.
"Maaf pak, saya mau memberitahukan dua hari lagi ada jadwal meeting di London. Apa bapak mau saya pesankan tiket pesawatnya sekarang juga?" Ayesha kini tengah berdiri diantara Reynold dan Victory.
"Iya Ayesha, kamu pesankan tiga tiket untuk keberangkatan kita besok," pinta Reynold pada wanita itu.
"Tiga tiket? Untuk siapa saja?" tanya Victory yang tampak kebingungan.
"Tentu saja buat aku, kamu dan Ayesha."
"Saya juga ikut pak?" tanya Ayesha mencoba meyakinkan apa yang dia dengar barusan.
"Iya kamu ikut, karena kamu pasti akan dibutuhkan untuk mempersiapkan pertemuan kita dan kita akan berada disana selama tiga hari. Kamu juga pesankan hotel terbaik untuk kita menginap ya," titah Reynold tanpa ada keraguan.
Wajah gadis itu terlihat sangat senang. Ke London? Itu memang salah satu impiannya yang ingin dipenuhinya. Tempat itu merupakan tempat yang sangat dia kunjungi dan secara tidak sengaja dia bisa pergi ke tempat itu. Pasti sangat menyenangkan.
__ADS_1
Saat kembali kerumahnya, Ayesha langsung menemui ibunya. Untung saja saat ini keadaan ibunya sudah membaik jadi Ayesha tidak merasa takut meninggalkan ibunya. Ditambah lagi ada ART yang siap membantu untuk memenuhi keperluan ibunya.
"Bu, aku mau bicara," ujarnya pada Indri saat menghampiri ibunya yang sedang berada ditaman depan rumahnya. Terlihat sang ibu yang sedang menyirami tanaman bunga kesayangannya. Indri memang menyukai tanaman hias, makanya Ayesha sengaja membelikan beberapa tanaman hias untuk ibunya itu agar ibunya tidak merasa bosan dirumah saat Ayesha tidak menemaninya.
Indri meletakkan alat penyiram tanamannya kemudian menghampiri Ayesha dan duduk bersamanya.
"Iya nak, ada apa?" tanyanya sambil memperhatikan wajab putrinya.
"Bu, besok pagi aku bakal berangkat ke London, ada meeting bu."
"Kamu perginya sama siapa nak?"
"Aku pergi sama pak Reynold dan pak Victory."
Victory? Saat mendengarkan nama itu Indri terperanjat.
Dia sangat kenal dengan nama itu, orang itulah yang telah membantunya untuk membiayai operasi dan perawatan di rumah sakit. Indri juga sangat menyukao pemuda itu karena dia sangat sopan dan baik padanya.
"Oh, nak Victory yang udah membantu ibu itu?" ingatnya kembali.
"Iya bu, pak Victory yang udah membantu aku bisa mendapatkan pekerjaan di Abimana Group dan juga sudah membayarkan pengobatan ibu," wajah gadis itu terlihat sangat bahagia saat menceritakan tentang Victory.
"Iya sudah kalau kamu perginya dengan dia ibu ga bakal khawatir dan pastinya ibu ijinkan," jawab Indri penuh semangat.
"Iya bu, makasih ya udah mengijinkan aku pergi," Gadis itu kini memeluk ibunya dengan hangat.
"Ayesha, kalau ibu ingat-ingat kembali, Victory itu baik banget ya. Dia juga pemuda yang sangat sopan," pancing Indri pada anaknya.
"Iya bu, dia memang baik."
"Oh ya, apa dia sudah menikah?" cecar ibunya kembali.
"Kenapa ibu bertanya seperti itu?."
"Iya, kalau ibu perhatikan sepertinya pemuda itu menyukaimu, dan ibu rasa tidak ada salahnya kalau kami mendekatinya," ujar ibunya dengan tatapan penuh harapan.
"Bu, dia itu atasanku. Bagaimana mungkin aku bisa bersamanya. Dia pasti sudah punya level sendiri untuk gadis pilihannya," keluh Ayesha merasa enggan menjawab pertanyaan ibunya.
"Ibu ngerti kok, tapi kalau jodohkan siapa yang tahu? Cinta itu ga mengenal kaya atau miskin kalau udah punya perasaan suka sama seseorang semua kemungkinan seperti itu bisa ditepiskan," jelas Indri pada Ayesha.
Ayesha hanya tersenyum mendengar ucapan ibunya. Dia sangat memahami harapan ibunya yang menginginkan dia segera menikah, tapi kalau orang yang diharapkan sekelas Victory pasti sangat sulit baginya. Karena lelaki itu adalah atasannya. Selama ini Ayesha memang mengagumi lelaki itu tapi dia tidak mampu untuk mengungkapkan perasaannya. Disamping rasa malu sebagai wanita dia juga harus memantaskan diri dengan lelaki itu.
__ADS_1