
Sesampainya dirumah sakit dokter mengecek keadaan Silvi.
"Sepertinya istri anda terkena brokenheart syndrome dan harus dirawat." Jelas dokter yang baru saja memeriksa kesehatan Silvi.
"Apa itu broken heart syndrome, dok?" Tanya Vico yang tidak memahami ucapan dokter.
"Broken heart syndrome merupakan penyakit jantung yang sifatnya sementara. Kondisi ini bisa terjadi karena situasi yang menyebabkan stres hingga membuat pasien menjadi emosional." Jelas dokter muda itu secara detail.
"Jadi istri saya terkena serangan jantung begitu dok?"
"Iya, tapi itu sifatnya sementara akibat syock yang dialaminya."
"Apa itu bisa disembuhkan dok?" Adi mulai panik dengan kesehatan putrinya.
"Bu Silvi hanya butuh banyak istirahat dan banyak pikiran yang akan menimbulkan stres yang akan mengakibatkan pacu jantungnya cepat sehingga akan mengganggu kesehatannya."
Vico dan seluruh keluarga yang mendengar penjelasan dokter merasa panik dengan kondisi Silvi. Vico mulai memutar otak untuk mencari anak-anaknya, karena sumber kebahagiaan Silvi saat ini adalah putrinya.
Lelaki itu melangkahkan kakinya ke luar ruang rawat, untuk segera menemukan anak-anak itu.
"Vico, kamu mau kemana?" Tanya Marinka yang masih menggendong bayi mungil yang dianggap sebagai putrinya oleh Silvi.
"Aku mau mencari keberadaan putri kami ma. Aku ga tega melihat Silvi seperti ini." Vico terlihat begitu frustasi dengan kondisi Silvi.
"Kamu mau mencari dimana? Ini udah malam, lebih baik kita tunggu sampai Silvi siuman aja." Tukas Adi pada Vico.
"Iya Vico, benar yang papa katakan. Lebih baik kita tunggu sampai Silvi bangun." Marinka ikut membenarkan ucapan suaminya.
Meskipun belum bisa menerima Vico tetap mengikuti perkataan mertuanya itu.
Kini mereka semua telah berkumpul dalam satu ruangan menanti Silvi membuka matanya. Tiba-tiba saja handphone Vico berdering, ada nomor tak dikenal yang menghubunginya.
"Halo, apa saya bisa bicara dengan pak Vico?"
"Iya, saya sendiri."
"Pak Vico, kami telah mendapatkan petunjuk baru mengenai kasus bayi kembar anda yang hilang. Jika anda tidak keberatan, maukah anda ke kantor polisi sekarang juga?" Ujar lelaki di seberang sana.
"Benarkah. Maaf, ini saya bicara dengan siapa?"
"Segeralah datang, saya tidak punya banyak waktu untuk menjelaskan semuanya." Titah lelaki yang tidak mau menyebutkan namanya itu.
Mendengarkan kabar yang baru saja dia dapatkan Vico sangat senang. Dirinya langsung bergegas menuju ke tempat yang dimaksud orang itu.
"Ma, pa, aku mau ke kantor polisi dulu ya."
"Kantor polisi? Tapi ini masih malam nak."
Adi merasa khawatir terhadap menantunya itu. Mengingat hari sudah larut malam, dirinya tak ingin sesuatu yang buruk menimpa Vico.
"Iya pa, barusan ada yang menelpon kalau ada petunjuk baru dari kasus baby twins." Jelas Vico pada mertuanya.
__ADS_1
"Benarkah itu? Papa ikut menemani kamu ya?" Pinta Adi padanya.
"Papa disini aja. Nemenin mama sama Silvi, kasian mama sendirian disini, biar aku aja yang ke kantor polisi."
Benar juga yang dikatakan Vico kalau Adi ikut bersamanya siapa yang akan menemani Marinka menjaga Silvi? Akhirnya Adi mengikuti kemauan menantunya untuk tetap berada di rumah sakit.
"Ya sudah, kalau begitu papa disini saja. Kamu jaga diri baik-baik ya, kalau ada sesuatu yang mencurigakan atau kamu butuh bantuan, hubungi papa ya."
"Iya pa. Aku berangkat dulu."
Vico bergegas keluar ruangan dengan mengendarai kuda besinya untuk menuju ke kantor polisi.
***
Ditempat berbeda, malam itu wanita itu sangat gelisah dalam peristirahatannya.
"SILVI!!" Teriaknya memecahkan keheningan malam.
"Ma, kamu kenapa? Kok teriak gitu?" Hermawan tersentak dari tidurnya, kala mendengar suara jeritan sang istri.
"Mama mimpi buruk pa. Mama mimpi Silvi manggil-manggil mama. Dia dalam keadaan sedih dan butuh bantuan mama." Ujar Marinka sambil mengatur nafasnya yang tersengal-sengal.
Hermawan melihat ke arah wajah sang istri yang penuh kecemasan. Keringat mengucur deras diwajah sendu milik wanitanya, bibir wanita itu terlihat kelu dan pucat. Dengan penuh ketenangan lelaki itu merangkul sang istri.
"Itu cuma mimpi ma. Ayo minum air putih dulu, kamu pucat banget loh."
Tukas Hermawan sambil menyeka keringat didahi dan wajah sang istri.
Davina meminum air yang telah diberikan suaminya. Kemudian mengatur nafas untuk membuat dirinya lebih tenang.
"Pa, mama khawatir sama Silvi. Kita telpon dia sekarang ya?" Pinta Davina dengan wajah sendunya.
"Jangan sekarang ma. Ini tengah malam, ga enak ganggu anaknya nanti."
Hermawan dan keluarganya belum mengetahui tentang hilangnya baby twins jadi dia mengira anak-anak itu masih bersama mereka.
Sejenak Davina berpikir, benar juga yang dikatakan suaminya, tapi entah kenapa hatinya tidak mau diajak kompromi. Dia masih belum bisa tenang jika belum mendapatkan kabar dari Silvi.
"Pa, aku ga bisa tenang. Mama minta tolong ya, telpon Silvi sekarang juga." Pintanya dengan nada memohon.
Buliran bening itu perlahan mengalir dari sudut matanya.
Hermawan paling tidak sanggup jika melihat istrinya bersedih seperti itu, dengan berat hati Hermawan menghubungi Silvi malam itu juga. Beberapa kali panggilan tidak ada jawaban.
"Tuch anaknya lagi tidur ma, telponnya ga diangkat."
"Coba... coba telpon Marinka, mama benar-benar khawatir." Pintanya sambil menggenggam tangan suaminya.
Hermawan menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Dia sungguh-sungguh bingung menghadapi sikap istrinya itu.
"Ok ma. Papa akan hubungi Marinka, biar istri papa yang cantik ini ga khawatir lagi tentang kabar anaknya." Dumel Hermawan pada istrinya.
__ADS_1
Jari-jemari Hermawan mulai menari mencari nomor Marinka, wanita itu melihat panggilan telpon dari layar handphonenya.
"Pa, ini mas Hermawan nelpon." Ujar Marinka sambil memperlihatkan layar handphonenya pada suaminya.
"Angkat aja, mungkin dia mau menanyakan tentang Silvi." Tukas Adi pada istrinya.
Segera, panggilan itu dijawab oleh si empunya handphone.
"Ya, mas Hermawan, ada apa?" Sahut Marinka disebrang sana.
"Maaf Marinka, saya harus mengganggu kamu malam-malam begini. Ini Davina tadi habis mimpi buruk tentang Silvi. Silvi baik-baik ajakan?"
Ucap Hermawan dengan ragu. Dirinya merasa tak enak hati harus menghubungi Marinka selarut ini.
"Silvi sakit mas. Dia sekarang ada di rumah sakit."
"Apa? Silvi sakit?"
"Iya mas. Baby twins hilang dan sekarang Silvi sakit."
"Gimana bisa seperti itu?"
Marinka menjelaskan hal buruk yang baru saja menimpa putrinya dua hari ini sehingga menyebabkan Silvi masuk rumah sakit pada Hermawan.
"Jadi bayi Silvi di culik? Ya udah kalau begitu saya dan Davina ke rumah sakit sekarang juga. Kamu kirim alamatnya ke saya."
"Mas, Silvi kenapa?" Davina mulai gusar mendengar kabar yang didengarnya.
"Iya sayang, ayo kita ke rumah sakit. Papa takut Silvi kenapa-napa."
Hermawanpun mulai terkena serangan panik dan bergegas mengambil kunci mobilnya. Kedua pasangan paruh baya itu bergegas menuju mobil untu ke rumah sakit.
Keduanya benar-benar dalam suasana panik. Mereka sudah tidak tahu harus berbuat apa, karena yang ada dalam pikiran mereka saat ini adalah sesegera mungkin sampai ke rumah sakit.
Setibanya mereka di rumah sakit. Adi dan Marinka menyambut kedatangan mereka.
"Adi, Marinka, apa yang terjadi pada Silvi?" Kedua orang itu merasa panik akan keadaan Silvi.
"Silvi tadi demam tinggi dan pingsan." Jelas Marinka pada keduanya.
"Hah, kok bisa?" Tanya Davina terkejut.
"Kata dokter, Silvi terkena broken heart syndrom. Makanya kondisi jantungnya jadi tidak stabil akibat shock karena kehilangan anak-anaknya."
Seketika hati Davina dan Hermawan mencelos mendengar apa yang baru saja dijelaskan Marinka. Buliran bening itu membasahi pipi Davina tanpa aba-aba. Sakit, itu yang dirasakannya. Ibu mana yang tidak merasa sakit mendengarkan kabar tentang anaknya yang tidak baik-baik saja.
Davina tidak bisa mengendalikan dirinya. Hampir saja dia pingsan, tapi Hermawan memeluknya dengan erat sehingga tubuh wanita itu tidak sampai merosot dan tetap berada disisinya. Lelaki itu dengan sigap mengajak wanita yang dicintainya itu untuk duduk agar bisa menenangkan dirinya.
"Bagaimana ini? Apa dia akan baik-baik saja?" Tanya Hermawan pada Adi yang sedang berada didekatnya.
"Iya, dokter bilang Silvi akan baik-baik saja, kita tunggu sampai Silvi sadar saja dulu." Jelas Adi pada sahabatnya.
__ADS_1
Hermawan menganggukkan kepala mengerti dengan ucapan Adi. Diapun menunggu Silvi didekat sang istri.