
"Lepaskan tanganku Fabio, tidak ada gunanya aku disini. Lagi pula kau tidak membutuhkanku bukan?" wanita muda itu menatap tajam pada Fabio.
"Maafkan aku sayang, jangan marah padaku ya," bujuk lelaki paruh baya itu sambil memeluk tubuh mungil wanita muda itu.
Fabio memang jauh lebih tua dibanding Gueen, tapi Fabio masih terlihat tampan dan bugar, karena dirinya rajin berolah raga dan menjaga pola makannya.
"Tapi kau harus janji padaku jangan pernah menyebut nama wanita itu ataupun memikirkannya didepanku," pinta wanita itu dengan nada manja.
"Baiklah tapi jangan pernah meninggalkanku ya," ucap pria paruh baya itu padanya.
Setelah menenangkan Gueen pria itu langsung mengajaknya ke dalam rumah.
***
Di tempat lain, Rebeca sedang bersama Dan putranya sedang berada diruang rapat tidak bisa berkonsentrasi, karena memikirkan penelpon misterius yang sedari tadi menghubunginya.
"Mama, ma... kok bengong ma?" tanya Daren yang memperhatikan Rebeca yang terlihat tegang dan gelisah.
"Eh... Daren, kenapa?" Rebeca bingung dengan apa yang dia rasakan.
"Mama kenapa sich dari meeting tadi kok gelisah gitu. Mama mikirin apa?"
"Perasaan mama ga enak nak," jelas wanita itu pada anaknya.
"Emang mama mikirin apa? coba cerita ke aku ma?"
Rebeca tidak menjawab hanya menunjukkan wajah kecemasannya.
"Ma!" Daren terlihat panik memperhatikan sang mama.
Tiba-tiba saja sesosok lelaki paruh baya datang menghampiri mereka. Rebeca memperhatikan lelaki itu, seakan mengenalnya.
"Halo Rebeca, kau masih mengingatku?" sapa lelaki itu sambil membuka kaca mata hitamnya.
"Kau, bagaimana bisa kau ada disini?"
Kedatangan lelaki itu benar-benar telah membuat Rebeca terkejut.
"Kenapa? Kau tidak menyukai kedatanganku?" Tanya lelaki itu dengan senyum seringainya.
"Mau apa papa kemari? Bukannya papa udah nikah sama selingkuhan papa? Ngapain lagi papa ganggu hidup mama?" sungut Daren pada lelaki paruh baya itu.
Mata itu penuh dengan kebencian saat netra mereka saling berpapasan. Seakan dia ingin sekali menyuruh lelaki itu pergi menjauh dari hadapan mereka.
"Apa begini caramu menyambut papamu? Kurang ajar sekali kau ya."
Lelaki itu menggeram saat anak lelakinya menunjukkan sikap penolakan.
"Jangan pernah sekali-kali menghardik putraku. Kau tidak berhak berkata kasar padanya." Tukas Rebeca penuh kemarahan.
"Rebeca, aku itu papanya. Aku mempunyai hak atas dirinya."
"Mengapa kau baru membicarakan hakmu sekarang, hah!!! Dulu kenapa kau tidak pernah menuntut hakmu?" anita itu memicingkan matanya.
__ADS_1
Masih teringat dengan jelas luka yang dihujamkan lelaki yang ada dihadapannya itu. Baru saja dia ingin menghapus memori tentang lelaki itu tetapi dia malah muncul begitu saja.
Lelaki itu sedikit tertegun dengan ucapan Rebeca. Dia ingat bahwa dirinya bersalah.
"Maafkan aku Rebeca. Aku tahu aku salah, aku telah mengkhianati pernikahan kita dengan pergi bersama wanita itu, tapi aku menyesal,karena dia telah memanfaatkanku."
Lelaki itu menundukkan kepala dan menyesali perbuatannya dimasa lalu.
"Oh begitu. Dia membuangmu setelah mendapatkan keinginannya? Apa itu menyakitkan?" ucap Rebeca dengan senyuman mengejek.
"Jangan berkata seperti itu, aku ini masih suamimu."
"Tutup mulutmu, jangan pernah ucapkan hal itu. Hubungan kita telah lama berakhir. Semenjak kau meninggalkanku dan memilih hidup bersama wanita itu kau dan aku tidak lagi menjadi suami istri." Tegas wanita itu padanya.
"Tapi aku tidak pernah menceraikanmu."
"Ya, kau tidak pernah menceraikanku tapi kau meninggalkanku. Dan itu sudah cukup menunjukkan kau telah mengakhiri hubunganmu denganku."
"Sudahlah Rebeca. Kita akhiri saja perdebatan ini. Lihat sekarang aku ada dihadapanmu. Kau masih ingatkan, kau selalu bilang padaku bahwa kau sangat mencintaiku dan hanya aku satu-satunya lelaki dalam hidupmu," bujuk lelaki itu padanya.
"Itu dulu. Sekarang rasa itu telah mati bersama semua pengkhianatanmu."
"Aku mohon Rebeca, kembalilah padaku," pinta lelaki itu sambil menggenggam tangan Rebeca.
"Lepaskan tangan mamaku!" Daren menyingkirkan tangan lelaki itu dari tangan sang mama.
"Daren. Jangan membenci papa nak." Lelaki itu mulai menghiba.
Daren membuang muka dengan wajah malas.
Rebeca telah berusaha sekuat hatinya untuk menahan sesak didanya. Dia tak ingin menjatuhkan air matanya demi lelaki yang telah menyakitinya.
"Aku mohon, maafkan aku. Aku janji akan memperbaiki kesalahanku."
Lelaki itu masih terus memohon pada Rebeca.
Daren menggelengkan kepala memperhatikan tingkah lelaki itu. Benar-benar menyebalkan setelah lima belas tahun dia masih berani menunjukkan wajahnya kembali. Sungguh-sungguh tidak tahu malu.
"Maafkan aku Fabio. Aku tidak bisa menerimamu. Mungkin untuk memaafkanmu aku sudah melakukannya sedari dulu, tapi untuk kembali padamu. Itu tidak mungkin." tegas Rebeca.
Kini buliran bening itu membasahi wajahnya. Fabio sangat pandai mempermainkan perasaannya. Dia tahu Rebeca tipe wanita yang penuh kasih sayang dan gampang terharu. Maka Fabio membuat trik untuk meraih hati wanita itu kembali.
"Apakah aki sudah tidak mempunyai kesempatan kedua?" tanya Fabio sambil menatap lekat mata wanita itu.
"Aku rasa jawabanku tadi sudah cukup membuatmu mengerti. Aku tidak akan kembali padamu." Tegas wanita itu padanya.
Fabio menghela nafas berat. Ternyata tak semudah itu menyatukan kembali puing-puing yang telah retak dalam rumah tangganya.
"Jadi kau sudah tidak mencintaiku lagi?" Tanya lelaki itu lagi pada Rebeca.
Rebeca hanya menggelengkan kepala.
"Baiklah aku mengerti. Jika memang begitu keputusanmu aku akan terima, tapi jika suatu saat kau membutuhkanku aku siap untukmu." Jelas Fabio padanya.
__ADS_1
Rebeca hanya diam tak mau melihat mata lelaki itu.
Dirinya merasa jengah, ditambah lagi lelaki itu telah membuatnya terluka dengan menodai pernikahan mereka.
"Aku pergi, tapi aku akan kembali lagi." Ujar lelaki itu kembali.
Daren dan Rebeca hanya diam tak menjawab. Hingga akhirnya lelaki itu membalikkan tubuhnya kemudian berlalu dari hadapan mereka.
"Ma, kenapa diam saja? Harusnya mama mengusirnya." Tanya Daren heran melihat sikap mamanya yang terkesan tenang.
"Mama tidak ingin ada keributan nak. Ini kantor, mama ga mau orang-orang mengetahui masa lalu mama yang menyakitkan." Tegas Rebeca pada putranya.
"Andai saja mama tidak disini, rasanya aku ingin sekali memukul wajah lelaki itu ma." Daren menggeram. Dia mengepalkan tangannya hingga buku-buku jarinya terlihat.
"Sudahlah. Kita tidak perlu memikirkannya lagi. Dia juga sudah pergi."
Rebeca mengusap wajah sang anak untuk menenangkannya.
"Tapi ma, aku curiga. Jangan-jangan kedatangan papa ada maksud terselubung."
"Jangan berpikiran buruk, bagaimanapun juga dia papamu. Kau tidak boleh membencinya." Rebeca menasehati sang anak dengan penuh kasih sayang.
"Tapi dia..." sebelum Daren melanjutkan ucapannya Rebeca menyelanya.
"Sudah ya. Mama ga mau bahas papa kamu lagi."
Daren menganggukkan kepalanya kemudian diam. Dia mengerti Rebeca tidak ingin berdebat lagi.
***
Diparkiran Fabio menuju ke mobilnya dengan penuh kekesalan.
"Sial!!! Berani sekali dia menolakku. Awas saja, aku akan membuatmu hancur Rebeca." Gerutu lelaki itu.
"Sayang, kamu kok lama sich disana. Kamu biarin aku kepanasan begini." Keluh wanita muda yang menunggunya di mobil.
"Aku lagi membujuk wanita tua itu tadi." Tukasnya sambil masuk kedalam mobil.
"Kau membujuknya? Kau ingin rujuk dengannya?" Selidik wanita itu.
"Itu hanya trik sayang. Kau tahukan, bisnisku sudah mulai menurun. Aku mau membuat wanita itu mau memberikan sebagian sahamnya untukku. Maka dari itu aku harus membuatnya cinta kepadaku."
"Bohong. Bilang saja kau ingin kembali padanya." Sungut wanita muda itu sambil melipat kedua tangannya didada.
"Sayang. Akukan sudah bilang, kaulah satu-satunya wanita yang kucintai saat ini. Dengan Rebeca hanya sekedar membuatnya luluh." Bujuk lelaki itu sambil mengusap kepala wanita itu.
"Kalau benar-benar kembali padanya bagaimana?"
"Tidak akan mungkin Gueen. Aku sudah lama tidak bersamanya. Mana mungkin ada cinta dengannya."
"Tapi dia mantan istrimu dan bisa saja suatu saat kau jatuh cinta lagi padanya."
Wanita itu mulai berkaca-kaca takut kehilangan kekasihnya.
__ADS_1
"Percayalah. Aku tidak pernah mencintainya lagi. Hanya dirimu yang kucintai saat ini." Tegas lelaki itu padanya.
Gueen tersenyum lebar mendengar ucapannya. Memang wanita muda itu sangat suka dengan rayuan gombal lelaki paruh baya yang ada dihadapannya. Meskipun statusnya saat ini hanya hubungan tanpa ikatan, namun wanita muda itu begitu mencintai lelaki itu dengan segenap rasa yang dimilikinya.