
Reza sebenarnya enggan untuk masuk kedalam ruang bersalin sebab dia tidak tega melihat orang yang sangat di cintainya mengerang merasakan sakit, namun dia tidak dapat berbuat apapun. Dengan penuh kasih sayang, Reza mengelap peluh yang keluar saat rasa sakit datang menghampiri.
"Sakit banget ya?" tanya Reza saat melihat wajah polos Andini berubah saat merasa perutnya tegang.
Andini menganggukkan kepalanya dan mencengkram telapak tangan Reza yang menggenggamnya, sambil terus menggigit bibirnya Andini terus menerus mengeluh sakit.
"Sakit banget Kak," ucap Andini di sela-sela menahan rasa sakit yang sudah setiap lima menit sekali.
Dokter yang bertemu dengan Reza saat pria itu masuk mengatakan butuh waktu untuk mengeluarkan bayi di dalam kandungan Andini, sebab pembukaan yang Andini miliki belum sepenuhnya sempurna, awalnya Reza ingin mengambil jalan pintas untuk melakukan tindakan operasi. Namun pikirannya kembali saat Andini mengutarakan ingin melahirkan secara normal, jadi Reza mengurungkan niatnya walau terus menatap iba kepada sang istri.
Reza mengusap kepala serta punggung Andini, sesekali tangannya mengelus perut buncit istri tercinta sambil meminta kepada sang anak yang di dalam sana agar tidak membuat sang ibu kesakitan. Apa yang Reza ucapkan ternyata sia-sia karena memang seperti itu rasanya ketika bayi di dalam perut sedang berusaha mencari jalan untuk keluar, melihat indahnya dunia dan kedua orang tua yang sedang menunggu kehadirannya.
Dokter yang menangani Andini kembali masuk untuk memeriksa, dengan cekatan sang dokter mulai mempersiapkan apa saja yang di butuhkan untuk persalinan.
"Bapak mau menunggu di sini atau di luar?" tanya salah seorang suster yang membawa beberapa peralatan sang dokter.
"Boleh saya menemani istri di sini?" pertanyaan Reza mendapatkan anggukan kepala dari sang dokter.
"Sangat boleh Pak, malah lebih bagus karena ibu mendapatkan dukungan dari orang tersayangnya," jawab sang dokter sambil memasang masker dan sarung tangan medis.
Reza melihat detik-detik Andini mempertaruhkan nyawanya demi sang buah hati, hingga suara tangisan bayi menggema di dalam ruangan. Reza merasa lemas ketika melihat sang istri yang sedang di jahit bagian bawahnya, membuatnya sedikit merasakan apa yang di rasakan Andini.
"Selamat Pak bayi anda perempuan," ucap suster yang membantu persalinan.
Suster yang membawa bayi Natasha memberikannya kepada sang ayah untuk di adzani, tangis haru menyelimuti saat Reza dengan santai mulai melakukan tugas awalnya sebagai seorang ayah. Membisikan adzan dan iqomah adalah hal pertama yang harus di lakukan seorang ayah kepada sang anak, mencoba membisikan kalimat-kalimat baik saat pertama kedatangannya kedunia.
Tidak butuh waktu lama, Andini telah di pindah ke ruang perawatan bersama sang bayi. Reza merasa lelah setelah melihat persalinan yang menguras emosinya, bagaimana tidak perasaan sedih dan terharu bercampur menjadi satu.
__ADS_1
Sedih saat menyaksikan Andini yang merasakan sakit, terharu karena sekarang dirinya sudah menjadi seorang ayah. Reza berjalan menghampiri Andini yang masih terlihat lemah, sambil memperhatikan bayi serta anaknya yang baru beberapa jam lahir.
"Terima kasih sayang, aku sungguh bahagia karena sekarang kita sudah menjadi orang tua ... Aku janji akan menjadi ayah yang baik untuk anak kita," ujar Reza sambil mencium kening Andini lama.
"Woy masih di rumah sakit," teriak Raditya yang tiba-tiba masuk ke dalam ruangan di mana Andini di rawat.
Maya dan Lili pamit untuk pulang terlebih dahulu, mereka ingin membuat makanan dan mengambil perlengkapan milik sang cucu.
"Cih, ganggu saja Lo Kak," keluh Reza melepaskan kecupannya di kening sang istri dengan wajah cemberut.
"Makanya nikah Kak biar Lo tidak recokin rumah tangga Gw mulu," sambung Reza sambil berjalan menuju dimana kakak iparnya duduk.
Raditya memang langsung mendudukan diri ketika tiba di sana, sambil memijat pelipisnya dan memejamkan mata sejenak.
"Sialan Lo Za kasih kerjaan tidak tanggung-tanggung," keluh Raditya yang langsung mendapatkan lemparan bantal dari Reza.
"Lebay Lo, baru gitu saja ngeluh ... Ketahuan tukang makan gaji buta ini," ledek Reza.
"Kapan pulang ke rumah Din?" Raditya menanyakan perihal kepulangan sang adik dan keponakan barunya, Reza langsung melempar kertas yang ada di depannya.
"Abang tidak ada akhlak, Gw saja yang cuma liatin pas lahiran tadi masih tidak sanggup ngapa-ngapain lah ini abis bertarung nyawa di tambah harus tahan sakit tadi udah di tanya kapan pulang. Tunggulah dua atau tiga hari biar Bini Gw enakan dulu," sunggut Reza saat mendengar pertanyaan kakak iparnya yang suka tidak di pikirkan lebih dahulu.
"Setdah Gw cuma tanya jangan pake urat dong, cukup bakso saja yang ada uratnya," bukan meminta maaf malah kembali mengeluarkan guyonan lain.
Seperti itulah mereka, walau sering terjadi perdebatan antara mereka berdua namun tidak akan berlangsung lama.
"Kalian suka tidak tahu tempat ya," ujar Andini yang membuat Reza dan Raditya menghentikan pertengkarannya.
__ADS_1
Reza berjalan menghampiri Andini saat terlihat gadis itu ingin bangun dari tempat tidurnya, "Mau kemana?" tanyanya.
"Mau ke toilet sebentar," jelas Andini saat merasakan ingin buang air kecil.
Reza membantu Adini untuk turun dan itu membuat Raditya yang semula sedang fokus ke ponsel miliknya menjadi menatap ke arah di mana Andini dan Reza berada.
"Tidak usah pamer kemesraan gitu juga kali," ucap Raditya. Pandangan kedua matanya kembali menatap pesan yang baru saja masuk, sambil tersenyum dia mulai mengetik balasan untuk seseorang.
"Ngatain orang bisa, sendirinya kayak orang gila ketawa sendiri liat handphone," balas Reza saat membantu Andini kembali ke brangkarnya.
"Biarin suka-suka Gw," ujar Raditya yang berlalu meninggalkan kedua pasangan itu.
"Woy mau kemana Lo Kak?" teriak Reza saat melihat kakak iparnya berlalu pergi.
"Balik," jawab Raditya dengan sedikit berteriak sebab dia sudah berjalan keluar ruangan dimana sang adik di rawat sementara.
Reza tidak lepas menatap wajah sang anak yang sedang tertidur pulas di sebelah Andini, masih merasa tidak menyangka jika dirinya sudah menjadi seorang ayah saat ini.
Tiga hari waktu yang di butuhkan Andini untuk memulihkan kondisinya pasca melahirkan sang buah hati, selama itu pula Reza menemani istri tercinta. Raditya merasa lelah karena semua pekerjaan Reza di limpahkan kepadanya, Rian dan juga Beni hanya bisa menertawakan keluhan pria itu saat sedang bertemu.
"Sialan banget Reza, kerjaan semua di kasih ke Gw." Raditya meminum kopi pesanannya saat bertemu dengan Rian dan Beni di sebuah cafe.
"Wajar kali Kak, makanya Lo cepat kawin biar rasain apa yang Reza rasain," Beni mencoba membela sepupunya itu.
Raditya menatapnya dengan pandangan sini, "Mentang-mentang sepupu di bela terus," rajuk Raditya.
Rian hanya bisa tertawa melihat Raditya dan Beni yang selalu bertengkar, namun dia juga tahu semua hanyalah gurauan semata bukan maksud untuk saling menyakiti.
__ADS_1
Jangan lupa like, komen dan votenya ya. Dukung cerita ini terus ya, karena tanpa dukungan kalian aku tidak ada apa-apanya. Terima kasih banyak atas dukungannya 🤗🤗🤗🤗🤫
HAL YANG PALING MEMBUATKU BAHAGIA ADALAH ADANYA KAMU DI SISIKU