
Silvi masih belum menyangka dia bakal ikut konser VIP dengan artis idolanya. Impian Silvi dari kecil adalah menjadi seorang komposer ternama dan ingin berduet dengan Bruno Mars artis favoritnya. Siapa sich yang ga kenal dia, udah ganteng, baik,suaranya keren lagi. Semua wanita pasti ingin bersanding bersamanya.
Acara konser akan diadakan pada malam hari, kali ini Silvi pergi tidak mau diantarkan sama pak Suryo tapi Silvi mau berangkat bersama teman-teman setia yang selalu mendukungnya yaitu Riana dan Vino.
Sampai ditempat tujuan, Silvi keluar dari mobil mengenakan dres hitam panjang tanpa lengan membuat tubuh sintalnya terlihat begitu indah bagi yang memandangnya. Sedangkan Vico mengenakan celana panjang hitam dan jas hitam, menampilkan sisi maskulinnya. Riana, tidak terduga malam itu dia benar-benar cantik mengenakan dress putih selutut dengan rambut dikuncir ke atas. Mereka bertiga benar-benar terlihat high class.
"Ri, kok aku deg-degan ya," tanya Silvi merasa gugup dan tak percaya dia akan hadir diacara konser besar mengiringi artis papan atas untuk bernyanyi.
"Santai aja Silvi kita disini buat kamu, pokoknya kamu jangan nervouse biar konsernya berjalan dengan lancar," Riana menyemangatinya dengan penuh harapan.
"Aku tau bagaimana caranya supaya kamu ga gugup saat tampil nanti," Vico tersenyum menoleh ke arah Silvi dan Riana.
"Tada... aku punya ini. Obat stress buat kamu Silvi," tambah Vino sambil mengeluarkan coklat untuk Silvi, dengan mata berbinar Silvi mengambil coklat itu dan langsung memakannya.
Acara dimulai semua pengunjung duduk ditempat yang telah disediakan. Kursi tamu undangan hanya diberikan untuk lima puluh peserta undangan dan tiap meja disediakan untuk empat orang tamu, di depan ada dua puluh bangku VIP. Ditempat itu telah duduk Riana, Vico, bersama Hermawan Bagaskara dan Vina Jovanca yang merupakan orang tua Riana Disamping mereka ada Adi Leonardo bersama Marinka orang tua Silvi yang menjadi tamu kehormatan di konser itu, tapi di pojok kanan juga terlihat Lyora n the genk hadir bersama Abimanyu Wijaksana dan istrinya Safira yang merupakan orang tua Lyora. Sekaligus rival ayah Silvi.
MC telah membuka acara dengan berbagai macam acara pembuka dan sampailah pada acara utamanya sang idola Bruno Mars menyanyikan lagunya diiringi musik piano Silvia Anastasya. "Astaga, benarkah yang gue lihat ini?" Lyora sangat terkejut dengan yang baru saja dia lihat.
"Hah?!?" Winda, Cecyl dan Lyana ikut melongo melihat seseorang yang tampil dikonser itu.
"Ada apa ya, kenapa kalian kok kaget gitu," tanya Safira melihat anak-anak yang berada didekatnya.
"Itu ma, si Silvi yang selalu rebut kebahagiaan aku,dia yang pernah aku ceritakan sama mama waktu itu," tunjuk Lyora pada Silvi yang sedang asik memainkan piano.
Dikubu kiri Vico, Riana bersama para orang tua berdecak kagum atas kepiawaian Silvi. Kenapa tidak? Hanya orang tuli yang tidak bisa merasakan betapa indahnya alunan musik yang dimainkan Silvi.
"Oh jadi dia orangnya yang ngerbut posisi kamu di sekolah?" Safira mulai sewot memperhatikan Silvi.
"Kenapa ma, kan memang dia mainnya bagus," puji Abimana menyanjung Silvi. "Iiicch papa ini gimana sich harusnya aku yang mengiringi Bruno Mars disana buka dia pa," rajuk Lyora dengan wajah kesal sambil melipat kedua tangannya dan meruncingkan bibir tipisnya.
Abimana hanya tersenyum menggelengkan kepala melihat kelakuan putrinya. Memang dia selalu memanjakan putrinya hingga menjadi anak yang sangat ambisius dan semua keinginannya harus terpenuhi.
Semua orang sangat menyukai permainan piano Silvi hingga akhir acara Silvi mendapatkan hadia dari sang idola. Bruno memberikan sebuket bunga pada Silvi karena merasa senang berkolabirasi dengan Silvi. Suatu kehormatan bagi Silvi mendapatkan bunga indah dari artis faviritnya. Semua mata tertuju pada Silvi yang begitu anggun dan mempesona. Lyora hanya menggeram melihat Silvi. Lalu meninggalkan konser itu tanpa menunggu konser selesai.
__ADS_1
"Nyebelin banget tuch anak. Berani dia unjuk gigi di depan gue. Awas lo Silvi. Gue bakal bikin perhitungan sama lo," gerutu Lyora sambil menuju ke arah taman parkiran.
"Lyora ... Lyora, kenapa sich lo kekanak-kanakan banget? Harusnya lo senang melihat teman lo bisa diundang ke konser mahal," ujar seseorang di belakang mengejek Lyora.
"Lo?!" Lyora memandangi lelaki yang berdiri di belakangnya.
"Masih ingat sama gue?" Lelaki itu tersenyum pada Lyora.
"Farel? Lo juga diundang di konser ini?" Tiba-tiba mata Lyora membulat sempurna melihat lelaki yang dikenalnya itu.
"Ya iyalah guekan sepupunya Silvi ta pasti diundang," jawabnya sambil mengangkat kerah bajunya.
"Lo sepupu Silvi?" Lyora mencoba memastikan lagi. Farel menganggukkan kepalanya dengan keras. Lyora tersenyum jahat sambil bergumam "kebetulan ni ada si Farel. Diakan pernah bilang suka sama gue, gimana kalau gue manfaatin dia buat atur siasat menyingkirkan Silvi. "
Dari tatapan lo, gue ngerasa ada aura negatif yang bakalan muncul," tebak Farel.
Lyora kaget Farel tahu jalan pikirannya kemudian menaikkan alisnya "hmmm bukan begitu sebenarnya gue mau minta bantuan lo" Lyora bicara dengan nada manja.
"Iiich malah bahas Vico. Gue udah berhenti mengejarnya. Gue menyerah" Lyora memasang wajah sedih menarik simpatik Farel.
"Bagaimana ceritanya?"
"Silvi udah merebut dia dari gue, Silvi juga udah rebut semua yang seharusnya jadi milik gue," jawab Lyora menegaskan perkataannya.
"Ah, ga percaya gue. Silvi itukan lugu mana mungkin dia bisa jadi saingan lo," bantah Farel.
"Lo aja yang ga pernah tahu kebusukananya. Buktinya sekarang dia mau menunjukkan kepada semua orang kalau dia komposer terbaik, artinya udah merebut apa yang harus jadi milik gue". Lyora memanyunkan bibirnya dengan sikap merayu pada Farel.
"Gue tahu maksud lo. Lo mau gue buat impian Silvi berantakan?" ucap Farel seakan ingin bernegosiasi. Lyora menganggukkan kepalanya sambil menatap mata Farel.
"Okay sayang, gue bakal lakuin apa yang lo mau,tapi dengan satu syarat," pinta Farel sambil merangkul pinggang Lyora. Lyora kaget dan memicingkan matanya merasa risih dengan perlakuan Farel yang sedikit lancang, tapi karena dia butuh bantuan Farel. Dia terpaksa mengikuti alurnya.
"Syarat apa?" tanya Lyora dengan suara manja sambil menaruh tangannya dibahu Farel.
__ADS_1
"Mulai sekarang lo harus mau jadi pacar gue," Farel semakin mengencangkan pelukannya.
Sialan si Farel, cari gara-gara aja sama gue gerutu Lyora penuh makna memandang Farel.
"Gimana mau ga?" paksa Farel padanya. "Okay," jawab Lyora menyanggupi permintaan Farel. Farel tersenyum nakal sambil mengusap kepala Lyora lalu melepaskan pelukannya. Lyora merasa lega, sempat merasa takut karena Farel agresif kepadanya. Takut kalau Farel bertindak lebih.
***
"Silvi kamu hebat, Bruno sampai kagum sama kamu. Wah jangan-jangan dia bakal ajak kamu main musik sama dia nanti," Vico meluapkan kebahagiaannya.
"Iya semua mata hanya tertuju sama kamu, tapi..." timpal Rina penuh makna. "Tapi kenapa Ri?" tanya Vico menyambung ucapab Riana.
"Tadi Aku lihat Lyora n the genk juga hadir. Kelihatannya mereka marah banget dengan aksi Silvi dipanggung tadi," sambung Riana.
"Iya aku tahu. Aku juga lihat ekspresinya yang sangat membenciku" Silvi mengakui perkataan Riana.
"Udah, ga usah dipikirin. Lagian siapapun berhak ikut konser itu dan kamu pantas berada dipanggung itu," Vico menenangkan sahabatnya. Riana hanya menganggukkan kepala. Silvi menghela nafas berat.
Entahlah apa yang akan dilakukan Lyora padanya. Setiap hari Lyora n the genk selalu membullynya tapi kali ini pasti lebih paraj dari sebelumnya karena Silvi bisa menaklukkannya sebagai komposer terbaik tahun ini. Apalagi sampai duet dengan Bruno Mars. Bikin Lyora makin sakit hati.
Lyora mulai jengah dengan kemenangan dan kebahagiaan Silvi. Dia mulai mengatur siasat untu menjatuhkan Silvi.
Farel yang baru saja selesai mandi dan menyeka rambutnya dengan handuk, menatap layar HP nya. Ada chat masuk. Lyora: Farel,besok lo kamu sibuk ga?
Melihat chat dari Lyora, Farel merasa bahagia.
Farel: ga sayang,kenapa kangen ya? Goda Farel pada Lyora. Terdengar suara notifikasi chat masuk, Lyora membuka chat itu dan membacanya sambil memutar matanya. Godaan Farel seperti membuatnya merasa jijik,tapi dia butuh bantuan Farel.
Lyora: aaa sayang bisa aja. Aku mau besok kita ketemuan. Rayu Lyora pada Farel yang baru saja jadi kekasihnya.
Farel: okay sayang, pulang kuliah aku jemput kamu di sekolah ya. Farel membuat janji padanya.
Lyora: Okay sayang aku tunggu ya . Sahut Lyora.
__ADS_1