Menikah Dini

Menikah Dini
Psikosomatik


__ADS_3

Setelah pertengkaran dengan Maxy pagi itu, Clara tidak tenang. Entah mengapa dia merasakan kepalanya terasa seperti ditusuk-tusuk, dia merasakan sakit yang teramat sangat hingga membuat nafasnya terasa sesak, Clara merasakan nyeri di dada, tubuhnya bergetar hebat dan telapak tangan berkeringat. Tidak pernah dia rasakan sebelumnya seperti ini.


Bibirnya memutih dan keringat dingin mulai mengitari tubuhnya. Clara sudah tidak mampu menahan dirinya, badannya semakin terasa lemah dan tak berdaya. Suara-suara itu masih terngiang jelas ditelinganya detik-detik saat Maxy mencengkram tangannya dan bernada tinggi saat menjawab pertanyaannya, membuat pandangannya menjadi hitam dan semakin kabur. Seluruh tubuhnya menjadi dingin dan kaku.


"Clara, Clara ... bangunlah." Suara seseorang terdengar sayup-sayup memanggil nama gadis itu.


Namun dirinya belum bisa membuka matanya. Dia masih terlelap dalam tidur panjangnya. Lelaki itu mengusap jemari tangannya yang terasa dingin seakan tubuh wanita itu membeku.


Seorang dokter telah memasuki ruangan ICU, lelaki itu memberikan ruang untuk dokter itu memeriksa kondisi gadis yang masih tertidur diatas bankar, dokter itu memasang stetoskop di telinganya, kemudian memeriksa detak jantung dan nadi wanita itu. Gadis itu masih bernafas hanya saja saat ini dirinya masih terlalu lemah dan tidak bisa menggerakkan tubuhnya.


"Bagaimana keadaannya dokter, apa dia baik-baik saja?" Tanya lelaki itu pada dokter dengan wajah yang sangat khawatir.


"Tuan Max, Nona Clara baik-baik saja, dia hanya mengalami psikosomatik." Jelas dokter itu padanya.


"Psikosomatik? Apa itu dokter?" Lelaki itu mengernyitkan dahinya tidak memahami maksud dari ucapan dokter itu.


"Psikosomatis adalah gangguan psikis seperti rasa cemas berlebihan dan stres, karena biasanya faktor utama dari penyakit ini adalah pikiran." Jelas dokter itu padanya.


Setelah menjelaskan tentang sakit yang di derita Clara dokter itu pergi dari ruang ICU. Perawat yang berada ditempat itu segera memasangkan infus ke lengan Clara agar tubuh gadis itu tidak lemas.


Deg!!!


Hati Maxy mencelos mendengar penjelasan dokter itu. Dia mengingat kembali hal apa yang menyebabkan kekasihnya menjadi stres berat hingga tak sadarkan diri.  Setelah lama berpikir keras akhirnya dia teringat akan pertengkarannya dengan Clara pagi tadi. Dia merasa bersalah karena telah membuat Clara tertekan hingga sakit.


Dia mengusap kasar rambutnya, dia benar-benar menyesal, seharusnya kejadian ini tidak perlu terjadi tapi bagaimana lagi? Clara sudah tidak bisa apa-apa.


"Maaf... maafkan aku honey. Aku terlalu cemburu melihat kau bersama lelaki itu hingga aku membuatmu terluka seperti ini." Suara lelaki itu terdengar serak.


Setelah lama menunggu, akhirnya Clara membuka matanya perlahan, dia melihat langit-langit ruangan tempat dia berada.


"Dimana ini?" Tanya Clara melihat sekelilingnya.


"Honey kau sudah bangun?" Maxy mendekat ke arah Clara, mengusap pelan kepala gadis itu.

__ADS_1


"Kau, apa yang terjadi? Bagaimana aku bisa berada disini?"


"Tadi setelah aku pergi meninggalkan ruanganmu, kau pingsan dan sekretarismu menelponku. Kemudian aku ke kantormu lalu membawamu ke rumah sakit."


"Ah..." wanita itu meringis.karena jarum infus yang melekat ditangannya.


Dia tidak bisa mengingat jelas semuanya. Tubuhnya terasa sangat lelah meskipun masih mencoba untuk duduk. Maxy yang melihat pergerakan gadis itu, langsung merapikan bantal dan menjadikan bantal sebagai tumpuan di punggung gadis itu.


"Kau istirahat saja dulu. Dokter bilang kau tidak boleh banyak bergerak." Jelas lelaki itu membaringkan tubuh mungil itu. Ia tidak tega melihat kekasihnya tak berdaya seperti saat ini.


Clara hanya diam dan menuruti apapun yang diperintahkan lelaki itu padanya. Clara merebahkan tubuhnya yang masih terasa remuk seakan tulang belulangnya hancur berkeping-keping.


***


Ditempat berbeda, Reynold dan timnya baru saja kembali ke Australia.


"Victory, gue sama Evan duluan, kayaknya supir gue udah jemput." Ujar Reynold sambil memberi kode dengan bibirnya ke arah mobip yang telah berada dihadapannya.


"Oh iya... iya... silahkan. Gue juga mau ambil mobil diparkiran sekalian mengantarkan Ayesha pulang."


"Ayesha ayo cepat, aku akan mengantarkanmu pulang."


"Iya ayo." Tukas Ayesha sambil mengekori lelaki itu.


Ditengah-tengah perjalanan, Victory membuka pembicaraan.


"Ayesha, kapan-kapan mau ga kalau kamu aku kenalin sama keluarga aku?"


Ayesha tersenyum lebar mendengar pertanyaan Victory.


"Tentu saja. Aku akan sangat senang sekali jika kau mau mengenalkanku pada orang tuamu." Jawab Ayesha sambil memegang ujung bajunya menutupi rasa gugupnya.


Victory yang memperhatikannya tersenyum dan menggenggam pelan tangan Ayesha lalu mengusap punggung tangan wanita itu dengan sebelah tangannya dan tangan satunya lagi dia masih tetap memegang stir mobil.

__ADS_1


"Tapi kau tidak boleh gugup seperti ini ya." Goda Victory padanya.


"A... aku... tidak gugup. Aku hanya merasa bahagia." Wanita itu tidak mampu menyembunyikan rasa bahagianya. Bagaimana dia tidak merasa bahagia, jika orang yang selama ino dikagumi dan sangat diimpikannya untuk menjadi pendamping hidupnya itu berniat untuk mengenalkannya pada orang tuanya.


Wanita mana yang tidak merasa bahagia mendapatkan perlakuan seperti itu?


"Sungguh? Kalau tidak gugup mengapa tanganmu jadi dingin begini?" Cecar lelaki itu padanya. Tatapannya sangat serius. Netra mata itu menyiratkan rasa sayangyna pada kekasihnya.


"Sudahlah Victory jangan menggodaku seperti itu terus. Aku jadi malu kalau kau terus-terusan menatapku seperti itu."


Ayesha benar-benar jadi salab tingkah dibuat Victory. Gugup, senang dan trrharu semua menjadi satu didalam otaknya. Pikirannya sudah tidak mampu berpikir jernih karena terlalu bahagia.


Tak lama dalam perjalanan mereka kini berada di apartemen masing-masing untuk melepaskan penat.


***


"Mas, aku perhatikan beberapa hari ini kamu pulangnya telat terus. Kamu sibuk apa mas?" Tanya Marinka pada suaminya sambil membersihkan wajahnya dengan pembersih wajah dan menghadapkan wajahnya ke cermin. Dia menatap pantulan wajah suaminya dari cermin.


"Ahm, itu... itu sebenarnya aku banyak kerjaan dikantor." Jawabnya sekenanya.


Adi tidak ingin memberitahukan dahulu apa yang terjadi diperusahaannya.  Bukan bermaksud berbohong pada Marinka, hanya saja dia tidak ingin istrinya jadi kepikiran. Dia menganggap masih bisa mengatasi semuanya sendiri.


"Benarkan mas? Mas ga lagi bohongin aku?" Tanya Marinka sambil membalikkan tubuhnya menghadap ke arah Adi.


"Iya sayang. Aku ga bohong, lagian buat apa aku bohong sama kamu?"


"Ya deh aku percaya sama kamu mas, tapi beneran ya kamu ga ada hubungan sama perempuan lain?" Wanita itu kini menatapnya dengan sedikit curiga.


Lelaki itu mendekatinya dan mengusap punggung tangan wanitanya.


"Percaya sama aku. Aku ga akan mungkin berpaling apalagi berkhianat dari kamu. Kita udah menikah selama delapan belas tahun, tidak ada alasan bagiku untuk melakukan hal bodoh itu."


"Iya mas aku percaya sama kamu." Wanita itu mengalungkan tangannya ke pundak suaminya yang duduk sejajar dihadapannya. Dia memeluk erat suaminya tak ingin mencurigainya lagi.

__ADS_1


Lelaki itu membalas pelukannya dan mungusap pelan kepala wanita itu supaya dia merasa lebih tenang.


__ADS_2