Menikah Dini

Menikah Dini
Terciduk


__ADS_3

Baru saja Vico keluar dari ruangan kelas, Lyora menyapanya "Vico"


Vico membalikkan badannya "ada apa Lyora?"


"Maaf gue tidak sengaja lewat dan mendengar pembicaraan lo dan Silvi. Kalian lagi ada masalah?" Lyora mencoba menyelidik.


"Apa saja yang lo dengar tadi?" Vico balik bertanya.


"Gue ga terlalu dengar banyak, tapi yang gue lihat Silvi ga mau bicara sama lo."


"Hmm seperti yang udah lo lihat sendiri. Lo juga sudah tahu jawabannya," Vico melanjutkan langkah kakinya.


"Tunggu, gue tahu ini bukan waktu yang tepat buat gue omongin ke lo, tapi gue mau jujur sama lo," Lyora mencegah Vico pergi.


"Maksud lo?" Vico menoleh padanya.


"Gue suka sama lo, gimana kalau..." belum sempat Lyora meneruskan perkataannya, Vico langsung menjawab


"Lo aneh ya. Gue lagi ada masalah sama Silvi terus lo datang buat ngomongin ini sama gue?" Nada bicara Vico mulai meninggi.


"Gue cuma pengen lo tahu perasaan gue"


"Aaarrgghh!" teriak Vico menatap tajam pada Lyora kemudian meninggalkannnya agar pembicaraan Lyora tidak semakin panjang lebar.


Lyora menatapnya dengan senyuman menyeringai. Kenapa sich lo keras kepala banget!!! Gue ga suka dengan penolakan!!! Lihat saja Vico, gue bakalan tunggu sampai lo benar-benar jadi milik gue secepatnya!!! Gerutu Lyora dalam hatinya.


Merasa jengah Vico mengajak teman-teman tim basketnya untuk latihan. Vico ingin melampiaskan kemarahannya dengan bermain basket, karena turnamen juga semakin dekat Vico dan tim berusaha keras untuk memenangkan kejuaraan tahun ini.


"Vic, kenapa muka lo kusut banget?" tanya David yang berada disamping Vico sambil meneguk minumannya.


"Aaa gue ga apa-apa," Vico mengalihkan pandangan memperhatikan teman-temannya yang sebagian masih berlatih.


"Tapi kayaknya gue perhatikan dari tadi lo ga fokus sama latihan basket. Lo ada masalah sama cewe lo?" tebak David.


"Mungkin gue cuma lagi ga fokus aja," elak Vico.


"Itu biasa kok, namanya juga pacaran pasti kadang ada suka ada dukanya," lirih Vico.


David hanya menganggukkan kepala dan kembali berlatih.


"Vico," panggil Riana dari luar ruangan basket sambil mengatur nafas.


"Riana, ada apa Ri?" Vico menghampiri Riana.


"Silvi pingsan," Riana terlihat cemas.


"Apa?" Vico mendekatinya


"Ayo ikut aku Silvi ada di UKS," ajak Riana. Tanpa banyak bertanya Vico langsung mengikuti Riana dan meninggalkan teman-temannya yang sedang berlatih. David memperhatikan Vico yang pergi bersama Riana sambil tetap berlatih.


Di UKS terlihat Silvi yang terbaring lemah, wajahnya sangat pucat tak berdaya.


"Silvi, Sil, kamu kenapa?" Vico menghampirinya dan menggenggam tangan Silvi dengan ekspresi wajah khawatir.


Silvi masih belum membuka matanya. "Riana apa yang terjadi," Vico menatap lekat pada Riana.


"Aku ga tahu, tadi waktu aku ke kelas untuk mengajaknya ke kantin barengan tiba-tiba dia pingsan. Salah satu pak guru yang lagi lewat mengantarkan Silvi ke UKS. Tadi  Silvi udah di cek sama dokter, katanya dia kelelahan dan banyak pikiran," jelas Riana.


Vico ingat sekali pasti kejadian malam itu membuat Silvi merasa tidak nyaman dan menjadi beban pikiran baginya. Vico masih belum bisa menjelaskan semua pada Riana hanya tertunduk menatap lantai.


"Ini semua salahku. Seharusnya aku tidak menyakitinya," lirih Vico menahan air matanya. Tangannya mengepal dengan sangat kuat hingga memutih.


"Apa maksud kamu Vico?" tanya Riana heran dengan perkataan Vico.

__ADS_1


"Aku, aku udah menghancurkan hidupnya," lirih Vico menyesali diri.


"Maksud kamu apa aku ga ngerti"


"Iya Riana, aku udah mengambil sesuatu yang paling berharga dalam hidupnya. Aku udah buat masa depan Silvi hancur," tubuh Vico merosot dan tetap menunduk.


"Hah?!?" Riana terhenyak kaget mendengar pengakuan Vico


Riana melihat sekeliling, takut ada yang mendengar pembicaraan mereka. Riana mencoba mengangkat tubuh Vico " Vico, apa aku tidak salah dengar?"


"Iya Ri, gue orang yang harus bertanggung jawab untuk semua keadaan Silvi."


"Tapi bagaimana ceritanya?" selidik Riana masih belum percaya atas pengakuan Vico. Sambil mengajaknya duduk.


Vico menghela nafas berat mencoba menenangkan diri di bangku, kemudian menceritakan kejadian saat di pesta ulang tahun Lyora.


Riana mendengarkan dengan saksama "tapi siapa yang membuat minuman itu jadi ada unsur obat terlarangnya?" tanya Riana. Otaknya berpikir keras. Sambil mondar mandir di depan UKS, Riana menghentikan langkahnya Lyora?!? Hati kecilnya berdetak ketika mengingat nama Lyora. Apa mungkin Lyora yang menjebak mereka? Riana menatap Vico yang terlihat frustasi. Lalu mengambil ponselnya dan menghubungi  seseorang.


Riana: Hans kamu dimana?


Hans yang lagi bersama teman tongkrongannya mendengarkan ada getaran ponselnya kemudian melihat chat masuk.


Hans: aku lagi ngumpul sama teman-teman ni. Ada apa yang?


Riana: kita bisa bertemu hari ini?


Hans: okay, aku jemput kamu pulang sekolah ya.


Silvi tersadar, perlahan membuka matanya yang masih terasa berat. Kemudian melihat sekelilingnya "a- aku dimana?"


"Silvi kamu udah sadar? Kamu lagi si UKS," Vico mencoba membantu Silvi.


"Kamu?!!!" Silvi menyingkirkan tangan Vico yang memegangi tangannya, menatapnya dengan tajam.


Silvi mencoba mengingat kejadian tadi. Ia baru sadar kalau tadi tiba-tiba kepalanya terasa pusing lalu hilang kesadaran sampai akhirnya ada seseorang membawanya ke tempat ini.


"Aku antar kamu pulang ya?" Vico mencoba membujuk.


Tanpa mendengarkan pertanyaan Vico Silvi memegang tangan Riana "Ri, bisa bantu aku, tolong telpon pak Jono, aku mau pulang.


"Baiklah aku telpon dulu."


***


Lama menunggu akhirnya Hans datang juga, "sayang?" Panggilnya sambil menghampiri Riana.


Riana tersenyum manis padanya.


"Udah lama kamu nunggu?"


"Ga kok tadi aku nemenin Silvi dulu."


"Hmm Ayo kita berangkat," ajaknya lagi


Riana mengikutinya masuk ke mobil. Hans segera melajukan mobilnya. Diperjalanan Riana bicara "Hans sebenarnya aku mau minta bantuan kamu."


"Apa yang bisa aku bantu?"


"Tadi Vico bilang sama aku kalau pas malam pesta ultahnya Lyora ada kejadian ga mengenakkan," jelas Riana.


Hans mengernyitkan dahi memandang Riana. Riana segera nenceritakan apa yang terjadi antara Vico dan Riana.


"Apa?!?" Hans merasa tidak percaya dengan apa yang baru saja didengarnya.

__ADS_1


"Iya, itulah kenyataannya."


"Tapi gimana bisa mereka melakukannya?" Hans menggenggam erat stir mobilnya.


"Aku juga ga ngerti gimana mungkin minuman Silvi bisa dicampur dengan obat terlarang, tapi aku curiga ini pasti ulahnya Lyora."


"Lyora? Kenapa kamu mencurigainya"


"Karena cuma dia yang sanggup berbuat nekad dan licik," mata Riana memicing tajam memandangi arah depan jalan.


"Hmmm baiklah aku akan selidiki," jawab Hans.


"Apa rencanamu Hans?" Tanya Riana.


"Aku rasa Lyora tidak mungkin mendapatkan obat itu secara bebas, aku yakin ada yang membantunya."


Riana menganggukkan kepalanya. Mengerti dengan ucapan Hans.


"Hans, aku mohon selesaikan masalah ini secepatnya. Aku ga mau Silvi dan Vico jadi semakin dingin," pintanya apda Hans.


"Tenang sayang aku pasti bantu," Hans menenangkan Riana.


Hans mengantarkan Riana sampai kerumahnya kemudian pamit pulang.


***


Hari itu Farel sengaja mendatangi Hans kerumahnya karena ingin mengajak Hans pergi bersamanya.


"Bro ngelamun aja, mikir apaan lo?" sapa Farel pada Hans yang sedang mematung di teras rumahnya.


"Aaahhh lo. Ngagetij gue aja," Hans tersentak dari lamunannya.


"Abis diputusin cewe lo ya?" Goda Farel padanya.


"Ga kok, ada apa lo kemari?"


"Gue mau ajak lo happy-happy hari ini"


Hans mengernyitkan dahinya memperhatikan Farel yang duduk didekatnya.


"Ayolah Hans. Kita ke club hari ini," ajak farel lagi.


Awalnya Hans ingin menolak tapi akhirnya dia setuju pergi bersama Farel. Bukan apa-apa, Hans masih penasaran dengan kejadian Silvi, dia curiga Farel ada sangkut pautnya. Jadi dia ingin menjebak Farel.


Sesampainya di Club Farel sangat bahagia sekali dan langsung memesan red label kemudian meminumnya. Di sekitar mereka ada teman-teman yang lain ikut kumpul di tempat itu. Hans yang datang bersamanya hanya meminum cola.


Malam semakin larut, suara musik semakin menyeruak diruangan yang cukup besar itu. Para wanita penggoda juga datang menghampiri mereka. Farel tidak tinggal diam dan membawa wanita itu bersamanya. Hans ke toilet sebentar dan membiarkan Farel bersama teman-temannya.


Baru saja keluar toilet sudah terlihat Farel yang sedang mabuk berat dan masih bersama para wanitanya. Hans mengajaknya keluar ruangan karena telah jam dua belas malam. Diluar sambil membawa tubuh berat Farel ke mobil dan mendudukkannya disamping kemudi. Hans memulai pembicaraan.


"Farel, eh Farel bangun!" Hans menepuk pipi Farel berulang-ulang.


Farel yang masih terpengaruh minuman beralkohol mencoba membuka matanya "apa sich bro ganggu aja lo" ucapnya dengan suara yang tak jelas.


"Gue mau nanya waktu di pesta ultah Lyora lo ngelakuin sesuatu?" Tanya Hans sambil meluruskan badan Farel.


"Maksud lo apa hah ?!?"


"Lo campurin sesuatu dalam minuman Silvi?"


"Oh itu, bukan gue tapi Lyora yang ngelakuinnya. Gue cuma disuruh bawa obat aja buat campurin ke minuman itu" Farel meracau ga jelas.


Brengsek. Ternyata benar dugaan gue. Hans mengepalkan tinjunya. Ingin rasanya dia memukul sahabat tengilnya ini, tapi dia tidak ingin bermasalah dan memutuskan menelpon polisi saat itu juga.

__ADS_1


__ADS_2