Menikah Dini

Menikah Dini
Menandatangani Surat Perjanjian


__ADS_3

Seorang bayi mungil tengah berada sebuah ruangan berbentuk kotak kaca, bayi mungil itu terlihat lemah dengan selang infus terpasang dihidungnya, dia masih saja memejamkan matanya tertidur pulas.


Lelaki itu menghampiri kotak itu dengan matanya berkaca-kaca penuh kecemasan. Ingin sekali rasanya dia memeluk tubuh mungil itu dan menggantikan rasa sakit itu disana.


Sakit! Kecewa! Sedih! Itu yang tengah dirasakannya. Tanpa terasa, buliran air mata yang tertahan itu mengalir dari sudut matanya. Diapun memejamkan matanya menahan laju air mata itu, tapi tetap saja dia tak mampu menbendungnya.


"Mas?" seorang wanita muda kini memegang lengan pria itu. Seakan ingin menguatkannya.


"Mila, maafkan mas ya. Mas bukan suami dan ayah yang baik," ucapnya lirih sambil menggengam erat tangan wanita yang berada disisinya.


"Jangan bilang seperti itu mas. Mas Fredy udah melakukan yang terbaik untuk aku dan Shafa."


Lelaki itu menundukkan kepalanya menahan air matanya yang kini tertumpah ditangan mungil istrinya itu.


"Aku gagal Mil. Harusnya aku tidak menerima tawaran bu Marinka, aku udah berbuat curang, harusnya aku ga..."


"Mas ga salah. Ini semua demi Shafa, mas lihat. Bayi mungil itu sekarang tidak berdaya, untuk bernafas saja dia butuh alat bantu dan lihat infus itu mas. Dia pasti tersiksa sekarang, kalau dia tidak pernah sakit mungkin saat ini dia berada dalam dekapanku mas. Mas harus bisa membantu dia, mas harus buat dia kembali membaik," wanita itu kini terlihat frustasi dengan keadaan bayinya. Dia terisak dan melemah. Kini tubuhnyapun terjatuh dikaki Fredy.


Ferdy terkejut melihatnya jatuh begitu saja, namun dia menyambut tubuh wanita itu dengan rangkulannya. Dia masih sadar hanya saja tubuhnya terlalu lemah. Dia tak sanggup menahan rasa pilu melihat keadaan buah hatinya.


Fredy segera mengangkatnya ke brankar yang berada didekat bayinya, " minumlah. Kamu harus istirahat jangan banyak berpikir dulu." Pinta lelaki itu padanya.


"Bayiku," ucap wanita itu lirih dengan tatapan kosong pada bayinya.


"Tenangkan dirimu. Aku akan mengusahakan yang terbaik untuk anak kita," bujuk Fredy pada istrinya.


Dia membaringkan istrinya di brankar supaya bisa istirahat. Wanita itu terlihat lelah karena dia hanya memikirkan bayinya sampai lupa beristirahat.


Seorang dokter datang ke ruangan itu.


"Dokter fredy, ada yang harus saya bicarakan pada anda," tukasnya melihat Fredy yang sedang menenangkan istrinya.


"Baik dok," pria itu mengikuti dokter itu. Mila sedang tertidur di brankar setelah ditenangkan oleh Fredy. Pria itu menutup pintu, untuk berbicara dengan dokter yang baru saja memanggilnya di depan pintu ruang inkubator bayinya.


***


Marinka merasa puas dengan apa yang telah dia dapatkan dari Vico. Setelah mendapatkan tanda tangan Vico, dia segera pulang.


Kebetulan hari ini Adi telah berada dirumah, karena setelah dirawat selama satu minggu Adi telah diperbolehkan untuk pulang, tapi tetap saja harus istirahat dirumah dulu.

__ADS_1


"Silvi, sini bentar mama mau bicara sama kamu," ujarnya saat berada disofa sambil merilekskan tubuhnya.


"Iya ma, ada apa?" Silvi menghampirinya dan duduk didekat dirinya.


"Papa kamu bagaimana?"


"Lagi tudur ma. Tadi abis aku suapin makan papa langsung tidur,"


"Ya sudah. Oh iya tadi mama pergi ke bengkel tempat Vico kerja,"


"Buat apa mama ke sana?" Silvi mengernyitkan dahinya penasaran.


"Mama buat surat kesepakatan untuk pernikahan kamu,"


"Apa?! Surat kesepakatan?. Maksud mama apa?" Silvi benar-benar bingung dengan perkataan mamanya.


"Iya, beberapa hari ini mama lagi ngurusin rencana pernikahan kamu sama Vico."


"Terus hubungannya sama surat perjanjian yang mama buat apa?"


"Iya, mama udah buat kesepakatan sama dia berupa surat perjanjian pra nikah. Ni kamu baca aja suratnya. Vico udah tanda tangan tinggal tanda tangan kamu aja," jelas Marinka sambil memberikan dokumen yang telah ditandatangani Vico pada Silvi.


Silvi membaca surat perjanjian yang dibawa oleh mamanya. Seperti yang dijelaskan sebelumnya dalam kesepakatan tersebut mereka akan menikah dalam jangka waktu satu tahun. Wajah Silvi berubah menyendu.


"Mama ga mau kamu menikah dan cuma ngurus anak. Mama mau kamu itu ngelanjutin kuliah kamu ke Amerika. Bukannya itu keinginan kamu juga?" Marinka mempertegas ucapannya.


"Iya ma, aku tahu itu, tapi kenapa mama buat perjanjian satu tahun begini? Bukannya pernikahan itu cuma sekali seumur hidup," Silvi memberikan jawaban sambil menatap mamanya.


"Pokoknya mama ga mau tahu. Kamu mesti kuliah dulu. Apapun yang terjadi kamu nikah hanya untuk satu tahun. Setelah itu kamu harus kuliah ke Amerika!!!" tegasnya dengan nada tinggi.


"Aku ga habis pikir sama mama. Mama suruh aku nikah terus sekarang mama bilang aku harus kuliah," Silvi bingung dengan kemauan mamanya.


"Pokoknya kamu ikut aja dech omongan mama. Kamu tanda tangani surat itu dan kamu menikah dengan Vico untuk menutupi kehamilan kamu itu. Dari dulu mama udah suruh kamu gugurin kandungan itu biar kamu bisa lanjutin kuliah kamu tapi kamu kekeh buat pertahankan anak itu. Sekarang mau atau tidak kamu harus menikah dan seperti yang mama mau sesuai surat perjanjian ysng udah mama buat," tegas Marinka.


Silvi tidak punya pilihan, karena memang satu-satunya jalan yang harus dia tempuh saat ini adalah menikah. Supaya kehamilannya tidak jadi permasalahan lagi. Akhirnya dengan berat hati diapun menandatangani surat perjanjian pra nikah itu.


Marinka memang egois. Dia akan selalu melakukan apapun agar semua keinginannya terwujud.


***

__ADS_1


Sementara di kantor, tepatnya Leonardo Coorp. Johan telah menghandle semua kegiatan kantor, karena Adi masih harus istirahat total dirumah.


Johan yang mendapatkan kesempatan itu, langsung mengambil alih kepemimpinan perusahaan, dengan lancangnya dia masuk ke ruangan CEO yang biasa menjadi ruangan Adi bekerja, kemudian duduk disana layaknya seorang bos. Diapun segera memencet tombol telpon yang menghubungkan dengan telpon sekretaris.


"Debi, kamu ke ruangan saya sekarang!" titahnya pada sekretaris perusahaan itu melalui telpon kantor.


Debi segera mendatanginya dan mengetuk pintu ruangannya.


"Masuk"


"Bapak panggil saya?"


"Iya, saya mau kasih tahu kamu dan kalian semua di kantor ini. Mulai hari ini saya adalah pimpinan kalian. Selama Adi Leonardo belum bisa masuk ke kantor ini saya adalah bos kalian dan seluruh aset perusahaan saya yang mengendalikan," ujarnya dengan penuh kecongkakan.


Debi hanya dia mematung. Bingung dengan maksud Johan, karena Johan kan hanya jadi pejabat sementara tapi kenapa kelakuannya seolah-olah dia telah memegang kendali perusahaan itu?


"Paham ga!!!" Johan mengeraskan suaranya. Membuat Debi terperanjat.


"I... iya pak. Saya paham." Debi tergagap.


"Kamu siapkan surat pengangkatan jabatan saya sekarang juga, biar saya tanda tangani secepatnya." Dengan gaya arogan diaa mulai menunjukkan taringnya.


"Baik pak. Saya buatkan sekarang juga." Ujar Debi kemudian dia keluar dari ruangan itu.


Terlihat wajah menggerutunya kepada Johan.


"Eett dah, napa tuch muka ditekuk aja kaya setrikaan kusut?" Celetuk Risma padanya.


"Itu tuch, bos lo rese banget." Ucapnya kesal


"Sstt jangan keras-keras ngomongnya ntar lo dipanggil keruanganya." Linda ikutan nimbrung.


"Abisnya bete gue. Diakan cuma pengganti sementara selama pak Adi sakit, tapi lagaknya udah kaya dia CEO nya". Debi mendengus kesal.


"Emang dia nyuruh apaan tadi?" Tanya Risma kepo padanya.


"Dia nyuruh gue buat surat pengangkatan jabatan sementara dia buat ditanda tangani". Jelas Debi.


"Ya udah lo buatin aja dulu".  Tukas Linda.

__ADS_1


"Iya. Ni juga lagi mau gua buat". Dengus Debi merasa gontok didalam hatinya.


Dia masih belum terima dengan sikap Johan yang sok arogan itu padanya, tapi mau bagaimana lagi, namanya juga sekretaris ya ngikut aja kemauan atasannya.


__ADS_2