Menikah Dini

Menikah Dini
Kangen


__ADS_3

Marinka baru saja membuka mata terjaga dari tidurnya, pertemuan sosialitanya membuatnya merasa lelah. Marinka menatap handphonenya di atas nakas. Tiba-tiba saja ia teringat pada Adi suaminya.


Nada dering berbunyi, seseorang di seberang sana menjawab panggilan [Halo]


[Pa, kamu pulangnya kapan? Aku kangen] bibir mungil Marinka berucap manja pada Adi.


[Kenapa mama kangen ya?] goda Adi pada istrinya.


[Iya ni pa] papa ga kangen sama mama?"


[Ya pasti dong ma].


[Pa, gimana hasil meetingnya?]


[Coba tebak]


[Pasti menang tender lagikan] Marinka menebaknya tanpa banyak berpikir.


[Iya, alhamdulillah dan ini juga investornya langsung tanda tangan kontrak sama perusahaan kita buat proyek yang papa handle ke depan]


[Mama ikut senang pa. Cepat pulang ya pa]


[Iya ini lagi mau ke bandara. Silvi mana ma?]


[Kayaknya lagi dikamarnya. Nanti mama kasih tahu dia papa nelpon]


[Okay]


Sambungan telpon terputus. Adi dan Samuel segera ke ruang tunggu sambil chek in dan menunggu pesawat tiba.


Sementara itu di sebelah Reynold dan Victory juga sedang menunggu. "Hei, Victory Reynold. Kalian ada disini juga?" sapa Samuel yang melihat keberadaan mereka.


"Pak Samuel dan pak Adi, mau berangkat kemana?" Reynold bersikap ramah menatap kedua orang itu


"Kami akan segera balik ke Jakarta," Adi menjawabnya.


"Wah kebetulan. Kami juga mau ke Jakarta," sambut Victory.


"Oh ya, ada acara apa ke Jakarta?" tukas Adi.


"Mau ketemu adik saya pak, kangen udah lama tidak ketemu," jelas Reynold.


"Adik?"


"Iya, adik saya Lyora. Sepertinya satu sekolah dengan anak bapak"


"Oh iya. Saya pernah mendengar namanya,"Adi mengingat kembali sepertinya Silvi pernah cerita tentang Lyora.


Selesai mengantri mereka bersiap-siap untuk menuju ke pesawat.


***

__ADS_1


"Akhirnya, gue bisa nyampe juga ke rumah gue," ucap Reynold sambil merebahkan tubuhnya ke sofa dirumah megahnya.


"Loe udah kasih tahu om Adi kita ga balik ke Australia hari ini?"


"Aduh, gue lupa lagi," Reynold menepuk keningnya, segera mengambil ponselnya dan menghubungi papanya.


[Halo pa, kayaknya aku ga jadi balik ke Australia hari ini. Aku kangen sama Lyora dan sekarang aku di Jakarta]


[Kamu itu, selalu saja ga mau nurut. Kan papa udah bilang mau bahas proyek kita], Adi menekan kata-katanya.


[Aku cape pa. Pengen healling sekali-kali aku ga urus kerjaan dulu pa. Lagian aku udah suruh Victory buat ngurusin proyek]


[Ya sudah. Suruh dia cepat kembali ke Australia secepatnya] Adi langsung memutuskan pembicaraan.


Victory yang melihat wajah kusut Reynold, tersenyum tipis dan menebak "om Adi marah ya".


"Hmm apalagi? Emang cuma itu yang bisa dilakukan papa gue," ucap Reynold sambil bersandar ke sofa.


"Tenang, loe ga usah panik. Gue akan handle urusan di Australia. Gue cuma mau mampir sebentar ke rumah gue. Abis itu gue berangkat,"ujar Victory sambil bergegas mengambil jaketnya.


"Lo ga nginap disini dulu?"


"Ga usah gue cuma sebentar. Abis ini mau ke rumah gue ada yang mau gue ambil. Tadi gue udah booking tiket dan sore gue balik ke Australia," jelas Victory sambil berjalan menuju ke pintu rumah.


"Sial, sial!!!" ucap seorang gadis dari arah pintu. Kemudian membuka pintu rumah dan menatap ke arah Victory.


"Hai cantik. Apa kabar?" senyum Victory terlukis diwajah tampannya menyapa Lyora yang baru saja pulang.


"Kak Victory?!?" Lyora langsung memeluknya dengan hangat.


"Barusan kamu bilang sial, kenapa?" tanyanya pada Lyora.


"Ahhh ga kak. Biasalah di sekolah banyak yang ngeselin."


"Eh, kamu ga kangen sama kakakmu?" ucap Reynold sambil menghampirinya.


"Kak Reynold?!?" wajah Lyora berbinar menatap kakaknya.


Reynold memeluk adik kesayangannya dengan erat.


"Kalian pulang ga bilang-bilang?"


"Iya, aku cuma mengantar kakakmu. Nanti aku balik ke Australia," jelas Victory padanya


"Kok cepat banget," tanya Lyora heran.


"Iya, masih ada urusan proyek yang harus diselesaikan," jelas Victory.


"Iya. Kalau dia lama disini yang ada papa bakal marah-marah," jelas Reynold pada adiknya.


"Kakak ga langsung pergi jugakan?" tanya Lyora berharap kakaknya tetap tinggal. Reynold hanya menggelengkan kepala dan tersenyum.

__ADS_1


"Gue pergi dulu ya," Victory langsung bergegas menuju ke pintu pagar rumah. Menghampiri taxi online yang baru saja dipesannya sudah berada di depan.


***


Sesampainya di rumah, Victory langsung membuka pintu  kamarnya dan membuka sebuah album foto yang kusam, tampak didalam foto itu sepasang suami istri dan seorang anak kecil. Ya, itu foto Abraham Aghata, Fransiska dan Victory Aghata.


Victory menatap dalam foto itu sambil mengusap wajah orang yang ada didalam foto itu. Merasakan kehadiran mereka yang telah lama pergi meninggalkannya. Tanpa disadari air matanya membasahi pipi. Victory memejamkan mata menahan rasa duka itu. Masih terlihat jelas bagaimana kecelakaan maut dua puluh tahun lalu dipelupuk matanya. Sakit, itu yang dia rasakan saat ini. Victory menghela nafas panjang dan dalam lalu membuang nafasnya. 


Aku harus kuat, demi papa dan mama. Aku tidak boleh menyerah sampai aku benar-benar melihat kematian orang-orang yang telah membunuh kedua orang tuaku di depan mataku. Akan kupastikan mereka akan meminta kematiannya sendiri paaku, Victory berteriak dalam hati.


*Flashback*


"Om Hermawan," Victory menyapa Hermawan Bagaskara saat akan melangkahkan kakinya ke hotel.


"Victory?" Hermawan sedikit ragu padanya.


"Iya om, ini aku" 


"Wah,kamu udah gede ya. Gagah lagi," pujinya melihat ketampanan Victory dengan blewok tipis yang menghiasi wajah blasterannya itu.


Victory hanya tersenyum dan menyalami tangan pria berumur 50 tahun itu. 


"Andai saja papa mama kamu bisa menatapmu saat ini mereka pasti bangga," sejenak Hermawan teringat kembali pada sahabatnya yang telah tiada. Ya, Abraham Aghata adalah sahabat dekatnya.


"Iya om. Ini juga aku datang ke sini buat minta bantuan om," ucap Victory mengalihkan pembicaraan tak ingin membahas duka lamanya.


"Hmm apa yang kira-kira bisa om bantu?" Hermawan menganggukkan kepalanya.


"Om, hari ini om Adi Leonardo hadir dalam meeting"


Hermawan menganggukkan kepala.


"MR. Clarkson juga udah datang?" sambung Victory.


"Ya semua sudah berkumpul diruangan"


"Om tolong bantu aku, supaya meyakinkan MR. Clarkson untuk memilih proyek Leonardo Company untuk investasinya," tegasnya pada Hermawan.


Hermawan merasa sedikit heran dan mengernyitkan alisnya. "Bukannya kamu orang kepercayaannya Abimana?" selidik Hermawan.


"Ya benar, tapi aku tidak mau kalau investor itu sampai memilih proyek Abimana Group," Victory mulai serius dengan pembicaraannya.


"Aku tahu apa yang kamu pikirkan anak muda. Kamu punya misi untuk menghancurkan Abimana Group?" tebak pria itu.


"Aku hanya ingin menghancurkan egonya. Selama 20 tahun dia telah bersenang-senang diatas penderitaan kedua orang tuaku. Kini saatnya dia akan menikmati kesakitannya dan mati perlahan," sorot mata Victory penuh dendam dan amarah saat mengucapkan kata-kata itu.


"Tenang, aku akan melakukan apa yang kamu minta. Aku ini sahabat Abraham dan aku tahu pasti siapa Abimana," ucap Hermawan sambil memegang bahu Victory.


Victory tersenyum tipis mendengar ucapan Hermawan. Matanya masih menyimpan kesedihan dan dendam yang sangat besar.


Ternyata itulah penyebabnya mengapa MR. Clarkson yang semula ingin berinvestasi dengan Abimana Group tiba-tiba langsung ingin menanamkan sahamnya di Indonesia dan menjalin kerja sama dengan Leonardo Company. Hermawan memang pebisnis handal yang bisa mempengaruhi setiap coleganya dengan kharismatiknya dan kekuasaanya.

__ADS_1


***


Victory melihat jam ditangannya telah menunjukkan puku 14.00. Dia segera menyiapkan dirinya untuk berangkat ke Australia karena dua jam lagi dia harus ada di bandara supaya tidak ketinggalan penerbangan ke Australia. Victory membawa album lama itu dan mengambil sebuah flashdisk kemudian menelpon taxi online dan berangkat menuju bandara.


__ADS_2