
Dirumah telah berkumpul seluruh keluarga. Terlihat raut wajah mereka begitu tegang dan sangat gelisah, karena baru saja kehilangan baby twins.
"Gimana Vic, kamu udah lapor sama polisi tentang hilangnya Talia dan Talisha?" Tanya Adi pada menantunya.
"Udah pa, tadi aku lapor ke kantor polisi, tapi kata polisi untuk kasus penculikan harus menunggu satu kali dua puluh empat jam pa, tapi aku ga bisa menunggu selama itu. Aku mau cari anak-anak dulu." Tukas Vico sambil mengambil jaket dan kunci motornya.
Dia sengaja naik motor biar lebih gampang dan cepat untuk mencari bayi kembarnya.
"Aku ikut mas." Pinta Silvi dengan suara lirih.
"Kamu dirumah aja, biar aku yang nyari keberadaan anak-anak." Cegah Vico pada Silvi.
Dia sengaja tidak membawa Silvi supaya pencariannya lebih mudah. Vico merasa kasian dengan Silvi yang masih sedih karena kehilangan anak-anaknya. Jadi dia berinisiatif untuk mencari sendiri.
"Tapi aku mau ikut mencari mereka mas. Aku takut mereka kenapa-napa? Pasti mereka sekarang kelaparan karena ga mendapatkan ASI dariku mas?" Lirih wanita itu.
Dirinya benar-benar merasa frustasi karena kehilangan anak-anak yang sangat dicintainya.
"Kamu tenangin diri kamu ya sayang, aku janji aku bakal menemukan anak-anak kita secepatnya." Ujar Vico sambil menguspa kepala istrinya.
"Ga.!!! Aku ga mau berdiam diri saja. Aku mau mencari anak-anakku!" Silvi sedikit meninggikan suaranya.
"Sayang dengerin aku, kamu harus tetap disini, kamu harus kuat kalau kamu ikut sama aku, nanti kamu malah sakit, ingatkan kata dokter kamu masih harus banyak istirahat."
Mengingat Silvi masih dalam masa pemulihan,Vico mencoba membujuk Silvi agar tidak pergi bersamanya.
Silvi hanya diam dan menundukkan kepala. Meskipun hatinya sangat ingin untuk mencari keberadaan baby twins tapi dia juga tidak boleh egois, dia juga harus menjaga kesehatannya agar nanti jika baby twins telah kembali dia bisa menjaga dan merawat mereka kembali.
"Benar yang dikatakan suamimu nak. Sebaiknya kamu dirumah saja, biar papa dan Vico yang mencarinya."
Adi langsung memberi kode pada Marinka melalui pandangannya, untuk membawa putri mereka ke kamar dan beristirahat.
Marinka yang memahami kode dari ekor mata sang suamj segera membujuk putrinya dan menemani putrinya supaya menjadi lebih tenang.
"Vico, papa ikut sama kamu buat nyari cucu papa. Ayo kita naik mobil saja nak." Ujar Adi sambil mengajak Vico untuk pergi bersamanya.
__ADS_1
"Baik pa." Jawab Vico singkat.
Malam itu juga mertua dan menantu itu menyusuri hiruk pikuknya kota Jakarta. Kota yang begitu luas dan ramai dengan para manusia dan aktifitasnya dimalam hari tidak mempengaruhi suasana hati mereka saat ini. Meski ditengah keramaian, dua orang itu masih merasa sunyi. Mereka larut dalam pemikiran mereka masing-masing mengenai si kembar.
Sudah berbagai tempat mereka lalui dan banyak orang yang telah mereka hampiri untuk menanyakan tentang bayi mereka, namun mereka belum juga menemukan jawaban atas pencarian mereka, bahkan malam juga telah semakin larut, tapi belum ada hasil yang mereka dapatkan.
"Hm... kemana lagi harus kita cari pa? Kenapa mereka bagai lenyap ditelan bumi? Kita tidak menemukan jejak sama sekali." Keluh Vico.
Adi melihat Vico yang letih, mengerti dengan keadaan lelaki itu.
"Tenanglah nak, mungkin kita harus melanjutkan pencarian besok. Sekarang udah malam. Kita ga mungkin mencari dalam keadaan yang seperti ini."
"Tapi pa, gimana anak-anakku? Apa mereka baik-baik saja, apa mereka dirawat dan diberi makan? Mereka masih bayi dan masih butuh kasih sayang dari aku dan Silvi ibunya." Suara lelaki itu tercekat seakan menahan rasa sedihnya.
Sebagai seorang mertua sekaligus orang tua, Adi sangat memahami perasaan Vico. Dia sangat memahami perasaan Vico yang baru saja kehilangan baby twins. Dirinya sendiripun merasa kehilangan dan sama sedihnya seperti orang yang berada didekatnya, namun dia juga harus menguatkan hati supaya tetap bisa menyemangati dirinya dan juga Vico.
"Kamu mesti tenangin hati kamu Vico. Papa yakin kok, sikembar akan baik-baik saja." Ucap lelaki paruh baya itu sambil mengusap punggung menantunya.
"Dimana kalian nak, papa kangen banget sama kalian. Papa rindu sama canda tawa kalian, tangisan kalian dan semua yang ada didalam diri kalian."
***
Ditempat berbeda,
Maxy telah mendapatkan remisi dari masa tahanannya. Melalui bantuan pengacaranya, Maxy mengajukan banding atas kasusnya. Setelah mendapatkan pengurangan masa tahanan dari empat tahun menjadi satu tahun dan membayar denda yang telah ditentukan. Akhirnya, lelaki muda itupun bisa menghirup udara bebas.
"Selamat tuan, akhirnya kasus anda telah selesai dan resmi ditutup." Ujar seorang pria yang duduk dihadapan Maxy.
"Hmph... kau benar Tony. Sekarang aku bisa menghirup udara bebas kembali. Aku benar-benar bosan berada ditempat terkutuk ini." Tukas lelaki itu sambil menuju ke arah mobil yang sedang menunggu di depan kantor polisi.
"Apa yang akan anda rencanakan tuan?" Tanya pengacara itu sambil mengekorinya.
Sepertinya pengacara itu sengaja memancing Maxy untuk mengetahui apa yang direncanakan lelaki itu setelah keluar dari tempat yang tak disukainya.
"Apalagi yang akan kulakukan selain mengurus perusahaan dan juga menyesaikan urusanku dengan seseorang." Jelas lelaki itu sambil menyesap rokoknya.
__ADS_1
"Kalau saya boleh tahu, anda akan menyelesaikan urusan dengan siapa tuan?"
"Siapa lagi kalau bukan Clara? Wanita itu harus membayar atas apa yang telah dilakukannya padaku."
Mendengarkan nama Clara, pengacara muda itu langsung menelan kasar salivanya.
"Mengenai Clara, saya dengar dia akan menikah dalam waktu dekat ini." Jelas pengacara pada Maxy.
"Apa? Menikah, haha... tidak mungkin... kau jangan bercanda Tony. Mana mungkin dia menikah secepat itu."
"Iya tuan, saya mendapat kabar dari klien dan partner bisnis kita. Isunya sudah beredar luas, gadis itu telah mendapatkan calon suami." Jelas pengacara itu secara gamblang.
Mendengar ucapan pengacaranya, tiba-tiba suasana hati Maxy jadi berubah. Tadinya dia merasa bersemangat untuk memulai hari, setelah mendengar kabar Clara akan segera menikah membuat lelaki itu berang.
Wajahnya mulai menampakakan rasa tidak suka, rahangnya mengeras dan tangannya mengepal dengan sangat kuat.
"Sial! Bisa-bisanya wanita itu bersenang-senang saat aku dalam keadaan seperti ini. Aku tidak akan membiarkan pernikahan itu terjadi." Ucap lelaki itu dengan penekanan.
Lelaki itu menghelas nafas dalam kemudian menghembuskannya secara kasar.
"Katakan padaku, siapa lelaki yang akan menjadi calon suaminya?"
"Setahu saya, orang itu bernama Reynold." Jelas pengacara itu padanya.
"Hah!!! Brengsek ternyata benar. Selama ini mereka menjalin hubungan. Awas kau Reynold aku pasti akan menghabisimu!!!" Gerutu lelaki itu dihatinya.
Maxy benar-benar terbakar api cemburu saat dia mendengar nama Reynold yang akan menjadi calon suami Clara Anderson. Dia sangat tidak rela jika ada seorang lelaki mendekati Clara. Apalagi sampai memiliki wanita itu.
Benar, semenjak dia mengenal Clara, lelaki itu benar-benar terobsesi padanya. Hal itu dikarenakan dia takut kehilangan Clara. Maxy benar-benar mencintai wanita itu tapi sikapnya yang over protective membuat Clara tidak nyaman bersamanya.
Sebenarnya Maxy bukanlah orang yang gampang jatuh cinta karena dia memang sangat sulit untuk didekati, sikapnya yang dingin dan cassanova membuatnya tidak cukup dengan satu wanita. Namun, semenjak mengenal Clara dia membuang jauh-jauh semua sifat buruknya itu dan menunjukkan keseriusannya pada Clara.
Awalnya, semua baik-baik saja tapi lama kelamaan Clara merasa jenuh dengan sikap Maxy yang terlalu banyak menuntut dan over thinking.
Benar-benar membuat wanita itu merasa tidak nyaman menjalin hubungan dengannya. Seakan menjalin hubungan toxid, Clara memilih untuk mengakhiri hubungannya dengan Maxy, tetapi ketika dia bertemu Reynold, wanita itu menemukan kenyamanan dan akhirnya mereka menjalin hubungan serius.
__ADS_1