
Hallo jumpa lagi, di sini saya hanya akan memberikan beberapa extra chapter semoga suka dan juga mohon dukungan untuk cerita yang lainnya. Jangan lupa like, komen, rate dan votenya.
******
Andini yang sedang tertidur nyenyak menjadi terbangun saat mencium aroma masakan asisten rumah tangganya, ya Andini dan Reza memutuskan untuk membeli sebuah rumah yang tidak terlalu besar untuk di tempati oleh keluarga kecilnya. Wanita itu segera berlari ke kamar mandi saat merasakan perutnya sedikit bergejolak, dia memuntahkan makanan yang semalam dimakannya. Reza yang mendengar suara Andini bergegas menyusul sang istri untuk memeriksa keadaannya, "Kamu kenapa sayang?" tanya Reza sambil memijit tengkuk leher milik Andini.
Andini terlihat sedikit pucat, wajah yang biasanya ceria seketika menjadi muram. "Aku tidak tahu kenapa saat mencium masakan bibi perutku terasa mual," Andini menceritakan apa yang dirasakannya kini. Dengan perlahan Reza memapah Andini untuk kembali berbaring di tempat tidurnya, "Kamu tunggu di sini," ujar Reza yang keluar kamar meninggalkan Andini seorang diri. Andini memijat pelipisnya saat merasakan sedikit pusing, "Ada apa dengan tubuhku?" tanya Andini saat merasakan badannya terasa lemah.
Reza yang tidak tega melihat Andini pergi menuju dapur, pria itu berniat membuatkan sang istri teh manis hangat. "Ada yang bisa saya bantu tuan?" tanya bibi saat melihat sang majikan masuk ke dalam dapur.
__ADS_1
Reza mengambil cangkir yang berada di rak tidak jauh dari tempatnya berdiri, "Saya mau buat teh manis hangat untuk Andini," ucap Reza sambil mengambil teh yang berada di laci. Bibi yang mendengar jika tuannya ingin membuat teh untuk sang istri mencoba merebut cangkir itu, "Biar saya saja yang buat tuan," ucapnya mencoba mengambil alih pekerjaan sang majikan. "Tidak usah bi, biar saya saja yang membuatnya," ujar Reza yang kembali melanjutkan aktivitasnya membuatkan teh untuk sang istri. Setelah selesai membuatkan teh Reza berlalu meninggalkan bibi yang kembali melanjutkan pekerjaannya membuat sarapan untuknya dan Andini.
Reza membuka pintu kamarnya dan mendapati Andini tengah berbaring dengan wajah yang semakin pucat, selama Reza membuatkan teh untuknya Andini tidak henti-hentinya memuntahkan semua yang berada di dalam perutnya. Reza meletakkan punggung tangannya di dahi Natasha, "Sayang kita ke dokter ya," ajak Reza saat mendapati suhu tubuh sang istri sedikit terasa panas. Andini sedikit membuka matanya, "Aku tidak apa-apa cuma sedikit pusing. Cukup istirahat sebentar mungkin akan lebih baik," ucap Andini yang terdengar lesu.
"Ini minum dahulu teh manis hangatnya biar lebih enak," Reza memberikan cangkir yang berisi teh buatannya. Dengan perlahan Andini meminum teh buatan sang suami hingga habis tidak tersisa, setelah meminum habis Andini kembali merebahkan tubuhnya. "Kamu tidak kerja?" tanya Andini saat mendapati sang suami yang ikut merebahkan diri di sebelahnya, Reza terus menatap wajah Andini yang tetap cantik walaupun tanpa polesan make up sedikitpun.
Jam menunjukkan pukul sepuluh pagi, Reza yang biasanya sudah berangkat ke kantor miliknya hari ini hanya menemani sang istri yang sedang merasa tidak sehat. "Kita ke dokter ya sayang," Reza kembali membujuk Andini untuk memeriksakan kesehatannya. Andini menggelengkang kepalanya, "Tidak mau," tolaknya. Reza menghela napasnya saat mendengar penolakan sang istri, "Aku ke ruang kerja sebentar ya. Ada berkas yang harus aku kirim," pamit Reza sambil berlalu meninggalkan Andini yang masih terbaring di atas tempat tidurnya. Sepeninggal Reza keruang kerjanya, Andini merasakan pusing yang teramat sakit hingga saat dirinya mencoba mengambil minum yang berada di sebelahnya tidak sengaja gelas itu terjatuh ke lantai.
Reza yang sedang mengirimkan email kepada Surya terkejut saat mendengar suara gelas terjatuh dari arah kamarnya, dengan segera pria itu bergegas menuju kamar miliknya untuk memastikan keadaan sang istri. "Andini," teriak Reza saat melihat sang istri yang tidak sadarkan diri. Tanpa menunggu Reza langsung mengangkat tubuh Andini dan memasukkannya ke dalam mobil, "Saya bawa Ibu ke rumah sakit dahulu dan tolong bersihkan gelas yang pecah di kamar saya." Pesan Reza kepada asisten rumah tangganya, "Baik Pak," jawabnya.
__ADS_1
Reza melajukan mobilnya dengan kecepatan tinggi, untung jalanan hari itu sedikit senggang sehingga tidak menimbulkan masalah baru. Dengan tergesa-gesa Reza memanggil suster yang bertugas ketika mobil miliknya telah tiba di salah satu rumah sakit terdekat, "Tolong selamatkan istri saya," teriak Reza kepada para suster yang membantunya untuk menaruh Andini di atas brangkar. Para suster dan petugas rumah sakit dengan sigap membawa Andini masuk ke dalam ruang UGD untuk diperiksa terlebih dahulu, "Bapak tunggu di sini sebentar," salah satu suster melarang agar Reza tidak ikut masuk ke dalam.
Reza berjalan tidak tentu arah hingga ponsel miliknya berdering, "Iya Mah," jawab Reza saat mengetahui yang meneleponnya adalah sang Mamah. Terdengar suara Lili yang menanyakan keadaan sang menantu, "Aku sedang di rumah sakit Mah. Tadi Andini pingsan," Reza menjelaskan keadaan Andini saat ini. Lili yang terdengar cemas, segera mematikan panggilannya dan bergegas menuju rumah sakit di mana Andini dan Reza berada.
"Keluarga pasien atas nama Ibu Andini," panggil salah seorang dokter yang keluar dari ruangan Andini berada. Reza yang mendengar nama sang istri di sebut segera menghampiri, "Saya suaminya Dok. Bagaimana keadaan istri saya?" tanya Reza saat berhadapan dengan Dokter yang memanggilnya. "Keadaan Ibu Andini tidak apa-apa, mungkin bawaan hormon dari Ibu menyusui yang menjadikan tubuhnya sedikit kehilangan tenaga. Tapi Bapak tenang saja, cukup istirahat di sini dua sampai tiga hari baru boleh pulang," Dokter menjelaskan apa yang sedang di alami oleh Andini.
"Boleh saya melihat keadaan istri saya Dok?" tanya Reza yang sudah tidak sabar ingin bertemu dengan Andini. "Boleh, tapi Bapak selesaikan administrasinya terlebih dahulu dan biar istri Bapak bisa di pindahkan keruang rawat," jawab sang Dokter. "Kalau begitu saya ucapkan selamat ya Pak dan saya permisi mau mengecek pasien lain," sambung sang Dokter yang berlalu meninggalkan Reza.
Reza berjalan menuju ruang administrasi untuk mengurus seluruh biaya perawatan sang istri dengan perasaan gembira, dia tidak menyangka jika impiannya untuk memiliki anak akan segera terwujud. "Sayang," panggil Reza saat memasuki ruangan dimana Andini berada. "Aku dimana?" tanya Andini yang baru sadar setelah melihat sekelilingnya bukan kamar milik mereka. "Tadi kamu pingsan jadi aku membawamu kesini sayang," ucap Reza sambil memberikan Andini segelas air putih.
__ADS_1