Menikah Dini

Menikah Dini
Ritual Tujuh Bulanan


__ADS_3

Baru saja sampai dirumah Marinka menghela nafas lelah.


"Kenapa ma kayaknya cape banget?" tanya Silvi sambil menghampiri sang mama.


"Iya mama kamu cape abis ngambek tadi."


"Hah ngambek? Kok bisa, emang mama ngambek gimana.? tanya Silvi sambil menahan tawanya.


"Gimana ga ngambek kalau tadi ketemu sama mantan papa kamu?" ucap Marinka berapi-api.


"Idich si mama udah dibilangin dari tadi, Rebeca cuma rekan bisnis. Masih aja dicemburuin," Adi mencoba membela dirinya.


"Tapikan bener itu mantan papa?" Marinka masih saja kekeh.


"Ya udahlah ma, mau papa jelasin gimana juga mama tetap aja ga mau terima. Terserah mama aja dech gimana enaknya," tukas Adi mencoba mengakhiri perdebatan.


Vico yang baru saja pulang dari kantor melihat kehebohan antara Marinka dan Adi, langsung menatap Silvi sambil memberi kode. Silvi cekikikan melihat mamanya yang cemburu, tapi dia segera menjauh dari mereka dan menghampiri Vico.


"Sayang, kenapa tuch papa sama mama?" tanya Vico keheranan.


"Biasa, mama jealous sama rekan bisnis papa," ujar Silvi sambil tersenyum dan mengusap perutnya.


"Lah, kok bisa?" Vico semakin penasaran.


"Hehe, denger-denger rekan bisnis papa itu mantan pacar papa dulu. Makanya mama jadi kayak gitu."


"Hahaha... mama ada-ada aja dech."


Vico tidak bisa menahan tawanya yang telah ditahannya sedari tadi.


Tiba-tiba Adi menghampiri mereka. Otomatis keduanya menghentikan tawanya, agar tidak diketahui oleh Adi kalau mereka sedang menertawakan kedua orang tuanya itu.


"Eh, papa. Ada apa pa?"  tanya Vico sambil menoleh pada mertuanya.


"Begini, sebenarnya, papa dan mama mau mengadakan acara tujuh bulanan buat kamu, tapi gara-gara mama kamu ngambek papa jadi lupa."

__ADS_1


"Ya boleh aja pa. Emang kapan rencananya pa?" tanya Silvi pada papanya.


"Rencananya papa mau mengadakan acaranya minggu depan."


"Iya bagus tuh pa, tapi mama setuju ga pa?" ucap Vico sambil memperhatikan Marinka yang sedang duduk di sofa.


"Mama kamu sich katanya terserah kamu aja."


"Baiklah pa, kalau begitu kita harus mempersiapkan semuanya dan mengundang para tamu dulu?" jelas Silvi.


"Oh iya Vico. Nanti jangan lupa undang ibu kamu juga." Adi mengingatkan Vico.


"Iya pa. Nanti biar aku kasih tahu ke ibu." Jawab Vico pada ayah mertuanya.


***


Seminggu berlalu. Acara yang dinantikanpun telah tiba.


Acara melalui berbagai prosesi sesuai dengan adat jawa, karena Silvi dan Vico adalah orang Jawa.


Kemudian dilanjutkan dengan acara sungkeman. Pada acara ini pertama-tama Silvi sebagai calon ibu melakukan sungkeman kepada calon ayah (suaminya). Kemudian, Silvi dan Vico melakukan sungkeman kepada kedua orang tua mereka untuk memohon doa restu agar proses kehamilan dan kelahiran kelak berjalan dengan lancar dan selamat.


Setelah prosesi sungkeman selesai,dilanjutkan pada prosesi kedua, Siraman atau mandi merupakan simbol upacara sebagai pernyataan tanda pembersihan diri, baik fisik maupun jiwa. Pembersihan secara simbolis ini bertujuan membebaskan calon ibu dari dosa-dosa sehingga kalau kelak si calon ibu melahirkan anak tidak mempunyai beban moral sehingga proses kelahirannya menjadi lancar.


Pada acara ini, dilakukan pembacaan surat Yusuf dan Maryam dengan harapan dan doa si buah hati menjadi anak yang sholeh/sholehah. Surat Yusuf dibaca oleh Vico selaku suami dan Surat Maryam dibacakan oleh Silvi.


Kemudian  setelah membaca kedua surat tersebut dilanjutkan membaca Surat Yasin, tahlil dan sholawat Nabi agar mendapat keberkahan.


Setelah membacakan ayat suci alqur'an, prosesi siramanpun dilakukan, Silvi duduk ditempat yang telah disediakan kemudian disirami air yang sudah dicampur dengan berbagai bunga-bungaan dengan menggunakan gayung yang terbuat dari batok kelapa.


Penyiraman dimulai dari ustadzah, dilanjut dengan kedua orang tua Silvi dan tak lupa pula mertuanya, suami, dan orang terdekat.


Acara selanjutnya, upacara Ganti Pakaian.


Pada acara ini sebagai calon ibu  Silvi akan memakai kain dan kebaya tujuh macam. Kemudian, saat mengganti pakaian sebanyak enam kali tujuannya untuk mendapatkan jawaban dari ibu-ibu yang hadir apakah sudah pantas atau belum.

__ADS_1


Setelah, calon ibu mengganti pakaian yang ke tujuh kali dengan kain lurik motif sederhana, maka ibu-ibu akan mengatakan pantas dengan pakaian tersebut.


Setelah upacara ganti pakaian, Silvi disuruh duduk ditumpukan baju dan kain yang tadi habis dipakai. Mempunyai simbol agar calon bayi dapat lahir cukup bulan. Upacara ini disebut juga Upacara Angrem


Berikutnya Upacara Mecah Kelapa. Acara ini dilakukan oleh calon nenek yaitu Marinka dan Ratna, membawa dua kelapa gading yang masing-masing digambari tokoh Wayang Kamajaya dan Kamaratih.


Lalu, calon ayah memilih kedua kelapa gading tersebut untuk mengetahui jenis kelamin dari si calon bayi pria atau wanita. Hal ini hanya berupa pengharapan saja, belum tentu menjadi suatu kenyataan.


Acara terakhir, dodol rujak, dalam acara ini, Silvi disuruh  membuat rujak yang didampingi oleh sang suami, dan para tamu akan membelinya dengan menggunakan kereweng sebagai mata uang. Makna ini supaya calon bayi yang dilahirkan mendapatkan rezeki yang berlimpah dan bisa menghidupi keluarganya kelak.


Acara ini cukup menyita waktu, karena dilaksanakan dari pagi hingga malam hari. Silvi cukup lelah dengan ritual tujuh bulanan itu, setelah semua tamu undangan pergi dari acara, Vico segera menyuruhnya untuk beristirahat.


***


Adi dan Marinka sangat terharu dengan acara tujuh bulanan Silvi. Meskipun masih sebatas harapan, namun sebagai orang tua mereka sangat bahagia melihat anak satu-satunya telah melalui proses adat itu.


Ketika mereka sedang berduaan, tiba-tiba saja Rebeca datang menemui mereka dan membawakan berbagai macam kado untuk Silvi.


"Hai Marinka, maaf aku sedikit terlambat, soalnya tadi anakku datang dari Amerika, jadi aku harus menjemputnya dulu baru datang ke sini," kelas wanita itu penuh keramahan.


"Memangnya papa mengundang dia ke sini juga?"  tanya Marinka pada suaminya.


"Hm....iya ma, Rebeca kan rekan bisnis papa juga jadi papa mengundangnya datang ke sini," jelas Adi.


Raut wajah Marinka langsung berubah, yang tadinya penuh kebahagiaan sekarang malah jadi kesal karena kehadiran Rebeca.


Rebeca yang memperhatikan Marinka, paham dengan sikap Marinka, diapun langsung membujuk Marinka.


"Aku ke sini hanya untuk memenuhi undangan, tidak ada maksud yang lainnya. Aku harap anda tidak terganggu dengan kedatangan saya." Tukas Rebeca.


Marinka hanya diam tak menjawab apa-apa. Dia menunjukkan wajah keberatan atas kehadiran Rebeca, namun sebagai tuan rumah yang baik Adi membujuk sang istri dan mengajak tamunya untuk mengikuti acara yang sedang digelarnya.


Meskipun dengan sedikit bingung menghadapi antara kedua orang itu tapi Adi harus menghormati dan menghargai tamunya. Tidak mungkin dia menyuruh Rebeca pulang begitu saja.


Akhirnya Marinka mengikuti suaminya meskipun dengan berat hati, tapi karena tidak ada yang mencurigakan antara suaminya dan Rebeca diapun tetap menjamu tamunya itu.

__ADS_1


__ADS_2