Menikah Dini

Menikah Dini
Kelicikan Fredy


__ADS_3

Flashback On


Hari itu saat Fredy telah mengambil baby twins, dirinya sengaja pergi ke rumah orang suruhannya yang bertempat tinggal sedikit jauh dari kompleks perumahan Silvi. Lebih tepatnya mereka tinggal di desa sebelah. Adapun tujuan dirinya bertemu dengan orang itu adalah untuk mengatur siasat agar perbuatannya tidak sampai diketahui oleh polisi dan dirinya segera mengatur siasat.


"Bagaimana apa kalian telah menemukan bayi yang seumuran dengan bayi kembar ini?"


"Iya tuan, ini anaknya sudah saya dapatkan. Anak ini adalah anak dari adik saya yang meninggal habis melahirkan beberapa minggu yang lalu. Ayah dari bayi ini tidak diketahui keberadaannya, karena seingat saya dulu lelaki itu merantau ke negri orang, tapi sampai hari ini kami tidak mengetahui kabar beritanya. Sebagai keluarga dari bayi ini kamilah yang merawat anak ini."  Jelas wanita yang menggendong bayi itu pada Fredy.


"Coba aku lihat anak itu."


Fredy memperhatikan bayi yang seumuran dengan baby twins yang baru saja diambilnya. Ada sedikit kemiripan pada bayi itu, baik itu dari segi wajah maupun kulitnya.


Lalu Fredy melakukan rencananya, dengan memakaikan baju yang serupa dengan pakaian yang dikenakan bayi Silvi saat pergi dari rumah dan meninggalkan stoler bayi kembar itu dirumah orang itu.


Bukan tanpa alasan lelaki itu melakukan hal aneh itu. Maksud dari Fredy melakukan itu supaya terkesan seperti telah terjadi penculikan bayi.


Jadi seola-olah bayi yang diambil hanyalah satu orang saja sedangkan bayi yang lain ditinggal begitu saja dan diselamatkan oleh orang yang merupakan suruhannya itu.


"Bagus, bayi ini mirip sekali dengan bayi kembar ini. Ambillah uang kalian dan jangan pernah menceritakan semua ini pada siapapun. Segera lakukan taktik sesuai rencanaku."


Fredy memberikan amplop coklat yang telah diisinya dengan sejumlah uang yang cukup banyak pada kedua orang itu.


Kedua orang itu melihat isi amplop itu, dan seketika wajah mereka jadi sumringah. Amplop yang diberikan Fredy berisikan uang dengan nomimal yang cukup banyak.


"Dua puluh juta? Banyak sekali tuan." Ujar mereka.


"Ini baru uang muka untuk kalian. Kalau misi kita berjalan lancar aku akan tambahkan uang kalian." Jelas Fredy pada kedua orang itu.


"Baiklah tuan, apa yang harus kami lakukan setelah ini."   Tanya kedua orang itu padanya.


"Laporkan pada polisi kalau kalian telah menemukan seorang bayi dibelakang rumah kalian. Mintalah pada polisi untuk menyelidiki keberadaan orang tuanya."  Titah lelaki itu.


"Baiklah tuan. Kami akan segera melaksanakan tugas yang tuan berikan."


Lihat apa yang akan kulakukan pada bayi kalian. Aku akan pastikan kalian benar-benar tidak akan pernah bertemu dengan anak-anak kalian sampai kapanpun gumam Fredy dengan seringai liciknya menatap pada bayi-bayi tak berdosa itu.

__ADS_1


Setelah bertemu dengan sepasang suami istri itu Fredy segera membawa dua bayi kembar itu pulang bersamanya untuk dirawat olehnya dengan istrinya yang bernama Mila.


Ketika sampai dirumah Fredy langsung menunjukkan kedua bayi kembar itu pada istrinya. Benar saja, saat melihat bayi-bayi itu naluri keibuannya langsung muncul. Wanita yang masih belum sepenuhnya sadar akan keadaannya itu tidak memikirkan anak siapa dan mengapa ada dua orang? Karena dalam pandangannya setiap bayi yang ada didekatnya adalah anaknya. Tak perduli itu kembar atau bukan.


Fredy begitu bahagia melihat istrinya bersikap layaknya seorang ibu saat melihat bayi kembar itu. Dia sangat berharap Mila akan benar-benar pulih setelah mendapatkan dua bayi sekaligus dalam hidupnya.


***


Flashback Off


"Masa sich mas, ini bukan bayi kita?  Feeling aku mengatakan ini memang bayi kita."


Silvi yang sangat merindukan bayinya malah tekesan percaya begitu saja. Padahal Vico telah menjelaskannya tapi dia tidak mau perduli, dia malah sangat menginginkan bayi yang dilihatnya saat ini.


Vico hanya menghela nafas berat mendengar ucapan Silvi. Menurutnya memang tidak ada gunanya berdebat dengan Silvi saat ini. Pasti istrinya itu tidak akan mau mendengarkannya, karena Silvi memang benar-benar frustasi karena kehilangan anaknya. Akhirnya Vico memutuskan membawa bayi itu pulang.


Sebelum pulang, dia sempat meminta polisi yang bernama Josep itu untuk tetap melakukan pencarian.


"Pak, saya masih belum yakin kalau bayi itu adalah anak saya. Bagaimana kalau bapak dan tim melanjutkan pencarian lagi?" Pinta Vico pada polisi itu dengan lirih.


"Baik pak, terimakasih atas bantuan bapak-bapak semua. Saya juga akan mencoba mencari tahu keberadaan anak-anak saya."


Selama dalam perjalanan pulang Silvi memeluk bayi itu dengan erat. Silvi benar-benar tidak mau melepaskan bayi itu walau hanya sesaat.


Vico menatap iba pada sang istri dengan apa yang dialaminya.


Sesampainya dirumah, Marinka yang baru saja melihat kedatangan Silvi dan Vico bergegas menemui mereka.


"Silvi, kamu bawa anak siapa ini? Mana baby twins?"  tanya Marinka heran menatap Silvi.


"Ini bayiku ma," jawab Silvi sambil menciumi bayi mungil itu.


Marinka yang merasa heran, menatap pada Vico.


"Apa yang dikatakan Silvi? Itu kan bukan anaknya?"

__ADS_1


"Aku tahu ma, itu bukan bayi kami, tapi daritadi Silvi kekeh banget bilang itu adalah anaknya. Makanya untuk sementara waktu biarkan saja anak itu disini," pinta Vico.


"Tapi Vic, itu bukan anak kamu. Kalau nanti jadi masalah gimana?"  Marinka mulai merasa aneh dengan sikap Silvi.


"Nanti aku akan bujuk Silvi ma, untuk saat ini kayaknya percuma kita jelasin. Silvi ga bakalan mau mendengarkan kita. Mama lihat sendiri bagaimana Silvi ga mau melepaskan bayi itu dari tangannya." Jelas Vico pada ibu mertuanya.


"Baiklah kalau begitu, untuk hari ini mama akan biarkan., tapi jangan sampai lama-lama. Mama ga suka kalau ada anak orang lain dirumah ini." Ucap Marinka dengan ketus.


Vico hanya menghela nafas mendengar ucapan mertuanya. Memang benar itu bukan anak kembar mereka tapi Silvi terlihat tidak ingin jauh dari bayi itu.


Sampai pada malam hari saat tidurpun Silvi mengigau.


"Jangan tinggalin mama lagi nak. Mama ga mau kehilangan kalian." Lirih Silvi dalam alam bawah sadarnya.


Vico yang berada disamping Silvi, terbangun karena igauan Silvi. Vico mengerjabkan matanya kemudian memeriksa keadaan Silvi dan benar sjaa ternyata Silvi demam tinggi. Tubuhnya menggigil kedinginan wajah pucat pasih.


"Silvi, bangun sayang. Sil... bangun," panggil Vico sambil mengguncang pelan tubuh istrinya, tapi Silvi enggan membuka matanya. Dia masih tetap terlelap sambil mengigau.


Sementara bayi yang berada di dekat Silvi menangis dengan sangat kencang karena merasa terusik tidurnya.


Vico panik dengan keadaan yang ada dihadapannya. Dia bingung harus bagaimana.


Merasa mendengar suara tangiaan bayi yang sangat kencang, Adi terjaga dari tidurnya.


"Ma... coba dengerin, itu suara bayinya Silvi kok kenceng banget. Ayo kita lihat ke kamar mereka," gegas Adi dan Marinka bangun tempat tidur mereka dan mengetuk pintu kamar Silvi.


"Silvi, Vico. Itu anaknya nangis kok ga dibiarin aja." Ucap Marinka merasa khawatir.


Mendengar suara mertuanya yang telah terjaga dari laur sana. Vico segera bangkit dan membukakan pintu kamar.


"Ma, pa, ini Silvi demam tinggi dan ga sadarkan diri. Anaknya juga nangis. Aki bingung harus gimana?"


Mengetahui anaknya dalam keadaan sakit dan tidak sadarkan diri, Adi dan Marinka langsung berinisiatif untuk membawa Silvi ke rumah sakit secepatnya.


"Ayo Vic. Kita kerumah sakit sekarang juga. Kita harus segera memeriksakan kesehatan Silvi." Tukas Adi pada menantunya.

__ADS_1


Vico dengan sigap menggendong tubuh Silvi dan membawanya ke dalam mobil sedangkan Marinka menggendong bayi mungil itu supaya tidak menangis lagi. Mereka bergegas menuju ke rumah sakit malam itu juga.


__ADS_2