
Satu minggu telah berlalu, kini Vico dan Silvi telah berada dirumah. Menikmati hari-hari bersama si kembar merupakan anugerah terindah bagi mereka.
"Sayang udah seminggu ni umur baby kita, bagusnya dikasih nama siapa ya?" Vico berpikir sejenak memikirkan nama yang bagus untuk anak-anaknya. Kemudian, menyebutkan nama pilihan untuk sang anak.
"Hm, gimana kalau kita kasih nama Talisha dan Talia?" Vico mengungkapkan idenya.
"Kayaknya bagus tuch. Artinya apa?" Tanya Silvi sambil memperhatikan dua bayi mungilnya.
"Talisha itu artinya gadis kalau Talia artinya pemghuni surga. Jadi kalau mereka bersama berarti mereka adalah gadis dari syurga." Tukas Vico pada sang istri.
"Wah, bagus itu mas. Aku suka namanya."
"Iya sayang nama belakangnya kita kasih Darmawan ya. Nama aku. Jadi mereka kita kasih nama Thalia Darmawan dan Talisha Darmawan." Pinta Vico pada istrinya.
"Aku setuju mas, itu nama yang bagus. Hm... tapi aku bingung ni mas membedakan mereka. Mirip banget ni. Ga ada bedanya sama sekali gitu." Silvi bingung melihat kedua putrinya. Mereka kembar identik, nyaris tidak bisa dibedakan.
"Sini bentar yang,aku lihat dulu. Kayaknya aku pernah lihat tanda lahir mereka deh." Vico memperhatikan bayi kembarnya dengan saksama, dia sangat yakin sekali, pernah melihat tanda lahir anaknya.
Vicopun sibuk membolak balikkan tubuh bayinya dengan perlahan. Memperhatikan kembali tanda lahir mereka.
Tiba-tiba Marinka dan Davina datang.
"Eh... diapain tuch cucu mama, kok dibolak balik gitu?" Marinka datang dengan sedikit marah melihat kelakuan Vico.
"Iya ni Vico. Nanti anaknya keseleo kalau kamu bolak-balik gitu." Timpal Davina.
Marinka dan Davina sekarang sedang belajar berdamai untuk menerima bahwa mereka berdua adalah nenek dari dua bayi kembar itu. Walaupun pada kenyataannya nenek dan kakek kandungnya adalah Davina dan Hermawan, tapi mereka telah sepakat untuk membagi rasa sayang untuk cucu-cucu mereka bersama Adi dan Marinka.
"Eh mama. Ini ga seperti yang mama lihat. Aku tuch lagi nyari tanda lahir anak-anakku loh ma." Tukas Vico sambil tetap melihat tanda lahir anak-anaknya."
Silvi yang melihat kelakuan Vico tertawa geli sampai mengeluarkan air mata. Ada-ada saja kelakuan suaminya itu.
Sedangkan Marinka dan Davina saling menatap merasa aneh dengan sikap Vico.
"Nah, ketemukan? Aku yakin banget loh ni anak pada punya tanda lahir."
Benar saja yang diucapkan Vico, kalau anak-anaknya itu memang ada tanda lahir. Yang satu ditelapak kaki kanannya dan satu lagi ditelapak kaki kirinya. Tanda merah ditelapak kaki bayi mungil itu adalah pembeda mereka.
"Hah, kok bisa sich kamu tahu tanda lahir mereka?" Ujar Marinka merasa geli melihat menantunya itu.
"Ya tahulah ma, aku kan lihat pas mereka lahir. Suster yang mandiin mereka kasih liat tanda merah ini ma," ujar Vico sambil menunjukkan telapak kaki kedua bayi mungil itu kepada semua orang yang ada bersamanya.
"Haha mas Vico ini emang detail banget kalau soal tanda kayak gitu ma." Ejek Silvi pada Vico.
Memang harus diakui, suaminya itu terkadang mempunyai kelakuan absurd tapi kali ini lelaki itu benar. Dia tahu bagaimana membedakan putri kembarnya. Padahal belum tentu orang lain akan berpikiran sejauh itu.
__ADS_1
Yee... tapi akukan benar sayang. Kamu sendiri susah membedakan mereka." Tukas Vico.
"Iya dech iya mas." Silvi tertawa lebar memperhatikan Vico.
"Oh iya, sampe lupa. Mama sama Mama Davina tadi beliin baju bayi buat cucu-cucu mama."
Marinka dan Davina mengeluarkan beberapa lembar baju bayi beserta perlengkapannya.
"Mama sama tante Vina kok repot-repot gitu. Anaknya masih merah juga." Tukas Silvi.
Deg!!!
"Tante? Dia memanggilku tante? Aku ini mamamu nak, kenapa kamu panggil aku tante?" Davina berteriak tanpa suara. Batinnya tidak terima saat Silvi memanggilnya tante, tapi wanita itu tidak bisa mengatakan apa-apa. Seketika kebahagiaannya berubah. Dunianya terasa hancur berkeping-keping.
Marinka yang memperhatikan perubahan mimik wajah Davina, memahami apa yang dirasakan wanita itu.
"Silvi, mulai sekarang jangan panggil tante sama mama Vina, tapi panggil mama ya nak." Pinta Marinka pada sang putri.
"Loh kenapa tiba-tiba manggil mama ke tante Davina?" Tanya Sivi merasa heran.
"Biar lebih akrab. Kamu sama Riana kan udah seperti saudara. Akan lebih baik.panggil mama juga ke mama Vina." Jelas Marinka pada Silvi.
Silvi tidak terlalu mempermasalahkan itu. Baginya memanggil mama pada Davina juga tidak ada bedanya. Toh, selama ini Silvi juga merasakan kedekatan batin antara dirinya dan Davina. Meskipun dia belum tahu bahwa Davina dan Hermawan adalah orang tua kandungnya.
Betapa bahagia perasaan Davina saat ini, karena putri kembarnya mau memanggilnya mama tanpa banyak pertanyaan yang diutarakannya.
"Iya sayang. Oh iya, mama punya sesuatu buat kamu." Tukas Davina pada Silvi.
"Apa itu ma?" Tanya Silvi sambil meletakkan putrinya distroler.
"Ini adalah gelang pemberian nenek untuk mama. Nenek membelikannya sepasang. Jadi mama berikan satu untuk Riana dan satunya lagi buat kamu." Jelas wanita itu pada Silvi.
Memang Pada saat masa kehamilan Davina, ibunya pernah membelikan sepasang gelang mutiara untuk anak Davina. Entah itu nanti anaknya sepasang atau tidak tapi ibunya sangat berharapa Davina memiliki anak kembar dan akhirnya lahirlah Riana dan Silvi.
Walaupun hajat itu baru terlaksana saat ini, tetapi Davina cukup senang bisa berkumpul kembali dengan putri kembarnya.
Ditengah-tengah kebahagiaan mereka, Riana dan Hans muncul dihadapan mereka.
"Assalamu'alaikum." Sapa sepasang insan itu pada mereka.
"Wa'alaikum salm. Eh ada om sama tante. Ayo nak sapa dulu om sama tantenya." Ujar Silvi sambil menghadapkan stroler bayinya kehadapan Riana dan Hans.
"Hai ponakan tante yang cantik." Sapa Riana menyapa gemas pada kedua bayi mungil itu.
"Kalian kapan ni nyusul Silvi dan Vico?" Tanya Davina pada Hans dan Riana.
__ADS_1
"Iiicch mama, baru juga seminggu ma. Sabar dong, kan butuh proses." Sela Riana.
"Iya, kan mama juga pengen punya cucu dari kalian." Pinta Davina sambil bercanda pada anaknya.
"Sabar ma, kita lagi berusaha kok. Mama doain aja biar kita cepat punya momongan." Jawab Hans dengan ramah pada mertuanya.
"Iya jeng, sabar. Nanti juga mereka bakal punya anak kok." Marinka menimpali.
"Vic, ni ada hadiah buat si kembar." Tukas Hans sambil memberikan hadiahnya pada Vico.
"Apa ini?"
"Lo buka aja." Ujar Hans
Vico membuka isi kado yang diberikan oleh Hans dan Riana. Ternyata mereka memberikan sepasang bantal untuk menyusui dan selimut bayi.
"Wah, bagus banget ni, pasti mereka bakal suka." Jelas Vico.
"Emang kita sengaja beliin itu biar nanti Silvi ga susah buat menyusui mereka." Jelas Riana.
"Makasih ya Ri. Kamu baik banget." Ujar Silvi sambil memeluk Riana.
Suasana seketika menghangat diruangan itu, meskipun Silvi belum mengetahui keadaan yang sebenarnya tapi cara mereka memperlakukan dirinya sudah menunjukkan rasa kasih sayang mereka pada Silvi.
Bayi-bayi mungil itupun ikut bersuara dan mengangkat kedua kakinya seakan mengucapkan terimakasih pada mereka yang datang.
Menggemaskan sekali dan untuk mengabadikan momen indah itu Riana dan Hans memoto bayi kembar itu dengan kamera handphonenya.
***
Diseberang jalan, seorang lelaki sedang menguntit keberadaan mereka. Lelaki itu sudah mengawasi mereka dari beberapa hari yang lalu.
Ya, orang itu memang sengaja mencari tahu alamat rumah Silvi. Ada sesuatu hal yang ingin direncanakannya, tidak tahu apa yang dipikirkan lelaki itu tapi dia benar-benar sangat puas mengetahui keberadaan Silvi saat ini.
"Jadi ini kediaman kalian. Baguslah, nikmati kebahagiaan kalian sepuasnya, karena akan ada saatnya kalian akan menangis untuk selamanya. Aku akan pastikan kalian akan kehilangan orang yang kalian sayangi." Gumam lelaki itu dalam hatinya.
Dirinya menunjukkan senyum smirk sambil menatap intens pada target yang ada didepan matanya.
Pintu gerbang rumah itu terbuka. Sekarang terpampang jelas dua bayi mungil yang sedang bersama kedua orang tuanya.
Ya, Silvi dan Vico sedang mengajak anak-anaknya keluar karena Riana, Hans dan juga Davina akan kembali ke rumah mereka. Silvi, Vico dan Marinka melepas kepergian tamunya dengan senyuman dan lambaian tangan.
"Kapan-kapan kami datang lagi. Mau ngeliat Talia dan Talisha." Tukas Riana.
"Iya sering-sering kesini." Ujar Marinka pada ketiga oranf itu.
__ADS_1