
Andini dan Reza kembali setelah lelah mengelilingi sekitar villa tempat mereka menginap, Reza sedikit terkejut saat mereka masuk ke dalam rumah. "Maaf sudah membuat kaget, saya sedang menunggu Bapak dan Ibu pulang," ucap Sarah yang tiba-tiba keluar dari dalam rumah. Wanita paruh baya itu awalnya hanya ingin memeriksa keberadaan majikannya yang tidak kunjung pulang, hingga saat dirinya membuka pintu ternyata sang majikan sudah berada di depan pintu.
"Maaf Bu, mau makan malam apa tidak? Jika mau makan biar makanannya saya panaskan terlebih dahulu," sambung Sarah saat Andini dan Reza sudah berada di dalam villa.
"Saya tidak lapar Bu, nanti kalau mau biar saya panaskan sendiri," ucap Andini yang langsung mendudukan dirinya di sofa ruang tamu. Wanita itu membuka bungkus makanan yang di bawanya tadi, Reza yang melihat Andini sangat menikmati makanan yang di belinya tadi. "Enak?" tanya Reza yang terus memperhatikan sang istri. Andini menganggukan kepalanya, "Kamu mau?" tanya Andini balik.
Reza dengan segera menggelengkan kepalanya, "Kamu saja yang makan," ucapnya sambil mengambil remot televisi yang berada di depannya.
"Maaf Pak mengganggu," ucap Surya yang datang dengan membawa berkas di tangannya.
"Ayo kita keruangan saya," ajak Reza menuju ruangan yang memang sudah fi siapkan khusus untuknya bekerja jika berada di villa itu. "Aku ada urusan dengan Surya sebentar, nanti kalau sudah mengantuk langsung tidur saja ya," sambung Reza. Pria itu memberikan ciuman di kepala Andini sebelum benar-benar pergi meninggalkannya seorang diri.
__ADS_1
Andini mulai merasa bosan duduk sendiri, dia bergegas ke dalam kamarnya dan berniat menghubungi para sahabatnya. "Sepertinya seru jika menghubungi Meli dan Yani," ucapnya sambil memencet nomor telepon salah satu sahabatnya.
Saat panggilan tersambung, Andini merebahkan dirinya di atas kasur. "Hai kalian sedang apa?" tanya Andini saat wajah Meli dan juga Yani terlihat di layar ponselnya. "Seperti biasa, urus ini dan itu," ucap Yani yang terlihat sibuk dengan beberapa undangan di depannya. Tahun ini giliran Yani dan juga Fahmi yang akan mengikrarkan janji suci mereka di hadapan sang pencipta, setelah lama berpacaran akhiranya mereka menyetujui untuk melangsungkan pernikahan.
"Bela kemana, kok tidak di ajak untuk gabung?" tanya Andini saat salah satu sahabatnya tidak terlihat di sana, Meli juga baru menyadari jika Bela tidak masuk dalam panggilan video itu.
"Tadi Bela whatsapp aku katanya hari ini dia sibuk banget, soalnya mau ada acara pengajian di rumahnya," jelas Yani yang memang sudah tahu kabar tentang sahabatnya.
"Iya besok saja biar ada Bela juga," sambung Yani yang juga ikut pamit untuk bergegas tidur mengingat dirinya juga harus bekerja besok pagi. Andini ,menggerutu saat sang suami tidak kunjung datang ke kamarnya, wanita itu bangun dari tidurnya dan berjalan ke arah sofa yang berada di sana. "Main game saja deh sambil menunggu Reza kembali," ucap Andini sambil membuka ponsel miliknya dan memainkan beberapa game yang terdapat di dalam ponsel.
Sudah lebih dua jam Andini menunggu Reza, hingga tanpa di sadari wanita itu terlelap tidur. Reza yang baru selesai urusannya segera pergi menyusul sang istri, saat pria itu melewati ruang tamu di mana Andini tadi berada, dia tidak mendapati sang istri. Di sana hanya ada bungkus makanan bekas sang istri dan Reza berlalu menuju kamarnya, Reza sedikit sedih saat melihat sang istri yang terlelap tidur dengan posisi masih duduk di sofa kamarnya.
__ADS_1
Reza mengangkat tubuh sang istri untuk di pindahkan ke atas kasur, dengan perlahan Reza menaruh tubuh Andini agar tidak terbangun. "Selamat malam sayang, maaf sudah membuatmu menunggu," ucap Reza dengan memberikan kecupan di dahi wanita yang selalu menemani setiap harinya. Reza menyelimuti tubuh Andini sambil terus memperhatikan wajah teduhnya saat terlelap, Reza beranjak dari kasurnya untuk menyelesaikan pekerjaan yang belum selesai tadi. Dengan mata yang sebenarnya sudah mulai mengantuk, Reza harus memeriksa seluruh laporan yang masuk.
"Akhirnya selesai juga," ucap Reza sambil merenggangkan ototnya akibat terlalu lama duduk. Dia segera menutup laptop miliknya dan bergegas menuju kasur dimana Andini berada, dengan perlahan Reza mulai menyelinap masuk dan memeluk sang istri dari belakang.
Matahari pagi mulai menyinari kedua insan yang masih terlelap tidur, Andini merasa sedikit silau akan cahaya matahari yang masuk lewat celah dalam kamarnya. "Sudah jam tujuh," ucapnya saat melihat jam di sebelahnya. Andini melihat sebuah tangan yang masih asik melingkar di perutnya, "Kapan aku pindah ya?" Andini mulai mengingat kapan dirinya tidur di atas kasurnya, karena seingat dirinya dia sedang asik bermain game di sofa semalam. Tidak mau berpikir lebih lama Andini menyingkirkan perlahan tangan Reza yang masih berada di perutnya, dan bergegas masuk ke dalam kamar mandi setelah usahanya berhasil.
Andini terlonjak kaget saat keluar dari kamar mandi, "Astaga kamu ngapain di sini?" tanya Andini yang terkejut saat melihat sang suami berada di depan pintu kamar mandi.
"Kamu kenapa tidak bangunkan aku? Hari ini aku ada rapat jam sembilan dan sekarang lihat jam sudah jam berapa?" Reza sedikit meninggikan suaranya dan langsung masuk ke dalam kamar mandi tidak memperdulikan Andini yang terdiam mendengar ucapannya.
Andini berjalan perlahan menuju tepi kasur, dia mendudukkan diri sambil memikirkan omongan sang suami. "Mana aku tahu jika dia ada rapat hari ini dan kenapa harus berbicara seperti itu," lirih Andini. Dia tidak pernah mendapatkan bentakan dari Reza selama ini, apalagi dengan kesahalan yang sebenarnya tidak dia lakukan. Reza yang sudah rapih langsung bergegas keluar kamar tidak memperdulikan Andini, dia langsung mengajak Surya untuk pergi menuju tempat rapat yang telah di sediakan.
__ADS_1
"Maaf Pak, tadi pas kita berangkat saya tidak melihat Ibu," ucap Surya takut karena setahu dirinya jika sang bos akan berangkat bekerja, Reza selalu berpamitan dan mencium kening Andini terlebih dahulu. Reza mulai menyadari sikapnya saat tadi pagi, dia menepuk keningnya pelan. "Apa yang sudah aku perbuat?" tanyanya, Surya hanya menggedikkan bahunya mendengar pertanyaan sang bos. "Setelah rapat selesai antarkan aku ke supermarket sebentar, ada yang aku mau beli," perintah Reza. Surya menganggukkan kepalanya dan melanjutkan untuk fokus menatap jalanan yang sedikit mulai ramai tetapi, tidak seramai ibukota menurutnya.