
Dengan berat hati Vico dan Silvi membawa surat yang diberikan guru BK itu kemudian menyimpannya ke dalam tas mereka. Tampak Lyora yang sedang mengamati keduanya dari luar ruangan itu dan tersenyum penuh kemenangan.
"Puas lo?!" sentak Vico dengan tatapan sinis pada Lyora.
"Puas banget!!! Memang ini yang gue inginkan!!!" tawa wanita itu pecah seakan merasa begitu senang melihat kedua orang ini akhirnya terkena masalah lagi karena ulahnya. Setelah puas menertawakan mereka diapun mengajak genknya itu pergi dan berlalu dari hadapan keduanya.
Riana menatap Lyora dengan wajah tidak terima rasanya dia ingin sekali memaki gadis arogan itu dan membalas perbuatannya, tapi rasanya percuma saja. Tidak akan merubah keadaan, yang ada gadis itu akan selalu menekan Silvi.
Sekarang Vico sudah berada dirumahnya.
"Nak, tumben kamu pulangnya cepat?" Sinta menghampiri anaknya yang sudah terlihat masuk dan duduk dikursi dengan wajah lesu.
"Iya buk, aku tadi ga ke bengkel dulu,"
"Kenapa? Kamu sakit?" tangan wanita itu menjulur ke kening Vico mengecek keadaan putranya, tapi dia tidak merasakan anak itu sedang sakit.
"Ga bu. Aku ga sakit. Aku sehat kok," jelasnya sambil menghembuskan nafas berat.
"Kamu lagi ada masalah?" Sinta mencoba menyelidiki.
Vico menatap dalam mata wanita yang ada dihadapannya, yang dia rasakan saat ini adalah bingung, malu dan merasa telah mengecewakan ibunya. Dia ingin menceritakan masalahnya tapi tidak tahu harus memulai dari mana.
Lelaki berwajah baby face itu mengambil nafas dalam-dalam kemudian bercerita.
"Buk, sebelumnya aku mau minta maaf sama ibu untuk semua kesalahan aku selama ini. Aku benar-benar udah bikin ibu kecewa," tatapannya menyendu kala pupil wanita yang berada didepannya terlihat menatapnya dengan wajah penuh kasih.
"Ga nak. Kamu ga pernah ngecewain ibu," sela wanita itu sambil.mengusap pelan puncak kepala anak lelakinya.
Vico mencoba mempersiapkan diri untuk membuat pengakuan yang berat. Dia benar-benar takut ibunya akan shock mendengarnya, tapi apapun alasannya saat ini dirinya harus berani mengakui kesalahannya. Dengan segenap kekuatan yang dimilikinya Vico menghadapkan dorinya kepada sang ibu.
"Ibu, aku mohon dengarkan aku. Aku mau buat pengakuan sama ibu," jelasnya sambil menggenggam tangan Sinta kemudian berlutut di kaki ibunya yang masih terduduk dikursi.
"Kamu mau ngomong apa sich nak? Ibu jadi bingung," Sinta mengernyitkan dahinya. Wajahnya penuh tanda tanya melihat sikap sang anak terlihat begitu frustasi.
__ADS_1
Vico menceritakan satu persatu dari awal tentang permasalahannya dengan Silvi hingga akhirnya menjelaskan tentang surat dari guru BK yang baru saja diterimanya pada sang ibu.
Betapa terkejutnya Sinta dengan pengakuan anaknya itu.
PLAK!!!
Sadar atau tidak, secara refleks tangannya mendarat begitu keras ke wajah anak muda itu. Vico sadar akan kesalahannya dan tahu persis ibunya sangat kecewa sehingga dirinya mendapatkan tamparan sekeras itu. Sakit!!! Itu yang pertama kali dirasakannya tapi tidak ada satu katapun yang terucap dari bibirnya, rasanya kelu untuk mengucapkan kata-kata. Seakan dirinya membeku seketika itu juga, Vico hanya tertunduk merasa bersalah pada ibunya.
Ini benar-benar memalukan, secara tak langsung dirinya telah menghancurkan hati sang ibu yang selalu mendidiknya dengan penuh kasih sayang. Siapa yang akan menduga Vico akan melakukan hal gila itu? Pada seorang gadis lugu yang selama ini dijaganya dengan segenap jiwa raganya. Namun, dalam hitungan detik dia telah menghancurkan gadis itu.
Tanpa terasa air mata Sinta bergulir dipipinya dan tangisannya pecah begitu saja, seluruh badannya terasa lemah tak berdaya. Dirinya mencoba bertumpu pada tembok didekatnya sambil mencoba duduk untuk menenangkan hatinya.
"Bu, maafin aku bu. Aku tahu kesalahan aku sangat fatal tapi aku janji aku akan perbaiki semuanya," masih berlutut dan memohon pada wanita itu.
"Kamu tuch nyadar ga? Kita tuch orang susah, buat makan sehari-hari aja mesti kerja keras banting tulang!!! Sekarang kamu malah hamilin anak orang!!!"Amarahnya berkobar-kobar seakan ingin membakar Vico dan dia mengungkapkan rasa kecewanya itu dengan sangat jelas. Wajah yang penuh kasih sayang itu kini berubah layaknya api yang sedang berkecamuk membara.
Vico menggenggam kedua tangan sang ibu meletakkannya tepat diwajahnya, menciumi punggung tangan itu dengan penuh penyesalan, Vico mencoba menemukan rasa percaya pada ibunya untuk dirinya saat ini. Sambil menangis pemuda itu menjelaskan semua yang telah dibicarakannya bersama Silvi dan kedua orang tua gadis itu.
Vico memberikan sepucuk surat yang baru saja dia terima dari sekolahnya pada sang ibu.
Belum sempat dia melanjutkan ceritanya Sinta meraih surat yang diberikan Vico padanya dan melihat isinya, "tapi kalian sudah di skors dan sekarang bagaimana ibu harus menghadap ke sekolahmu?" Sinta mulai sesegukan menahan kekesalannya.
Dirinya benar-benar malu untuk menghadapi orang-orang di sekolah anaknya. Pasti mereka akan menjadi bahan ghibah dan tertawaan bagi orang-orang disana. Sinta mengusap wajahnya kasar menghapus buliran air matanya. Tapi tetap saja air matanya tak bisa dibendungnya.
Hatinya sungguh hancur mendengar apa yang baru saja diucapkan sang anak padanya.
Vico hanya tertunduk mendengarkan perkataan ibunya namun dia masih berharap ibunya mau memenuhi panggilan pihak sekolah. Walaupun nantinya akan ada masalah besar lagi yang akan dihadapinya tapi Vico tetap berusaha membujuk ibunya.
***
Dirumah Silvi juga suasananya tidak jauh berbeda. Sekarang dirumah itu tengah terjadi kekacauan karena Silvi baru saja menunjukkan surat panggilan dari sekolahnya.
"Gimana bisa sampai video itu beredar?!?!" cecar Adi pada putri semata wayangnya itu.
__ADS_1
"Silvi juga ga tahu pa. Entah siapa yang merekam dan menyebarkan video itu," ucap gadis itu sesegukan sambil menundukkan kepala
Sementara Marinka duduk didekat Silvi sambil merangkul dan mengusap bahu anaknya. Marinka masih khawatir dengan keadaan anaknya yang sedang hamil muda itu. Sekarang Silvi gampang ngedrop entah itu karena kondisinya yang hamil diusia muda atau mungkin juga karena terlalu banyak pikiran.
"Pa... jangan terlalu keras sama Silvi. Kasihan anaknya juga masih belum terlalu fit," Marinka mencoba menengahi.
"Ini semua gara-gara kamu ma, yang selalu memanjakan dia. Jadinya anak ini banyak bikin masalah," tunjuk Adi pada istrinya dengan tatapan tajam.
"Kok papa jadi nyalahin mama sich?! Silvi itu anak papa juga harusnya papa juga perhatikan dia!!!" emosi Marinka jadi tersulut karena ucapan pedas suaminya itu.
"Papa sibuk kerja cari duit buat kalian harusnya mama sadar diri tugasnya sebagai ibu!!! Bukan cuma ngurusin arisan dan sosialita ga jelas gitu!!!" dia coba menunjukkan egonya pada kedua orang yang ada dihadapannya.
"Mama juga sibuk pa. Mama kerja dan juga mesti urusin Silvi dan kamu!!!" ucapnya tak mau kalah sambil menahan tangisnya.
"STOP!!!" teriak gadis muda itu sambil menutup kedua telinganya. Dia mulai jengah mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya.
"Mama dan papa ga usah saling menyalahkan. Intinya tuch aku cuma ngasih tahu besok mama atau papa harus luangin waktu buat ke sekolah, kalian punya waktu ga?!" airmatanya tiba-tiba mengalir begitu saja. Wajahnya memerah menahan sesak didada yang sedari tadi dipendamnya.
Kedua orang tua itu saling menatap dan belum ada jawaban yang keluar dari mulut mereka. Hanya tatapan saling menyalahkan satu sama lain dan penuh amarah.
Merasa tidak mendapatkan jawaban apapun Silvi merasa kecewa dan dia masuk kekamarnya dengan mata penuh kesedihan.
Saat ini Silvi hanya butuh pengertian dari kedua orang tuanya itu. Berharap mereka bisa memahami apa yang sedang dirasakannya, ternyata tidak seperti yang diharapkannya, mereka malah bertengkar dihadapan Silvi dan saling menyalahkan satu sama lain. Dikamar Silvi merebahkan tubuhnya dan menangis getir.
Sadar akan keadaan yang tidak baik, Adi dan Marinka mengakhiri pertengkaran mereka, menyusul Silvi ke kamarnya. Takut kalau-kalau putrinya berbuat nekat karena merasa frustasi.
Mereka mengetuk pintu kamar Silvi tapi Silvi tidak mau membukakan pintu. Silvi benar-benar sangat kecewa dengan sikap mereka yang seharusnya mengayominya malah bertindak seperti anak kecil. Tidak putus asa Adi dan mereka mengetuk pintu kamar Silvi lagi.
"Nak buka pintunya papa sama mama mau bicara sama kamu," pintaAdi pelan.
"Iya nak. Mama dan papa menyesal karena udah bertengkar dihadapan kamu. Kami minta maaf ya nak?" Marinka terisak sambil menempelkan dahinya dipintu kamar Silvi. Keduanya masih mencoba membujuk Silvi.
Setelah lima belas menit berlalu, akhirnya Silvi membukakan pintu kamarnya. Kemudian memeluk kedua orang tuanya yang tampak khawatir didepannya.
__ADS_1