
Reza sudah siap untuk berangkat ke rumah Andini, pria itu akan langsung melamar Andini hari itu juga. Dia tidak ingin kejadian yang lalu terulang kembali, "Sudah siap?" tanya Rian yang juga ikut untuk mengantarkan Reza ke rumah gadis pujaannya.
Walau awalnya Rian agak berat untuk memberikan gadis yang sangat dia cintai untuk orang lain, tetapi dia merasa lebih baik daripada Andini tersiksa dengannya nanti.
"Kok aku gugup ya," ucap Reza saat dirinya masih berada di dalam kamarnya bersama dengan Rian.
"Maklumkan mau bertemu dengan calon mertua," ledek Rian yang langsung mendapat jitakan di kepalanya. "Sakit Za," keluhnya sambil mengusap kepalanya yang di jitak oleh pria di depannya itu.
"Orang lagi gugup malah di ledek, sahabat macam apa kamu?" ketus Reza yang tidak terima jika dirinya di ledek oleh sahabatnya sendiri.
"Sudahlah tidak usah marah-marah nanti tampannya hilang, calon mertua pindah haluan," ujar Rian sambil berlari meninggalkan Reza yang terlihat menahan emosinya itu.
"Rian," teriak Reza. Rian yang mendengar teriak sahabat barunya itu hanya tertawa, Rian menuruni tangga rumah Reza satu persatu. Di ruang tamu sudah berkumpul beberapa saudara dan sahabat Reza yang tak pernah tertinggal itu.
"Man Reza Yan?" tanya Dika yang melihat pria itu hanya seorang diri.
"Biasa lagi dandan dahulu, kan mau ketemu calon mertua," goda Rian yang langsung mendapatkan gelak tawa dari seluruh keluarga yang hadir di sana.
"Bisa saja kamu Yan," ujar Fahmi sambil membayangkan bagaimana Reza saat ini.
"Terus saja godain, aku mah cuma bisa diam saja," imbuh Reza yang sedang menuruni anak tangga menuju di mana mereka semua sudah berkumpul.
Di rumah Andini, gadis itu sedang bersiap di dalam kamarnya. Berita akan ada acara lamaran membuat seluruh keluarga besarnya ikut hadir, termasuk adiknya yang datang bersama dengan sang nenek dan kakek.
__ADS_1
Tok tok tok
"Masuk," suruh Andini saat mendengar suara ketukan di pintu kamarnya. "Siska," ucap Andini saat melihat adik kesayangannya berada di depan pintu kamar.
"Kakak," teriak Siska sambil berlari memeluk kakak perempuannya itu. "Kangen, lama tidak jumpa," sambungnya. Siska yang tinggal bersama dengan nenek dan kakeknya hanya datang berkunjung ke rumah di saat keluarga itu sedang ada acara atau pada saat hari raya tiba. Hal itu di karenakan usia sang nenek dan kakek yang sudah tidak muda lagi.
"Kakak aku makin cantik dan sebentar lagi akan jadi milik orang lain," ucap Siska sambil menahan tangisnya. Dirinya terharu saat mendengar kabar tentang kisah percintaan sang kakak yang pada akhirnya akan menyatu juga, Siska kembali teringat dengan seorang pria yang pernah mengisi hatinya di saat dirinya sedang terpuruk akibat sahabat yang telah tega menjerumuskannya ke dalam lingkaran hitam dunia malam.
Pria yang awalnya selalu dia tunggu di saat liburan tiba, pria yang selalu membuat dirinya dapat tersenyum kembali, pria yang menjadi idamannya saat dewasa kelak. Pertemuan singkat mereka namun sangat berkesan bagi Siska, apalagi pertemuan yang tidak pernah di duga itu menimbulkan benih-benih cinta di dalam dirinya.
"Kenapa kamu Sis?" tanya Andini saat melihat sang adik yang melamun sambil memperhatikan dirinya.
"Aku tidak menyangka jika Kakak aku akan secepat ini dewasanya, aku berharap suatu saat bisa mendapatkan kebahagiaan yang sama seperti Kakak," pinta Siska di depan Andini. Seluruh keluarga tidak mengetahui apa yang terjadi dengan dirinya, Siska sekuat tenaga mencoba menyembunyikan permasalahan yang sedang dirinya hadapi.
Reza yang telah siap segera bergegas menuju rumah Andini, pria itu tidak sabar ingin menjadikan Andini miliknya lagi. "Duh calon kita sudah tidak sabar sepertinya," ledek Dika saat melihat Reza berjalan dengan terburu-buru ke dalam mobil miliknya.
"Kok jadi kayak supir ya," ucap Dika sambil memutar matanya malas. Fahmi dan Rian yang juga ikut bersama dengan mereka tertawa mendengar perdebatan antara Reza dan Dika, dirinya merasa bahagia bisa berada di tengah-tengah mereka.
"Kenapa kamu diam saja Yan, gabung saja tidak usah takut atau malu. Karena memang kita itu malu-maluin," tutur Fahmi yang tertawa tiada henti-hentinya. Dirinya mengetahui jika Reza sedang gugup saat ini, "Tidak usah tegang seperti itu," godanya.
Waktu yang di butuhkan untuk menuju rumah Andini tidaklag lama, hingga sekarang mereka telah tiba di depan rumah minimalis itu.
"Bismillah," ucap Reza saat mulai memasuki rumah Andini. Di sana terlihat keluarga besar Andini sudah berkumpul dan tak luput pula keberadaan sang kakak dari gadis itu.
__ADS_1
"Selamat datang Reza beserta keluarga, apakah acaranya dapat kita mulai?" tanya Raditya. Dirinya di tunjuk oleh keluarga besar untuk menjadi pembawa acara, Raditya tidak dapat menolak apalagi ini acara salah satu adik kesayangannya.
Satu persatu acara lamaran untuk Andini sudah mereka lalui, sekarang mereka mulai mencari tanggal yang bagus untuk acara pernikahan nanti. Reza terlihat tidak sabar ingin melihat wajah Andini, "Andini kemana ya? Dari tadi aku tidak lihat," bisik Fahmi yang duduk bersebelahan dengan Reza.
"Kok jadi kamu yang tidak sabar," ujar Reza yang merasa tidak suka saat orang lain mencari pujaan hatinya itu.
"Kan cuma tanya saja Za, tidak usah marah seperti itu juga kali," tutur Fahmi yang sebenarnya merasa geli dengan ulah pria di hadapannya itu.
Tak butuh waktu lama Andini perlahan menuruni tangga rumahnya, dengan senyum manis yang terus terpancar dari wajahnya Andini terlihat begitu anggun dengan kebaya bercorak bunga itu.
Rian sekilas melihat gadis yang berjalan dengan Andini, dirinya mencoba mengingat siapa gadis itu. Rian merasa tidak asing dengan gadis yang sekarang duduk di sebelah Andini, Rian mengingat kembali saat dirinya menolong seorang gadis yang sedang di perebutkan oleh lelaki hidung belang.
"Seperti gadis itu," gumam Rian saat matanya terus memperhatikan wajah Siska yang terus menerus berputar di pikirannya. Rian mengingat kembali kenangan saat bertemu dengan gadis itu tanpa sengaja, dirinya merasa kasihan saat melihat Siska dengan terang-terangan di jual oleh sahabat lelakinya.
Acara dapat berjalan dengan lancar, Reza merasa lega setelah mendengar jawaban Andini yang menerima dirinya. Mereka mulai menyantap makanan yang tersedia di sana, saat Siska akan mengambil kue yang ada di dekatnya tak sengaja tangannya menyentuh tangan seorang pria. Siska meminta maaf dan dirinya terkejut saat melihat wajah pria di hadapannya, "Kamu?" ucapnya. "Kenapa kamu ada di sini?" tanya Siska yang merasa heran kenapa pria yang selama ini dia cari sekarang berada di depannya.
"Aku sahabat Reza, kamu sendiri kenapa berada di sini?" tanya Rian yang penasaran karena melihat kedekatan antara Andini dan gadis itu.
Andini yang haus pergi menuju meja yang ada di sebelah sang adik, "Sedang apa kamu Sis?" tanya Andini saat melihat adik kecilnya itu berbicara dengan bos sekaligus sahabat dekatnya.
"Ini Kak .... " Siska terlihat bingung ingin menjawab apa dengan Kakaknya itu.
"Tadi aku sedang bertanya siapa gadis ini, karena aku tidak pernah melihatnya di rumahmu," jelas Rian yang memang penasaran kenapa ada gadis itu di sana. Karena setahu dirinya gadis itu berasa di Bogor dan kenapa sekarang berada di sini.
__ADS_1
"Dia adik perempuanku," ucap Andini yang memperkenalkan gadis di sampingnya itu.
"Adik kamu?" ujar Rian yang terkejut saat mendengar pernyataan dan kenyataan yang ada di depannya. "Kenapa dia bisa seperti itu dahulu," pikir Rian dalam hati. Dirinya kembali terbayang akan kejadian beberapa tahun lalu, dirinya selalu berharap melihat gadis itu kembali hingga doanya terkabul pada hari ini.