
Raditya mengambil minuman untuk Leon dan juga Rian, mereka sedang menunggu kedatangan Bayu yang baru saja memberi kabar jika pemuda itu sedang menuju rumahnya.
"Kamu sudah benar-benar memaafkan Bayu kan Dit?" tanya Rian yang masih belum mempercayai.
Raditya terdiam saat mendengar pertanyaan dari Rian, dia terus berfikir apakah yang di lakukannya sesuai dengan hatinya atau tidak. "Aku harus bisa memaafkannya Yan, karena bagaimanapun Clara tidak akan pernah menjadi milikku," lirih Raditya sambil menatap lurus. Raditya sudah menyerah untuk mendapatkan cinta Clara, pemuda itu sudah menyaksikan bagaimana cinta Clara hanya untuk Bayu bukan untuknya.
Leon berjalan menghampiri Raditya yang berdiri di pinggir pagar balkon rumahnya, sambil ikut menatap lurus ke depan. "Aku yakin Dit suatu saat kamu akan mendapatkan cinta yang tulus tanpa memandang siapa kamu, apa kamu, bagaimana kamu, dan hanya ada kamu," Leon berbicara dengan sungguh-sungguh.
"Tumben bijak Leon," goda Rian yang juga ikut berdiri di samping kanan sahabatnya itu.
"Memang salah ya?" tanya Leon dengan wajah polosnya, Raditya dan Rian tidak dapat menahan tawanya lagi.
Tak berselang lama pintu kamar Raditya berbunyi, terdengar suara ketukan di sana. "Biar aku yang buka," usul Leon sambil berjalan ke arah pintu dan membukanya.
"Hay," sapa Bayu yang sudah berdiri di depan sana. "Masuk yuk Bay," ajak Leon sambil berjalan lebih dahulu di depannya. Bayu melihat sekeliling ruangan kamar Raditya hingga kedua matanya melihat bingkai yang berada di meja belajar Raditya, dia mengenali siapa yang berada di photo itu namun Bayu tidak menyangka jika Raditya masih menyimpannya dan memajangnya.
Bayu berjalan menghampiri di mana photo itu berada, "Kamu masih menyimpannya Dit?" tanya Bayu sambil memperhatikan photo dirinya dan juga Raditya saat mereka sedang pergi bersama dengan Clara. Terlihat senyum manis dan bahagia di dalam photo itu, Bayu semakin merasa bersalah karena telah tega menghancurkan semuanya. "Maafkan aku Dit," Raditya yang awalnya tidak menghiraukan ucapan Bayu segera menghampiri Bayu.
"Aku sudah memaafkan semuanya Bay, bagaimana kalau kita mulai dari awal lagi?" ajak Raditya. Leon dan Rian yang sedang duduk di balkon ikut datang menghampiri, "Kita akan jadi sahabat," ucap Leon.
"Dit," panggil Rian saat melihat sahabatnya melamun.
"Ya ampun Yan, maaf aku tidak sadar sudah melamun dari tadi," ucap Raditya.
__ADS_1
"Itu ponselmu bunyi dari tadi Dit, tapi sepertinya kamu sedang asik melamun jadi ya aku melanjutkan pekerjaan milikku," jelas Rian.
Raditya mengecek ponsel miliknya, banyak panggilan tidak terjawab dari sang adik dan sebuah pesan darinya yang menanyakan di mana dirinya berada.
"Siapa Dit?" tanya Rian yang masih sibuk dengan pekerjaannya.
"Dari Andini Yan, dia tanya aku ada di mana," ucapnya tanpa rasa bersalah.
"Pasti kamu keluar kantor tidak berkabar ya sama Andini?" tuduh Rian yang meninggalkan pekerjaannya untuk berbicara dengan sahabatnya itu. Rian tahu jika Raditya datang ke kantornya, pasti ada yang ingin dirinya ceritakan. Raditya yang mendapatkan pertanyaan dari Rian hanya menggaruk kepalanya, "Kamu kan paham aku, pasti tahu kan," kekeh Raditya.
"Kebiasaan kamu Dit, selalu saja pergi tanpa memberikan kabar," ketus Rian.
"Maaf Yan, habis bayang-bayang masa lalu itu muncul kembali saat aku tidak sengaja membuka media sosial dan bertemu dengan akun miliknya," tatapan mata Raditya hanya mengarah ke depan. "Kamu bilang katanya sudah memaafkan mereka, lalu apa yang kamu permasalahkan sekarang?" tanya Rian yang pergi mengambil minuman dingin di kulkas yang berada di dalam ruangannya.
Di saat Rian akan berbicara dengan Raditya kembali, terdengar suara ketukan pintu ruangannya, "Maaf Pak, sebentar lagi Bapak ada rapat dengan dewan direksi," Lucy menjelaskan jadwal milik Rian setelah wanita itu mengetuk pintu dan masuk ke dalam ruangan sang bos.
Raditya menatap Lucy tanpa berkedip, "Siapkan semua berkasnya," perintah Rian yang membuat lamunan Raditya pecah seketika.
"Aku mau rapat, kamu mau di sini atau bagaimana?" tanya Rian pelan, dia tahu Raditya sedang membutuhkan tempat untuk mencurahkan isi hatinya.
"Aku mau keluar saja, sekalian kembali ke kantor," ucap Raditya yang pergi berlalu meninggalkan kantor Rian.
Raditya berjalan menuju parkiran dan bergegas mengendarai mobilnya, pemuda itu berhenti saat melewati salah satu cafe tempat favoritnya.
__ADS_1
Dengan santai Raditya memasuki cafe tersebut dan segera memesan minuman kesukaannya, "Raditya," panggil seseorang saat Raditya sedang menunggu pesanannya.
"Bayu," sapa Raditya saat melihat siapa yang memanggil dirinya.
Bayu mengajak Raditya untuk duduk dan mengobrol sebentar, dengan senang hati Raditya mengiyakan ajakan sahabatnya itu.
"Sudah lama ya Dit kita tidak jumpa," Bayu memulai percakapan mereka lebih dahulu.
"Iya lumayan lama ya, sedang sibuk apa kamu sekarang Bay?" tanya Raditya sambil meminum minuman pesanannya yang sudah datang. Di saat Bayu akan menjawab pertanyaan, ponsel milik Raditya berdering.
"Sebentar ya Bay, adikku telpon," pamit Raditya untuk mengangkat panggilan itu.
Raditya berjalan agak sedikit menjauh dari tempatnya duduk, tidak butuh waktu lama pemuda itu kembali duduk di hadapan Bayu. "Adik kamu kenapa Dit?" tanya Bayu penasaran.
"Dia tanya kenapa aku tidak kembali ke kantor," jawab Raditya tanpa rasa bersalah telah meninggalkan pekerjaannya kepada sang adik. Bayu mengeryitkan dahi, "Kamu satu kantor dengan adikmu?" tanya Bayu lagi, pemuda itu sudah lama tidak berjumpa dengan Raditya sehingga tidak mengetahui apa yang terjadi pada sahabatnya.
"Iya Bay, bagaimana hubungan kamu dengan Clara? Aku dengar kalian akan menikah?" tanya Raditya. Wajah Bayu yang semula ceria saat bertemu dengannya berubah ketika mendengar nama Clara terucap dari mulut Raditya, Bayu memainkan cangkir kopi di depannya. "Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun, dia mengkhianatiku saat kuliah," lirih Bayu. Raditya mencoba menenangkan sahabatnya itu, "Kamu bisa cerita sama aku Bay," ucapnya.
"Itu semua masa lalu Dit, sekarang aku sedang menata hati dan diri agar siap menerima seseorang yang mau menghargai aku," jelas Bayu yang masih menatap cangkir di depannya.
Lama mereka berdua bertukar cerita satu sama lain, hingga tanpa terasa waktu berlalu terlalu cepat. "Aku pamit dahulu, kalau ada apa-apa kamu hubungi aku saja Bay," pesan Raditya sebelum meninggalkan sang sahabat yang masih termenung seorang diri di cafe. "Mungkin ini balasan untuk aku Dit, aku telah mengecewakan kamu dahulu," ucap Bayu pelan. Dia terus memperhatikan tubuh Raditya hingga menghilang dan tidan terlihat matanya, Bayu ikut bergegas pulang setelah melihat Raditya pulang lebih dahulu.
"De, kakak langsung pulang," ucapnya saat berada di dalam mobil. Raditya menghubungi sang adik agar tidak menunggunya kembali ke kantor, "Semoga kamu baik-baik ya Bay," ucap Raditya saat teringat cerita Bayu tentang hubungannya yang harus kandas dengan Clara.
__ADS_1