
Daren masih tidak percaya dengan apa yang dilihatnya, tidak mungkin gadis muda itu telah menikah. Pasti itu hanya akal-akalannya saja supaya bisa menghindari Daren. Aku tidak percaya, Silvi telah menikah dia tidak mungkin menikah secepat itu dan memilki anak. Umurnya baru dua puluh satu tahun. Masa dia sudah punya anak berumur emapt tahun. Tidak bisa dipercaya. Lelaki masih tidak terima dengan keadaan Silvi saat ini.
Dia terus memandangi wanita muda yang terlihat begitu cantik dengan balutan gaun sebatas lutut itu. Daren tidak bisa melepaskan pandangannya dari wajah gadis muda itu, namun hatinya cukup terbakar karena wanita itu menggandeng tangan pria lain dengan sangat mesra. Daren mengambil coctail yang tersedia disana, entah sudah berapa banyak dia meminumnya. Membuat matanya semakin berat dan sedikit tidak terkendali.
Daren terlihat mabuk, tapi bukan minuman itu yang membuatnya mabuk malam itu, tapi wanita yang berada didepannya yang masih asyik bercengkrama dan tertawa lepas bersama pria disisinya.
"Sayang, aku mau ke toilet sebentar ya," Silvi meminta izin pada sang suami.
"Apa mau aku antar?" Vico menawarkan dirinya pada sang istri.
"Tidak usah. Toiletnya dekat kok, aku sendiri aja," tukasnya pada sang suami. Disambut dengan anggukan dari Vico lalu membiarkannya pergi sendiri.
Silvi segera pergi dari hiruk pikuk pesta itu kemudian menuju toilet, tanpa dia sadari seseorang membuntutinya dari belakang dengan sedikit sempoyongan. Silvi masih tetap santai kemudian masuk ke dalam toilet dan menyelesaikan aktifitasnya. Orang itu menunggunya diluar, sementara Silvi baru saja keluar toilet dan merapikan rambutnya yang sedikit berantakan. Pintu toilet dibuka perlahan dan seseorang melangkahkan kakinya mendekat pada Silvi, mendekapnya dari belakang. Wanita itu terperanjat.
"Lepaskan, Daren apa yang kamu lakukan? Lepaskan aku," wanita itu terperanjat saat tangan seorang lelaki yang bukan suaminya melingkar ditubuh rampingnya.
Pria itu hanya diam dan tetap melakukan aktifitasnya, dia memandangi punggung Silvi yang sedikit terekspouse karena baju Silvi yang sedikit menampakkan bagian punggungnya. Lelaki itu mencoba menghembuskan nafasnya didekat telinga Silvi membuat wanita itu bergidik ngeri. Pria itu mendekat tanpa ada batasan dan menngusapkan bagian bawahnya yang mulai mengeras ke bagian belakang tubuh Silvi dan semakin mempererat pelukannya lalu mencium leher Silvi, dengan cepat wanita itu menyikut perutnya lalu mendorongnya hingga terpental ke belakang.
"Apa yang kamu lakukan?" wanita itu menampakkan wajah marahnya pada Daren, tapi pria itu mendekatinya dan mencengkram kedua tangan Silvi lalu mendorongnya hingga tersandar ke dinding. Melihat Silvi terdesak pria itu langsung mendekatkan wajahnya ke wajah Silvi mencoba mencium bibirnya, tapi wanita itu menghindar. Daren tetap memaksa merengkuh pundak Silvi dan wanita itu menginjakkan ujung sepatu hellsnya ke sepatu Daren dengan sangat keras membuat lelaki itu meringis kesakitan dan mengusap kakinya. Dikala lelaki itu terfokus pada kakinya yang sakit, secepat kilat wanita muda itu beranjak dari pria yang berada dihadannya dan membuka pintu toilet lalu berlari ke arah keramaian lalu segera mendekat pada sang suami.
Langkah kaki pria itu terhenti saat Silvi menggenggam erat lengan sang suami meminta perlindungan. Hanya ekspresi kekesalan yang bisa dilakukannya. Daren mengepalkan tangannya kuat sehingga memperlihatkan buku-buku tangannya yang terlihat memutih. Rahangnya mengeras dan menatap tajam apda Silvi. Dia gagal mendapatkan wanitanya.
"Sayang kamu kenapa? kok kayak orang ketakutan gitu?" tanya Vico yang melihat wajah panik sang istri.
"Ti ... tidak apa-apa mas. Hm, aku kurang enak badan kita pulang aja yuk," pintanya pada sang suami sambil menatap takut pada Daren yang telah berada dihadapannya dengan tatapan memangsa.
__ADS_1
Silvi semakin mempererat pegangan tangannya pada sang suami dan berdiri disisi sang suami. Vico melihat ada sesuatu yang tak beres disana. Terlebih dia memperhatikan Daren yang sedikit aneh. Pria itu tidak baik-baik saja dan tatapannya sangat nyalang pada Silvi.
Vico langsung memberi tameng pada sang istri. Dia berdiri didepan wanitanya dan berujar, "maaf kami harus segera pergi dari sini. Sepertinya istri saya kurang enak badan," Vico meminta izin keluar dari acara terlebih dahulu. Akhirnya Silvi dan Vico meninggalkan acara.
Sial! Beraninya dia meninggalkanku! awas kamu Silvi aku pasti akan mendapatkanmu apapun caranya. Gerutunya dalam hati sambil meluapkan kekesalannya dengan memukul kaca toilet hingga membuat tangannya berdarah.
Saat keluar dari toilet dirinya berpapasan dengan Marinka. Wanita paruh baya itu melihat tangan Daren yang terluka.
"Daren, kamu kenapa? tangan kamu terluka," cemasnya pada pria muda itu.
"Tidak apa-apa tante. Ini hanya luka kecil saya cuma jatuh di toilet," bohongnya pada Marinka.
"Apa perlu tante panggilkan dokter?" Marinka memberikan penawaran.
Daren benar-benar dan butuh pelampiasan saat ini juga. Dia memutuskan untuk meninggalkan acara dan menuju ke club yang biasa dikunjunginya. Disana dia memesan private room dan minuman tak lupa beberapa wanita yang menemaninya. Dia melepaskan semua kekesalannya dengan menghabiskan minuman yang kini berada ditangannya sambil merengkuh wanita yang berada dipelukannya. Wanita itu sangat lihai memuaskannya dia mulai mengusap dada bidang pria itu dengan jemari-jemarinya. Membuat pria itu merasakan getaran yang membuat tubuhnya semakin memanas.
Daren memegangi kedua tangan wanita itu dan menghempaskan wanita itu ke sofa dan kini dirinya mengambil kendali. Daren berada di atas tubuh wanita muda itu sambil menyeringai.
"Dasar ****** kau pikir kau bisa membuatku merasa puas?" geramnya pada wanita yang berada dalam kungkungannya.
"Aku akan melakukan apapun untukmu tuan muda," goda wanita itu sambil mengalungkan tangannya ke pundak pria itu.
Dengan kasar dia merobek pakaian minim wanita itu dan terpampangan pemandangan yang membuat gairahnya semakin memuncak dengan brutal dia melahap mangsanya bagai singa yang kelaparan.
"Aaaah tuan enak," wanita itu merasakan kenikmatan yang tiada tara saat tangan pria itu bergerilya ditubuh indahnya.
__ADS_1
"Aku bukan tuanmu. *****," lelaki itu semakin menggila dengan perbuatannya.
"Maaf Daren, kau begitu menggairahkan," desah wanita itu lagi saat lelaki itu menyentuh liangnya dengan jarinya kemudian dia melakukan gerakan memutar jarinya disana membuat wanita itu menceracaw tak karuan.
"Jangan pernah menyebut namaku dengan mulut kotormu," geram lelaki itu sambil melakukan gerakan kasar pada inti wanita itu dengan tangannya. Membuat wanita itu tersentak mengeluarkan air mata kesakitan.
"Itu sakit," keluhnya membuat Daren semakin kesal. "Diam kau, dari tadi kau menikmati permainanku sekarang kau malah mengeluh, terima saja apa yang akan kulakukan," titah lelaki itu dengan kasar.
Wanita itu hanya menangis menahan nyeri disana. Dia hanya bisa terdiam kemudian pria muda itu berbalik meletakkan tubuh wanita itu diatasnya. "Lakukan yang harus kau lakukan," perintahnya lagi.
Dengan senang hati wanita itu memulai permainannya pada pria itu tapi Daren hanya membayangkan Silvi. Wajah wanita itu berputar-putar dikepalanya membuatnya hilang akal. "Silvi ... Silvi..." racaunya membuat wanita yang bersamanya merasa kesal.
"Aku bukan Silvi namaku Alice," gerutu wanita itu padanya.
"Aarrghhg kau membuatku kehilangan gairah saja. Aku cuma inginkan Silvi bukan ****** sepertimu," lelaki itu mengeluarkan mulut pedasnya. Sudah pasti dia akan melakukannya karena dia tak ingin dibantah.
Wanita itu tidak menghiraukannya dan terus memuaskannya tapi sepertinya pria itu mulai kehilangan moodnya.
"Sudah pergi sana. Kau merusak suasana hatiku saja," usirnya pada wanita itu. Kurang ajar sekali pria satu ini. Padahal wanita itu belum selesai dengan apa yang dia lakukan. Pria arogan itu malah mengusirnya seperti kucing jalanan.
"Tapi tuan, kita belum selesai," sergahnya pada Daren.
"Singkirkan tubuhmu dariku. Aku muak melihatmu. Pergilah!!!" titah pria itu dengan sangat kesal.
Dengan wajah penuh kebencian wanita itu beranjak dari pria sialan yang berada dihadapannya. Dia segera memaakai pakaiannya dan mengambil uangnya. Brengsek dasar pria gila!!! Gerutunya dalam hati dan pergi meninggalkan Daren yang masih enggan berdiri dari sofa itu. Dia membiarkan dirinya tetap polos begitu saja sambil memandangi foto Silvi bersamanya. Dia benar-benar telah menjadi gila.
__ADS_1