Menikah Dini

Menikah Dini
Kebenaran yang Terungkap


__ADS_3

Ayesha merasa curiga dengan sikap Victory yang begitu tenang setelah terjadi peretasan pada data perusahaan Abimana Group. Semakin membuat dirinya curiga bahwa Victory yang melakukan kecurangan tersebut untuk menghancurkan perusahaan Abimana.


"Victory, aku ingin bicara denganmu," ujar Ayesha menghampiri lelaki yang sedang sibuk dengan file-file dilaptopnya.


Lelaki berbrewok tipis itu menatap pada gadisnya sambil membuka kacamata yang bertengger dihidung mancungnya.


"Ah, iya sayang kemarilah. Apa yang ingin kau bicarakan denganku?"


Lelaki tampan itu menyambut kekasihnya dengan senyuman yang terukir dibibirnya.


"Sebenarnya apa yang sedang kau lakukan terhadap perusahaan ini?" Tanya gadis itu dengan tatapan penuh kecurigaan pada pria yang berada dihadapannya.


"Apa maksud dari pertanyaanmu?" Tatap lelaki itu penuh tanda tanya.


"Jujurlah padaku Victory, kau yang melakukan kecurangan pada perusahaan inikan?"


"Hei ... apa maksud perkataanmu sayang? Mengapa kau menuduhku seperti itu?"


"Sudahlah kau tidak perlu berpura-pura lagi. Aku sudah tahu apa yang kau lakukan selama ini. Kau mencuri data perusahaan dan meretasnyakan?" Tuduh gadis berambut pirang bergelombang itu pada lelaki dihadapannya.


"Tunggu dulu, jangan menuduhku dengan perkataanmu itu. Kau tahu itu menyakitiku," tukas lelaki itu masih dengan sikap tenang menghadapi gadisnya.


"Aku melihat apa yang kau lakukan Victory. Aku melihat dari CCTV kau mengambil data perusahaan dan kau berniat menghancurkan perusahaan Abimana Group!" Tegas Ayesha dengan nada tinggi.


Victory cukup terkejut dengan pernyataan yang telah dilontarkan Ayesha padanya. Benar-benar menohok, saat orang yang dicintainya menuduhnya dengan begitu kejam tanpa bertanya sedikitpun.


"Ya! Aku memang mengambil data perusahaan ini, tapi bukan aku yang meretas data perusahaan. Aku tidak sekeji itu Ayesha," pengakuan Victory pada gadisnya.


Reynold baru saja sampai dikantor, dirinya berdiri dihadapan dua orang yang sedang bersitegang itu.


"Waw, hebat! Ternyata kau yang menghancurkan perusahaanku!" Reynold bertepuk tangan dengan senyuman kecut diwajahnya menatap Victory.


Ayesha dan Victory tersentak kaget mendapati Reynold yang telah berada dihadapan mereka dan mendengar perdebatan mereka.


"Rey! Sejak kapan kau berada disitu?" Tanya Victory yang terlihat gugup.


"Kenapa Victory? Kau terkejut dengan kedatanganku yang tiba-tiba ini? Apa kau takut berhadapan denganku?" Seketika Reynold menarik kerah baju Victory untuk mengayunkan tangannya ke wajah tampan lelaki yang telah dianggapnya sebagai orang kepercayaannya.


Sungguh, Reynold tidak pernah menduga orang yang telah dianggap sahabat sekaligus saudaranya itu tega menusuknya dari belakang.


"Ini semua tidak seperti yang kau lihat Rey, aku tidak pernah menghacurkan perusahaan ini, aku telah bekerja disini bertahun-tahun dan ikut andil membesarkan perusahaan ini, mana mungkin aku menghancurkannya begitu saja," jelas Victory sambil menatap mata Reynold.


Lelaki itu mencoba mencari rasa kepercayaan didalam mata yang sedang berkecamuk itu.


Reynold yang sedang dipenuhi rasa amarah tak mau mendengar dan satu tinjunya kinimendarat diwajah tampan lelaki yang disebutnya sahabat tadi.


Victory terhuyung mendapatkan pukulan keras diwajahnya. Darah segar kini mengalir dari bibirnya, Victory menyeka darah yang mengalir dibibirnya kemudian menepis tangan Reynold yang masih bertengger dikerah bajunya. Dirinya mendorong Reynold hingga lelaki itu termundur kebelakang.


"Jangan menguji kesabaranku Rey. Kau sahabatku juga saudaraku. Aku telah menganggap keluargamu juga keluargaku. Aku tidak akan mungkin menyakiti kalian," tegas lelaki itu sambil menunjuk wajah Reynold.


"Kau pengkhianat!" Tuduh lelaki itu sambil menodongkan pistolnya dikepala Victory.


''Kau mau apa hah? Kau ingin menghabisiku sekarang? Silahkan aku tidak takut!" Lelaki dihadapan Reynold itu menggeram, matanya menatap tajam pada sahabatnya.


Reynold sedang bersiap dengan pistol ditangannya, lelaki itu sedang menarik pelatuk dari pistol yang berada digenggamannya dan bersiap melenyapkan orang yang telah dianggapnya saudara itu.


"Jangan! Jangan lakukan itu pak Rey! Aku mohon beri kesempatan padanya untuk menjelaskan semuanya."


Wanita muda itu kini berada diantara kedua lelaki yang sedang bersiteru itu. Dirinya kini memasang badan untuk melindungi lelaki yang telah menjadi kekasihnya itu.


Mata Reynold terbelalak saat melihat gadis itu tiba-tiba berada dihadapannya. Dia cukup terkejut melihat gadis itu berusaha melindungi pengkhianat yang berada dihadapannya.


"Menyingkirlah Ayesha atau aku akan menghabisimu juga," ancam lelaki itu padanya dengan tatapan tajam.


Wanita muda itu menggelengkan kepala sambil memejamkan matanya.


Sungguh dirinya sangat ketakutan saat ini, tapi dirinya juga tak ingin melihat kekasihnya tiada dihadapannya.


"Ayesha pergilah, jangan pikirkan aku. Aku bisa menghadapinya," pinta Victory pada gadisnya.


Ayesha membalikkan tubuhnya menghadap kepada lelaki ynag dicintainya.


"Akui saja kesalahanmu!" Teriaknya pada lelaki yang dicintainya itu.


"Aku tidak bersalah Ayesha. Aku tidak berbohong. Ya! Aku memang telah mengambil data perusahaan tapi aku tidak pernah meretasnya," ucap lelaki itu sambil menatap mata gadisnya penuh kejujuran.


"Oh ya, lantas untuk apa kau ambil data perusahaan ini, huh?" Reynold tersenyum kecut memandang tak percaya pada Victory.


"Kau mau tahu? Hah? Baik, dengarkan aku akan memberitahukanmu. Bahwa perusahaan yang telah didirikan papamu selama bertahun-tahun ini adalah perusahan papaku Abraham Aghata!" Sungut Victory pada Reynold.


Reynold terperanjat mendengar ucapan sahabatnya itu.


"Apa maksudmu?" Lelaki itu masih belum percaya dengan ucapan orang yang berada dihadapannya.


Reynold masih menghadapkan senjatanya pada lelaki itu dan masih belum percaya dengan ucapannya.


"Itu benar Rey, papamu itu terlalu banyak rahasia. Dia menyembunyikan kebenaran itu selama dua puluh tahun. Ketika kedua orang tuaku tewas dalam kecelakaan maut itu, dialah yang mengambil alih perusahaan yang seharusnya masih menjadi milik papaku!" Tegas Victory pada lelaki dihadapannya.


Seketika itu juga, senjata yang telah siap untuk dilepaskan pelurunya ke kepala Victory langsung goyah dan hampir saja terjatuh dihadapan mereka. Reynol terkejut dengan ucapan Victory.


Benarkah papanya telah mengambil alih perusahaan dari Aghata Group? Tapi untuk apa?


Rey mempererat kembali genggamannya pada senjatanya dan bersiap melepaskan peluru dikepala Victory.


"Kau bohong! Jangan memutarbalikkan fakta. Kau yang telah berkhianat!" Rey masih tidak mau mempercayai ucapan sahabatnya itu.

__ADS_1


"Kau boleh saja menghabisiku kalau kau bisa membuktikan aku berbohong padamu tapi lihatlah kebenarannya terlebih dahulu," tukas Victory sambil memperlihatkan sebundelan berkas pada Reynold.


Reynold menyimpan kembali senjatanya kedalam pinggangnya, kemudian membaca berkas yang diberikan Victory padanya. Lelaki itu membaca dengan saksama isi dokumen yang cukup tebal itu dan dirinya menemukan fakta bahwa benar papanya telah mengambil alih perusahaan Aghata Group menjadi perusahaannya saat ini.


"Apa? Jadi benar papa telah mengambil alih perusahaan ini?" Lelaki muda itu mengusap wajahnya sambil menjambak rambutnya kasar ke belakang.


Dirinya tak percaya papanya yang menjadi kebanggaannya selama ini telah merebut hak orang lain. Itu benar-benar tak bisa dipercaya.


"Ini tidak mungkin bagaimana bisa papa melakukan ini? Bukankah tuan Abraham bersahabat dengan papa?"


"Itulah fakta yang sedang kugali Rey. Aku merasa ada keganjilan dari kecelakaan yang terjadi pada papaku dan bagaimana bisa papaku memberikan perusahaan begitu saja pada papamu sedangkan aku anaknya masih hidup?" Victory masih mencoba menjelaskan semua yang tengah dilakukannya selama ini.


***


Tok... tok... tok...


"Boleh aku masuk?" Seorang pria paruh baya menghampiri mereka menengahi pembicaraan mereka.


"Mr. Clarkson? Masuklah Mr. Clarkson, silahkan duduk."


Reynold dan Victory memperbaiki keadaan mereka yang sedang bersitegang dengan mengalihkan pembicaraan pada tamu yang baru saja datang menemui mereka.


"Maaf jika kedatangan saya tidak diwaktu yang tepat," ujar lelaki paruh baya yang berwajah kharismatik itu.


"Tidak. Mr. Kami hanya sedang berdiskusi mengenai perusahaan saja," kilah Reynold pada lelaki itu.


Lelaki paruh baya itu mengedarkan pandangannya pada kedua lelaki yang berada dihadapannya dan juga Ayesha.


"Ada yang ingin ku bicarakan pada kalian mengenai Abimana Group," tukas lelaki itu.


"Iya tuan, katakan apa yang ingin anda bahas," pinta Reynold penasaran."


"Sebenarnya aku telah lama ingin menjelaskan ini semua pada pemilik sesungguhnya dari perusahaan ini, yaitu anak dari Abraham, kau Victory Aghata," tunjuk lelaki paruh baya itu pada Victory.


"Memang benar perusahaan ini adalah milik ayahmu, namun sebelum dirinya menghembuskan nafas terakhirnya saat kecelakaan dua puluh tahun silam, Abraham telah mewasiatkan kepemilikan perusahaan Aghata Group pada Abimana, sehingga terbentuklah Abimana Group ini. Namun, dengan syarat setelah kau dan Reynold dewasa perusahaan ini harus dibagi dua untuk Reynold Pratama dan putra Abraham yaitu kau Vkctory Aghata." Jelas lelaki itu pada mereka.


"Jadi anda telah mengetahui semuanya? Lalu bagaimana dengan kecelakaan itu?" Selidik Victory pada lelaki paruh baya.


"Jelas saja aku mengetahuinya. Aku adalah saksi utama dari kecelakaan itu. Ayahmu telah dicelakai oleh Antonio Houston yang merupakan rival bisnisnya sekaligus ayah dari Maxy Houston. Lelaki itu berniat untuk memenangkan pemilihan ketua pengusaha sedunia yang saat itu dimenangkan oleh Abraham Aghata dan hingga akhirnya lelaki itu melancarkan aksi kejinya pada keluarga Aghata dan memenangkan pemilihan saat itu karena posisinya berada diurutan kedua setelah Abraham." Jelas Mr. Clarkson sambil berkaca-kaca.


Lelaki itu masih mengingat bagaimana Abimana yang berusaha sekeras mungkin untuk menyelamatkan sahabatnya dan keluarga dari sahabatnya yang sekarat akibat kecelakaan itu. Namun sayang mereka kehilangan banyak darah akibat kecelakaan parah yang hampir menghanguskan mereka karena ledakan mobil akibat terguling dan menumpahkan bahan bakar ke mobil yang tengah terbakar itu.


Namun, dengan permintaan terakhir dari Sania Aghata, istri dari Abraham Aghata untuk menyelamatkan bayi yang berada dalam kandungannya dan akhirnya wanita malang itupun melahirkan putranya lalu dibesarkan oleh Abimana dan Shafira.


Setelah mendengarkan penjelasan dari Mr. Clarkson, Reynold yang tadinya begitu marah pada Victory akhirnya angkat bicara.


"Maafkan aku brother. Aku salah menilaimu. Aku pikir kau telah mengkhianatiku ternyata kebenaran ini yang sedang kau ungkapkan. Maukah kau menerima permintaan maafku?" Reynold merentangkan tangannya meminta sambutan pelukan dari Victory.


Victory dengan senang hati menyambut hangat sahabat sekaligus saudaranya itu. Keduanya berpelukan saling mengungkapkan permintaan maaf.


"Aku juga minta maaf telah mencurigai papa Abi dalam hal ini," tukas lelaki itu sambil berkaca-kaca pada Reynold.


Mr. Clarkson melontarkan senyum terharu melihat kedua pemuda itu kemudian merangkul mereka.


"Baiklah anak muda, sekarang kita tuntaskan masalah perusahaan kalian," tukas lelaki paruh baya itu pada kedua pemuda yang berada dihadapannya.


"Iya, mari kita cari tahu,"ucap Reynold penuh ingin tahu.


"Aku telah menyuruh seseorang untuk mencari tahu siapa yang berani meretas dan membobol data perusahaan kita. Aku sedang menunggu orang itu memberi kabar padaku," jelas Victory pada Reynold.


"Oh ya? Siapa orang itu?" Reynold menatap Victory dengan antusias.


"Bryan Shawn. Lelaki itu adalah orang yang pernah membantu Clara menyelesaikan masalahnya dengan Maxy. Aku memintanya untuk menyelidiki permasalahan perusahaan kita," jelas lelaki itu.


***


Setelah Reynold menuju ke London, Maxy melancarkan aksinya. Dirinya segera menuju ke apartemen Clara.


"Hai cantik, apa kabarmu?"


Clara yang baru saja kembali dari kantornya tersentak mendengarkan suara lelaki yang tak asing. Tadinya Clara mengira itu adalah suara dari suaminya. Dirinya segera menghampiri arah suara yang terdengar dari kamarnya dan saat dia melihat sosok yang berada di kamar itu. Betapa terkejutnya dia.


"Kau! Beraninya kau masuk ke kamarku. Bagaimana bisa kau berada disini?"


Clara terlihat gugup mengetahui lelaki dihadapannya adalah Maxy.


"Kau ... bagaimana bisa kau masuk ke apartemenku?"


"Tentu saja aku bisa masuk, kapanpun ku mau karena aku tahu pasword apartemenmu," seringai lelaki itu pada Clara.


"Pergilah Max. Kau dan aku sudah tidak memiliki hubungan apapun, jangan ganggu aku lagi. Aku telah menikah dengan Reynold," tegasnya pada lelaki yang sedang menghampirinya.


"Tidak Clara. Aku tidak akan pergi jika kau tak bersamaku," ujar lelaki itu pada Clara.


"Maksudmu?"


"Kau tahu, akulah orang yang telah membuat kekacauan pada perusahaan Abimana Group. Aku sengaja meretas data perusahaannya supaya Reynold kembali ke London dan menyibukkan diri untuk mengurus perusahaannya. Sedangkan aku, aku akan mengambil kembali milikku. Yaitu dirimu!" Mata lelaki itu terlihat nyalang seakan siap menerkam mangsa yang berada dihadapannya.


"Tidak! Pergi dari sini! Aku tidak mau bersamamu!" teriak Clara pada lelaki itu sambil mendorongnya keluar dari kamarnya.


"Hei! Jangan berteriak. Aku tidak suka kau bersikap seperti itu. Ikuti aku, atau aku akan membuat kekacauan dirumahmu!" Ancam Maxy pada Clara.


"Kau, apa yang kau lakukan?" Mata Clara menatap tajam pada lelaki itu.


Maxy menunjukkan rekaman CCTV dari layar ponselnya. Terlihat ayahnya bersama mertuanya yang sedang duduk terikat dan dibekap oleh orang suruhan Maxy.

__ADS_1


"Lihatlah CCTV itu Clara, aku telah menyuruh orang-orangku untuk mengawasi rumahmu dan sekarang ayahmu dan mertuamu berada dalam tawananku. Menurutlah padaku, jika kau mau mereka tetap hidup dan selamat!"


Clara menatap dengan geram ke arah ponsel Maxy.


"Lepaskan mereka jangan ganggu mereka!"


"Hei, keep calm baby! Ikuti aku dan kupastikan mereka akan baik-baik saja!" tegas lelaki itu padanya.


Mau tidak mau akhirnya Clara mengikuti ucapan Maxy. Dirinya kini mengekor bersama Maxy.


Baru saja sampai di pintu apartemennya, sekelompok lelaki menghampiri Maxy dan Clara.


"Tuan Maxy, letakkan tanganmu diatas kepala. Menyerahlah, polisi telah mengepungmu dan orang-orangmu telah ditanggulangi oleh polisi," jelas polisi yang menunjukkan surat tugas penangkapannya pada Maxy.


Sontak saja, Maxy yang merasa marah seketika menodongkan senjata ke arah Clara sambil menarik tubuh Clara kearahnya.


"Kurang ajar, beraninya kau menghalangiku. Mundur kalian sekarang juga atau aku akan mengakhiri hidup wanita ini!" Ancam Maxy sambil menarik tubuh Clara bersamanya.


"Tuan Max, hentikan semua perbuatan anda. Kejahatan anda telah terbukti. Menyerahlah atau hukumanmu akan bertambah berat," pinta polisi muda itu pada Maxy.


Maxy tidak mau mendengarkan diapun mengancam polisi itu. Dia mengarahkan senjatanya pada polisi itu memberi kode agar polisi itu mundur dan tak menghalangi jalannya.


Polisi itu segera memundurkan langkahnya mencoba mengalah dari Maxy, karena polisi itu tidak ingin membahayakan Clara yang masih berada dalam dekapan Maxy.


Clara terlihat panik dan ketakutan dengan kenekatan Maxy,air matanya berderai mengharapkan bantuan dari polisi yang berada dihadapannya.


Polisi itu menatap Clara dengan iba dan memberikan isyarat dengan anggukan pada Clara.


Maxy segera menuju keparkiran bersama Clara dan menuju ke arah mobilnya. Saat Maxy membuka pintu mobilnya Clara menggigit tangan lelaki yang sedang mendekapnya.


"Ah... sial!!!" umpat lelaki itu, dia melepaskan cengkramannya karena merasa kesakitan.


"Merunduklah Clara!" teriak polisi yang mengikuti mereka.


Dengan sigap Clara merundukkan kepalanya dan polisi itu melumpuhkan Maxy dengan timah panas ke arah bahunya. Lelaki itu tersungkur dengan darah yang mengalir begitu deras dari tubuhnya. Dirinya mengerang kesakitan, polisi itu segera membekuk Maxy dan membawanya ke kantor polisi.


"Clara, kau tidak perlu khawatir, sekarang kau aman bersamaku dan keluargamu."


Lelaki itu segera merangkul Clara yang sedang ketakutan kemudian mengantarkan Clara ke dalam mobilnya.


Disana telah menanti ayah dan kedua mertuanya.


"Dady, papa, mama ... kalian semua baik-baik saja?" tanya Clara dengan penuh kekhawatiran.


"Iya nak. Kami baik-baik saja. Untunglah Victory telah menelpon Bryan untuk segera membantu kita," jelas Abimana pada menantunya.


"Bryan?"  tanya Clara heran.


"Ya, aku Bryan. Aku adalah agen rahasia yang telah disewa oleh Victory untuk menyelesaikan permasalahanmu dan Maxy. Juga mengatasi peretasan perusahaan Abimana Group yang telah dilakukan Maxy,"  jelas lelaki yang bernama Bryan itu secara detail.


"Ah,syukurlah akhirnya semuanya telah teratasi. Terimakasih Bryan, kalau bukan karena jasamu. Entah apa jadinya kami disini," ujar Clara penuh kebahagiaan.


Air matanya mengalir tanpa permisi membasahi wajah cantiknya.


"Berterimakasihlah pada Victory dan Mr. Clarkson, karena merekalah yang telah membantu kalian selama ini,"


"Apa maksudmu Bryan?" tanya Mr. Anderson bingung.


"Ya, Mr. Anderson. Victory selama ini mencari tahu tentang penyebab kecelakaan ayahnya, tuan Abraham Aghata. Lalu Mr. Clarkson menjelaskan detail kejadiannya dan memintaku untuk menjaga kalian disini."


"Oh syukurlah kalau begitu. Mr. Clarkson memang telah banyak membantu kita selama ini, aku akan banyak berhutang budi padanya," ujar Mr. anderson padanya.


Bryan hanya tersenyum merasa tenang dan tugasnya telah selesai.


"Tuan ada telpon untuk anda."


Tiba-tiba Andre yang merupakan orang kepercayaan Abimana menghampirinya.


Abimana segera mengambil handphone itu dan berbicara melalui Video Call dengan orang diseberang sana.


"Ya, Reynold. Ada apa nak?"


"Papa, mama kalian semua baik-baik saja disana?"


"Ya kami semua baik-baik saja. Clara juga aman disini," jelas pria paruh baya itu pada anaknya kemudian mengedarkan layar ponsel kepada dirinya, Safira, Clara dan Mr. Anderson yang bersamanya.


"Kau lihat nak, kami disini semua dalam keadaan aman," tutur lelaki paruh baya itu meyakinkan putranya.


"Syukurlah pa, aku sangat takut Maxy akan melakukan hal buruk pada kalian disana. Untung saja Mur Clarkson dan Victory telah membantu kita." Jelas Reynold pada sang papa.


"Iya nak. Bryan telah menjelaskan semuanya pada kami. Oh ya nak bisakah aku bicara dengan Victory sebentar?" 


Reynold segera memberikan layar ponsel itu ke arah Victory. 


"Iya, pak. Aku disini." Sambut Victory dengan senyuman terulas diwajahnya.


"Nak, jangan panggil aku bapak lagi. Aku bukanlah atasanmu tapi aku adalah papamu. Anggaplah aku adalah papamu dan terimakasih atas semua bantuanmu nak," tegas lelaki paruh baya itu pada Victory.


Mata Victroy mulai berkaca-kaca mendengar ucapan dari Abimana, dirinya tak mampu berucap apapun. 


Dirinya segera menghembuskan nafas berat. Kemudian berujar, "baiklah papa. Aku sangat senang akhirnya semua kesalahpahaman diantara kita telah berakhir. Maafkan aku karena hampir saja menghancurkan perusahaanmu."


"Aku mengerti kemarahanmu itu. Aku sudah memaafkanmu sebelum kau mengatakan semuanya."


Victory menganggukkan kepala sambil tersenyum menatap keluarganya dari kejauhan.

__ADS_1


Percakapan antar keluarga itupun berakhir dan merekapun hidup dengan damai serta saling berdampingan. Abimana tidak hanya mendapatkan menantu yang baik tapi juga memiliki anak-anak yang sangat menyayanginya. Yaitu Reynold, Lyora dan Victory.


Merekapun melanjutkan kehidupan mereka dengan penuh kebahagiaan.


__ADS_2