
Mendengar suara teriakan yang sangat kencang dari kamar Lyora, Safira menghampirinya "Lyora, kamu kenapa sayang? Kenapa kamar kamu berantakan begini?" Sang mama mengkhawatirkan anaknya.
Lyora hanya menangis tak menjawab, "ada apa ini ma? Kok tadi papa dengar ada ribut-ribut? susul Abimanyu ke kamar putrinya.
Lyora hanya menangis ketakutan mendengar pertanyaan kedua orangtuanya bingung tidak tahu harus bagaimana menjelaskan semuanya. Kedua orangtuanya langsung menghampiri dengan rasa cemas. Lyora langsung memeluk keduanya tanpa mrngatakan apapun. Kedua orangtuanya saling menatap heran. Sebenarnya putri mereka kenapa.
Tok... tok... tok... pintu kamar diketuk oleh seseorang. Mereka menoleh kearah suara itu "maaf pak bu, ini tadi tas non Lyora ketinggalan di mobil mas Farel." Satpam memberikan tas Lyora. Lyora kaget mendengar nama Farel. Takut kalau mamanya akan bertanya.
Lyora mengalihkan perhatian dengan mengambil tasnya "makasih pak Cahyo." Satpam langsung pergi.
"Bukannya kamu nginap dirumah Cellyn? Kenapa tas kamu bisa sama Farel," Safira menyelidik.
"Iya ma, tapi tadi ketemu Farel terus diantar pulang," jelas Lyora.
"Terus kenapa kamu nangis sampai kamar kamu berantakan gini?" tanya Abi pada lyora. Lyora mematung tak berkutik dengan pertanyaan ayahnya. Masih berpikir mau kasih alasan apa pada papanya.
"Ga apa-apa pa, aku cuma lagi sebel aja sama Silvi. Dia sudah merebut semua kebahagiaanku" tiba-tiba saja terlintas dibenaknya untuk menyalahkan Silvi untuk mengalihkan pembicaraan.
"Silvi? Bukannya yang komposer kemarin malam itu?" Abimanyu mencoba mengingat kembali wajah Silvi.
Lyora mengangguk "iya pa, tapi itu seharusnya kan aku bukan dia," rengek Lyora pada papanya.
"Sudahlah nak, nanti kamu bakal punya konser sendiri yang bakalan jauh lebih mewah daripada anak itu," bujuk Safira sambil memeluk putrinya. Lyora hanya menganggukkan kepala. Kemudian mama dan papanya keluar dari kamar tanpa rasa curiga sedikitpun.
***
Di ruang tamu, "pa,kok mama kepikiran Lyora ya," Safira membuka pembicaraan. "Kenapa ma?" tanya Abimanyu pada istrinya.
"Dari pulang tadi kayaknya dia aneh banget."
"Aneh gimana ma?"
"Entahlah pa, perasaan mama ga enak, tapi moga aja ga terjadi sesuatu pada Lyora," sambil menyandarkan kepalanya ke bahu suaminya. Abimanyu mengusap kepala Safira dengan lembut.
"Papa hampir lupa ma, dua hari lagi anyversarry pernikahan kita yang ke 25 tahun. Papa mau ajak mama ke Australia," sambil menatap istrinya.
"Wah, yang benar pa? Mama mau banget," Safira berbinar-binar.
"Iya, sekalian ngurusin anak perusahaan kita disana, papa mau angkat Reynol jadi presiden direktur perusahaan. Biar dia ga selalu foya-foya aja kerjaannya di sana," ujar Abi menjelaskan tujuannya.
Abimanyu Wijaksana adalah CEO dari perusahaan yang bergerak di bidang konstruksi dan usahanya telah berkembang pesat selama 13 tahun ini. Perusahaannya merupakan warisan turun temurun dari ayahnya yaitu Daniel Wijaksana. Untuk anak perusahaannya di Australia saat ini dikelola oleh orang kepecayaannya yang bernama Victory Aghata, karena sekarang Reynol telah menyelesaikan kuliahnya Abimanyu bermaksud memberikan tanggung jawab padanya. Supaya Reynol bisa berpikir dewasa.
"Pa, kita ajak Lyora juga?" tanya Safira.
__ADS_1
"Untuk kali ini ga usah ma, kan kita mau merayakan annyversarry dan papa cuma mau merayakan berdua sama mama. Anggap aja honeymoon kedua kita," goda Abimana pada istrinya.
"Aaa papa udah tua begini pakai acara honeymoon segala,"kekeh Safira sambil mencubit pinggang suaminya.
"Biar romantis gitu," rayu Abimanyu
sambil mencolek dagu istrinya.
***
Lyora masih mengurung diri di kamar, handphone Lyora bergetar, ada panggilan masuk. Sambil memejamkan matanya dan mencari handponenya Lyora mengangkat panggilan masuk tanpa melihat pemanggilnya "hallo."
"Hai sayang, apa kabar?"
Mendengar suara itu, Lyora langsung terperanjat dan membuka matanya kemudian duduk "MAU APA LO" bentaknya pada orang itu ketika Lyora menyadari itu adalah Farel.
"Tenang sayang. Slow, aku cuma mau kasih penawaran sama kamu," jelas Farel. "Penawaran apa?" Lyora merendahkan suaranya.
"Kamu ikutin aku. Sore ini aku mau ketemu kamu di Starbuck. Jangan sampai lupa," ucap Farel penuh teka teki kemudian mematikan telponnya.
Lyora bingung. Sebenarnya apa yang dipikirkan Farel setelah apa yang dia perbuat pada Lyora, masih berani untuk mengajaknya bertemu. Apa yang dia inginkan? Lyora hanya terdiam sejenak tapi setelah dipikir-pikir ada baiknya Lyora menemuinya.
"Lyora, sayang. Sini sebentar nak," panggil Safira.
" Ada apa ma? tanyanya.
"Lyora, papa dan mama mau ke Australia... "
Belum sempat Abimanyu menjelaskan Lyora langsung menjawab "aku ikut," rengeknya dengan wajah memelas. "Untuk kali ini ga bisa sayang. Mama sama papa mau ngerayain annyversarry," jawab Safira.
"Iich curang masa cuma berdua aja," Lyora memanyunkan bibirnya.
"Tenang sayang, nanti papa belikan hadiah yang banyak pulang dari sana," bujuk Abimanyu. Tanpa berpikir lama Lyora langsung menganggukkan kepalanya. Sebenarnya Lyora sangat ingin pergi bersama kedua orangtuanya menikmati liburan, tapi Lyora ingat misinya pada Silvi jadinya ia mengurungkan niatnya.
***
Sore hari, Lyora sedang berada di bandara Soekarno-Hatta mengantarkan keberangkatan mama dan papanya. Sambil menunggu orang tuanya chek in, Lyora duduk di cafe sambil minum, handphone Lyora bergetar, Lyora melihat satu panggilan masuk dari Farel, lalu menekan tombol hijau.
"Halo. Sayang kamu dimana aku nungguin kamu ni ucap Farel menunggunya tidak sabaran."
"Gue lagi nganterin papa dan mama gue ke bandara," jawab Lyora singkat.
Kamu kan udah janji mau ketemuan sama aku."
__ADS_1
"Iya tapi bokap nyokap gue mau berangkat ke Australia hari ini."
"Ya udah kalau begitu aku jemput kamu ke bandara tegas Farel padanya."
"Bentar lagi gue ke sana sampai mereka berangkat," Lyora mencoba menghentikan Farel.
"Pokoknya aku jemput kamu. Aku mau mastiin kamu ga bohongin aku. Atau coba-coba menghindariku. Aku ke sana sekarang juga!" Farel mulai memaksa dan menghentikan pembicaraan lalu bergegas ke bandara menjemput Lyora.
"Dasar cowo gila, kalau bukan gue butuh lo gue ga bakalan mau diperintah sama lo," Lyora jengkel dalam hati.
Sesaat kemudian chat masuk.
Mama: lyora sayang mama dan papa udah di pesawat. Kami udah mau berangkat. Kamu hati-hati pulangnya
Lyora: baik ma. Kalau udah nyampe kabarin aku ya. Balas Lyora.
Setengah jam berlalu akhirnya Farel muncul mengendarai mobil sportnya "Lyora," panggilnya dari kejauhan. Lyora menoleh dan melihat kearahnya. Farel segera menemuinya dengan senyuman merekah dibibirnya. Ketika berada di dekat Lyora tanpa basa basi Farel langsung merangkul dan cipika cipiki Lyora. Benar-benar menyebalkan. Cowo ini agresif banget buat mendekati Lyora. Wajah Lyora terlihat sedikit kesal tapi Farel tetap tersenyum dan merangkulnya lalu mengajaknya masuk ke mobil. Lyora hanya mengikutinya.
"Sebenarnya lo mau apa?" tanya Lyora.
"Bisa ga sekali-kali panggil sayang sama aku?" pinta Farel merayu. Lyora hanya menatap masam padanya da membuang muka. Kemarahan diwajah Lyora itu membuat Farel semakin menyukainya, wajah jutek itu adalah ciri khas Lyora yang membuat Farel semakin tertantang untuk selalu mendekatinya.
"Sayang, aku tu cuma mau kasih penawaran sama kamu," jelas Farel. "Penawaran apa?" Lyora memicingkan matanya melirik Farel.
"Masih ingatkan kemaren malam kamu mau aku bantu kamu buat ngebully sepupu manjaku itu?"
Lyora menganggukkan kepalanya.
"Aku punya rencana besar," jelasnya lagi. Lyora menatap heran pada Farel.
Farel memintanya mendekatkan telinga Lyora padanya. Dia ingin membisikkan rencananya pada Lyora.
"WHAT?!?" teriak Lyora mengagetkan Farel.
"Kamu ikutin aja aku, pokoknya serahkan semuanya padaku. Aku jamin semua pasti lancar," Farel merasa sangat percaya diri. Kemudian mengarahkan mobilnya ke Starbuck dan mengajak Lyora ke dalam bersamanya.
Lyora terdiam sambil memikirkan rencana yang dibisikkan Farel padanya sambil tetap berjalan dan sampai pada sebuah meja Farel membukakan kursi untuknya dan mempersilakan duduk kemudian memesan makanan dan minuman. "Gimana sayang kamu setuju sama rencanaku?" tagih Farel padanya kembali.
"Tapi, itu bahaya, kalau sampai ada yang tahu, kita bakal kena masalah," Lyora merasa tidak yakin dengan rencana Farel.
"Tenang sayang, ga bakalan ada yang tahu kalau kamu ga bilang siapa-siapa," Farel menggenggam tangan Lyora dan menenangkannya.
Awalnya Lyora sempat ragu dengan rencana Farel, tapi setelah dipikir-pikir ada baiknya juga. Itung-itung buat balas dendam pada Silvi dan Vico. Biar mereka tidak bisa sama-sama lagi dan akan lebih mudah baginya membully Silvi jika Vico tidak melindunginya. Lyora tersenyum jahat sambil menatap ke depan.
__ADS_1