Menikah Dini

Menikah Dini
Marinka Cemburu


__ADS_3

Adi dan Marinka bari saja menyelesaikan makan siang mereka. Saat mereka akan keluar dari restoran, berpapasan dengan seorang wanita.


"Adi," sapa wanita itu pada Adi yang tepat berada disebelahnya.


Merasa namanya dipanggil, Adi menoleh pada wanita itu.


"Rebeca, kamu ada disini juga?"


Adi terperanjat melihat wanita itu. Memang walaupun sudah berumur, harus diakui pesona kecantikan Rebeca masih terlihat jelas terpancar dari wajahnya.


Tidak bisa dipungkiri saat menatap mata Rebeca, hati Adi sempat bergetar, seperti pertama kali dia bertemu dengan Rebeca, namun dia tidak mungkin menunjukkannya karena dia telah memiliki pasangan hidup yang telah menemaninya hingga detik ini. Yaitu Marinka.


"Mas, siapa itu mas?" tanya Marinka sambil menaikkan alisnya sebelah.


Jujur saja, Marinka sedikit sirih dan jealous pada wanita itu.


"Hm, ini rekan bisnis papa. Kenalin ma, ini Rebeca."


Adi merangkul Marinka kemudian mengajaknya berkenalan dengan Rebeca.


"Hai, aku Rebeca. Kamu pasti Marinka kan, istrinya Adi?"


Wanita paruh baya yang masih terlihat cantik itu mengulurkan tangannya pada Marinka sambil menunjukkan sikap ramahnya.


"Oh iya. Anda sudah tahu nama saya," ujar Marinka sambil menyambut uluran tangan wanita itu.


"Tentu saja, karena Adi selalu menceritakan tentang anda. Dia sangat bangga dan menyayangi anda," tukas wanita itu.


"Maaf, sepertinya anda dekat sekali dengan suami saya, sampai memanggil dengan namanya saja,"


Wajah Marinka sedikit menegang, melihat keakaraban antara suaminya dan Rebeca.


"Ma, Rebeca ini emang dekat sama papa. Dia ga cuma rekan bisnis tapi papa udah kenal sama Rebeca dari jaman kuliah," jelas Adi mencoba meluruskan.


"Oh begitu ya, " Marinka mengdengkus dan menghembuskan nafas berat.


Adi mengerti dengan sikap Marinka, untuk menghindari perdebatan dan kesalahpahaman, Adi segera memutuskan pembicaraan dengan Rebeca saat itu juga.


"Oh iya, Rebeca. Saya tidak bisa berlama-lama disini karena ada meeting nanti di kantor. Jadi maaf ya,ga bisa gabung sama kamu kali ini," tukas Adi sambil merangkul Marinka.


"Ah, tidak apa-apa Adi. Kalian lanjut saja dulu."


Adi dan Marinka keluar dari restoran dan berlalu dari hadapan wanita itu. Rebeca hanya menatap kepergian mereka.


***

__ADS_1


Diperjalanan, Marinka hanya diam tidak mengucapkan sepatah katapun pada suaminya. Adi sangat paham dengan sikap istrinya, dia langsung membuka percakapan.


"Ma, kenapa dari tadi kok mukanya ditekuk terus?"


"Apaan sich pa? ga usah lebay!"


"Bukannya lebay ma, tapi abis dari ketemu sama Rebeca tadi mama langsung berubah gitu. Biasanya ceria, nah sekarang malah diem aja."


"Udahlah pa. Mama lagi malas ngomong."


Marinka mengalihkan pandangannya ke arah samping. Dia tidak tidak ingin membahas tentang Rebeca.


Mendadak saja Adi menginjakkan rem mobilnya, sehingga membuat ban mobilnya menciut.


"Aduh pa, pelan-pelan dong bawa mobilnya," ketus Marinka pada suaminya.


Adi membalikkan tubuhnya ke hadapan Marinka dan kini mereka saling bertatapan.


"Mama jujur dech sama papa, sebenarnya apa yang mama rasa? Cerita sama papa biar papa paham," ujarnya sambil menggenggam tangan sang istri, namun Marinka menepis tangan suaminya dengan cepat.


"Siapa sich sebenarnya Rebeca itu?" tanya Marinka dengan bersungut-sungut.


"Tadikan udah papa jelasin kalau Rebeca itu cuma relasi bisnis papa," ujar Adi meyakinkan Marinka.


"Iya sayang. Dia cuma relasi bisnis."


"Tapi kok tatapan matanya beda banget?" selidik Marinka.


"Beda gimana sich ma?"


"Kayaknya dia suka sama papa. Emang papa ga ngerasa?"


"Hadduh ma, suka gimana coba? udah pada tuir gini ma." Adi terkekeh mendengar ucapan Marinka.


"Ich... papa malah ngeledek gitu. Ingat ya pa, ada pepatah mengatakan orang seumuran papa itu tua-tua keladi, makin tua makin jadi,"  tegas Marinka dengan penuh penekanan.


"Ya, tapi bukan papa yang kayak gitu ma."


"Kalau itu sich siapa yang tahu? Mama ga selalu ada didekat papa jadi mama ga tahu gimana dekatnya papa sama Rebeca."


Marinka masih bersikukuh dengan pendapatnya. Dia yakin sekali ada hubungan spesial antara suaminya dengan wanita yang bernama ebeca.


Adi menghela nafas berat kemudian menatap lekat pada Marinka.


"Mama mau papa jujur? Okay, papa bakal jujur, tapi janji dulu jangan marah sama papa setelah papa jelasin semuanya."

__ADS_1


Marinka memicingkan matanya sambil mendekatkan wajahnya ke arah suaminya. "Ya udah kalau begitu jawab dulu pertanyaan mama."


"Begini ma, sebenarnya Rebeca itu pernah dekat sama papa. Dia itu dulu teman kuliah papa dan kami pernah menjalin hubungan, tapi itu dulu waktu kuliah dan sekarang papa sama dia cuma rekan bisnis."


"Yakin cuma rekan bisnis?" Marinka masih mencecarkan pertanyaan pada Adi.


"Iya yakin banget."


"Tapi mama ga percaya. Mana ada teman antara laki-laki dan perempuan. Mama ini perempuan dan mama paham banget sama apa yang dirasakan perempuan itu ke papa," tegas Marinka pada suaminya.


"Maksud mama?"  Adi sedikit bingung dengan perkataan istrinya.


"Mama bisa merasakan kalau dia masih punya rasa sama papa."


"Dengar ya ma, papa udah jujur sama mama tentang hubungan papa sama Rebeca dan papa udah tegaskan kalau papa ga ada hubungan lebih sama dia selain cuma rekan bisnis," tukas Adi sambil menghadapkan tubuh Marinka ke arahnya.


"Beneran loh pa, cuma rekan bisnis? kalau sampai papa bohong. Mama ga bakalan maafin papa! tegas wanita itu padanya.


"Iya papa ga bohong," ujar Adi dengan netra mata yang menatap lekat pada istrinya.


Dia benar-benar tidak ingin Marinka salah paham dan berprasangka padanya.


"Ya udah kalau gitu pa. Mama percaya, tapi kalau sampai papa bohong awas aja," ujar Marinka sambil memicingkan matanya, mengerucutkan bibir dan menunjuk ke wajah suaminya.


Adi tersenyum melihat sikap istrinya. Baginya kecembuaruan istrinya saat ini tidak membuatnya terganggu malah membuatnya merasa gemas melihat wajah istrinya itu.


"Ma, ternyata mama kalau lagi ngambek gini lebih cantik ya," goda Adi pada istrinya.


Marinka masih belum terima, dia membalikkan tubuhnya sehingga membelakangi suaminya, tapi Adi tidak pantang menyerah. Dia selalu ada ide untuk membujuk istri kesayangannya itu.


Adi membalikkan tubuh Marinka sehingga menghadap kepadanya dan Adi memeluk erat tubuh istrinya, walaupun dengan sedikit drama penolakan diawal, tapi akhirnya Marinka menerima dekapan suaminya dan menenggelamkan wajahnya ke dada bidang suaminya.


"Jangan pernah meragukan rasa cinta papa sama mama, kita menikah bukan baru kemarin sore. Pernikahan kita udah hampir dua puluh tahun. Ga pantas banget kalau papa menodai pernikahan kita dengan menjalin hubungan sama perempuan lain."  Adi mengusap pelan kepala istrinya.


"Mama takut pa, kalau papa bakal tergoda sama perempuan itu. Papa lihat sendirikan penampilannya modis, cantik, tajir lagi. Siapa yang ga bakalan tergoda sama dia?"


Marinka benar-benar frustasi dan takut kalau suaminya berpaling darinya.


"Ga sayang. Aku ini suamimu dan selamanya akan seperti itu. Aku udah janji dihadapan Tuhan buat menjaga kamu dan keluarga kita, ga mungkin aku mengingkari janji aku sendiri. Aku takut dosa dan ga mau menyakiti orang yang kusayangi," jelas Adi penuh dengan rasa sayang pada Marinka.


"Tapi beneran ya pa, jangan pernah berpaling dari mama. Mama ga mau ada orang ketiga dalam rumah tangga kita," tegas Marinka dengan suara bergetar menahan tangisnya.


"Iya ma. Papa akan jaga hubungan kita sampai akhir hayat menjemput papa."


Lelaki itu memeluk erat tubuh istrinya untuk menenangkan wanita yang dicintainya itu. Memang terasa menggelitik, diusia mereka yang tidak lagi muda masih menyimpan rasa cemburu. Namun begitulah cinta, semakin erat hubungannya angin yang akan menggoyahkan hubungan itupun pasti akan lebih kencang lagi.

__ADS_1


__ADS_2