
Misi pencarian dilakukan oleh Jack dan anak buahnya. Tahap pencarian ini mereka menggunakan GPS untuk melacak keberadaan Clara, tetapi mereka tidak menemukan jejak Clara. Mereka terus mencari disekitar kota London yang begitu luas. Hingga akhirnya mereka menemukan titik terang dari pencarian mereka.
Jack, pria berbadan sixpack dengan raut wajah dingin itu menyalakan airpod yang terpasang ditelinganya untuk menghubungi Maxy.
"Halo bos, ada informasi yang baru saja kami dapatkan mengenai Clara," jelas Jack yang sedang duduk dikursi kemudi mobilnya. Sementara para anak buahnya masih berpencar mencari informasi Clara.
"Oh ya, katakan padaku dimana Clara," ujar Maxy pada lelaki itu.
"Terakhir kali nona Clara menginap di hotel Corinthia, kemudian pergi ke bandara dengan penerbangan jam 07.00 pagi," jelas Jack pada Maxy.
"Apa? Ke bandara? Pergi kemana dia?" tanya Maxy yang terperanjat dengan penjelasan lelaki itu.
"Menurut informasi yang aku dapatkan sepertinya dia menuju ke Australia," jelasnya lagi.
"****!!! Buat apa dia ke Australia?" gerutu Maxy dihatinya.
"Ya sudah. Kau cari tahu lagi siapa yang ditemuinya di Australia. Kau harus temukan wanita itu dan ingat, jangan sampai menyakiti apalagi melukainya walaupun seujung kuku!!!" titahnya pada Jack.
"Baik bos, secepatnya akan kuberi kabar," ucap Jack padanya.
***
Saat ini Farel telah menyelesaikan kuliahnya dan dia sangat bersemangat untuk memberitahukan kabae gembira itu pada kedua orang tuanya.
"Pa... ma... besok aku wisuda. Aku harap papa dan mama bisa datang ke acara wisudaku," jelas Farel pada kedua orang tuanya.
"Apa? Kamu udah mau wisuda aja?" Farah terlonjak saat mendengarkan penjelasan anaknya.
"Iya, aku udah selesai kuliah dan besok mau wisuda. Ini undangannya," ujar Farel sambil memberikan undangan wisuda kepada Farah dan Johan.
Johan dan Farah membuka isi amplop undangan itu dan benar saja besok adalah hari istimewa bagi Farel.
"Ini benar-benar bagus nak. Kamu bakal wisuda, papa harap setelah wisuda kamu bekerja di perusahaan Leonardo Group," tukas Johan padanya.
Farel hanya diam tak menjawab, karena sebenarnya dia punya impian yang lain, yaitu sebagai software enginaring, yaitu sebagai perakit rekayasa perangkat lunak yang ditujukan untuk desain, pengembangan, pemeliharaan, pengujian, dan evaluasi perangkat lunak.
Farel ingin bekerja di perusahaan asing tapi Johan sangat kekeh menyuruhnya bekerja di Leonardo Group.
Farel tidak mau berdebat dengan papanya, yang diinginkannya saat ini menuntaskan acara wisudanya besok.
***
Tibalah saat yang dinantikan, pagi itu jam 05.00 pagi Farel dan kedua orang tuanya bersiap-siap untuk ke acara wisuda Farel.
Farel mengenakan jas dengan fashion Goog On, jas dengan blazer yang berdesain kekinian, kasual dan semi formal. Farel memadu padankan jasnya dengan kemeja putih dan celana panjang hitam, ala tampilan Oppa Korea. Membuatnya terlihat tampan hari itu.
Sedangkan papanya mengenakan jas yang berwarna hitam tak lupa setelan kemeja putih dan dasi yang terpasang dilehernya. Sedangkan mamanya mengenakan kebaya berwarna silver dipadu padankan dengan rok batik berwarna hitam dengan strappy sandals berwarna hitam.
Setelah merapikan diri mereka segera berangkat menuju ke tempat prosesi wisuda yang bertempat di Swiss-BelHotel Cirebon. Sesuai jadwal, acara wisuda diselenggarakan selama dua hari, yakni selasa dan rabu.
Sepanjang jalan masuk, dari lantai satu sampai di tempat acara berlangsung, jalanan sekitar, bahkan di tiap lantai dan juga parkiran, dipenuhi orang-orang. Hanya ada dua kemungkinan pasti yang menjadi populasi dominan pada hari itu; satu, keluarga wisudawan. Dua, pedagang dadakan. Ya, suasana yang akan selalu ditemui ketika melakukan acara wisuda. Ramai, padat, macet dan gerah, merupakan paket komplit yang disajikan acara wisuda di tempat itu, terutama di luar ruangan. Semuanya berkumpul.
Sesampainya diruangan Farel dan orang tuanya berpisah, disana ada Hans beserta kedua orang tuanya yang datang lebih dahulu daripada mereka. Para orang tua yang saling mengenal sekaligus rekan bisnis itu saling menyapa satu sama lain dan kemudian bercengkrama.
Farel dan Hans segera memasuki ruangan terlebih dahulu, karena ruangan saat ini diisi oleh para mahasiswa yang akan diwisuda.
Para wisudawan dan wisudawati mengenakan toga hitam dibalut dengan jas hitam yang merupakan pakaian yang biasa digunakan mahasiswa saat wisuda, para wisudawan dipisah antara wisudawan biasa dan cumlaude. Spesial untuk yang cumlaude mengenakan baju toga dan selempang cumlaude.
Jam 6.30 akhirnya orang tua sudah diperbolehkan masuk ke ruangan wisuda, sedangkan wisudawan melakukan presensi, karena jika yang tidak presensi, dianggap tidak hadir dalam wisuda. Setelah presensi, diberikan Co-Card sebagai kartu yang menunjukkan informasi nomor urut dan nomor bangku duduk di dalam ruangan wisuda.
Jam 7.30 akhirnya seluruh peserta wisuda mulai memasuki ruangan. Farel dan Hans tergabung dalam kelompok mahasiswa yang cumlaude.
__ADS_1
Ketika giliran rombongan cumlaude yang dipersilahkan masuk, para wisudawan dan wisudawati berjalan dengan anggun dan gagah, Farel menyempatkan diri menyapa sebentar orang tuanya yang kebetulan kelihatan, dan menerima kenyataan bahwa dirinya lagi-lagi duduk paling depan walaupun nomor urut 50. Setelah duduk, acara sambutan sebentar, pembacaan surat keputusan rektor akhirnya prosesi wisuda dimulai.
Para wisudawan menanti untuk namanya dipanggil.
Farel merasa tegang dan deg-degan.
"Pokoknya selalu mengingat, jangan sampai salah, pokoknya jalan dulu, pindahin tali toga, terima piagam penghargaan cumlaude, baru salam. Pindah ke wakil rektor I, ambil izajah, baru salam." Hal itu yang selalu dihafalkannya dalam hati. Akhirnya setelah menanti beberapa saat, namanya dipanggil.
“Farel Saga Leonardo” dengan gagahnya Farel mulai berjalan menuju rektor
“Nomor selanjutnya Mahasiswa 15001355”
"Indeks Prestasi….. 4,00”
“Hans Hadinata ” sontak saja Hans kaget saat namanya juga terpanggil dan dia segera berjalan menuju rektor
“Nomor Mahasiswa 15001356”
“Indeks Prestasi….. 4,00”
Sontak seluruh gedung langsung bergemuruh. Seluruh tepuk tangan tertuju pada mereka. Para mahasiswa yang mendapatkan nilai cumlaude dipersilakan terlebih dahulu menuju ke arah rektor, langsung saja Farel dan Hans yang saat itu sudah berdiri di depan Rektor dan begitu tali toga dipindah, menerima piagam, Rektor memberikan selamat dan salam yang lama. Selanjutnya diikuti wakil rektor I, Ini momen yang paling di tunggu selama tiga tahun ini, Farel dan Hans menyelesaikan kuliah mereka dalam waktu tiga tahun.
Farel tidak pernah menduga dirinya akan cumlaude sampai setelah duduk, dia masih tersenyum sendiri dan bahagia bahwa saya pada hari itu secara resmi sudah menyelesaikan pendidikannya. Ada kejutan lainnya pada acara itu. Ketika pembacaan Lulusan terbaik di setiap tingkatan pendidikan, namanya pun terpanggil kembali dan menjadi lulusan terbaik untuk jenjang Sarjana dengan IPK Sempurna.
Farel dan Hans dipanggil kembali ke depan, dan yang membuatnya lebih terharu, kedua orang tuanya dipanggil maju ke depan pula mendampingi dirinya menerima penghargaan penyematan pin emas. Terlihat wajah bahagia dan bangga dari Farah dan Johan ketika mereka maju ke depan. Mereka tidak pernah menduga anak tengil yang susah diatur seperti Farel bisa menjadi lulusan cumlaude. Benar-benar diluar dugaan.
"Selamat ya nak. Papa dan mama bangga padamu," tukas Johan sambil memeluk putranya.
Farah tak.mau ketinggalan dia memeluk putra sambungnya dengan penuh rasa bangga.
Pasca acara wisuda di ruangan selesai, kamera dan handphone sudah siap sedia memotret momentum itu seharian. Ada yang berswafoto, menggunakan jasa fotografer, bahkan ada yang hanya melihat orang berfoto. Posisi mereka, tentu masuk di setiap ranah. Termasuk pembuatan live report.
Di hari kedua pun, tak jauh beda suasananya seperti hari pertama. Hari kedua hanya diikuti wisudawan. Sudah menjadi rahasia umum jika beberapa prodi memiliki acara khusus semacam arak-arakan yang dipadukan suara drumband sederhana setiap kali moment wisuda digelar . Riuhnya yel-yel mahasiswa teknik, kostum arak-arakan yang “niat banget” dari para mahasiswa Seni dan Bahasa , sampai acara “bopongan” wisudawan beramai-ramai menjadi kenangan yang tak terabaikan dari cerita penutup bangku perkuliahan.
Disela-sela keramaian Riana datang. Suatu kebahagiaan besar bagi Hans, orang yang dinantikan kehadirannya datang menemuinya.
"Riana, kamu datang kesini?" Ujar Hans melihat kekasihnya menghampirinya.
"Iya, aku sengaja datang untuk mengucapkan selamat padamu," dirinya memberikan sebuah boneka wisuda pada Hans dan Hans yang sangat bahagia langsung memeluknya.
"Sebentar lagi tunggu aku lamar kamu ya?" canda Hans padanya.
"Ich... apaan sich baru lulus kuliah juga malah mikir lamaran," ujar Riana sambil memukul bahu Hans.
"Ya biar bisa nikah muda. Kamukan udah lulus sekolah aku udah lulus kuliah nunggu apa lagi coba?" Hans semakin menggoda Riana.
"Kerja dulu. Baru nikah," ujar Riana sambil meruncingkan bibirnya.
"Siap sayang. Ga usah khawatir aku bakal kerja dulu baru lamar kamu," ujar Hans sambil terkekeh menperhatikan Riana yang salah tingkah.
Farel hanya tersenyum kecil melihat kebahagiaan dua orang itu. Dia sedang mencari-cari seseorang yang mungkin akan menemuinya hanya sekedar mengucapkan selamat padanya. Mungkin itu Lyora atau siapa saja yang memperdulikannya.
Tanpa diduga seorang gadis datang menghampiri Farel.
"Hai kak, selamat ya atas kelulusannya dan dapat nilai cumlaude," ujar wanita itu sambil memberikan sebuah hadiah untuk Farel.
Farel menbalikkan tubuhnya menatap orang yang menyapanya.
"Wi... winda!!!"
Farel sangat terkejut bukan Lyora yang datang dan memberinya hadiah tapi Winda. Hans dan Riana ikut tercengang dengan kehadiran gadis itu. Mereka selama ini tidak pernah tahu Winda dekat dengan Farel. Benar-benar suatu kejutan.
__ADS_1
"Iya kak. Ini aku." Gadis itu mengulas senyuman diwajah sendunya.
"Kamu sama siapa ke sini?."
"Aku sendirian kak. Hai Riana," sapanya sambil menatap pada Riana dan juga menampilkan senyumnya untuk menyapa Hans.
"Kamu tahu darimana aku wisuda hari ini?"
"Kakak pasang status di IG kakak, jelas aja aku tahu."
Farel lupa kemarin dia baru saja membuat status di akun sosial medianya, karena merasa sangat senang dan bangga menjadi lulusan terbaik dengan nilai IPK tertinggi dia jadi narsis sendiri.
Hans dan Riana yang mendengarkan cerita Winda tertawa terbahak-bahak. Mereka baru menyadari temannya ini tidak cuma tengil tapi juga narsis. Haha.
Anehnya kenapa Lyora tidak datang? Lantas bagaimana kalau Lyora tahu akan kedekatan Farel dan Winda? Apa yang akan dilakukannya? Belum lagi Lyora bukan tipe orang yang mau mengalah begitu saja. Pasti akan jadi bencana besar.
***
Sementara itu, Vico baru saja menikmati hari kerja pertamanya di perusahaan Hadinata Group. Denis datang menghampiri Vico.
"Bro, lo dipanggil tu keruangan pak Romi. Katanya mau nunjukin job deskripsi lo sama mau ngenalin lo sama anak-anak si bengkel." Ujar lelaki itu padanya.
"Okay mas. Saya ke ruangan pak Romi dulu ya."
Vico bergegas menuju ruangan Romi.
Dia mengetuk pintu ruangan kepala HRD itu.
"Ya silakan masuk," sahut orang dari dalam ruangan itu.
"Bapak panggil saya?" tanya Vico pada lelaki empat puluh tahun itu.
"Iya, saya mau menjelaskan tugas kamu disini. Jadi begini Vico, tugas kamu disini sebagai kepala bengkel ga seperti saat kamu langsung terjun jadi montir seperti dulu,"
"Jadi tugas kamu hanya memantau pekerjaan para montir, kemudian menyusun perencanaan tugas para montir yang ada, membagi tugas dan memberi petunjuk dan menilai pelaksanaan kegiatan bawahan dilingkungan bengkel serta menyusun rencana praktek kegiatan perawatan berdasarkan ketentuan yang berlaku sebagai bahan pedoman pelaksanaan tugas."
"Nanti di job description ini kamu bisa pelajari lebih lanjut apa-apa saja tugas yang harus kamu lakukan. Jangan lupa nanti kamu kasih laporan harian ke saya dan setiap akhir bulan kamu kasih hasil kerja mereka sama sama kemudian kasih penilaian tentang pekerjaan mereka dan servis yang mereka berikan." Jelas lelaki paruh baya itu panjang lebar pada Vico.
Vico sangat antusias dengan penjelasannya dan dia sangat optimis bisa melaksanakan pekerjaannya denfan baik.
Setelah selesai menjelaskan pekerjaan Vico. Lelaki itu mengajak Vico menemui karyawan bengkel.
Dia mengenalkan satu persatu karyawan disana beserta bidang kerja mereka masing-masing pada Vico.
"Perhatian semuanya! Mohon berhenti sebentar, saya ingin memperkenalkan kepala bengkel baru kita, Vico Darmawan."
"Hai semua. Saya adalah pegawai baru disini. Mohon bantuan kalian semua nantinya ya," sapa Vico pada mereka dengan ramah.
Para karyawan mengangguk dan memberi salam pada Vico. Mendadak Vico menjadi canggung karena ini pertama kalinya dia menjadi atasan dan dia menjabat sebagai kepala bengkel dalam usia yang muda. Tidak pernah terlintas dibenaknya sedikitpun dia akan menjadi mapan dalam usia muda.
Pastinya Vico tidak akan menyia-nyiakan kesempatan yang telah diberikan kepadanya.
"Ayo Vic, saya akan memperlihatkan sama kamu bagaimana pekerjaan lapangan mereka, sebagai perbandingan buat kamu nanti," ajak lelaki itu lagi padanya.
"Iya pak." Vico semakin bersemangat dan mengekori lelaki itu.
"Nah, ini begini para pekerja yang di lapangan yang akan kamu pantau nanti."
Ditempat itu Vico melihat bagaimana para karyawan bengkel bekerja dengan penuh ketrlitian. Ada yang melakukan pengujian kendaraan, termasuk komponen dan sistemnya.
Ditempat lain ada yang sedang melakukan pemeriksaan kendaraan untuk menilai tingkat kerusakan atau malfungsi kendaraan. Ada juga yang sedang melakukan perbaikan, menyusun ulang, mengganti, hingga menyesuaikan rem dan yang terakhir adalah mengikuti daftar periksa yang tersedia demi memastikan pemeriksaan kendaraan sudah dilakukan menyeluruh.
__ADS_1
"Bagaimana Vic, kamu udah paham bagaimana kinerja bengkel si perusahaan ini?" tanya lelaki itu memastikan Vico telah paham atau belum dengan penjelasan detailnya.
"Iya pak. Saya sangat paham sekali," jawab Vico penuh rasa percaya diri.