
Flashback On
Pagi-pagi sekali lelaki itu telah stand by di depan rumah Silvi. Seperti dugaannya, orang-orang dirumah itu akan disibukkan dengan kegiatannya masing-masing, dan dia memperkirakan kapan ART rumah itu akan keluar? Tadinya dia sempat meragu karena ART itu berwara wiri disekitaran rumah menunggu kedatangan tukang sayur yang biasa mampir di depan rumah, tapi setelah setengah jam berlalu tukang sayur tidak menampakkan diri dan ART itu memutuskan pergi ke pasar untuk berbelanja.
Ketika ART itu pergi bersama supir untuk berbelanja ke pasar, lelaki itu mengambil penutup wajah yang telah dipersiapkannya. Dirinya memperhatikan keadaan sekeliling yang cukup aman, lelaki itu segera masuk ke pintu pagar, kemudian berpura-pura menanyakan alamat pada security yang tengah berjaga di depan rumah.
"Pak, tahu alamat rumah ini ga?" tanyanya sambil mendekati satpam rumah itu.
Segera satpam itu menghampirinya untuk melihat alamat yang ditunjukkan oleh pria itu, tapi sebelum sempat satpam itu menunjukkan arah alamat yang ditunjukkan si penanya, lelaki itu dengan sigap membekap mulut satpam itu dengan obat bius yang telah diletakkan pada sapu tangannya, hingga membuat satpam itu terkulai lemas tak berdaya.
Perlahan dia menyeret tubuh kekar satpam itu ke ruang jaga, kemudian dia mendudukkan satpam itu dibangkunya, seakan masih berjaga. Saat itu pula lelaki itu melancarkan aksinya. Dia menuju pintu rumah mewah itu dan memencet bel rumah itu berkali-kali.
Saat Silvi keluar dari rumahnya, tiba-tiba saja orang yang memencet bel pintu rumah itu menghilang. Tanpa disadarinya, orang itu menyelusup ke dalam rumah melalui jalan kecil ke arah pintu belakang dan dalam hitungan detik lelaki itu bisa menyelusup ke dalam ruangan dimana baby twins itu berada.
Ya, Fredy memang datang ke rumah itu. Dia menemui baby twins yang tengah terlelap di dalam stroler. Lelaki itu mengamati kedua bayi cantik itu, tanpa terasa buliran bening itu mengalir menetes dipipinya. Seakan ada kerinduan mendalam yang terkungkung dalam sisi hatinya. Benar, dia merindukan bayi Syifa yang kini terlelap dalam tidur panjangnya.
Seakan ingin menyampaikan rasa itu pada kedua bayi tak berdosa itu, lelaki itu membelai lembut wajah mungil itu. Diapun menciumi pipi kedua bayi mungil itu. Namun, perlakuan lembutnya itu ternyata mengusik kenyamanan tidur kedua baby twins yang berada didalam stroler itu. Merekapun menangis, membuat Fredy sedikit panik.
Sebelum penghuni rumah itu menyadari akan kehadirannya, lelaki itu segera pergi dari pintu belakang tempat dia menyelusup tadi, dengan kepiawaiannya lelaki itu bersembunyi dibalik tembok luar rumah itu tanpa meninggalkan jejak sedikitpun dia berhasil menerobos keluar dari pagar rumah itu.
Tak ada yang mencurigainya, karena suasana hari itu sedikit sepi. Jadi walaupun dia datang bertamu saat itu takkan ada yang menyadari dirinya sedang mengintai orang didalam rumah Silvi.
Flashback Off
Dari kejauhan terdengar suara kekehan seorang pria yang begitu menggelegar. Tampaknya pria itu begitu puas dengan apa yang telah dilakukannya hari ini.
"Hahaha... ini baru permulaan Silvi. Akan ada lebih banyak kejutan untukmu." Gumam lelaki itu sambil memegang botol cola, kemudian menuangkan minuman dingin itu ke dalam gelas. Terlihat letupan buih dari minuman itu begitu menyegarkan.
__ADS_1
Lelaki itu membuka tirai yang masih tertutup diruangannya, sekarang mataharipun menerpa wajahnya.
Dirinya membuka penutup wajah yang digunakannya saat melancarkan aksinya dan melepaskan dahaganya dengan meminum minuman dingin.
Dirinya menyandarkan tubuhnya ke kursi santainya, kemudian melihat kembali hasil rekaman yang telah direkamnya pada kamera ponselnya saat Silvi keluar dari pintu rumahnya.
Dia sengaja merekam momen menakutkan bagi Silvi saat itu, yang membuat dirinya merasakan kebahagiaan yang sangat besar saat menyaksikan para penghuni rumah Silvi menjadi geger dengan paket misteriusnya.
***
Victory baru saja mengemban tugasnya untuk menghandle perusahaan Abimana Group. Lelaki itu merasa sangat senang mendapatkan kesempatan terbaik dalam hidupnya dan kesempatan itu pula yang membuatnya menjadi leluasa untuk menjalankan misinya yang telah terpendam beberapa tahun belakangan ini.
Di ruangan, tempat dimana Reynold sering menyelesaikan pekerjaannya, Victory memasuki ruangan itu. Dirinya mulai membuka laptop yang digunakan Reynold untuk memeriksa laporan perusahannya ataupun email dari klien dan rekan bisnisnya.
Memang sewaktu Reynold akan meninggalkan kota itu, dia sengaja memberikan password laptopnya pada Victory agar sahabatnya itu bisa memeriksa setiap notifikasi yang masuk ke dalam laptop itu.
Ada hal yang menarik perhatiannya saat ini, semenjak dirinya diasuh dan dibesarkan oleh keluarga Abimana, Victory masih mempertanyakan sebab kematian kedua ornag tuanya. Apakah benar itu semua murni karena kecelakaan atau memang ada persaingan bisnis antara dua sahabat yang telah merintis perusahaan dari dua puluh tahun lalu, seperti desas-desus yang didengarnya dari media dan orang-orang terdekat mereka.
Dengan cekatan jari-jemari lelaki muda itu menari diatas keyboard laptop yang berada dihadapannya membuka file dari perusahaan itu, matanyapun tertuju pada layar laptop itu dengan fokus dan benar saja, tidak perlu waktu lama dirinya mendapatkan apa yang dia cari selama ini.
Ya, lelaki itu mencari data perusahaan yang akan segera dicocokkannya dengan flashdisk yang disimpannya selama ini.
Flashdisk itu berisikan data perusahaan sang ayah, dimana pada masa itu sang ayah adalah pemilik saham terbesar dari perusahaan yang dibangunnya bersama Abimana, karena saat itu pemilik saham terbesarnya adalah Abraham Aghata yaitu ayahnya Victory Aghata. Maka perusahaan di dirikan atas nama Aghata Group, namun setelah kecelakaan maut itu, perusahaan diambil alih oleh Abimana dengan alasan, Abimana telah mendapatkan persetujuan dari Abraham Aghata pada saat hari dimana Abraham akan menghembuskan nafas terakhirnya, dirinya mengalihkan kepemilikan perusahaan pada Abimana.
Hal itu, tidak mungkin dipercaya begitu saja,karena untuk mengalihkan satu perusahaan pada orang lain tidak semudah membalikkan telapak tangan, persepsi inilah yang membuat berbagai spekulasi mencuat. Ada yang beralibi bahwa kecelakaan itu merupakan unsur kesengajaan oleh Abimana untuk merebut kepemilikan perusahaan itu. Ada pula yang percaya bahwa memang sebenarnya sebelum kematiannya, Abraham Aghata telah mengalihkan kepemilikan perusahaannya pada Abimana.
Entahlah semua itu menjadi tanda tanya besar yang harus dipecahkan.
__ADS_1
Victory sengaja mengambil data dari Abimana Group yang akan diselidikinya. Lelaki itu tidak bermaksud untuk menghancurkan perusahaan Abimana Group. Dia hanya ingin memastikan kebenaran dari pemilik perusahaan itu.
Baru saja selesai mengambil data perusahaan, dirinya dikejutkan oleh kedatangan seseorang.
"Ayesha, sejak kapan kamu berada didepan pintu itu?" Lelaki itu terperanjat melihat Ayesha yang muncul dihadapannya.
"Maaf, kalau kedatanganku mengejutkanmu. Aku hanya ingin memberikan ini untukmu."
Wanita itu memberikan segelas kopi hangat dan roti bakar pada Victory.
"Oh, ternyata ini." Lelaki itu tersenyum kemudian mengambil kopi dan roti bakar yang dibawakan oleh Ayesha.
"Terimakasih sayang." Ucapnya sambil mengecup pucuk kepala gadis itu.
"Kau sedang apa? Aku lihat dari tadi serius banget dari tadi."
"Memangnya apa yang kau lihat?" Tanya lelaki itu sambil duduk didekat gadisnya.
Dia sengaja mendekat pada gadis itu, bukan tanpa alasan atau hanya sekedar menggoda gadis itu, tapi dia ingin memastikan wanita itu tidak mengetahui apa yang sedang diperbuatnya.
"Aku hanya melihat kau sibuk dengan pekerjaanmu. Lagi pula aku tidak bisa melihatnya dari ruanganku. Kau tahu sendirikan dinding pembatas ruangan ini sangat tinggi." Jelas wanita muda itu padanya.
Victory hanya mengulaskan senyuman dibibirnya menanggapi ucapan gadis itu.
"Baguslah kalau kau tidak mengetahuinya." Gumam lelaki itu dihatinya.
Victory sangat beruntung karena Ayesha tidak menyadari perbuatan dirinya, nyaris saja kedatangan wanita itu membuatnya merasa gugup karena akan membongkar misinya. Ternyata dewi fortuna masih berpihak padanya, wanita muda itu tidak mencurigainya sedikitpun.
__ADS_1
Bahkan pagi itu dirinya sengaja mematikan CCTV supaya kegiatannya tidak terekam oleh CCTV.
Sungguh, lelaki itu telah mebuat perencanaan yang matang sebelum menjalankan misinya.