
Siska yang lebih memilih untuk tinggal bersama sang nenek karena dirinya tidak tega jika harus melihat mereka berdua saja berada di rumah itu. Pada awalnya orang tua Siska melarang untuk anaknya tinggal di sana, apalagi di umur Siska yang masih belia.
"Biar nenek dan kakek tinggal di sini saja sama kita ya nak, kamu tidak usah tinggal di sana," pinta Maya. Ibu mana yang rela jika harus terpisah jauh dengan sang anak, tetapi kemauan anak bungsunya itu tidak boleh di larang oleh siapapun.
"Aku mau belajar mandiri Bu, lagi pula aku kan di sana juga menjaga nenek dan kakek. Kasian jika mereka hanya tinggal berdua," ucap Siska yang terus membujuk sang Ibu agar menyetujui keinginan untuk tinggal di sana.
"Kamu yakin Sis? Apa tidak nenek dan kakek saja ya yang pindah ke sini, aku kesepian jika kamu tinggal di sana," ujar Andini. Gadis itu akan merasa kesepian karena adik satu-satunya itu lebih memilih tinggal di rumah sang nenek.
"Nenek sama kakek tidak apa-apa tinggal di sini saja Sis," ucap Rita.
"Tapi aku mau tinggal di sana Nek, di sini bosen penuh polusi ... Aku mau ada suasana baru Nek, boleh ya aku tinggal di sana," rengek Siska di depan keluarganya. Gadis itu terus saja membujuk kedua orang tua serta neneknya agar menyetujui pilihannya, dengan berat hati mereka menyetujui keinginan Siska.
"Baik, kamu boleh tinggal di sana tapi dengan satu syarat," ucap Wisnu. Wisnu yang dari tadi hanya terdiam melihat permintaan anaknya akhirnya bersuara juga, pria paruh baya itu akan menyetujui permintaan sang anak asalkan sang anak mau memenuhi syarat yang di berikan. "Kamu harus menjadi anak baik saat di sana," sambung Wisnu.
Wisnu menjelaskan maksud dari anak baik yang di maksud olehnya, Siska mendengarkan dengan baik apa yang di jelaskan sang ayah.
"Aku akan menjadi anak baik Yah," ucap Siska yang langsung mengiyakan perintah sang ayah.
__ADS_1
Dengan berat hati Wisnu merelakan anaknya untuk tinggal jauh dengan dirinya dan keluarganya, "Ayah akan Carikan sekolah yang bagus untuk kamu menuntut ilmu, karena Ayah tidak ingin kamu menjadi anak yang tidak bisa di atur karena jauh dari pantauan kami," tutur Wisnu yang langsung menelpon salah satu temannya. Pria itu meminta tolong kepada sang teman untuk mencarikan sekolah yang terbaik untuk anak bungsunya itu.
Raditya yang baru pulang sekolah itu bertanya, "Ada apa ini Bu?" tanyanya. Raditya bingung karena saat dirinya tiba di rumah semua orang sedang berkumpul seperti sedang membicarakan sesuatu yang sangat penting, Maya yang mendengar pertanyaan anak sulungnya itu menjelaskan apa yang sedang terjadi.
"Kamu serius Sis? Siapa yang akan menjaga kamu di sana, tidak mungkin nenek dan kakek yang akan menjaga kamu," ujar Raditya yang sebenarnya tidak menerima jika sang adik kesayangannya harus pergi dari rumah.
"Kan Kakak bisa berkunjung ke sana tiap weekend, kalau aku yang ke sini capek dong," kekeh Siska yang mencoba mencairkan suasana di ruangan itu.
Siska menuju ke rumah sang nenek dan kakek dengan di antar oleh Raditya, karena orang tua serta Andini sedang mendatangi acara pelepasan dari gadis itu.
"Kakak menginap di sini kan malam ini?" tanya Siska saat mereka sudah tiba di tempat tujuannya.
Siska memasuki ruangan yang akan menjadi kamarnya kelak, "Sepertinya aku akan nyaman tinggal di sini," ucapnya sambil merebahkan tubuhnya.
"Kak Dini ikut juga?" ucap Siska saat melihat siapa yang memasuki kamar miliknya.
"Iya tadi Ibu sama Ayah ngajak aku, ya sekalian aku mau refreshing," kekeh Andini yang juga ikut merebahkan tubuhnya di samping sang adik. "Kamu yakin mau tinggal di sini?" tanya Andini. Dirinya ingin memastikan gadis di sampingnya itu, karena bagaimanapun Siska adalah adik satu-satunya yang dia punya.
__ADS_1
Siska beranjak bangun dari tidurnya, gadis itu berjalan ke arah balkon yang berada di kamarnya. Dia tatap lekat-lekat malam yang akan berubah siang itu, dirinya teringat akan kehangatan keluarganya. Akankah dirinya merindukan semuanya? Tapi inilah pilihan dia, bukan Siska tidak ingin tinggal bersama dengan keluarganya tetapi gadis itu ingin sekali mencoba hal baru selama hidupnya.
"Siska," panggil Andini.
"Iya Kak, ada apa?" tanya Siska sambil berjalan menghampiri sang kakak yang sedang berbaring di kasur miliknya.
"Apa kamu tidak berubah pikiran?" tanya Andini untuk menyakini sang adik akan pilihannya itu.
"Kenapa Kakak selalu bertanya hal yang sama dari tadi?" geram Siska yang merasa bosan akan pertanyaan yang selalu itu-itu saja.
"Maafkan aku Siska, tapi aku tidak ingin kamu menyesalinya nanti," tutur Andini yang tidak ingin jika sang adik merasa menyesal akan keputusannya itu.
Andini tahu jika sifat keras sang adik tidak akan pernah hilang, "Nanti siapa yang akan membantu Ibu di toko Sis?" tanyanya. Andini sudah kehabisan kata-kata lagi untuk bisa membatalkan keinginan adiknya itu.
"Kan ada Kakak, aku di sini biar menemani nenek dan kakek," ucap Siska.
"Baiklah kalau itu mau kamu, ingat selalu pesan Ayah dan jangan nakal ya Sis," pinta Andini, dirinya hanya bisa mendoakan yang terbaik untuk sang adik saat ini. "Ayo sekarang kita istirahat dahulu, besok kita kan mau lihat sekolah yang akan kamu tempati nanti," sambung Andini yang mengajak sang adik untuk segera mengistirahatkan dirinya.
__ADS_1
"Iya Kak, aku sudah tidak sabar ingin melihat sekolahnya," ujar Siska antusias. Raditya yang tidak sengaja mendengar percakapan mereka hanya dapat tersenyum di balik pintu kamar yang tidak tertutup rapat itu, "Semoga ini jadi pilihan terbaik kamu Sis, aku janji akan rajin mengunjungimu saat weekend. Biar bagaimanapun kamu adalah adikku juga," ucap Raditya saat mengingat bahwa Siska sebenarnya bukan anak kandung orang tuanya. Tidak ada yang tahu akan hal ini, mereka semua menutup rapat cerita masa lalu gadis itu. Raditya yang tanpa sengaja mendengar percakapan sang Ayah beberapa hari lalu sedikit terkejut saat mendengarnya, karena yang dia tahu Siska adalah anak yang baik walau terkadang suka membantah jika di beri nasihat. Tapi itu semua tidak mengurangi rasa kasih sayang yang dirinya berikan, bagi Raditya Siska tetaplah adiknya sama seperti Andini.
"Aku harus bisa menyembunyikan semua ini," ucapnya sambil menutup rapat pintu kamar sang adik. Dia akan mencoba meminta penjelasan kepada sang Ayah siapa orang tua Siska sebenarnya, "Aku harus menanyakan masalah ini sama Ayah," gumam Raditya yang langsung pergi mencari keberadaan sang ayah.