
Reza pagi ini di sibukkan dengan pesanan sang istri, Andini menyuruhnya untuk membelikan bubur yang ada di komplek daerah rumahnya. Reza awalnya menawarkan jika membeli di dekat rumah sang mamah saja, mengingat setelah pulang dari rumah sakit mereka tinggal di sana untuk sementara waktu.
"Tapi aku maunya yang di sana Kak," ucap Andini lemah.
Reza pasrah jika sudah menyangkut keinginan sang istri, sebab ada saja yang di minta oleh wanita hamil satu itu. Perasaan lelah masih menyelimuti dirinya, sebab Reza baru saja tiba setelah seharian berkutat dengan semua urusan kantor.
"Din, minta tolong bibi saja ya." Reza bertanya terlebih dahulu kepada wanita di sampingnya, Andini yang mendengar ucapan Reza langsung cemberut saat permintaan tidak di penuhi oleh sang suami.
"Aku maunya kamu yang belikan, kenapa sih keberatan dengan permintaan aku?" rajuk Andini yang langsung mengalihkan pandangannya, Reza yang melihat wajah sedih Andini segera datang menghampiri.
"Iya, aku berangkat belikan. Tetapi, aku mandi dahulu ya," ucap Reza yang membuat senyum Andini terbit kembali.
Wanita itu menganggukkan kepalanya, "Jangan lama-lama mandinya." Andini sudah tidak sabar merasakan bubur yang sedang di inginkannya itu.
Reza yang sudah wangi dan bersih langsung bergegas menuju kedai bubur langganannya, dengan menaiki motor kesayangan Reza berlalu meninggalkan pekarangan rumah sang Mamah.
"Pak buburnya satu porsi biasa ya," pesan Reza setelah tiba di kedai tujuannya.
"Loh Pak Reza, kemana saja Pak jarang lihat?" tanya Bapak penjual bubur sambil meracik pesanan para pembeli.
"Iya Pak lagi tinggal di rumah Mamah," jawab Reza.
"Bukannya saya dengar Ibu dirawat ya Pak?" tanyanya lagi.
__ADS_1
Reza sebenarnya enggan beli bubur di sana, mengingat jika sang penjual sangat akrab dengan Andini. Bukan karena pria itu cemburu, melainkan malas menanggapi pertanyaan dari orang di depannya.
"Iya kemarin istri saya di rawat beberapa hari, tapi sudah boleh pulang kok. Makanya sekarang kami tinggal di rumah Mamah untuk sementara waktu," jawab Reza sekenanya.
"Oh gitu, cepat sembuh ya Pak. Salam buat Ibu," ujar sang penjual sambil memberikan kotak makan yang berisi bubur pesanannya.
Andini menyuruh Reza membawa tempat makan untuk membungkus makanan pesanannya, dia tidak suka menggunakan sterofoam maupun plastik. Setelah mendapat pesanannya, pria itu langsung menjalankan sepeda motornya kembali ke rumah.
"Assalamualaikum," Reza masuk ke dalam rumah sang Mamah sambil membawa pesanan Andini.
"Waalaikumsalam," jawab Maya dan Siska yang sedang asik menonton televisi.
"Kak Reza bawa apa?" tanya Siska saat melihat Reza membawa kantung berisi tempat makan.
"Sabar ya Kak," kekeh Siska. Gadis itu menertawakan kakak iparnya yang sedang kerepotan dengan segala permintaan Andini, Reza berlalu setelah pamit kepada sang Mamah mertua.
"Sayang," panggil Reza saat dirinya membuka pintu kamar. Reza melihat Andini yang sedang berbaring tidur, wanita itu langsung bangun dan menghampiri sang suami.
Wajah lesu Andini menjadi berbinar saat melihat bungkusan yang di bawa Reza, dia langsung membuka kotak makan dan menyantap bubur kesukaannya.
"Makasih ya Kak," ucap Andini sambil terus menyuap sendok yang penuh dengan bubur.
Reza yang melihat itu tersenyum senang, karena beberapa hari ini dirinya bingung saat melihat sang istri yang terus mual ketika mencium bau makanan.
__ADS_1
"Habiskan ya, aku mau ambil minum dulu," ujar Reza yang pergi ke dapur mengambilkan minum untuk Andini.
Saat Reza melewati meja makan, dirinya tidak sengaja bertemu dengan Raditya yang juga sedang mengambil minum.
"Baru pulang Kak?" tanya Reza saat melihat baju yang di kenakan Raditya masih melekat seperti tadi pagi.
"Iya kerjaan makin numpuk, apalagi setelah Andini cuti." Raditya mengeluh dengan pekerjaan yang tidak ada habisnya. Biasanya Andini selalu membantu, namun karena dirinya sedang hamil sehingga tidak memungkinkan kembali bekerja untuk beberapa bulan kedepan.
"Kalau butuh bantuan bilang aja Kak, siapa tahu aku bisa bantu." Reza menawarkan diri untuk membantu kakak iparnya, walau sebenarnya dia juga sudah banyak kerjaan yang harus di kerjakan tapi demi Reza akan meluangkan waktu jika Raditya membutuhkannya.
"Tidak usah Za, terima kasih atas tawarannya. Kamu juga kan pasti banyak kerjaan," tolak Raditya. Pemuda itu bukan tidak membutuhkan bantuan Reza tetapi, dia juga tidak mungkin egois yang hanya menguntungkan dirinya saja.
"Kalau butuh bantuan jangan sungkan bilang ya," ucap Reza yang juga pamit untuk kembali ke kamarnya. Raditya menganggukkan kepala dan ikut pergi menyusul dimana keluarganya berada, dia ingin bermanja dengan sang Mamah yang beberapa hari tidak di temuinya itu.
"Mamah," panggil Raditya saat dirinya duduk di sebelah sang Mamah. Tangan kanannya mengapit lengan sang Mamah hingga Maya yang sedang asik menonton menjadi geram, "Kamu ngapain sih Dit." Maya mencoba melepaskan tangan Raditya yang berada di lengannya.
"Tahu nih Kak Radit ngapain?" Siska sedikit jijik dengan sikap sang kakak yang tiba-tiba manja seperti itu.
"Bilang aja sirik kan?" ledek Raditya. Bukannya di bela Raditya malah mendapat pukulan dari sang mamah, hingga ruangan yang semula sepi menjadi ramai dengan gelak tawa mereka bertiga.
KETIKA CINTA HARUS MEMILIH KEPADA SIAPA AKAN BERLABUH, DI SAAT ITU PULA SEBERAPA BESAR PERASAAN YANG KAMU PUNYA UNTUKKU.
Banyak yang nungguin cerita ini ga sih? Walaupun udah tamat aku coba kasih beberapa extra chapter buat kalian, karena bagaimanapun ini novel pertama yang aku buat. Mohon dukungannya ya, buat like, komen, rate dan vote nya. Terima kasih sudah berkenan mampir.
__ADS_1