Menikah Dini

Menikah Dini
Bertemu Kembali


__ADS_3

Vico baru saja pulang dari kantornya. Dirinya merasa sangat rindu dengan baby twins nya.


"Talia... Talisha... sayang. Papa pulang." Ujarnya bersemangat menemui bayi-bayi cantiknya.


"Mas, kamu udah pulang?" Silvi yang baru saja selesai menyiapkan makanan dan membersihkan dirinya menghampiri Vico.


"Iya yang, aku kangen banget sama si kembar. Untung kerjaan cepat selesai tadi jadi bisa nemenin anak-anak." Ujar Vico sambil menggendong dan menciumi baby twins nya satu persatu.


Silvi sangat senang dengan perlakuan suaminya pada anak-anaknya, tapi dia ingin menyampaikan tentang apa yang terjadi pagi tadi.


"Mas, aku mau ngomongin sesuatu."


"Iya, silahkan bilang aja."


Vico menjawab sambil mengajak bayi-bayi mungil itu bermain. Terlihat senyuman manis dari para bayi itu,  mereka juga menghentakkan kaki mereka memberi respon bahagia.


"Tadi ada orang aneh ngasih paket misterius kerumah." Silvi mengadu sambil duduk didekat Vico.


Mendengar ucapan sang istri, Vico menghentikan kegiatan bermainnya dengan para bayi mungilnya. Dirinya duduk didekat Silvi, untuk lebih fokus pada pembicaraan mereka.


"Orang aneh gimana sayang?"  Tanyanya sambil menatap raut wajah sang istri.


"Iya mas, tadi pas semua orang ga ada dirumah ada yang mencet bel berkali-kali, tapi pas aku buka orangnya ga ada. Terus aku lihat didepan pintu rumah ada paket misterius." Tutur Silvi memberikan pengaduan pada suaminya.


"Paket misterius?"  Vico masih bingun dengan ucapan Silvi.


"Iya mas. Mas mau tahu apa isi paket itu?" Vico meperhatikan Silvi dengan intens mengisyaratkan permintaan untuk memberi jawaban yang jelas.


"Paket itu isinya sepasang boneka yang berdarah yang ditusuk pake pisau." Jelas Silvi.


"Apa? Gimana bisa ada orang ngasih paket kayak gitu? Apa kamu lihat orangnya?"


"Ga mas, orangnya menghilang begitu saja." Jelas Silvi sambil mengedikkan bahunya.


"Aneh, siapa ya yang buat teror seperti itu?."


Vico mengernyitkan dahi merasa heran, karena setahunya baik dirinya ataupun keluarganya tidak punya masalah pada siapapun. Aneh sekali jika ada yang membuat kekacauan dirumah itu.


"Itulah mas aku juga bingung. Aku takut ada yang lagi mengincae baby twins kita."


"Jangan bicara seperti itu yang. Ga baik, aku ga mau sampai terjadi sesuatu pada anak-anak kita. Mestinya kita tanya satpam, kan mereka yang berjaga diluar." Tukas Vico sambi mengusap lengan Silvi untuk menenangkannya.


"Satpam aja dibuat tidur mas. Kayaknya orang itu udah merencanakan semuanya. Satpam yang berjaga dikasih obat bius sampai mereka tertidur, CCTV juga dimatikan sama orang itu." Jelas Silvi lagi.


"Hm, benar-benar aneh. Orang itu ga mengambil apa dari rumah ini?"


"Ga mas, ga ada tanda-tanda pencurian."


"Ini mesti dilapor polisi biar kita bisa dapat pengamanan." Tukas Vico.


"Iya mas, aku juga mikir seperti itu."


Kali ini Vico dan Silvi harus memutar otak agar rumah yang ditempatinya menjadi aman. Terutama untuk bayi kembar mereka. Harus mendapatkan penjagaan yang extra ketat.

__ADS_1


***


Farel, baru saja selesai mengerjakan pekerjaannya. Sudah lama sekali dia tidak bertemu dengan winda, rasanya dia begitu ingin bertemu dengan gadis itu hanya sekedar untuk bercerita ataupun makan malam.


Lelaki itu segera mengambil benda pipih dari sakunya dan menghubungi kontak seseorang. Tidak perlu waktu lama, seseorang disebrang sana menjawab panggilannya.


"Ya... halo."


"Winda, apa kabar kamu?"  


Mendengar suara seseorang yang telah lama tidak menghubunginya, rasanya ada yang menggelitik hati gadis itu. Ya, ada rasa kerinduan yang kini menyentuh hatinya.


"Baik kak. Kakak sendiri gimana?"


"Aku Farel Win. Lama ga ketemu ni. Kangen aku ngobrol sama kamu." 


"Iya kak, aku juga kangen."


"Kalau gitu kamu maukan kalau kita ketemuan?" 


Mendengar ucapan Farel barusan, rasanya Winda seakan melayang. Ini kesempatan besar buat dirinya untuk bisa berdekatan kembali dengan Farel.


"Halo... Winda, kamu masih disana?" Panggil Farel.


"Eh iya kak. Aku mau." Spontan saja ucapan itu terlontar dari mulut Winda."


"Baiklah kalau gitu nanti aku jemput kamu." 


Tepat pada pukul delapan malam Farel menjemput Winda. Baru saja keluar dari mobilnya, Farel dibuat terpukau oleh gadis yang berada dihadapannya.


Winda terlihat cantik malam itu,  dengan mengenakan gaun hitam panjang hingga betis dengan potongan slim fit dan sepatu hak tinggi berwarna senada dengan gaun yang dikenakannya tak lupa clutch yang bertengger ditangannya menambah kesan feminim dari dirinya.


"Wow... kamu cantik sekali, malam ini." Puji Farel saat menatap Winda.


"Ich kakak jangan lebay gitu, aku kan pakai gaun biasa aja kok."  Jawab gadis itu dengan malu-malu.


“Gaunmu indah sekali. Warnanya membuat matamu lebih berbinar.” Puji Farel  lagi yang tak mau melepaskan pandangannya dari Winda.


Memang malam itu Winda terlihat cantik dan seksi dengan gaun hitam yang dikenakannya.


"Kakak suka dengan penampilanku?"


“Aku suka sekali saat kamu mengenakan dress hitam ini. Matamu menjadi lebih indah senada dengan dress yang kamu pakai.”


Winda tersenyum lebar mendengar pujian Farel yang sedikit receh tapi cukup membuatnya merasa melayang.  Tanpa membuang waktu lebih lama, kedua sejoli itu menuju ke restoran yang telah ditunjuk oleh Farel.


Malam itu , Farel ingin memberikan kesan romantis dalam pertemuan mereka. Makanya Farel sengaja memesan salah satu restoran termahal di Jakarta untuk dinner mereka.


Ketika sampai di restoran favoritnya, Farel telah memesan sebuah meja di restoran itu.


Farel membukakan kursi tempat mereka duduk dan mempersilahkan gadisnya untuk duduk terlebih dahulu.


Winda cukup tergugah dengan suasana dinner mereka. Dia pikir dirinya akan makan malam biasa saja dengan Farel, tetapi tidak. Ini sangat lebih dari ekspektasinya justru jauh lebih indah.

__ADS_1


Di atas meja yang sengaja tidak diberi pencahayaan hanya berhiaskan beberapa lilin, sudah tersedia sepiring nasi, seporsi bebek panggang, dan sepiring spageti. Membuat suasana malam itu terluhat sangat romantis.


Di tambah lagi saat mereka sedang menikmati makan malam muncul para pemain musik yang mengiringi makan malam mereka. Menambah kemesraan antaea medua insan itu.


"Kak, ada acara apa ni kok kayaknya ada tamu spesial?"


Winda membuka suara, karena melihat suasana bak di film romantis yang begitu terpampang nyata dihadapannya. Gadis muda itu masih belum paham dengan keadaan yang dilihatnya.


"Tentu saja. Ini aku persiapkan untuk orang spesial dalam hidupku." Jawab Farel datar.


"Oh, jadi kakak ajak aku ke sini buat ngenalin aku sama orang spesial kakak?"  Tanya gadis itu dengan nada sedikit memelan.


Rasanya baru saja lelaki itu membuatnya seperti orang spesial namun seketika dia dihempaskan begitu saja dengan sikap Farel.


Farel yang melihat perubahan pada raut wajah Winda hanya tersenyum menatap gadis itu.


"Ya, orang spesial yang ada didepanku ini."  Ucap Farel secara gamblang menatap netra gadis belia itu.


"A... aku?" Tunjuknya pada dirinya.


Farel menganggukkan kepala dengan mantap dan menggenggam tangan Winda.


"Winda, apa kamu bersedia menjadi pendamping hidupku?"


Winda merasa gugup dan masih belum percaya dengan apa yang didengarnya barusan.


"Win... aku menunggu jawabanmu." Desak Farel yang penasaran dan tidak sabar akan jawaban Winda.


Tanpa basa basi dan berpikir lama-lama gadis itu menganggukkan kepalanya. Dia tak mampu berkata apapun karena ini sungguh mengagetkan dan dadakan sekali baginya.


Farel yang merasa bahagia langsung mengeluarkan sebah kotak kecil dari saku celananya.


"Ini, aku punya hadiah untuk kamu. Coba lihat dulu, semoga kamu menyukainya." Ujar Farel sambil memberikan kotak itu pada Winda.


Winda mengambil kotak kecil itu dan saat dia membuka kotak itu terlihat sebuah gelang cantik yang terukir inisial namanya dan Farel disana.


"Kak, apa ini untukku?" Gadis itu merasa bingung karena mendapatkan hadiah yang cukup mahal.


"Tentu saja. Itu aku beli buat kamu,sini aku pakaikan untukmu."


Farel yang begitu bahagia mengambil gelang itu dan memasangkannya ditangan mungil wanitanya.


"Ini pas ditangan kamu."


"Makasih kak Farel." Ujar gadis itu sambil berkaca-kaca.


Baru kali ini dia mendapatkan hadiah secantik itu dari seorang lelaki. Memang sejak pertama bertemu Winda sudah menyukai Farel tapi sayang waktu itu Farel masih tergila-gila pada Lyora. Tapi sekarang Farel malah mengungkapkan perasaannya dan memberikan kejutan terindah itu padanya.


"Makasih aja?" Tanyanya sambil mengisyaratkan sesuatu pada gadis itu.


Winda mengerti dengan apa maksud dari bahasa tubuh Farel, langsung memeluk Farel.


Gadis itu sangat bahagia, karena Farel mau menerimanya, karena sudah beberapa kali Winda menyatakan perasaannya namun baru kali ini Farel memberikan jawaban dari semua harapannya. Bahkan lebih tepatnya lagi, Farel yang memintanya. Benar-benar kejutan terindah.

__ADS_1


__ADS_2