
Pagi hari setelah bangun dan membersihkan dirinya Reynold dan Clara, menuju ke ruang makan untuk makan bersama.
Diruangan itu telah berkumpul Abimana, Safira dan Mr. Anderson.
"Bagaimana tidur kalian, nyenyak tidak?" Tanya Mr. Anderson membuka pembicaraan.
"Iya ayah, kami melewati malam ini dengan penuh kebahagiaan." Ujar Clara mengungkapkan rasa bahagianya.
"Rey, sepertinya besok kita harus balik ke Australia, karena ada permasalahan yang harus kita selesaikan." Tukas Abimana pada sang anak.
"Apa pa? Kenapa mendasak sekali?" Reynold cukup kaget dengan permintaan sang papa.
"Iya nak, sebenarnya kemarin orang kepercayaan papa memberitahu kepada papa kalau ada orang yang mencoba meretas data perusahaan kita." Jelas Abimana padanya.
"Apa? Bagaimana bisa seperti itu pa?"
"Itulah yang papa tidak mengerti, karena selama ini perusahaan kita baik-baik saja, tapi kenapa sekarang jadi bermasalah?"
"Baiklah pa, aku akan menghubungi Victory dulu." Ujar Reynold sambil mengambil handphonenya untuk menghubungi Victory.
Dirinya pergi ke ruangan satunya lagi supaya lebih leluasa untuk berbicars.
"Ya Rey, ada apa?" Jawab lelaki diseberang sana.
"Apa kau tahu Victy ada yang meretas data perusahaan kita?"
"Iya, itulah yang ingin kusampaikan padamu. Kemarin ada orang yang meretas data perusahaan kita dan sekarang saham kita jadi anjlok." Jelas Victory.
"Apa? Ini tidak bisa dibiarkan. Kita harus dapatkan pelakunya." Ucapnya mengakhiri pembicaraannya.
Abimana yang mengkhawatirkan Reynold dengan segera menghampiri Reynold.
"Gimana nak? Apa kata Victory tentang perusahaan kita?" Tanya Abimana yang tampak khawatir.
"Benar pa,ada yang meretas data perusahaan kita sehingga saham kita menjadi anjlok."
"Ini tidak bisa dibiarkan. Orang itu harus kita dapatkan secepatnya. Ini akan membahayakan perusahaan kita."
"Iya pa, benar yang papa bilang kita harus segera kembali pa." Ujar Reynold sambil menahan amarahnya.
Rasanya, dia sudah tidak sabar untuk menemukan orang itu.
__ADS_1
Pagi itu juga dirinya segera mempersiapkan kepergiannya ke London.
"Sayang, apa harus sekarang kembali ke London?" Tanya Clara yang merasa semuanya terlalu dadakan.
"Iya sayang, ini sangat urgen karena kalau aku tidak segera kembali bisa-bisa perusahaan akan bangkrut." Jelas Reynold pada istrinya.
"Tapi sayang, kitakan masih dalam liburan untuk pernikahan" Ujar Clara sambil mencebikkan bibirnya.
Clara terlihat sedikit kecewa. Bagaimana tidak kecewa, masa liburan yang seharusnya mereka nikmati untuk menikmati pernikahan mereka malah harus dilewati dengan menuntaskan pekerjaan.
"Maafkan aku sayang. Aku juga ingin menikmati masa pernikahan kita, tapi aku juga tidak bisa meninggalkan perusahaan begitu saja. Walaupun ada Victory sebagai orang kepercayaanku tapi kalau dalam keadaan genting seperti ini akulah yang harus turun tangan." Jelas Reynold pada sang istri.
Mendengar ucapan suaminya Clara hanya menganggukkan kepala.
"Ya baiklah, aku mengerti. " Tukas Clara pada Reynold.
"Kamu ikutkan sayang?" Tanya Reynold sambil memperhatikan Clara.
"Maaf sayang, aku ga bisa pulang sama kamu karena aku juga ada janji sama klien. Kayaknya hari ini pekerjaanku juga akan banyak."
"Baiklah sayang tidak apa-apa,kalau kamu tidak bisa bkar aku saja yang kembali sendiri." Ujar Reynold sambil mengusap pipi Clara. Clara yang memperhatikan Reynold, tersenyum dan memeluk dada bidang suaminya dengan penuh rasa sayang.
"Pasti sayang. Aku pasti akan mengabarimu." Ujar Reynold sambil tersenyum.
***
Ditempat berbeda, Fredy yang telah memulai kehidupan barunya di singapura. Berkat bantuan dari seorang temannya yang bekerja di rumah sakit Fredy bisa bekerja kembali seperti biasa lagi. Ya, dirinya mendapatkan rekomendasi dari temannya untuk bisa bekerja di rumah sakit yang masih merupakan milik temannya itu.
"Wellcome Fredy selamat bergabung di rumah sakitku."
Sambut sahabatnya itu sambil menyalami dan memeluk Fredy.
"Terimakasih Harry, kalau bukan karena bantuanmu aku mungkin tidak akan bisa mendapatkan pekerjaan ini." Ucap Fredy penuh dengan rasa bahagia.
"Jangan berkata seperti itu. Kau adalah temanku dan kita senasib seperjuangan saat kuliah. Dulu kau sering membantuku dan sekarang giliranku yang harus membantumu." Tukas lelaki itu padanya.
Tentu saja, Harry akan membantu Fredy, karena memang ketika mereka kuliah dulu, Fredy banyak membantunya. Fredy merupakan anak dari keluarga yang berkecukupan dan kebutuhannya selalu terpenuhi. Sedangkan Harry hanya seorang anak kampung yang memcoba mengadu nasib di kota.
Di sebuah kampus tempat mereka kuliah itulah mereka menjadi saling akrab dan bersahabat. Fredy yang mengetahui kondisi Harry yang saat itu serba kesusahan, membantu sahabatnya itu dalam financial. Dan hal itu pula yang membuat Harry selalu mengingat jasa dan kebaikan dari sahabatnya itu.
Flashback on.
__ADS_1
Sehari sebelumnya, Fredy sempat menghubungi Harry dan mengajaknya bertemu.
"Harry, bagaimana kabarmu?"
"Aku baik-baik saja teman. Seperti yang kau lihat." Ujarnya dengan penuh keramahan.
"Syukurlah aku ikut senang mendengarnya."
"Oh iya kau sendiri bagaimana? Keluargamu baik-baik sajakan?" Tanya Harry penuh antusias.
"Aku dan keluargaku baik-baik saja. Oh ya Hary aku mengajakmu ke sini untuk meminta bantuanmu." Ujar Fredy pada sahabatnya.
"Katakanlah kau ingin aku membantumu bagaimana?"
"Hm... begini, aku ke sini untuk membantu pengobatan istriku, tapi aku baru saja mengundurkan diri dari pekerjaanku yang lama." Jelasnya pada sahabatnya.
"Mengapa begitu?" Tanya Harry penasaran.
"Karena aku ingin memberikan perhatian penuh untuk kesehatan istriku dan anak-anakku jadi aku memilih untuk pindah ke negara ini untuk pengobatan istriku." Ucap Fredy mengelabui sahabatnya.
Harry yang mendengarkan penjelasan Fredy merasa simpatik dan terharu akan apa yang dialami sahabatnya itu.
"Jadi bisakah kau membantuku untuk merekomendasikan pekerjaan untukku?" Tanya Fredy pada sahabatnya itu.
Sejenak Harry berpikir, dirinya teringat akan rumah sakit yang baru saja diresmikannya. Rumah sakit itu masih membutuhkan perawat dan dokter ahli karena memang masih baru.
"Aku ada penawaran untukmu. Begini aku ada rumah sakit yang baru saja kuresmikan beberapa hari ini dan rumah sakit itu masih sangat membutuhkan ahli medis. Apakah kau bersedia bekerja dirumah sakitku?" Tanya Harry pada sahabatnya.
"Tentu saja aku mau. Aku sangat senag sekali jika kau mau memberikan kesempatan itu padaku.
"Ya aku akan memberimu kesempatan untuk bekerja disana, tapi kau harus maklum, karena gajinya mungkin tidak akan sebesar gaji yang kau dapatkan di rumah sakit tempat kau bekerja dulu." Ujar Harry mencoba bersikap rendah hati.
Dirinya masih ragu untuk menawarkan pekerjaan pada sahabatnya , itu karena dia tahu pasti Fredy adalah dokter ahli dan sudah diakui prestasinya. Dia takut kalau Fredy akan kecewa jika bekerja dengannya, karena rumah sakit yang masih baru dan omsetnya masih kecil.
"Tidak apa-apa Har, aku benar-benar membutuhkan pekerjaan ini. Aku akan senang sekali jika kau menerimaku dalam pekerjaan ini." Tukas Fredy dengan antusias.
Dia begitu berharap dengan pekerjaan ini karena memang setelah dia pindah ke singapura dia belum mendapatkan pekerjaan yang tepat untuk beckground pendidikannya.
"Baiklah kalau begitu. Mulai besok bekerjalah di rumah sakitku." Tukas Harry pada sahabatnya.
Fredy sangat senang dengan keputusan sahabatnya itu dan langsung memeluk erat tubuh sahabatnya karena merasa sangat bahagia.
__ADS_1