
Farel yang merasa lelah dengan pembicaraan kedua orang tuanya baerniat untuk segera pergi meninggalkan mereka ke kamar.
"Eh... Farel, mau kemana kamu?" Farah memperhatikan putranya yang akan berjalan menuju kamarnya.
"Mau ke kamar mah. Aku cape abis kuliah jadi aku perlu istirahat."
"Kamu itu, kebiasaan banget orang tua lagi ngomong malah pergi gitu aja," ujar Johan dengan nada sinisnya.
"Udahlah pa, aku capek. Sumpah, beneran pa. Aku pengen istirahat," dia tetap berjalan menuju kamarnya tanpa menghiraukan kedua orang tuanya bicara.
"Anak itu susah banget diatur. Ini semua gara-gara mama juga sich selalu memanjakan dia," pandangan Johan tertuju pada Farah dengan tatapan menyalahkan.
"Kok papa jadi nyalahin mama. Anak itu aja yang ga bisa diatur pa. Dia ga pernah mau tinggal dirumah jadi mana mama tau gimana kelakuan dia, " sahut Farah membela diri.
"Coba aja kalau Ratna masih ada anak itu pasti ga akan sebandel ini," keluh Johan sambil menghembuskan nafas berat.
"Oh, jadi papa nyesel nikah sama mama!!! sekarang papa ngerasa Ratna lebih banyak jasanya untuk keluarga ini!. Asal papa tahu ya, mama juga udah mengorbankan semuanya pa. Mama udah rela jadi ibu rumah tangga dan ngorbanin pekerjaan mama sebagai sekretaris papa untuk siapa coba kalau bukan untuk papa dan keluarga inj?" Farah begitu berapi-api saat Johan membandingkan dirinya dengan Ratna mantan istri Johan yang telah meninggal dan merupakan mama kandung Farel.
"Bukan gitu maksud papa, tapi ..."
"Udahlah, emang dari dulu tu kamu cintanya cuma sama Ratna. Aku kan cuma ibu sambung jadi ga akan mungkin bisa mengalahkan cinta ibu kandungnya,"
Farah kesal merasa dirinya tak dihargai sama sekali. Dia memang ibu sambung Farel tapi dia juga telah berusaha membuat anak itu menyayanginya. Hanya saja Farel tidak pernah bisa menerimanya untuk menggantikan Ratna sebagai ibunya.
Farel mendengarkan pertengkaran kedua orang tuanya dari kamarnya. Dia benar-benar merasa frustasi dengan sikap orang tuanya. Farel bukannya tidak pernah menghargai orang tuanya, hanya saja selama ini orang tuanya tidak pernah memperdulikannya.
Johan selalu sibuk dengan ambisinya untuk menjadi CEO diperusahaan Leonardo Corp. Bukan karena apa-apa dia seperti itu. Ya, itu juga dikarenakan Farah sendiri selalu menghasut suaminya itu untuk menjadi lebih dari saudara iparnya itu.
Farel menutup telinganya dengan kedua telapak tangannya sambil memejamkan matanya, berharap ketika dia membuka mata nanti semua akan menjadi lebih baik lagi. Sungguh, bukan keadaan seperti ini yang diinginkannya.
Ma, aku kangen sama mama, kenapa mama ga bawa aku sama mama aja? Batin Farel meronta saat ini.
Farel menyandarkan dirinya ke tembok. Dia menatap foto seorang wanita muda dinakas. Wanita yang sedang menggenggam tangan seorang anak kecil dengan senyum yang terulas diwajah lembutnya yang begitu cantik. Itu adalah Ratna yang sedang memegang jari Farel kecil.
*Flash Back On*
"Farel sini nak," Wanita itu sedang menjemput seorang anak lelaki yang berumur tujuh tahun dari sekolahnya.
"MAMA" teriak anak anak itu begitu bahagia sambil berlari kecil menuju ke arah wanita muda itu.
Mereka segera pergi dari sekolah itu menuju rumahnya.
***
Ketika malam hari tiba.
"Ma, papa mana kok belum pulang?" Ujar anak kecil itu sambil memeluk Ratna.
"Iya nak. Sebentar lagi papa pulang. Farel tidur dulu ya nak, besokkan mau sekolah," bujuk Ratna menatap mata putranya.
"Tapi aku kangen sama papa ma. Aku pengen tidurnya sambil peluk papa," pinta anak itu.
"Papa lagi sibuk kerja. Nanti kalau udah pulang papa temenin kamu tidur, tapi sekarang kamu tidur dulu ya," wanita itu masih membujuk putra kecilnya dengan senyum diwajahnya. Dengan susah payah dia membujuk anak itu akhirnya Farel kecil tertidur dalam pelukannya.
Melihat putra kecilnya telah tertidur Ratna menghubungi Johan untuk menanyakan kabarnya, tapi tidak ada jawaban sama sekali. Apa kamu sesibuk itu mas? Sampai-sampai ga bisa jawab telpon aku. Bahkan chat aku juga ga kamu baca gumamnya sambil menatap layar ponselnya.
__ADS_1
Ada rasa curiga dan frustasi menyelimuti batinnya saat ini, namun dia masih berusaha menepis perasaan itu. Dia tak mau berpikiran buruk tentang suaminya dan berusaha mempercayai lelaki yang merupakan ayah dari anaknya itu.
***
Ditempat lain disebuah rumah mewah, dua insan sedang memadu kasih. Pria itu sedang berpagut mesra dengan wanitanya, lelaki itu menciumi bibir wanita itu dan ********** tanpa henti. Wanita itu membalasnya dengan liar sambil mempererat pelukannya. Tangan lelaki itu bergerilya ditubuh wanita muda itu membuat si wanita itu kini tidak henti-hentinya melenguh menikmati setiap sentuhan dari lelaki itu.
Sesekali dia melepaskan ciumannya untuk menghirup oksigen kemudian menciumi dua gundukan kenyal si wanita itu dan memberikan gigitan kecil dipucuknya. Wanita itu semakin menggila menceracau tak karuan. Tidak mau kalah dan ingin mengimbangi setiap sentuhan lelaki itu diapun menyentuh junior lelaki itu dengan gaya sensualnya, membuat hasrat lelaki itu semakin menjadi, kemudian memasukkan kelembah miliknya.
Keringatpun mulai bercucuran membuat mereka semakin panas dan akhirnya melakukan pelepasan.
Iya, dia adalah Johan yang sedang bercinta dengan Farah sang sekretarisnya, dirumah yang telah dibelikannya untuk Farah. Ditempat itu mereka memadu kasih sehingga membuatnya lupa akan istri dan anaknya yang sedang menantinya dirumah.
Pagi haripun tiba, keduanya kini segera membersihkan diri. Seperti biasa, Johan kembali dulu kerumah istrinya terlebih dahulu. "Aku pulang dulu ya," ucapnya sambil mengecup kening wanita itu.
Wanita itu hanya tersenyum manis padanya karena merasa bahagia dengan yang telah mereka lalui tadi malam. Lelaki itu segera melesatkan mobilnya untuk kembali kepada keluarganya.
Tepat jam enam pagi, dia baru saja sampai dirumahnya. Seorang wanita muncul dari balik dapur menghampirinya. "Mas, kamu baru pulang?" tanya wanita yang mengenakan celemek itu sambil menyiapkan makanan.
"Iya, kerjaan dikantor numpuk jadi aku mesti segera menyelesaikan laporan, kalau ga diselesaikan secepatnya nanti yang ada mas Adi bakal marah sama aku," lelaki itu mencari alasan untuk menutupi kesalahannya.
Wanita itu hanya diam memandangi lelaki yang ada dihadapannya tanpa menjawab apapun.
"Kenapa? Kamu ga percaya sama aku?" lelaki itu menatap tajam padanya.
"Aku ga tahu mas, apa aku mesti percaya atau ga sama kamu, karena yang aku tahu aku selalu berusaha menjadi istri yang baik untuk kamu," jelasnya pelan. Jari jemarinya masih saja dengan lincah mempersiapkan makanan dimeja makan besar.
"Apa maksud kamu berkata seperti itu? Kamu lagi nyindir aku? Mau bilang aku bukan suami yang baik buat kamu?"
lelaki itu merasa egonya sedang disentil dan diapun meninggikan suaranya.
"Tapi mas, aku bingung harus percaya atau ga sama omongan kamu. Tadi malam aku nungguin kamu. Bahkan Farel selalu nanyain kapan papanya pulang sampai dia tertidur sendiri, tapi kamu ga pulang. Akhirnya aku telpon ke kantor kamu, aku tanya tentang kamu. Satpam disana bilang kamu udah pulang dari sore dan kantor ga ada meeting ataupun kegiatan saat malam tad,i" jelas wanita itu dengan suara bergetar dan kini air matanya mulai mengalir deras dipipinya.
"Jadi kamu nuduh aku selingkuh?" tanyanya makin bersungut-sungut pada Ratna.
"Mas aku ga masalah kalau akhirnya kamu lebih memilih wanita itu daripada aku, tapi aku mohon jangan korbankan Farel anak kita. Dia ga tahu apa-apa tentang kelakuan kamu diluaran, yang dia tahu papanya adalah kebanggannya," wanita itu masih merendahkan suaranya dengan matanya yang masih memerah dan berkaca-kaca.
Sejenak Johan tertegun dengan ucapan istrinya. Dia sadar, dia saat ini sedang melakukan kesalahan namun dia terlalu egois untuk mengakui kesalahannya.
"Mama.... papa... kenapa mama papa bertengkar?" Farel tiba-tiba saja menangis memeluk sang mama. Ternyata anak kecil itu mendengar pertengkaran mereka sedari tadi.
"Farel! " Johan menatap anak itu dengan perasaan bersalah, kemudian mencoba membujuknya.
"Papa jahat. Papa selalu buat mama nangis," anak itu menepis tangan sang ayah dan memeluk erat ibunya.
Johan terkejut dengan perlakuan anaknya. Sementara Ratna, memeluk putranya dan berusaha menenangkan anak itu, tapi dadanya terasa sesak dan dirinya merasa pusing, pandangannya mulai trrasa kabur seakan kabut menyelimuti pandangannya kemudian dirinya merasakan kehilangan kesadaran dan dirinya ambuk tak kuasa menahan tubuhnya tang melemah.
Johan yang melihat istrinya itu terjatuh segera menyambut tubuh lemah istrinya agar tidak terbentur kelantai. "Farah... kamu kenapa?" Johan merangkul tubuh istrinya itu sambil menepuk wajah istrinya.
"Mama," tangis anak kecil itu pecah melihat Ratna yang tidak sadarkan diri.
Takut terjadi sesuatu tang buruk pada istrinya Johan menggendong istrinya kemudian membawanya ke mobil untuk pergi ke rumah sakit. Farel kecil mengikutinya dan ikut bersamanya di jok depan mobil. Johan yang merasa khawatir mengusap air mata anaknya. "Farel jangan nangis lagi ya. Papa akan bawa mama ke rumah sakit,"
Anak itu tetap menangus sesegukan dia benar-benar takut sesuatu terjadi pada mamanya.
Sesampainya dirumah sakit, Johan segera menggendog istrinya keruang IGD. "Dokter tolong istri saya," ucapnya panik.
__ADS_1
"Ayo cepat bantu ibu ini, bawa ke ruang IGD," ucap dokter itu pada anggotanya. Mereka segera memabawa Ratna ke ruangan tersebut dan dokter mulai memeriksa kondisi kesehatan Ratna.
"Berikan alat pacu jantung itu," ujarnya pada perawat yang ada disampingnya. Perawat itu memberikan alat pacu jantung dan dokter itu meletakkannya ke dada Ratna untuk mengejutkannya.
Sampai tiga kali dokter itu mencoba memacu jantung Ratna tapi hasilnya nihil. Komputer disamping dokter itupun hanya terlihat datar menunjukkan tidak ada respon dari wanita itu.
Dokter itu memeriksa denyut nadi Ratna namu tidak ada tanda pergerakan, dokter itu menggelengkan kepala.
"Pasien tidak bisa diselamatkan," ujar dokter itu pada perawatnya. Para perawat segera melepaskan alat pacu jantung pada tubuh Ratna dan menutup seluruh tubuh dan wajah Ratna dengan selimut.
Dokter itu keluar dari ruang IGD dengan wajah sedih. Johan yang sedari tadi mondar mandir di depan ruang IGD langsung saja menemui dokter itu.
"Bagaimana keadaan istri saya dok?" tanyanya khawatir.
"Maaf pak, istri anda tidak bisa diselamatkan," jawab dokter itu dengan suara pelan.
"Apa? Tidak mungkin. Istri saya baik-baik sajakan pak?" tanyanya dengan wajah frustasi. Dia mengusap kasar wajah dan rambutnya menyesali yang telah terjadi.
"Kami mohon maaf pak. Kami sudah berusaha tapi istri anda tidak mampu bertahan," ujar dokter itu sambil menepuk pelan bahu Johan.
*Flash Back of"
Ini semua gara-gara papa. Sampai kapanpun gue ga akan maafin papa. Gerutu Farel sambil menangis pelan. Dia mengingat kejadian yang telah merenggut nyawa mamanya itu. Membuatnya semakin tidak nyaman dengan situasi saat ini.
Sebenarnya Farel anak yang baik dan penurut. Hanya saja semenjak kehilangan Ratna sosok ibu yang sangat dicintainya membuat dirinya begitu membenci papanya. Ditambah lagi Johan menikahi sekretarisnya sekaligus selingkuhannya itu. Iya, mama sambungnya Farah itulah yang membuatnya jengah dan tidak betah dirumah.
Farah sempat mencoba memperbaiki kesalahannya dengan menyayangi Farel selayaknya anak kandungnya, tapi Farel tidak pernah bisa menerimanya. Meskipun Farel sudah memanggilnya mama tetap saja dia tidak bisa menerima kejadian yang telah merenggut nyawa ibunya lima belas tahun lalu.
***
Pintu kamar Farel diketuk, "Farel kamu mau ikut mama ke rumah sakit ga jenguk om Adi?" suara Farah terdengar dari balik pintu.
"Aku ga enak badan. Mama aja yang pergi sendiri," ucap Farel tidak ingin menemui mama sambungnya itu.
Farah memutar bola matanya malas sambil menghela nafas. Anak ini, selalu saja tidak bisa diajak kompromi, gerutunya sambil berjalan keluar rumah.
"Gimana ma, Farel mana?" Johan tengah bersiap-siap di depan pintu rumah.
"Ya gitulah pa. Anak itu ga mau pergi. Katanya ga enak badan"
"Ya sudahlah. Ayo kita aja yang berangkat"
Mereka segera berangkat ke rumah sakit.
Sesampainya di rumah sakit. Farah mulai berakting "mas Adi, ya ampun mas kenapa mas sampai kayak gini?" ujar Farah sambil menuju ke arah Adi yang sedang terbaring lemah tak lupa air mata buayanya juga diperlihatkan, seolah dirinya ikut bersedih.
Adi yang masih tidak berdaya hanya menatap kedatangan dua orang itu dengan mata sayu.
"Mas Adi udah ga apa-apa Farah. Dokter bilang dia cuma butuh istirahat aja," jelas Marinka yang kini berada di dekat Farah.
"Mbak Farah, aku ga nyangka mas Adi bakal kayak gini," ujar Farah sambil memeluk Marinka.
"Iya Farah. Udah ga apa-apa kok. Makasih banget kamu udah mau datang menjenguk mas Adi," Marinka mengusap punggung Farah kemudian mengajak wanita itu dan Johan duduk bersamanya.
Silvi sedikit risih dengan kelakuan lebay Farah. Dia melihat kedua orang itu dengan tatapan kurang senang. Merasa ada sesuatu yang tidak beres dengan kehadiran mereka, tapi Silvi memilih diam dan duduk didekat Marinka.
__ADS_1