
Setelah selesai dari dokter kandungan, Silvi dan Vico segera kembali ke rumah, mereka sudah tidak sabar untuk memberitahukan tentang kabar gembira yang baru saja mereka peroleh, kalau beberapa bulan yang lalu mereka hanya bisa mengabarkan tentang bayi kembar saja sekarang mereka sudah bisa memberitahukan kepada orang tua mereka bahwa anak yang sedang dititipkan Tuhan diperut Silvi adalah perempuan kembar. Meskipun masih belum dapat dipastikan kedepannya, tapi mereka cukup senang dengan kabar gembira itu.
Sebelum pulang mereka mampir dulu ke kantin, karena Silvi merasa lapar.
"Mas, aku lapar, kita makan dulu yuk," pinta Silvi.
"Ayo. Kamu mau makan apa?"
Silvi mengedarkan pandangannya ke arah kanan dan kiri mencoba mencari tempat makan yang enak. Sampai pandangannya berhenti di satu kantin yang cukup bersih dan ramai pengunjung.
"Mas, itu ada yang jual soto. Kita makan disana aja yuk," ajak wanita itu pada Vico.
"Ayo sayang, aku juga pengen makan soto. Kayaknya seger ni makan soto pagi-pagi,"
Mereka memasuki kantin yang ada menjual soto letaknya berada didekat rumah sakit. Kemudian memesan soto pada pelayan kantin itu.
Setelah memesan mereka langsung menikmati makanan mereka.
Saat sedang asyik memakan soto yang dihidangkan. Seseorang masuk ke dalam kantin itu dan memesan makanan. Sepertinya dia adalah dokter di rumah sakit itu juga. Awalnya semua terlihat biasa saja, seperti pada pengunjung lainnya memesan makanan ataupun minuman yang mereka butuhkan.
Sampai ada gelagat aneh dari dokter itu. Dia seakan mengintai dan mengawasi Vico dan Silvi. Risih dengan tatapan dokter itu, Silvi yang merasa tidak nyaman berbisik pada Vico.
"Mas, kok aku ngerasa ada yang aneh ya sama dokter yang baru aja masuk tadi," Silvi mengadukan perasaannya pada suaminya.
"Emangnya kenapa yang? Bukannya dokter itu cuma pesan makanan?"
"Coba dech kamu lihat baik-baik. Aku yakin banget dari tadi dokter itu memperhatikan kita."
Entah mengapa firasat Silvi dokter itu seakan mengenali mereka. Hanya saja baik Silvi maupun Vico tidak pernah mengenalinya, karena memang belum pernah bertemu sebelumnya.
Dokter itu duduk di tempat yang berhadapan dengan Silvi dan Vico, sehingga dengan mudah dokter itu bisa memperhatikan mereka. Dokter itu sengaja memilih tempat yang sejajar dengan mereka dengan begitu dia bisa dengan mudah memperhatikan mereka, karena sebelumnya dia melihat Silvi dan Vico keluar dari ruangan dokter kandungan, untuk memastikan itu benar Silvi atau bukan dokter itu mengikuti mereka.
Agar tidak terlihat mencurigakan dia sengaja membeli makan di kantin itu.
"Hm, ternyata anaknya Marinka itu lagi hamil dan sepertinya kandungannya sudah mulai membesar," gumam dokter itu sambil tetap memperhatikan kedua orang yang berada dihadapannya.
"Sayang yuk pulang aku ga enak berada disini," linta Silvi yang mulai tak enak berada ditempat itu.
__ADS_1
"Iya sayang, tapi makanannya diabisin dulu."
"Udah kok sayang. Ayo kita pulang."
Usai menghabiskan makanan mereka, Vico dan Silvi segera pulang ke rumah.
***
Sesampainya dirumah. Silvi langsung meninta Vico menenaninya.
"Sayang, kamu disini aja ya temani aku," pinta Silvi pada Vico dengan wajah manjanya.
"Kenapa sayang, aku sama kamu kok." Vico menghampiri Silvi kemudian duduk didekatnya dan mengusap kepala wanita itu supaya dirinya menjadi nyaman.
"Iya sayang," Wanita itu mendekatkan tubuhnya ke tubuh suaminya dan menyandarkan kepalanya didada bidang lelaki itu.
Emtah mengapa setelah pertemuan di kantin tadi, dengan dokter misterius itu membuat perasaan Silvi menjadi tidak nyaman. Entah itu karena perasaannya saja atau mungkin karena bawaan bayi didalam kandungannya.
Pastinya saat ini Silvi merasa nyaman dan terlindungi saat Vico bersamanya.
***
"Rey, maafkan aku, gara-gara aku kau harus seperti ini,"
wanita itu memeluk Reynold dengan berderaian air mata. Dia tak sanggup melihat orang yang disayanginya dengan keadaan memprihatinkan seperti itu.
"Clara, kamu ga salah. Ini semua bukan karena kamu, aku aja yang ga siap. Aku tidak tahu kalau akan terjadi penyerangan." Reynold mengusap kepala wanita itu.
"Andai saja aku ga datang ke sini, mungkin Jack dan anak buahnya tidak akan menyakitimu," wanita itu tetap saja menyalahkan dirinya.
"Kamu ga salah. Berhenti menyalahkan dirimu sendiri. Aku ga mau kamu seperti itu. Aku udah janji untuk menjaga kamu. Aku pasti akan melakukannya," jelas lelaki itu pada Clara.
Clara hanya memeluk erat lelaki itu. Dia tak ingin mengatakan apapun karena yang dia tahu saat ini dia ingin Reynold bisa membaik.
Drrt... drrt... drrt...
Bunyi handphone Victory membuyarkan perhatiannya yang tertuju pada dua sejoli yang ada dihadapannya. Kini perhatiannya tertuju pada handphonenya. Dia melihat caller id bernama Om Abimana, segera dia menekan tombol hijau dan menjawab panggilan itu.
__ADS_1
"Halo om, ada apa om?"
"Victory, kamu dan Reynold lagi dimana? Kami akan menuju Australia sekarang juga."
"Kok dadakan om, bukannya saya baru ngasih kabar ke om kemarin." Victory sedikit panik.
Dia tidak ingin membuat kedua orang tua Reynold kepikiran tapi malah sekarang mereka akan menuju Australia.
"Iya, ini mamanya si Rey malah khawatir banget katanya ga bisa tenang kalau ga lihat Reynold secara langsung."
"Tapi om..."
Belum sempat Victory melanjutkan ucapannya, Reynold langsung meminta untuk berbicara dengan papanya kepada Victory.
Victory segera memberikan handphonenya supaya Reynold bisa bicara dan Reynold langsung bicara.
"Pa, aku ga apa-apa. Papa ga usah ke sini. Aku cuma kecapean."
Reynold mencoba menenangkan papanya.
"Iya, tapi mama kamu ini loh katanya pengen nemuin kamu. Sama adek kamu Lyora, pengen kuliah di Australia katanya." Jelas Abimana.
"Hm, ya sudah pa kalau begitu. Semoga perjalanan papa ke sini lancar." Ujar Reynold mengakhiri percakapan mereka.
Selesai menelpon, Reynold menatap pada Victory.
"Hm, gimana ni papa mau ke Australia. Mereka lagi diperjalanan menuju bandara Soekarno-Hatta, kemungkinan besok mereka sampai disini," jelas Reynold.
"Ya, mau gimana lagi Rey, kan udah semestinya om Adi dna Tante Safira tahu keadaan lo yang sebenarnya," Victory menaikkan bahunya sambil menghela nafas.
"Iya, cuma kalau mama sampai tahu keadaan gue kayak sekarang, pasti mama bakal sedih. Gue takut nanti mereka malah nyalahin Clara," ujar Reynold khawatir.
"Kalo soal itu lo ga usah khawatir. Gue bakal jelasin semua ke om Abimana dan gue yakin baik om Abimana maupun tante Safira bakal ngerti."
"Ya gur harap juga begitu. Gue ga mau nanti Clara disalah-salahin."
"Tenang Rey. Semua bakal aman kok. Gue bisa kasih pengertian sama om Abi."
__ADS_1
Reynold hanya diam kemudian menatap Clara. Dia melihat ada kegelisahan pada diri gadis itu. Semoga saja saat bertemu dengan orang tuanya besok semua akan baik-baik saja.