
Reynold sedang sibuk dengan pekerjaannya di pagi hari.
"Victory, mulai hari ini gue serahkan kepemimpinan perusahaan untuk sementara waktu sama lo."
"Tumben Rey? Emang lo mau kemana?" tanya Victory terkejut mendengarkan ucapan Reynold.
"Gue mau menemui keluarga Clara," jelas Reynold sambil merapikan dokumen-dokumennya.
Victory menatap Reynold dengan raut wajah heran.
"Apa? Kok buru-buru banget?"
"Gue mau ketemu sama Clara buat melamar dia," jelas Reynold.
"Emang lo udah bicarain semua tentang Clara sama om Abi dan tante Safira?"
"Gue udah cerita semuanya dan mereka udah setuju," jelas Reynold pada sahabatnya itu.
"Oke, selamat ya Rey. Gue ikut senang karena lo bisa melanjutkan hubungan lo sama Clara."
Victory memeluk sahabatnya, ikut merasakan kebahagiaan Reynold.
"Iya, doain juga supaya orang tua Clara mau menerima gue."
"Pasti dong bakal gue doain."
Ditengah-tengah obrolan Reynold dan Victory, tiba-tiba pintu ruangan Reynold yang sedang terbuka diketuk.
"Maaf pak, saya mau kasih laporan bulanan perusahaan," jelas seseorang didekat pintu.
"Ayesha masuklah, bergabunglah disini," pinta Reynold pada Ayesha.
Ayesha masuk ke ruangan itu kemudian meletakkan berkas-berkas yang membutuhkan tanda tangan Reynold diatas meja Reynold. Kemudian bergabung dengan Reynold dan Victory.
"Ayesha, ada berita gembira. Reynold akan segera melamar Clara."
Victory yang merasa senang langsung menceritakan pada Ayesha tentang apa yang baru saja mereka ceritakan tadi.
"Wah, benarkah itu pak Rey?" Ayesha ingin memastikan kembali kebenaran ucapan Victory.
"Itu benar Ayesha, aku sudah memberikan hak untuk memimpin perusahaan sementara waktu pada Victory dan untuk beberapa hari ke depan Victory akan menghandle perusahaan ini," jelas Reynold padanya.
__ADS_1
Ayesha menganggukkan kepala memahami perkataan Reynold.
"Oh ya, jangan lupa kalian juga harus segera menyusul ya." Goda Reynold sambil menatap Victory dan Ayesha.
Ayesha tersenyum dengan malu-malu. Dia mengerti maksud dari arah pembicaraan Reynold. Memang Reynold sudah mengetahui hubungan Ayesha dan Victory sejak lama, oleh sebab itu dia juga berharap mereka akan segera meresmikan hubungan mereka ke arah yang lebih serius.
"Tenang bro, lo ga perlu khawatir. Nanti kalau urusan lo sama Clara selesai, gue sama Ayesha bakal menyusul kok," jawab Victory dengan pasti. Kemudian menatap kearah Ayesha.
"Nah, ini yang gue paling suka dari lo Victory," Reynold menepuk pelan bahu sahabatnya itu.
***
Di rumah Clara.
"Pa, aku ingin membicarakan sesuatu pada papa," jelas Clara pada sang papa yang sedang asyik memberikan makanan ikan.
"Iya, apa yang ingin kau bicarakan?" lelaki paruh baya itu meghentikan aktifitasnya dan mulai mendengarkan sang anak.
"Pa, beberapa bulan terakhir ini aku dekat dengan seorang lelaki dan lelaki itu akan segera menemui ayah bersama kedua orang tuanya dalam waktu dekat ini," jelas wanita bermata biru dengan rambut blonde itu sambil duduk didekat sang ayah.
"Oh ya? wah tidak terasa ternyata putri papa sudah dewasa dan sudah ada yang mendekatinya," Clara tersenyum sumringah mendengarkan ucapan sang ayah.
"Hm, papa mengerti. Maafkan papa ya nak, kalau bukan karena papa yang menjodohkanmu dengannya sampai kau mengalami insiden itu dengannya."
Pria itu menunjukkan wajah penyesalannya. Pada dasarnya dia sengaja menjodohkan sang anak dengan rekan bisnisnya karena dia melihat lelaki itu baik dan sangat sopan. Sampai akhirnya dia membuktikan sendiri bagaimana Maxy membuat Clara anaknya itu menjadi tertekan selama bersama lelaki itu.
"Sudahlah pa. Aku tidak mempermasalahkan itu, karena itu bukan sepenuhnya salah papa. Aku juga salah menerimanya begitu saja, awalnya aku berharap Maxy akan menjadi pasangan hidup yang tepat untukku, namun setelah aku merasakan sendiri bagaimana cinta yang dimilikinya menjadi sebuah obsesi yang tak wajar benar-benar membuatku lelah menjalani semuanya bersama orang itu," jelas Clara pada sang ayah.
Mr. Anderson memperhatikan dengan saksama raut wajah putrinya. Terlihat sangat jelas, dari air muka gadis itu menyiratkan luka yang mendalam dari sisa-sisa pertemuannya dengan Maxy.
Ada rasa penyesalan dari lelaki paruh baya itu, namun sebagai orang tua, dia tetap berusaha menguatkan hati sang anak.
"Papa sangat berharap setelah bertemu dengan lelaki pilihanmu kali ini, kau benar-benar menemukan kebahagiaan yang kau cari."
"Iya pa. Aku juga berharap seperti itu."
"Kalau papa boleh tahu siapa orang itu?" selidik Mr. Anderson pada putri semata wayangnya itu.
"Namanya Reynold pa. Dia adalah anak dari tuan Abimana," jelas wanita itu dengan gamblang.
Mendengar nama Reynold, jelas saja Mr. Anderson merasa senang, karena pria yang menjadi pilihan anaknya itu merupakan orang yang sangat dikenalnya, karena selain rekan bisnis anak muda itu juga memiliki kepribadian yang baik dan sangat sopan. Bahkan diakui oleh rekan bisnisnya Reynold merupakan orang yang ramah dan hamble pada siapapun. Terlebih lagi dia adalah anak seorang Abimana yang itu benar-benar mempunyai image baik oleh koleganya.
__ADS_1
"Jadi lelaki itu adalah Reynold? papa senang sekali mendengarnya nak. Menurut papa dia juga lelaki yang baik," tukas lelaki itu pada sang anak.
"Iya pa. Dia juga yang telah menyelamatkanku dari permasalahanku dengan Maxy," jelas Clara pada papanya.
Setelah memberikan penjelasan mengenai lelaki yang akan menemuinya,gadis itu mengakhiri pembicaraannya dengan sang ayah.
Benar-benar melegakan saat semuanya baik-baik saja. Clara telah menyampaikan semua harapan dan keinginannya pada sang papanya.
Dia sangat bersyukur sekali karena papanya juga memberikan lampu hijau untuk permintaannya itu.
***
Reynold dan keluarganya baru saja menyelesaikan makan malam mereka, tiba-tiba saja Abimana membuka percakapan.
"Rey, jadi gimana besok jadikan pergi menemui orang tuanya Clara?"
"Iya pa, jadi kok. Aku sudah mempersiapkan tiket keberangkatan kita dari beberapa hari yang lalu," jelas Reynold pada sang papa.
"Baguslah kalau begitu, kamu juga sudah mempersiapkan mentalmu untuk berhadapan dengan orang tua Clara?" tanya Abimana mana kembali.
Dia ingin memastikan bahwa putranya itu telah mempersiapkan dirinya untuk keputusan yang akan diterimanya saat bertemu dengan keluarga Clara.
"Iya pa. Aku sudah mempersiapkannya. Saat ini yang aku pikirkan adalah bagaimana segera menemui Clara dan keluarganya, supaya bisa menunjukkan keseriusanku pada Clara. Mengenai keluraganya akan menerima atau tidak biar nanti saja dipikirkan pa," Reynold menjawab dengan sangat pasti.
"Papa setuju dengan pendapatmu itu. Papa juga senang, kamu sudah menunjukkan keseriusanmu dalam menjalin hubungan dengan seorang wanita,"
"Oh iya pa, ada satu hal yang belum aku ceritakan pada papa," Reynold teringat akan kejadian yang pernah menimpa Clara dan Reynold belum sempat membicarakan hal itu pada kedua orang tuanya.
"Coba jelaskan pada papa, apa yang ingin kamu ceritakan," pinta Abimana pada Putranya.
Perlahan, Reynold menjelaskan semua dari awal pertemuannya dengan Clara, sampai semua kejadian yang berkaitan dengan Clara agar orang tuanya tidak perlu menyangsikan hubungannya dengan Clara.
"Begitu pa ceritanya. Semoga papa bisa mengerti dengan kondisi Clara," pinta Reynold pada Abimana.
"Baiklah. Papa tidak keberatan dengan masa lalu Clara dan buat papa itu bukan masalah, karena bagi papa asalkan kamu merasa nyaman menjalaninya kamu bisa melanjutkannya. Bukan begitukan ma?"
Abimana mencoba meminta pendapat dari Safira istrinya.
"Hm, mama juga sependapat sama papa. Semuanya tergantung sama kamu kembali Rey. Sebab yang akan menjalani kedepannyakan kamu. Kami sebagai orang tua hanya mengayomi dan memberikan pendapat untuk kamu," jelas Safira dengan penuh pengertian.
Reynold sangat senang mendengar jawaban kedua orang tuanya. Akhirnya penantiannya selama ini bisa diwujudkannya. Semoga saja setelah bertemu dengan Clara semua akan menjadi lebih baik lagi.
__ADS_1