
Ayesha bersama Victory yang mengantarnya ke ruangan kerjanya. "Selamat bergabung di Abimana Group. Mulai sekarang ruangan ini jadi milikmu. Ruanganku ada di sebelah kanan sana. Sedangkan yang di depan sana itu ruangan Presdir," jelas Lelaki itu pada Ayesha.
"Terimakasih Victory atas bantuanmu, aku bisa bekerja di perusahaan ini," mata wanita itu mulai berkaca-kaca karena merasa bahagia.
"Sudahlah. Kitakan teman, sudah seharusnya aku membantumu," Victory mengusap lengan wanita itu mencoba menenangkannya.
Handpone Ayesha bergetar ada panggilan masuk.
"Maaf Victory. Aku terima telpon dulu. Sepertinya dari rumah sakit"
Victory menganggukkan kepalanya tanda mengerti.
"Iya dokter, ada apa?"
"Maafkan saya Ayesha, apakah urusanmu telah selesai?. Ini sangat urgent mengenai ibu anda" jelas dokter Arfan padanya.
"Baik dok. Saya akan segera ke sana" jawabnya sekenanya.
Wanita itu memutuskan percakapan mereka.
"Ada apa Ayesha? Kenapa kamu gelisah seperti itu?" tanya Victory memperhatikan wajah kecemasan wanita yang berada didepannya.
"Dokter Arfan bilang ada masalah urgent tentang ibuku. Apa mungkin ibu harus segera di operasi?" Wajahnya terlihat panik dan sekarang dia mencemaskan ibunya.
"Ayo, aku antarkan kamu ke rumah sakit," Victory mengajaknya segera.
"Tapi, apa tidak merepotkanmu?"
"Sudahlah ayo cepat. Keselamatan dan kesehatan ibumu jauh lebih penting,"
Lelaki itu menggenggam tangan Ayesha kemudian bergegas mengajaknya ke mobil.
***
Dirumah sakit, "dokter bagaimana keadaan ibu saya?" Ayesha langsung masuk ke ruangan tempat dimana ibunya sedang terbaring lemah tak berdaya.
"Iya Ayesha. Ibumu harus segera di operasi, kamu urus administrasinya secepatnya," pinta dokter itu.
__ADS_1
Ayesha terhenyak, permintaan dokter itu membuatnya menjadi dilema. Disatu sisi dia ingin ibunya segera sembuh disisi lain, dia bingung bagaimana mencukupi biaya operasi dan pengobatan ibunya?.
"Ayesha, kenapa diam saja?" suara Arfan terdengar kembali.
"Dokter, segera lakukan operasi untuk ibunya Ayesha, biar administrasinya saya yang urus,"tukas Victory yang sedari tadi melihat Ayesha kalut.
Dan, sekali lagi lelaki itu telah membantunya. Ayesha heran mengapa lelaki yang baru dikenalnya itu sangat baik dan perduli padanya?.
Victory segera menuju ke ruangan resepsionis mengurus administrasi dan biaya operasi Indri wanita yang berada didalam sana.
Indri dipindahkan ke ruangan operasi dokter bedah dan petugas medis segera menuju ruang operasi. Mereka akan segera melakukan operasi besar. Ayesha mengantarkan Indri keruangan itu, saat di pintu masuk "ibu tunggu disini aja ya. Kami akan melakukan operasi terhadap ibu anda" ujar seorang suster mencegah Ayesha masuk dengan nada memberitahukan.
Ayesha paham dan dia hanya mematung menatap Indri yang perlahan menghilang dari pandangannya. Kini hanya terlihat pintu ruangan itu tertutup dan lampu hijau terlihat menyala pertanda sedang ada operasi besar didalam sana.
Victory merangkul tubuh mungil wanita itu, kemudian mengajaknya duduk. Ayesha terlihat khawatir, apakah operasinya akan berjalan lancar atau tidak? Hanya berharap ibunya segera melewati operasi itu.
Ayesha menatap lelaki yang bersamanya "Victory, kamu udah banyak membantuku hari ini. Bagaimana aku bisa membalas semuanya?" Wajah gadis itu menyendu.
"Kau tidak perlu membalasnya. Aku hanya membantumu. Dan aku ikhlas melakukannya," ujar Victory sambil menatap mata wanita itu.
"Kau sudah membayar banyak untuk administrasi dan biaya operasi ibuku. Bagaimana mungkin aku tidak menggantinya?" tanya wanita itu lagi.
"Tidak aku harus menggantinya. Aku akan menggantinya nanti. Mulai dari gaji pertamaku akan aku cicil setiap bulannya hingga uang yang kamu berikan terlunaskan," jelas wanita itu dengan sungguh-sungguh.
Tidak ingin mendebatnya Victory hanya menganggukkan kepalanya. Ada kekaguman dimata pria itu saat melihat kesungguhan Ayesha.
Rasanya dia benar-benar serius dengan ucapannya.
Sikapnya yang penuh kasih dan perhatian pada ibunya, membuat Victory teringat akan kedua orang tuanya. "Andai saja papa dan mama masih ada," gumamnya sambil menghembuskan nafas berat.
***
Silvi merasakan badannya tidak enak beberapa hari ini, membuatnya tidak bisa berangkat ke sekolah, tapi yang lebih membuatnya khawatir karena sudah satu minggu ini dia belum juga datang bulan.
"Ini kenapa kok telat ya?" gumamnya sambil mengusap pelan dahinya. Silvi merasa sedikit pusing dikepalanya.
Jelas saja dia bingung dengan keadaannya, karena seharusnya datang bulannya tepat waktu tapi malah telat satu minggu. Ditambah lagi beberapa hari ini dia suka makan coklat dalam porsi banyak dan minum susu.
__ADS_1
Apa mungkin sesuatu yang dia takutkan selama ini benar terjadi?
Tidak ingin berpikiran yang aneh-aneh Silvi langsung saja memanggil pak jono untuk mengantarnya ke apotek. Dengan langkah ragu dia menuju ke apotek dan sesampainya di depan, seoarang apoteker menyapanya " mbak ada yang bisa saya bantu?"
"Ahm, sa... saya mau..." Silvi menghentikan ucapan yang terbata, sambil berpikir.
"Mbak mau beli obat apa? Atau ada obat dari resep dokter yang bisa saya cek?" tanyanya lagi dengan senyum ramah.
"Saya... saya... mbak saya mau beli alat testpack," jawabnya sambil menundukkan wajahnya.
"Oh tespek bentar ya mba saya ambilkan," perawat itu bergegas mencarikan alat yang diminta Silvi.
Kemudian dia memberikan beberapa testpack untuk Silvi.
"Kenapa banyak sekali mbak?" Raut wajah Silvi bingung.
"Iya mba, untuk menguji tes kehamilan sebaiknya digunakan beberapa teskpek supaya bisa memastikan kehamilannya," jelas apoteker itu.
"Ya sudah saya beli tiga aja mba," Silvi mengambil alat itu dan membayarnya. Dengan sigap tangannya memasukkan alat tes kehamilan itu ke dalam tasnya agar tidak ada yang melihat apa yang sedang dibelinya. Kemudian kembali ke rumah bersama pak Jonk yang menunggunya.
Sesampainya dirumah, Silvi masuk kekamarnya dan langsung mengunci pintu kamar. Silvi membuka tasnya dan mengeluarkan alat uji kehamilan itu dari tasnya. Dia masih heran kenapa dia harus membeli alat itu? Konyol sekali. Belum tentu yang dipikirkannya itu benar. Karena dia merasa diakan cuma sekali melakukannya dengan Vico dan itupun tanpa disengaja. Kecil kemungkinan untuk hamil.
Silvi masih mondar mandir didepan meja kamarnya sambil menggigit pelan bibir bawahnya dan mengusap pelan dagunya. Dia tampak kebingungan dan merasa tidak yakin dengan pemikirannya.
Akhirnya setelah sepuluh menit mondar mandir tidak jelas dia putuskan untuk mencoba alat tes kehamilan itu.
Silvi ke toilet yang terletak di dalam kamarnya kemudian mencoba tespek yang dibelinya tadi. Dan setelah beberapa lama dia melihat hasilnya. Silvi benar-benar kaget tak percaya dengan hasil ketiga tespek itu. Semuanya sama-sama menunjukkan dua garis merah.
Apa!!! Benarkah yang dilihatnya barusan? Benarkah garis merah itu? Artinya dia hamil???
Silvi benar-benar panik dan bingung. Bagaimana bisa dia hamil dengan usia semuda ini? Sementara dia belum siap menjadi seorang ibu. Apa yang harus dia lakukan? Apa Vico akan bertanggung jawab?
Semua pikirannya bercampur aduk membuatnya panik dengan keadaannya saat ini. Dia benar-benar tidak percaya, bahwa karena satu kesalahannya dimalam itu berdampak besar untuk masa depannya. Silvi tidak pernah menduga semua akan terjadi padanya.
Silvi tidak mampu menahan dirinya diapun terjatuh. Badannya teras lemas tak berdaya. Dia meratapi dirinya yang malang.
Silvi mengusap air matanya kasar "alat ini, ga ada yang boleh tahu tentang alat ini ataupun kehamilanku," tangannya gemetar memegang ketiga alat tes kehamilan yang berada digenggamannnya.
__ADS_1
Dia berusaha bangkit agar bisa beranjak dari toilet. Sambil berpegangan ke westafle dia mencoba menguatkan diri untuk bangkit dan keluar dari toilet kemudian menyimpan tespek itu agar tidak ada yang menemukannya. Dia tidak ingin seorangpun mengetahui keadaannya saat ini.