Menikah Dini

Menikah Dini
Mengungkap Kebenaran


__ADS_3

Pagi itu Vico segera menuju ke kantor polisi untuk memberikan keterangan tentang kasusnya. Namun, baru saja melangkahkan kaki masuk ke dalam ruangan itu dia dikagetkan dengan kemunculan seorang wanita.


Ya, wanita yang dilihatnya saat itu adalah Andin. Tentu saja itu menjadi pertanyaan besar bagi Vico bagaimana bisa Andin ke kantor polisi dan ada urusan apa?


"Loh, mbak Andin? Kok bisa ada disini?" Tanya Vico merasa keheranan dengan wanita yang sedang duduk di dekat lelaki yang menyerangnya kemarin.


"Eh, mas Vico." Wanita itu menyunggingkan senyum tipis saat melihat Vico dan dia tak mampu meberikan penjelasan apapun.


"Ada apa ini pak, mbak Andin ini kenapa dibawa ke sini juga?" Vico menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


"Begini mas Vico, orang yang melakukan pemukulan terhadap mas Vico itu pacarnya mbak Andin." Jelas polisi yang sedang mengintrogasi pada Vico.


Vico benar-benar kaget, mendengarkan penjelasan polisi itu.


"Apa maksudnya semua ini mbak?" Vico terlihat sedikit marah dan meminta penjelasan pada wanita itu.


"Maaf mas Vico, sebenarnya Grey ini adalah pacar saya."


Wanita itu menunjuk ke arah lelaki bertato naga itu.


Vico benar-benar dibuat bingung oleh mereka.


"Tunggu sebentar, mbak bisa jelasin sama saya, kalau dia ini pacar mbak kenapa dia menyerang saya di kantor?"


"Saya minta maaf mas atas kejadian itu. Pacar saya cemburu karena pernah melihat mas Vico mengantarkan saya." Jelas wanita itu.


Vico membuang pandangannya. Malas mendengarkan alasan mereka.


"Mas, tolong dong maafin pacar saya. Tolong bebaskan pacar saya."


Wanita itu menunjukkan wajah memelas pada Vico.


Vico yang waktu itu ditemani Denis hanya saling menatap.


"Vic, lo bakal mengeluarkan dia dari penjara? Lo lihat sendiri, dia ga menyesal sama sekali." Bisik Denis pada Vico.


"Iya sich mas, gue juga lihat kayak gitu. Gue mau kasih pelajaran sama dia biar ga sembarangan bertindak." Ujar Vico pada Denis.


"Gimana mas Vico, mas Vico maukan bantu saya?" Pinta wanita itu sedikit mendesak Vico.


"Hm, saya mohon maaf mbak. Saya ga bisa bantu dan akan melanjutkan urusan ini."


"Tapi mas Vico..."


Belum sempat wanita itu melanjutkan ucapannya. Marinka datang ke kantor polisi bersama Adi.


"Vico." Panggil Marinka sambil mendekat ke arah mereka.

__ADS_1


"Mama, kok tiba-tiba mama ada disini?" Vico terperanjat saat Marinka dan Adi datang ke kantor polisi.


"Iya, mama ke sini cuma mau bilangin ke kamu sebaiknya masalah kamu ga usah diperpanjang." Tukas Marinka dengan wajah angkuhnya.


"Kenapa gitu ma? Aku cuma menuntut hak aku. Apa aku salah?


"Mama cuma ga mau ya, kalau urusan kamu ini bakal merusak reputasi papa kamu di kantor."


"Aku itu diserang, bukan aku yang buat keributan." Tegas Vico sambil membuang muka merasa kesal dengan sikap Marinka.


"Untuk kali ini papa setuju sama mama. Papa juga berpikir kalau masaalah ini diperpanjang malah akan jadi gosip."  Adi menimpali ucapan Marinka.


Vico menghembuskan nafas berat. Namun, akhirnya Vico setuju dengan permintaan Marinka.


"Baiklah, untuk kali ini saya akan menarik tuntutan saya, tapi kalau kejadian lagi, jangan salahin saya kalau saya bakal jeblosin dia ke penjara." Ujar Vico sambil menunjuk lelaki bertato naga itu.


Vico mencabut laporannya saat itu juga. Dia benar-benar tidak mengerti mengapa Marinka begitu gigih untuk membebaskan orang itu, padahal jelas-jelas dalam hal ini Vico yang menjadi korban.


Saat diluar kantor polisi, Adi menemui Vico.


"Vico, maaf ya nak gara-gara sikap mama kamu itu. Sejak dari rumah tadi mama kamu ngotot minta diantarkan ke kantor polisi, katanya ga mau ada urusan sama polisi."


"Iya pa. Aku mengerti."


Denis geram melihat kelakuan Marinka yang arogan.


"Aneh deh mertua lo Vic, masa dia ga ngebelain lo sama sekali."  Ucap Denis sambil melajukan mobilnya.


"Entahlah, gue juga heran mas, dari dulu mama Marinka kayaknya ga pernah suka sama gue."


Vico mengusap kepalanya pelan. Dia merasa pusing saat ini karena perlakuan Marinka padanya.


"Emang begitu sich, mertua itu kadang baik banget kadang malah nyebelin. Contohnya aja gue. Dulu gue punya istri yang cantik dan juga punya keluarga kecil dengan dua orang anak, tapi semuanya cuma seumur jagung." Keluh Denis mengingat kembali saat dia masih menikah.


"Lah, emangnya istri mas tinggalin mas denis gitu?"


Vico sedikiti terkejut karena Denis yang terlihat ceria selama ini ternyata menyimpan luka begitu dalam dihatinya.


"Iya Vic. Gue pernah menikah tapi beberapa tahun yang lalu. Gue menikah sama orang yang gue cintai. Bisa dibilang kita saling cinta, tapi emang dasar orang tuanya aja yang ga suka sama gue jadinya pernikahan gue cuma bertahan selama tiga tahun." Lirih lelaki itu.


"Maaf mas, gue ga bermaksud bikin mas Denis jadi sedih atau teringat sama masa lalu."


Vico merasa tidak enak karena membuat Denis teringat akan masa lalu.


"Ga apa-apa kok Vic. Gue itu udah menaganggap lo kayak adek gue. Jadi kejadian yang lo alami sekarang ini jangan sampai membuat hubungan lo sama istri lo jadi berantakan."  Tegas Denis pada Vico.


"Iya gue paham mas. Gue sayang banget sama istri gue, jadi ga pernah kepikiran buat ninggalin dia. Apalagi dia juga lagi hamil." Vico mengulas senyum dibibirnya.

__ADS_1


Denis tersenyum melihat Vico yang begitu bahagia menanti kelahiran anak-anaknya.


***


Sementara itu, Marinka menelpon seseorang.


"Halo, kamu dimana? Temui saya sekarang juga di Cafe Starlet!" Titahnya pada seorang wanita di seberang sana.


"Baik bu, saya akan segera ke sana." 


Tanpa banyak bertanya wanita itu segera melesatkan laju mobilnya.


Hanya dalam waktu lima belas menit wanita itu telah sampai di Cafe yang ditentukan oleh Marinka.


Sesampainya di Cafe,


"Bu Marinka." Sapa gadis itu pada Marinka yang tengah menikmati makan siangnya.


"Untung kamu cepat datang, tadi hampir saja suami saya curiga." Ujar Marinka penuh ketegasan pada wanita muda itu.


"Maaf bu, tadi saya ke rumah pacar saya dulu sebelum ibu menelpon."


"Ini, bayaran kamu untuk misi pertama kita."


Marinka memberikan sejumlah uang didalam amplop pada wanita muda itu.


"Terimakasih bu." Wanita itu langsung menyimpan uang itu ke dalam tasnya.


"Saya akan memberikan uang yang lebih lagi kalau dalam misi kedua kamu berhasil menjebak Vico." Ujar Marinka padanya.


"Baik bu, saya akan berusaha sebisa saya."


"Ya sudah kalau begitu, kamu bisa pergi sekarang juga. Saya ga mau ada yang melihat pertemuan kita."


Mata wanita paruh baya itu nyalang melihat ke sekitar cafe itu.


"Baik bu, saya pamit dulu." Ujarnya pada Marinka.


Wanita yang baru menemui Marinka itu adalah Nadin, dia merupakan asistent pribadi Marinka di kantor Marinka.


Marinka sengaja membayar wanita itu untuk menghancurkan hubungan Vico dan Silvi, karena memang Marinka sudah jengah dengan hubungan mereka. Marinka masih menginginkan Silvi kuliah di Oxford University, Amerika.


Hanya saja kemarin itu terjadi sedikit insiden. Pacar Andin cemburu dan terjadi sedikit cekcok antara mereka, sehingga berujung lelaki itu cemburu dan melakukan tindakan anarkis pada Vico.


Meskipun begitu misi pertama Marinka dan Andin telah berhasil walaupun harus menekan Vico agar tidak melanjutkan tuntutannya.


Marinka memang benar-benar keterlaluan. Tidak pernah memikirkan orang lain. Dia hanya memikirkan ambisinya saja.

__ADS_1


__ADS_2