
"Aku ... " ucap Andini, Reza terlihat sangat tegang menunggu jawaban dari gadis di hadapannya itu.
"Maafkan aku, aku tidak bisa terima kamu Kak," ucapnya dengan rasa bersalah. Reza yang mencerna ucapan Andini seketika terduduk lesu dengan ucapan yang di dengarnya, hatinya serasa hancur saat mendengar jawaban gadis itu.
"Kenapa Din?" tanya Reza yang tidak dapat mempercayai ucapannya.
"Maafkan aku Kak, tapi sudah ada pria lain yang mengisi hidupku beberapa hari ini," ucap Andini yang sebenarnya tidak mau menolak permintaan Reza. Tak lama Rian datang menghampiri Andini, dia terlambat datang di karenakan pekerjaan yang menumpuk.
"Maaf ya sayang aku telat, tadi di kantor banyak sekali pekerjaannya," ucap Rian yang tiba di hadapan Andini. "Ini ada apa ya kok ramai sekali?" tanya Rian yang bingung karena gadisnya di kelilingi oleh banyak tamu undangan di sana.
"Tidak ada apa-apa kok," ucap Andini yang tidak ingin kejadian tadi di ketahui Rian.
Reza yang melihat kemesraan antara Rian dan Andini berlalu meninggalkan mereka semua yang juga ikut menatapnya, dengan berat hati Reza harus bisa merelakan Andini untuk orang lain.
"Inilah kebodohan aku, aku bodoh," jerit Reza di dalam mobilnya. Pria itu menyalahkan dirinya sendiri akibat kebodohan yang selalu dia perbuat, "Kenapa harus seperti ini," lirihnya.
Rian mengajak Andini untuk pulang ke rumahnya, selama di perjalanan Andini terus mengingat kejadian yang belum lama terjadi.
"Kamu kenapa? Dari tadi aku perhatikan kok diam saja?" tanya Rian sambil menjalankan mobilnya meninggalkan gedung resepsi pernikahan sahabat sang kekasih.
"Tidak apa-apa Kak, aku cuma lelah saja kan beberapa hari ini bantu Meli untuk acara dia," tutur Andini sambil memejamkan kedua matanya.
"Sampai rumah kamu langsung istirahat ya," pinta Rian.
"Iya Kak," jawab Andini yang masih memikirkan bagaimana perasaan Reza saat ini.
__ADS_1
Andini yang telah bersiap-siap untuk tidur kembali membuka matanya ketika ponsel miliknya berdering, dia langsung mengangkat panggilan itu.
"Aku sudah sampai rumah, kamu langsung istirahat ya," perintah Rian. Rian menelepon Andini ingin memberikan kabar bahwa dirinya sudah tiba di rumah, Andini yang mendengar kabar dari Rian dapat bernafas lega.
"Iya Kak, ini juga aku mau tidur," ucapnya.
Rian mematikan panggilannya setelah Andini pamit untuk istirahat lebih dahulu, Andini menatap langit-langit kamarnya. Gadis itu memikirkan tentang kedekatannya dengan Rian beberapa hari terakhir setelah dirinya melihat Reza pergi dengan seorang wanita yang dia kenal.
"Kenapa jadi seperti ini," ucapnya sambil mengingat kejadian beberapa Minggu yang lalu saat dirinya pergi ke salon. Andini melihat Reza mengantarkan Maya yang tidak lain salah satu karyawan di tempatnya bekerja, gadis itu melihat Reza sedang memegang tangan Maya dan mereka saling berbincang-bincang dengan sangat dekat.
"Kak tunggu aku ya, jangan di tinggal," ucap Maya dengan manjanya. Andini yang melihatnya hanya bisa terdiam, "Sebenarnya perasaan dia sama aku seperti apa sih?" tanya Andini dalam hati.
Andini memperhatikan Reza dari kejauhan, pria itu tidak menyadari jika Andini berada di tempat yang sama dengan dirinya. Tak lama ponsel milik Andini berdering tertera di sana ada pesan masuk dari Rian, dia mengajak Andini untuk bertemu.
"Maaf lama ya Kak?" tanya Andini saat sampai di mana dirinya dan Rian bertemu.
Sambil menunggu pesanan mereka tiba, Rian mencoba mengungkapkan perasaannya yang selama ini dirinya pendam. Rian sebenarnya takut jika perasaannya akan di tolak kembali oleh Andini, "Terakhir kali aku akan menyatakan cinta padamu Din, kalau kamu masih menolaknya aku janji akan mundur," gumam Rian dalam hati.
"Din ...," ucap Rian.
"Iya." jawab Andini. "Kenapa Kak?" tanya Andini.
"Din, mau kah kamu menjadi pacarku?" tanya Rian sambil mengeluarkan setangkai bunga mawar merah dan putih. "Jika kamu terima aku, kamu ambil mawar merah ini tapi jika kamu menolak aku, kamu ambil mawar putih ini," perintah Rian.
Andini terdiam sambil menatap dua tangkai bunga mawar yang berada di hadapannya, gadis itu sedang berfikir jawaban apa yang harus dia berikan untuk pria di depannya.
__ADS_1
Andini merasa sangat bersalah karena selama ini Rian lah yang selalu hadir untuk dirinya, tetapi kenapa hatinya tidak pernah berpihak kepada pria itu.
Andini memikirkan jawaban apa yang akan dia berikan untuk pria di depannya itu, "Tidak ada salahnya untuk mencoba," gumam Andini dalam hati sambil memejamkan matanya mengambil salah satu bunga mawar yang ada di tangan Rian. Andini mengambil bunga mawar merah yang berada di tangan kanan Rian, seketika senyum manis Rian terbit di wajah tampannya.
"Kamu serius Din?" tanya Rian yang masih merasa tidak percaya dengan jawaban Andini.
"Apa ada yang salah?" tanya balik Andini.
"Tidak, aku hanya masih tidak dapat percaya kamu mau menerimaku," ucap Rian masih tidak menyangka penantiannya kini dapat berbuah manis. "Jadi sekarang kita resmi pacaran ya?" sambung Rian yang ingin memastikan jawaban dari gadis di depannya itu.
"Hmmmm, mau aku berubah pikiran?" goda Andini, Rian yang mendengar pernyataan Andini seketika langsung menggelengkan kepalanya. "Tidak, jangan berubah pikiran. Aku janji tidak akan pernah membuat kamu kecewa dan menyesal karena menerimaku," tutur Rian yang berjanji pada dirinya sendiri tidak akan pernah menyia-nyiakan kesempatan memiliki Andini.
Andini kembali terkejut saat Rian menanyakan dirinya ingin mampir ke suatu tempat atau tidak, "Din," panggil Rian sambil memegang tangan Andini.
"Eh, iya Kak," jawab Andini yang tidak dapat menyembunyikan rasa terkejutnya.
" Kamu sedang memikirkan apa sih? Sampai terkejut saat aku panggil?" tanya Rian sambil melihat kedua mata Andini. Rian menepikan mobilnya terlebih dahulu, pria itu ingin mendengarkan jawaban Andini atas apa yang sedang dirinya pikirkan.
"Maafkan aku Kak, aku tidak bisa menjawab pertanyaan kamu sekarang," ucap Andini dengan penuh rasa bersalah karena dirinya ternyata belum bisa menerima pria di depannya itu.
"Kalau kamu tidak nyaman dengan hubungan ini, lebih baik kita sudahi saja," ucap Rian yang terus memperhatikan wajah Andini yang menunduk lesu. "Aku akan bahagia jika kamu juga bahagia, aku tidak bisa memaksakan perasaan kamu jika kamu sendiri tidak pernah bisa membuka hatimu untukku," sambung Rian yang akan merasa sangat bersalah jika terus mempertahankan Andini untuk tetap di sisinya.
"Maafkan aku Kak," ucap Andini.
"Kamu tidak perlu meminta maaf, karena perasaan tidak dapat di paksakan. Sekuat apapun kamu menjaganya jika hatimu tidak berpihak padaku untuk apa Din?" tanya Rian lembut.
__ADS_1
"Kembalilah kepada cintamu Din dan terima kasih selama beberapa hari ini kamu mau menemani hariku, aku rela jika ini yang terbaik untukmu karena cinta tidak harus memiliki bukan?" goda Rian. Dia mencoba sekuat tenaga untuk menerima kenyataan yang ada di depannya, menjadi sahabat mungkin lebih baik daripada menjadi kekasih tetapi hati wanitanya berada di tempat lain.
Rian kembali menjalankan mobilnya meninggalkan tempat di mana dirinya berhenti tadi, pria itu akan mengantarkan Andini terlebih dahulu barulah dirinya menemui Reza untuk menjelaskan apa yang terjadi dan menitipkan gadis itu kepadanya.