Menikah Dini

Menikah Dini
Tujuh Bulanan


__ADS_3

Siang itu Silvi sedang berada di teras rumah, menikmati keindahan taman bunga yang berada di halaman depan rumahnya. Marinka yang melihat sang anak dari kejauhan langsung menghampirinya.


"Sayang, kamu ngapain bengong disini?"


"Ga kok ma. Cuma pengen lihat bunga-bunga yang baru mekar aja ma,"


"Kamu ga lagi ada masalahkan nak?"


"Ga kok ma. Aku baik-baik aja. Oh iya ma, aku pengen ke kantornya mas


Vico ni. Pengen bawain makanan kesukaannya,"


"Ya silahkan aja kalau kamu mau ke kantor Vico hari ini,"


"Bentar ya ma, aku ke dalam dulu mau buatin masak dulu,"


Marinka menganggukkan kepalanya. Kemudian melihat putrinya yang berlalu dari hadapannya.


Silvi yang ingin sekali membuat kejutan untuk suaminya itu, segera ke dapur dan mengambil bahan makanan di dalam kulkas beserta peralatan masak. Dia menjadi begitu bersemangat saat akan mengeksekusi bahan makanan itu.


Cukup tiga puluh menit makanan buatan Silvi telah siap. Silvi langsung menyiapkan kotak makanan. Ada beberapa kotak makanan, diantaranya ada tofu saus tiram, ayam rica dan sayur asem. Tak lupa beberapa camilan dan buah.


Tidak perlu waktu lama, Silvi telah sampai di kantor Vico. Sebelum menemui Vico dia telah menemui resepsionis terlebih dahulu.


"Maaf mbak, saya bisa ketemu sama mas Vico?" tanya Silvi sambil membawa paper bag yang berisikan makanan.


"Maaf ini dengan mbak siapa ya?" Resepsionis itu kembali bertanya.


"Saya Silvi istrinya mas Vico."


"Baik mbak saya hubungi dulu mas Vico."


Setelah menghubungi Vico, resepsionis mempersilahkan Silvi untuk menemui Vico.


Silvi langsung menuju lift dan menuju ke ruangan Vico.


Baru saja sampai di depan lift Silvi bertemu dengan seorang wanita.


"Mbak, mau ke lantai atas juga ya?" sapa wanita itu padanya.


"Iya mbak saya mau mengantarkan makanan untuk suami saya," jelas Silvi pada wanita itu.


"Emang suami mbak siapa?" wanita itu mulai penasaran.


"Mas Vico." jawab Silvi singkat.


Deg!!!


Wanita itu terdiam mendengarkan jawaban Silvi. Dirinya benar-benar tidak menyangka ternyata Vico sudah mempunyai istri. Memang belum ada karyawan yang tahu kalau Vico telah menikah kecuali Denis.


Pastinya itu sangat mengejutkan, kalau tiba-tiba ada kabar mengenai Vico yang telah menikah.


"Kenapa mbak? Kok bengong?" tanya Silvi heran memperhatikan wanita itu.


"Ga kok. Oh iya mbak mau ke ruangan mas Vico kan. Saya antarkan ya."

__ADS_1


"Iya mbak makasih. Ngomong-ngomong mbak ini siapa?"


"Saya Aurel, sekretaris kantor ini."


"Oh iya. Saya Silvi mbak".


***


Setelah lift berhenti, Silvi dan Aurel keluar dari lift kemudian Aurel mengantarkan Silvi ke ruangan Vico.


Tok... tok... tok...


"Iya masuk," suara seseorang dari dalam ruangan menjawab.


Aurel membuka pintu ruangan itu dan mengajak Silvi masuk.


"Vico, ini istri kamu datang bawain makanan,"


Vico langsung melihat ke arah suara yang menyapanya dan ketika melihat itu adalah Silvi dia segera menghampirinya.


"Loh, yang kok kamu tiba-tiba ke kantor?"


"Iya mas. Aku pengen buat kejutan buat mas. Makanya aku bawain makanan kesukaan mas."


Vico sangat senang dengan kedatangan istrinya dia langsung mengambil makanan yang dibawakan dan mengajak istrinya masuk. Tak lupa menyapa Aurel.


"Tapi kenapa bisa barengan sama mbak Aurel juga?"


"Iya ni Vic, aku tadi ga sengaja ketemu Silvi di loby pas mau ke lift, karena aku pikir tamu atau klien jadi aku ajak barengan. Eh... ga taunya istri kamu," celetuk Aurel.


"Iya mas. Untung aja ada mbak Aurel tadi, kalau ga aku bakal bingung mencari ruangan mas Vico."


"Iya deh mbak. Makasih ya udah membantu Silvi," tukas Vico padanya.


Wanita itu menjawab dengan anggukan kepalanya. Kemudian dia beranjak dari tempat duduknya.


"Eh mbak mau kemana?" Tanya Silvi yang memperhatikan wanita itu.


"Saya masih ada kerjaan kamu sama Vico lanjut dulu kalau mau makan."


"Ga makan bareng kita mbak?" Tanya Vico.


"Saya udah makan di kantin tadi."  Jawab wanita itu sambil tersenyum.


"Iya udah kalau begitu. Makasih ya mbak udah bantu Silvi."


"Iya sama-sama."


Setelah Aurel keluar ruangan mereka melanjutkan makan bersama.


***


Vico menikmati makanan yang dibawakan Silvi dengan lahap. Lagi asik menikmati makanannya, Denis masuk keruangannya.


"Vic. Kita makan bar..."

__ADS_1


Belum sempat Denis melanjutkan ucapannya, dia malah kaget sendiri dengan kehadiaran Silvi.


"Loh, ada Silvi disini," sapanya pada Silvi.


"Iya mas, ini Silvi tadi siapin makan siang buat gue mas. Mas mau ikut gabung makan siang sama kita?" tanya Vico sambil mengambil makanan.


"Iya kalau diizinkan gue mau loh,"  ucap Denis yang terlihat tertarik dengan makanan Silvi.


"Ya udah sini mas gabung aja. Aku bawa makannya banyak," ajak Silvi pada lelaki itu.


"Dengan senang hati," Lelaki itu segera duduk didekat Vico. Silvi dengan cekatan mengambilkan makanan dan lauk yang dibawakannya.


"Wah enak ya kalau punya istri pintar masak kayak gini," tukas lelaki itu saat memperhatikan makanan Silvi.


"Ah... aku ga pintar masak kok mas. Ini aja lagi belajar," ucap silvi merendahkan hatinya.


Denis menyantap makanannya dengan penuh kenikmatan.


"Hm... tapi ini beneran enak loh Sil." Ujar lelaki itu sambil mengunyah makanannya.


"Iya mas. Silvi emang paling jago bikin masakan ini." Tukas Vico.


Mereka menikmati makanan itu hingga habis. Sepertinya makanan yang dibawakan silvi benar-benar enak dan makanan itu habis dalam waktu singkat.


"Eh makansih ya sil, makanan kamu enak banget." Ucap Denis  sambil mengusap perutnya karena kekenyangan.


"Sama-sama mas. Mudah-mudahan mas Denis ga kapok makan masakan saya." Canda Silvi.


"Ga dong. Kalau dimasakin masakan kayak gini tiap hari yang ada aku bisa gendut mendadak." Lelaki itu membalas candaan Silvi.


Mereka terkekeh mendengar ucapan Denis. Setelah selesai makan bersama Denis keluar ruangan dan melanjutkan pekerjaannya.


Vico juga mengantarkan Silvi ke area parkir karena pak Jono telah menunggu.


"Sayang makasih ya udah bawain makanan untuk aku." Ujar Vico sambil mengusap kepala Silvi.


"Iya mas, kalau mas mau nanti aku bawain tiap hari." Jawab Silvi.


"Iya tapi ga usah tiap hari nanti kamu capek" tukas Vico


Silvi hanya tersenyum kemudian berpamitan dengan Vico untuk pulang.


***


"Ma... Silvi itu kandungannya udah jalan berapa ya?" tanya Adi saat bertemu dengan istrinya disebuah restoran.


Adi dan Marinka memang sengaja membuat janji makan siang di restoran. Hanya sekedar untuk meluangkan  waktu bersama.


"Kayaknya udah tujuh bulan deh pa." Jawab Marinka sambil menikmati makanannya.


"Wah kalau begitu kayaknya kita mesti mengadakan acara tujuh bulanan ni." Ujar Adi


"Hm... kalau itu tergantung Silvi aja pa. Lagian dia belum bahas apa-apa kok pa." Ucap Marinka.


"Ya udah nanti kita bicarakan saja sama Silvi."

__ADS_1


__ADS_2