Menikah Dini

Menikah Dini
Hari yang Menyebalkan


__ADS_3

Di Apartemen Reynold...


"Clara untuk sementara waktu kau tinggallah disini dulu. Nanti kalau keadaannya sudah aman kita akan cari tempat tinggal untukmu," jelas Reynold sambil meletakkan koper bawaan Clara ke dalam kamar.


"Iya Rey, terimakasih karena kau telah banyak membantuku," ucap Clara saat baru saja melangkahkan kakinya ke dalam apartemen.


Drrtt... drrt... drrtt...


Terdengar getaran dari handphone Reynold. Reynold segera mengeluarkan handphonenya dari saku celananya. Dia segera menekan tombol hijau.


"Halo" 


"Rey... lo kemana aja sich? Kok belum datang juga, kan bentar lagi ada rapat," ujar seseorang diseberang sana.


Reynold melihat jam yang melingkar ditangannya, telah menunjukkan pukul 10.00.


"Astaga, gue lupa hari ini kita ada rapat. Begini saja lo yang handle Victory. Gue lagi ada urusan," tukasnya pada Victory.


"Urusan apa?" selidik Victory. 


"Gue ga bisa jelasin di handphone. Pokoknya lo pimpin aja dulu rapat hari ini. Nanti gue hubungi lagi," tegasnya pada lelaki itu kemudian memutuskan pembicaraan mereka.


"Yach... dimatiin lagi. Wah... parah ni. Mentang-mentang dia bosnya sesukanya aja mau datang atau ga," gerutu Victory yang merasa kesal, karena Reynold memutuskan pembicaraan mereka sepihak.


"Ada apa pak? Kenapa anda terlihat begitu kesal?" ranya Ayesha yang baru saja memasuki ruang kerja Victory.


"Ah... beginilah Ayesha. Reynold ini seenaknya aja," keluh Victory sambil duduk dikursi kerjanya.


"Memangnya kenapa? Apa pak Reynold tidak bisa hadir di meeting nanti?" tanya gadis itu sambil membawakan secangkir kopi hangat untuk Victory.


Lelaki itu mengambil minuman kopi yang telah dibuatkan Ayesha untuknya. Pagi itu moodnya memang tidak terlalu baik karena Reynold. Sebenarnya tanpa hadirnya Reynoldpun meeting tetap akan berjalan lancar, karena sebagai wakil direktur dia juga bisa menghandle semuanya dengan baik. Namun, yang membuatnya kesal Reynold tidak memberikan penjelasan ketidakhadirannya.


Ayesha yang melihat Victory dengan mukanya yang ditekuk dan kaku itu, malah menertawakannya.


"Hei, apa yang lucu? Kenapa kau senyum-senyum seperti itu?" tanyanya sambil menatap pada Ayesha.


"Ups, maaf. Kau memperhatikannya? Maaf aku tidak bermaksud menertawakanmu hanya saja wajahmu itu terlihat lucu kalau sedang marah," ujar Ayesha sambil menutup mulutnya menahan tawa.


"Kau... beraninya kau mengejekku. Awas ya," ujar Victory geram sambil berdiri mengejar Ayesha.


Sontak saja Ayesha langsung bergegas pergi tapi Victory malah menggenggam tangannya dan menarik tubuh wanita itu kepelukannya. Ayesha dibuat kaget oleh Victory. Matanya membulat sempurna menatap lelaki itu tanpa jarak sedikitpun.


"Kau mengejekku? Hah?" tanya lelaki itu sambil tetap memeluk tubuh ramping gadis itu dan mendekatkan wajahnya ke wajah Ayesha yang terdongak kearahnya.


"A... aku..."


Belum sempat Ayesha menjawab Victory langsung mendaratkan satu ciuman diujung bibir mungil milik Ayesha.


Ayesha benar-benar tidak menduga Victory akan melakukan itu padanya. Gadis berambut pirang dengan mata sayu itu hanya terbelalak heran dan tak percaya dengan apa yang baru saja dilakukan Victory padanya.


Jujur, Ayesha sangat senang saat Victory menciumnya membuat hatinya berbunga-bunga. Ternyata dibalik sikap cueknya selama ini, Victory merupakan orang yang penuh kejutan.


Victory tersenyum lebar karena berhasil membuat wanita itu gugup dan salah tingkah. Dia benar-benar merasa puas melihat wajah Ayesha memerah seperti kepiting rebus.


Tiba-tiba pintu diketuk dari luar, lalu seseorang membuka handel pintu.


"Maaf, pak saya mau mengantarkan..."


Evan yang baru saja masuk dan membawa laporan ditangannya, langsung memberhentikan ucapannya saat melihat kedua orang itu masih tetap berpagut mesra.


"Ah... iya... iya... taruh saja disana laporannya," tukas Reynold sambil melepaskan pelukannya pada Ayesha.


Evan hanya bisa tersenyum kecil memperhatikan mereka.


Ayesha sendiri langsung saja merapikan rambutnya dan langsung ke luar ruangan merasa tidak enak dengan Evan. Dia langsung ke ruangannya mempersiapkan berkas dokumen untuk rapat.


"Rapat sudah bisa dimulai kan?" tanya Victory untuk menutupi rasa gugupnya.


"Iya pak. Klien kita juga sudah ada diruang rapat."


"Okay, kalau begitu laporan ini nanti akan aku tanda tangani. Kita rapat dulu," ajaknya pada Evan dan Ayesha yang telah siap dengan dokumen ditangannya.


Mereka segera menuju ke ruang rapat.


***


"Mas, kenapa sich mama masih belum mau menerima hubungan kita? Padahal kitakan udah menikah mas," ujar Silvi sambil duduk menjuntai diatas ranjangnya.

__ADS_1


"Aku ga tahu Sil, mungkin karena aku cuma montir jadinya mama kamu merasa ga selevel gitu," ujar Vico sekenanya.


"Maaf ya mas, mama udah ngomong kasar sama mas Vico," ucap Silvi dengan wajah menyendu.


"Tenang sayang, kamu ga usah khawatir. Aku ga pernah masukin ke hati ucapan mama kamu. Malahan aku jadikan itu untuk penyemangat supaya aku bisa lebih baik lagi," jelas Vico, lelaki itu duduk di dekat Silvi kemudian mengusap pelan rambutnya.


"Iya mas. Makasih ya, kamu udah mau mengerti dengan sikap mama,"  ucap Silvi sambil bersandran ke tubuh Vico.


Vico hanya tersenyum melihat sikap Silvi. Dia tahu pasti bagaimana Marinka selalu menentang hubungan mereka tapi Vico dan Silvi selalu mengusahakan yang terbaik untuk hubungan mereka. Apalagi terhadap sikap angkuh Marinka Vico selalu mencoba untuk mengalah demi kebaikan hubungan mereka.


"Sayang, hari ini hari pertama aku kerja di kantor om Arya, doain kerjaan aku lancar," ucap Vico sambil mengangkat kedua pipi Silvi.


"Iya mas. Aku pasti bakal doain yang tebaik untuk kamu." "Makasih ya sayang. Aku berangkat dulu."


Vico berpamitan pada Silvi kemudian menuju ruang makan dan berpamitan pada ibu dan ayah mertuanya.


Hari ini tujuan Vico akan pergi ke bengkel tempat dia bekerja dulu, karena dia harus menyerahkan surat pengunduran dirinya pada manajer bengkel itu.


Dia mengetuk ruangan manajer itu.


"Pak Bramantia, bolehkah saya masuk?"


"Silakan Vic. Masuk aja," tukas lelaki yang berada didalam ruangan itu.


"Pak, sibuk ga pak? Ada yang mau saya omongin sama bapak." Vico masuk perlahan ke dalam ruangan itu.


"Silakan duduk Vico. Kamu mau bicara apa?"


Vico duduk berhadapan dengan Bramantia menejer bengkel itu.


"Begini pak, saya ke sini mau mengundurkan diri pak,"


"Hah? Mengundurkan diri? Kenapa tiba-tiba kamu mau mangundurkan diri?"


"Iya pak, sebenarnya saya senang bekerja disini tapi saya ditawarkan pekerjaan impian saya oleh perusahaan lain pak. Saya harap bapak berkenan."


"Ah... sayang sekali ya, padahal saya mau menaikkan gaji kamu bulan ini, tapi kalau memang kamu mau resign dari bengkel ini, tidak apa-apa, tapi kamu udah cari pengganti kamu?"


"Kalau itu bapak ga perlu khawatir karena saya ada rekomendasi teman yang bisa melakukan tugas saya pak."


"Okay, kalau begitu keputusanmu, saya ga bisa memaksa kamu tetap bekerja disini. Saya sangat berterimakasih karena selama kamu bekerja selalu memberikan pelayanan terbaik pada pelanggan. Saya harap pengganti kamu nanti bisa mengikuti jejak kamu Vic,"


"Baiklah, besok kamu suruh teman kamu bekerja disini. Oh iya, ini gaji kamu selama bekerja sekaligus bonus kamu,"


Lelaki itu mengeluarkan amplop yang berisikan uang kemudian memberikannya pada Vico.


Ketika mengambil amplop itu, Vico sedikit heran karena amplop itu cukup tebal.


"Pak, ini ga kebanyakan?" tanyanya sambil mengernyitkan dahinya.


"Itu pantas buat kamu, karena kamu sudah bekerja dengan sangat baik selama di bengkel ini,"  jelas Abimanyu sambil menepuk bahu Vico.


"Terimakasih pak. Saya akan pergunakan uang ini dengan sebaik-baiknya," wajah sumringah terlukis jelas pada diri Vico.


Vico melangkahkan kakinya keluar ruangan Bramantia dia segera melanjutkan langkahnya ke tempat baru yang sedang menantinya, dengan wajah yang penuh harapan dan semangat yang bergejolak dari dalam dirinya dia segera menuju perusahaan Hadinata Group.


***


Baru saja melangkahkan kaki ke perusahaan, Vico segera memencet tombol lift supaya tidak terlambat dihari pertamanya kerja.


Pintu lift terbuka terlihat lift penuh dan hanya bisa untuk satu orang lagi. Tiba-tiba seorang perempuan muda menyelonong masuk ke dalam lift itu dan dengan seenaknya dia berkata...


"Maaf mas, saya udah terlambat jadi biarkan saya yang lebih dulu masuk lift ini. Mas bisa lewat tangga darurat saja," ujarnya dengan wajah memelas.


Menjengkelkan sekali, apakah wanita itu tidak bisa berpikir sedikitpun? Bukan hanya dia yang terlambat saat ini tapi Vico juga akan terlambata jika melewati tangga darurat.


"Tapi mbak... saya udah duluan disini," sela Vico.


"Iya mbak, mas itu lebih dulu dari mbak," tukas seorang wanita yang berada didalam lift.


"Tolong mas. Saya ada meeting sebentar lagi. Please biarkan saya duluan ya mas," ujar wanita itu dengan wajah memohon.


"Hm... ya sudahlah. Kau duluan saja,"


Akhirnya Vico mengalah karena wanita itu terlihat sangat buru-buru. Vico mencoba mencari lift lain yang kosong tapi ternyata lift saat itu penuh semua dan Vico nekat saja menuju ke tangga darurat, dengan tergopoh-gopoh dia mengayunkan kakinya, sepertinya Vico harus berolah raga dulu untuk sampai ke lantai dua belas melalui tangga darurat.


"Hah... ini benar-benar menyebalkan. Hari pertama gue harus naik tangga darurat sampe ngap-ngapan begini," keluh Vico sambil memegang kedua lututnya yang terasa capek.

__ADS_1


"Loh mas, kamu disini?" tanya seorang wanita yang baru saja akan memasuki ruang meeting bersama rekan kerja dan atasannya.


"Vico, kamu kenapa ngos-ngosan begitu?" tanya Arya yang terkejut melihat Vico yang sedang mengatur nafasnya di tangga darurat.


"Ini pak. Gara-gara perempuan ini saya harus lewat tangga darurat. Dia bilang buru-buru karena ada meeting," tunjuk Vico pada wanita yang berada didekat Arya.


"Aurel, kamu telat lagi?" tanya Arya pada wanita itu.


"Maaf pak, saya tadi mengantarkan anak saya ke sekolah dulu pak. Jadi saya sedikit terlambat," jelas wanita itu pada atasannya.


"Hm, ya sudah lain kali kamu jangan telat lagi," tukas Arya padanya.


"Iya pak, saya janji," ujar wanita itu.


"Eh iya Vic. Hari ini saya ada meeting jadi nanti kamu temui HRD aja ya, terus kamu kasih lamaran kamu. Nanti biar dia yang menjelaskan job desk pekerjaan kamu,"  tukas Arya pada Vico.


"Baiklah pak," Vico segera mengiyakan ucapan Arya.


"Denis kamu bisa tolong antarkan Vico ke ruangan HRD dia akan jadi anggota baru di kantor kita," titahnya pada karyawannya.


"Baik pak, akan saya lakukan. Ayo mas, saya antarkan ke ruangan HRD," ajak lelaki itu padanya.


Vico mengikuti lelaki itu ke ruangan HRD yang dimaksud. Sementara Aurel memperhatikan Vico.


"Dia... karyawan baru di kantor ini? Wow pasti bakal menyenangkang" gumam Aurel didalam hatinya.


Padahal baru kali pertama dia bertemu dengan Vico tapi entah kenapa hatinya begitu senang saat bertemu lelaki itu.


Pria bernama Denis itu membawa Vico menuju ruangan HRD kemudian mengenalkannya pada HRD itu.


"Pak Romi, perkenalkan ini karyawan baru buat di bengkel. Kemarin pak Arya udah kasih tau sama bapak kalau kita akan kedatangan karyawan baru?" tanya Denis padanya.


"Oh iya, silakan. Sini duduk dulu, coba saya lihat Curiculum Vitae kamu." Ujar Romi sambil melihat berkas surat lamaran Vico.


Romi menganggukkan kepala, melihat pengalaman kerja yang dimiliki Vico. Sungguh diluar dugaan, Vico masih muda tapi pengalamannya bekerja di bengkel sangat fantastis. Membuatnya sangat kagum.


"Melihat pengalaman kerja kamu, kayaknya kamu sangat berkompeten untuk bekerja di bengkel untuk perusahaan kita. Apa kamu bersedia untuk menjadi kepala bengkel disini? Kebetulan perusahaan ini membutuhkannya," jelasnya pada Vico.


"Tentu pak. Saya sangat bersedia," tukas Vico.


"Baiklah kalau begitu nanti kamu akan saya ajak keliling bengkel disini dan akan saya perkenalkan dengan karyawannya juga."


"Baik pak. Terimakasih pak atas bantuannya."


Vico sangat bahagia dengan yang baru didengarnya. Ini akan menjadi berita baik untuk dirinya dan keluarganya.


Sebelum memulai pekerjaannya, karena ini hari pertamanya bekerja. Vico masih belum ada pekerjaan, hanya diberikan ruangan khusus.


"Eh iya, dari tadi gue nemenin lo, gue ga tahu nama lo. Kenalin nama gue Denis. Gue staff keuangan di perusahaan ini," ucap lelaki itu sambil mengulurkan tangannya.


"Saya Vico Darmawan, panggil aja Vico," ujar Vico sambil menyambut tangan lelaki itu.


"Nanti kalau lo butuh bantuan. Lo tinggal bilang sama gue ya," ujar lelaki itu dengan ramah.


"Iya mas. Makasih ya mas," icap Vico pada lelaki itu.


***


Ditempat lain, seorang sedang menyusun rencana. Dia dan anak buahnya sedang berkumpul dalam suatu ruangan yang ada mini bar nya


.


"Bos, jadi apa yang akan kita lakukan untuk misi kita."


"Kau awasi wanita itu, cari tahu dia bersama siapa dan tinggal dimana?"


"Kemarin, aku sudah mengerahkan semua anak buahku di setiap penjuru kota London ini, namun tidak ada menemukan jejak wanita itu."


"Apa kau bilang? Bagaimana mungkin dia bisa menghilang begitu saja? Apa mungkin dia tidak berada di Inggris saat ini?"


Lelaki itu memutar otaknya, kemana Clara pergi? Dan kalau memang dia pergi dari Inggris dia akan pergi kemana? Ribuan pertanyaan bermunculan di benak lelaki itu. Membuatnya semakin merasa jengah.


"Jack, kau cari informasi kemana Clara pergi, kalau benar dia telah keluar dari negeri ini, kau harus cari tahu siapa yang membantunya keluar," titah lelaki itu padanya.


"Baik bos."


Lelaki itu menunduk dalam pada bosnya dan segera pergi dari hadapan Maxy.

__ADS_1


"Hm, kemana kau Clara? Aku pasti akan menemukanmu cepat atau lambat aku akan mendapatkanmu!!!" Gumam lelaki itu dalam hatinya.


Wajah dinginnya kembali terlihat saat dia membayangkan Clara benar-benar bersama dengan lelaki lain. Dia benar-benar tidak rela dan tidak ingin lelaki lain merebut wanitanya. Bahkan dia berencana untuk menghabisi lelaki yang mencoba mendekati Clara.


__ADS_2