
Setelah kepergian Reza menuju kantor, Andini melewatkan sarapan dan makan siangnya. Dia mengurung diri didalam kamar itu membuat Sarah dan juga Joni sedikit khawatir padanya, awalnya Sarah ingin menghubungi Reza ataupun Surya aka tetapi, niatnya diurungkan karena takut mengganggu pekerjaan bosnya.
Reza bekerja dengan perasaan sedikit tidak tenang karena dirinya terus memikirkan ucapannya terhadap Andini tadi pagi, dengan bantuan Surya semuanya dapat berjalan dengan lancar dan semestinya. "Surya apa yang biasanya wanita sukai?" tanya Reza. Surya mengerutkan dahinya, bagaimana dia bisa tahu apa yang wanita sukai jika dirinya saja masih sendiri. Karena tidak ingin membuat bosnya kecewa, Surya memberi tahu apa yang dia tahu tentang membujuk wanita marah.
"Biasanya Pak, saat wanita marah berikan barang yang dia sukai pasti marahnya akan reda," usul Surya. Reza yang duduk bersandar di kursi kebesarannya, dia berpikir dengan apa yang di usulkan oleh asisten pribadinya. "Tapi mungkin bunga atau coklat juga bisa," sambung Surya. Reza yang sedang berpikir segera beranjak dari duduknya, "Surya apa hari ini saya masih ada jadwal?" tanya Reza saat sudah memegang knop pintu ruangannya. "Sudah tidak ada rapat lagi, jadi Bapak bisa pulang lebih awal," ucap Surya yang memberi tahu tentang jadwal bosnya itu.
"Ayo Surya kita harus segera pulang," ajak Reza yang sudah merapikan pakaiannya kembali. "Kita mampir ke toko kue dahulu sebentar," sambungnya kepada pria di depannya. Surya mengikuti Reza yang berjalan dengan terburu-buru, "Berikan kunci mobilnya Surya," ucap Reza tiba-tiba.
Tanpa banyak bertanya Surya memberikan kunci mobilnya kepada Reza, pria itu langsung masuk kedalam kursi penumpang yang berada di depan setelah Reza membuka pintu mobilnya. Reza mengendarai mobilnya dengan kecepatan penuh, hingga Surya harus memegang erat sabuk pengaman yang dikenakannya. "Maaf Pak apa ini tidak terlalu cepat?" Surya akhirnya memberanikan diri untuk bertanya kepada sang bos, memang jalanan sekitar tidak terlalu padat seperti di kota akan tetapi, tetap perlu berhati-hati agar selamat sampai tujuan. Reza menyadari setelah Surya menegur dirinya, dia terlalu khawatir sehingga tidak memikirkan keselamatannya juga.
"Maafkan saya Surya," ucap Reza yang mulai memelankan laju mobilnya.
"Apa perlu saya yang membawa mobilnya Pak?" tanya Surya yang melihat wajah sang bos tidak terlalu baik, Reza menepikan mobilnya di salah satu toko kue yang searah dengan jalan menuju villanya tanpa menunggu lama Reza bergegas keluar meninggalkan Surya seorang diri di dalam mobil.
Surya hanya menggelengkan kepalanya saat melihat tingkah laku bosnya itu, "Cinta memang bisa membuat seseorang menjadi tidak waras," ucap Surya yang menyusul Reza masuk ke dalam toko.
__ADS_1
"Ada yang bisa saya bantu Pak?" tanya Surya ketika sudah berada d sebelah Reza, Reza yang sibuk memilih kue tidak mendengar pertanyaan asistennya itu. Surya menghela napasnya dan pergi mencari tempat duduk, tidak berselang lama Reza datang menghampiri dirinya yang sedang asik memainkan benda pipih di tangannya.
"Ayo kita langsung pulang," ajak Reza yang sudah lebih dulu meninggalkan Surya. Selama di perjalanan Reza terdiam menatap jalanan yang mereka lalui, sudah tiga hari mereka menginap di villa karena Reza yang juga memiliki tugas tidak jauh dari villa mereka menginap. Mobil yang di kendarai oleh Surya terparkir rapih di garasi villa, Reza segera turun dan mencari keberadaan sang istri.
Andini yang sedang tertidur tidak mengetahui kedatangan sang suami, dengan perlahan Reza melepas semua pakaian kantornya hanya menyisakan celana pendek yang dia kenakan. Tanpa ingin mengganggu sang istri yang terlelap tidur, Reza menaiki tempat tidur dengan perlahan hingga kini Pria itu tepat di belakang Andini. "Maafkan aku," ucap Reza yang ikut terlelap sambil memeluk Andini dari belakang.
Matahari semakin redup, cahaya bulan mulai menggantikan tugas matahari untuk menyinari bumi. Andini mengerjapkan matanya, pandangan kedua matanya di buat terkejut karena tangan yang memeluknya erat. Dengan perlahan kesadaran Andini mulai penuh dan menyadari jika Reza lah pria yang sedang memeluknya, Andini menyingkirkan tangan Reza dan bergegas pergi untuk membersihkan diri terlebih dahulu.
Dengan langkah pelan Andini turun dari tempat tidurnya, dia tidak ingin mengganggu sang suami yang sedang tertidur lelap. Setelah selesai mandi Andini pergi ke dapur untuk membantu Sarah membuat makan malam, "Bu," panggil Sarah saat Andini akan mengambil beberapa bahan makanan yang akan di masak.
"Itu Bu, tadi Bapak beli kue katanya untuk ibu, cuma pas Bapak liat ibu ke dalam kamar Bapak juga tidak kembali keluar kamar," ucap Sarah gugup. Wanita paruh baya itu takut jika kedua majikannya bertengkar terlebih hanya karena masalah sepele, "Iya Bapak langsung ikut tidur saat lihat saya sedang tidur," ucap Andini sambil memotong beberapa wortel untuk menu makan malam hari ini. Mereka berdua terdiam dengan lamunan masing-masing, hingga tanpa terasa masakan yang mereka masak berdua telah siap untuk di hidangkan.
Andini melepaskan celemek yang digunakannya saat memasak tadi dan bergegas pergi untuk mengajak sang suami untuk makan bersama dengan dirinya, tanpa mengetuk pintu terlebih dahulu Andini langsung masuk kedalam kamarnya. Terlihat Reza masih terlelap tidur, Andini berjalan menghampiri dan duduk di tepi tempat tidurnya.
Dengan perlahan Andini mengguncang tubuh Reza, "Sayang, bangun sudah waktunya makan malam," ucap Andini. Reza menggeliat saat merasakan sedikit guncangan yang mengganggu tidurnya, "Maafkan aku tadi pagi sayang, sunggung aku tidak menyadarinya," ucap Reza saat sadar yang membangunkan dirinya adalah Andini.
__ADS_1
Andini menganggukkan kepalanya, "Aku maafkan tetapi, jangan di ulangi lagi ya," ujar Andini. "Sekarang mandi lalu kita makan malam bersama," sambung Andini yang langsung pergi meninggalkan Reza seorang diri. Andini tahu jika dia terus berlama di dalam sana bukan tidak mungkin Reza akan menjadikannya sebagai makanan pembuka.
Reza yang sudah segar segera bergegas menyusul Andini, "Wah p
masak apa kamu sayang," ucap Reza saat tiba di ruang makan. Reza menatap satu persatu makanan di depannya hingga kedua matanya berhenti pada sepiring udang tepung kesukaannya. Reza segera mendudukan dirinya di sebelah Andini, "Sudah cukup," ujar Reza saat Andini mengambilkan makanan untuknya.
"Mau pakai apa saja?" tanya Andini menunjukkan beberapa lauk pauk di hadapannya, Reza menunjuk beberapa lauk yang di sukai dan Andini dengan senang hati mengambilkan makanan itu untuknya.
"Bagaimana rapat hari ini?" tanya Andini di sela-sela makannya, Reza yang sudah hampir selesai menyantap makanannya segera mengambil air yang telah di siapkan oleh sang istri. "Lumayan lancar dan besok kita bisa menghabiskan waktu selama di sini tanpa mempedulikan pekerjaan lagi," ucapnya yang membuat Andini riang seketika.
"Benar kamu sudah tidak ada pekerjaan lagi besok?" tanya Andini memastikan, dia tidak ingin kecewa lagi karena jadwal pria itu yang bisa tiba-tiba berubah.
"Kalau tidak percaya tanya Surya," ucap Reza yang membuat Surya tersedak seketika.
Surya yang sedang asik menyantap makanannya menjadi tersedak saat terkejut namanya di sebut oleh sang bos, Surya segera mengambil air untuk meredakan tenggorokan yang sedikit panas akibat tersedak. "Iya Bu, besok Bapak sudah tidak ada pekerjaan lagi jadi bisa liburan sepuasnya selama di sini," jelas Surya. Terlihat wajah Andini yang gembira saat mendengar berita itu, karena selama ini Reza selalu sibuk dengan semua pekerjaannya sehingga tidak pernah punya waktu untuknya.
__ADS_1