Menikah Dini

Menikah Dini
Undangan Pernikahan


__ADS_3

Vico sudah masuk kerja kembali dan dirinya bekerja seperti biasa lagi, tapi kali ini dia sangat sibuk, karena pekerjaannya menumpuk.


Disela-sela kesibukannya itu, seseorang datang menghampirinya.


Tok... tok... tok...


"Masuk," jawab Vico dari dalam ruangan sambil membaca berkasnya.


"Hm, Vico ini gue," ujar seorang laki-laki yang masuk ke dalam ruangan tersebut.


"Hans... wah udah lama ga ketemu. Sehat lo?"  Vico menghampirinya dan memeluk sahabatnya itu.


"Seperti yang lo lihat," ujar Hans sambil tersenyum.


"Wah, dari roman lo kayaknya lo lagi bahagia banget,"


"Iya dong, gue bahagia banget," ucap Hans sambil duduk dikursi tanpa perlu disuruh duduk.


Mereka cukup akrab jadi yang dilakukan Hans masih dalam batasan wajar.


"Tumben loh ke sini, ada angin apa?" Vico duduk didekat Hans.


"Gue mau kasih undangan ini buat lo,"Hans memberikan sebuah kartu udangan pernikahannya pada Vico.


"Lah, lo udah mau married aja," Hans menganggukkan kepalanya. Mantap dengan jawabannya.


Vico membaca undangan yang diberikan Hans.


"Jadi beneran ni, lo sama Riana mau nikah bentar lagi?" tanya Vico penasaran.


"Iya, gue udah lamar dia dari jauh-jauh hari, tapi karena dia masih sibuk sama kuliah jadinya baru sekarang kesampaian nikahnya,"


"Selamat ya bro," ujar Vico sambil mengusap bahu sahabatnya.


"Jangan lupa ajak istri lo,"


"Pasti dong. Inikan nikahan sahabatnya pasti Silvi bakal datang,"


Tiba-tiba suara seorang wanita mengagetkan mereka.


"Siapa yang datang? tanya wanita itu."


"Eh... Silvi. Panjang umur lo. Baru aja disebut udah datang aja," ujar Hans tersentak saat melihat kehadiran Silvi.


"Sayang kamu datanf kok ga bilang-bilang. Kan bisa aku susulin ke bawah tadi,"


"Iya mas. Tadinya mau nelpon kamu, tapi aku pikir enakan aku samperin aja. Kebetulan ruangan mas terbuka jadi aku masuk deh,"


"Iya sayang laen kali bilang ya," Vico mengusap kepala istrinya.


Silvi mengangguk pelan.

__ADS_1


"Kak Hans. Tumben ni datang siang-siang begini," sapa Silvi sambil menaruh paper bag yang berisi makanan ke meja kerja Vico.


"Iya ni. Aku nganterin undangan buat kalian," tukas lelaki itu sambil melihat kandungan Silvi yang mulai membesar.


"Undangan? Kakak mau nikah?" Silvi tercengang memperhatikan lelaki itu.


"Iya aku sama Riana mau nikah dalam waktu dekat ini. Tuch undangannya udah aku kasih ke Vico."


"Wah pasti seru ni. Aku bakal datang kak. Kangen banget sama Riana," raut wajah Silvi begitu bersemangat.


Vico tersenyum melihat Silvi yang sangat antusias mengenai Riana.


"Oh iya. Hans lo selama ini kemana aja ga ada kabar?"


"Iya setelah selesai kuliah S1 kemaren gue lanjutin S2 di Jogja. Sambil nemenin Riana kuliah,"


"Pantesan buru-buru nikah. Ketemu tiap hari rupanya," celetuk Silvi.


Membuat kedua lelaki didekatnya tertawa terbahak-bahak.


"Haha bisaa aja kamu Sil, tapi mengenai pernikahan ini aku udah lama loh bilang sama Riana. Cuma baru-baru ini aja dia merasa siap. Kebetulan dia juga udah mau lulus kuliah makanya dia udah siap buat nikah."


"Terus, kakak kerjanya gimana?"


"Iya, aku ambil S2 buat kerja di kantor papa ini. Kan kemaren aku coba-coba kerja sambil kuliah gitu di Jogja. Bikin usaha kecil-kecilan gitu. Nah sekarang udah selesai kuliah aku tepatin janji ke papa buat kerja diperusahaan ini."


"Wah. Salut gue, ternyata lo punya watak bisnis juga. Emang kemaren itu buat usaha apa lo di Jogja?" Vico mulai penasaran.


"Wah keren lo. Pasti udah banyak pengalaman lo,"


"Ga kok Vic. Gue cuma ga mau repotin ortu gue. Walaupun bakal dibiayai sama bokap gue, tetap saja gue mau mandiri,"


"Bagus tu. Emang kalau kita yang biayai diri sendiri berasa perjuangan hidupnya," tukas Vico.


"Iya Vic. Ini Silvi udah hampir lahiran ya,"


Sedari tadi Hans memandangi perut Silvi. Dia benar-benar penasaran apa Silvi udah dekat lahiran atau belum, karena kandungannya sangat besar.


"Belum kak. Masih tujuh bulan," ujar Silvi.


"Hah? Tujuh bulan? Gede kayak gini masih tujuh bulan?" tanya Hans sambil mengusap dagunya.


"Anak gue kan kembar Hans,"


"Eh iya juga ya. Lupa gue Silvi kan hamil anak kembar,"


"Kak Hans makan bareng yuk. Aku tadi bawain makanan buat mas Vico. Mumpung amsih anget. Yuk kita makan sama-sama," Silvi segera mengambilkan makanan yang telah dibawanya tadi.


"Iya Hans yuk. Makanan buatan Silvi enak loh. Lo pasti bakalan suka," puji Vico pada Silvi.


"Wah boleh dong. Gue paling suka ni sama masakan rumahan,"

__ADS_1


Setelah percakapan selesai mereka langsung menyantap makanan yang dibawakan Silvi. Silvi begitu senang melihat mereka menyantap makanannya dengan lahap.


Ternyata menjadi seorang istri dan calon ibu membuat Silvi semakin ahli dalam membuat lelaki mengaguminya. Yaitu melalui masakan buatannya.


***


"Daren, kau sudah bangun nak?" tanya Rebeca menghampiri anaknya yang baru saja kembali dari Amerika.


"Masih ngantuk ma. Capek banget aku ma," ujar anak lelaki Rebeca.


"Iya sayang, mama ngerti kamu capek, tapi hari ini kamu harus pergi ke kantor sama mama. Mama mau mengenalkan kamu sama karyawan mama, " bujuk Rebeca pada sang anak.


"Ga bisa besok ma?" pintanya sambil menaikkan selimutnya kembali.


"Sekarang sayang, kalau besok ngapain mama susah-susha bangunin kamu?"


"Iya udah deh ma aku bangun, " lelaki itu segera bangkit dan menuju ke kamar mandi untuk membersihkan dirinya.


Rebeca tersenyum memperhatikan anak lelakinya sambil memperhatikan anak itu ke kamar mandi. Dirinya kemudian keluar dari kamar anaknya dan menikmati sarapan paginya.


Drrt... drrt... drrt...


Handphone Rebeca berbunyi. Wanita itu melihat panggilan masuk di handphonenya.


"Nomor tidak dikenal? Siapa yang menelponku sepagi ini?" monolog Rebeca pada dirinya sendiri.


Merasa tidak mengenali pemilik nomor handphone itu. Rebeca tidak mengangkatnya, meskipun telah berulang kali orang itu menelponya.


"Angkat Rebeca!!! Kenapa kau tidak mengangkat telpon dariku?" gerutu penelpon yang sedari tadi gemas ingin bicara dengan Rebeca.


Merasa tidak digubris, lelaki itu sangat kesal. Dia melempar handphonenya ke sofa.


"Hei, kau ini kenapa? Seperti begitu kesal dengan seseorang?" tanya seorang wanita berpakaian sexy yang menuju ke arah pria itu.


"Itu bukan urusanmu!" ujar lelaki itu dengan nada kesal.


"Tentu saja itu jadi urusanku Fabio, karena setiap tindakan yang kau lakukan akan selalu ku awasi, karena aku adalah pacarmu," tegas wanita yang sangat muda itu padanya sambil mengalungkan tangannya ke pundak lelaki itu.


"Gueen, jangan merayuku terus. Aku sedang tidak mood hari ini," tegas lelaki itu sambil melepaskan rangkulan wanita itu.


"Kenapa? Kau masih mengharapkan mantan istrimu itu?" sungut wanita muda itu.


"Pertanyaan macam apa itu Gueen?"


"Lantas kalau bukan itu kenapa kau begitu marah saat dia tidak menggubris panggilanmu?"


"Aku hanya ingin bicara padanya, karena Daren anakku ada bersamanya."


"Huh.. alasan!! Aku tahu kau masih mencintainya kan? sudahlah untuk apa aku berlama-lama disini, lebih baik aku pulang saja."


Wanita muda itu merajuk dan tersinggung karena kekasihnya masih saja berhubungan dengan mantan istrinya.

__ADS_1


"Ahm jangan pergi. Bukan itu maksudku. Gueen kembalilah kita harus bicarakan ini baik-baik," lelaki itu menggenggam tangan kekasihnya.


__ADS_2