MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 80 MENYUSUN RENCANA 2


__ADS_3

Andini bergegas menuju cafe di mana Bela dan Yani sudah menunggunya, tak butuh waktu lama untuk tiba di tempat itu. "Kalau bukan karena Kak Raditya aku sudah dari tadi sampai," gerutu Andini. Gadis itu mengomel sendiri sepanjang jalan, karena ulah sang kakak yang mencoba menggagalkan semua rencananya.


"Maaf telat ya," ucap Andini saat melihat sang sahabat sedang duduk berdua.


"Dari mana saja kamu Din? Kok baru tiba?" tanya Bela saat melihat gadis itu langsung duduk di sebelahnya. Tanpa basa-basi Andini langsung meminum minuman yang berada di depannya, "Minuman aku kok di minum Din?" keluh Yani yang minumannya di minum oleh gadis itu.


"Haus aku Yan, lagian aku tidak di pesankan minum," sahut Andini yang tidak mau di salahkan.


"Yakin mau di pesankan? Lupa kejadian waktu itu?" tanya Bela yang mengingatkan Andini tentang kejadian beberapa bulan lalu saat dirinya juga bertemu dengan para sahabatnya.


"Ya maaf," kekeh Andini sambil menggaruk tengkuknya yang tidak gatal itu.


"Pesan lagi ya, tapi jangan marah sama aku," mohon Andini sambil melihat wajah Bela dan Yani satu persatu.


Andini memesan beberapa minuman serta makanan untuk menebus rasa bersalahnya, "Sudah dong jangan marah lagi," bujuk Andini.


Bela dan Yani tidak dapat menahan lagi tawanya, Andini merasa heran dengan kedua sahabatnya yang malah tertawa itu.


"Aku tadi becanda Andini sayang, tapi tidak apa-apa lumayan makan gratis kapan lagi," kekeh Bela. Andini yang geram langsung melemparkan sahabatnya itu menggunakan tisu yang ada di hadapannya, "Bagus ya kalian," ucap Andini. Yani hanya bisa tersenyum melihat kelakuan para sahabatnya itu, "Eh iya Meli kemana ya? Aku coba telpon nomornya tidak bisa," tanya Andini di sela-sela menunggu hidangan yang sudah di pesannya.


"Aku juga tidak tahu dia kemana, terakhir dia chat aku katanya pindah ke luar kota," jelas Bela mengingat kapan terakhir kali sahabat satunya itu menghubungi.


"Kok tidak bilang ya kalau pindah keluar kota, nanti aku coba tanya Kak Reza," usul Andini yang akan menanyakannya kepada sang suami karena bagaimanapun mereka adalah sepupu dan rekan kerja. Tak berselang lama, pelayan cafe itu tiba dengan makanan pesanan mereka.


"Makan dahulu yuk, lapar nih," saran Yani yang sudah tidak tahan melihat makanan di depannya. Mereka bertiga menyantap makanannya terlebih dahulu, barulah membicarakan tentang rencana untuk ulang tahun Raditya.


"Menurut kalian ide aku bagus tidak?" tanya Andini setelah selesai memakan makanannya.

__ADS_1


"Ide yang kamu bilang di grup itu ya?" potong Bela, Andini menganggukkan kepalanya.


Andini meminum minuman miliknya sambil berkata, "Kira-kira apa saja ya yang di butuhkan untuk acara itu?".


Andini berpikir sejenak, gadis itu belum mendapatkan ide yang bagus agar berkesan nantinya. "Aku punya ide," teriak Andini yang membuat kedua sahabat di depannya itu terkejut.


"Apa-apaan kamu Din, buat kaget saja," gerutu Yani yang paling terkejut apalagi dirinya sedang menerima pesan dari sang kekasih Fahmi.


Andini hanya terkekeh saat melihat kedua sahabat itu mengomeli dirinya, "Maaf ya cantiknya aku," puji Andini. Gadis itu memuji kedua sahabatnya agar tidak marah dan mau membantunya, "Memang kamu punya ide apa?" Bela buka suara setelah izin pergi ke toilet tadi.


Andini menjelaskan semua idenya, termasuk


ide mengundang semua mantan kakaknya terutama Clara. Andini tahu jika sang kakak masih sangat mencintai mantannya yang bernama Clara, apalagi perpisahan mereka itu adalah kehendak kedua orang tua gadis itu.


"Kamu tidak sedang gila kan Din?" tuduh Yani. Gadis itu menggelengkan kepalanya, "Aku ingin lihat bagaimana perasaan Lucy terhadap Kak Raditya," ujar Andini sambil membayangkan wajah Lucy yang sedang cemburu kepada sang kakak.


"Kamu tahu sendiri Din, Clara sudah tidak bersama dengan suaminya lagi tidak menutup kemungkinan Kak Raditya akan kembali padanya. Lalu bagaimana dengan Lucy? katamu gadis itu sedanga Kak Raditya dekati," protes Bela yang tidak setuju dengan ide sahabatnya itu.


"Kamu yakin dengan ide ini Din? Ini semua mantan Kak Raditya di undang loh," tegur Yani yang juga tidak setuju dengan idenya.


"Ulang tahun Kak Raditya masih dua bulan lagi jadi kita bisa susun rencana hingga matang, bagaimana kalau minggu ini kita kumpul bersama para cowok juga," usul Andini mengajak para sahabatnya untuk kumpul kembali.


"Boleh juga sekalian kita cari tahu tentang Meli dan Beni ya Din," pinta Bela.


Sudah beberapa Minggu ini mereka tidak mendapatkan kabar tentang Meli, apalagi setau mereka Meli sedang hamil. "Nanti aku tanya sama Kak Reza ya, siapa tahu dia masih suka bertemu dengan Beni," ucapnya.


"Kalau gitu aku pamit dahulu ya, takut di cariin Kak Raditya kalau terlalu lama," pamit Andini.

__ADS_1


"Iya aku juga harus kembali, takut bos ngomel istirahat kelamaan," kekeh Bela yang juga bekerja di perusahaan tak jauh dari perusahaan keluarga Andini.


"Kalian sih tidak mau ikut bekerja denganku, kan kalau satu perusahaan seru kali ya," cakap Andini sambil membayangkan jika dirinya dan para sahabat kesayangannya bekerja di satu perusahaan yang sama.


Bela dan Yani tertawa dengan angan-angan sahabatnya yang satu itu, "Iya kalau kita kerja di perusahaan kamu nanti kamu gaji kita suka-suka," tuduh Yani dengan tidak sungguh-sungguh.


Andini memanyunkan bibirnya, "Aku tidak setega itu ya sama kalian, paling kalian aku suruh kerja jadi OB," ujar Andini yang langsung tertawa melihat muka kedua sahabatnya.


"Eh tunggu dahulu, aku mau pesankan makanan untuk Kak Raditya," lanjut Andini yang memanggil pelayan di cafe itu. Gadis itu memesan beberapa makanan dan minuman untuknya dan sang kakak, Bela dan Yani hanya menatap aneh dengan sikap Andini.


"Banyak banget pesannya Din? Kamu memang belum kenyang?" tanya Bela penasaran, karena setahu dirinya Andini adalah gadis yang sangat menjaga berat badannya.


Andini menggelengkan kepalanya dan berkata, "Buat temani aku bekerja nanti," kekeh Andini. Tak butuh waktu lama, makanan pesanan Andini tiba dan mereka bergegas pergi menuju kantor masing-masing untuk melanjutkan pekerjaannya.


"Nih Kak makan siangnya," ucap Andini sambil memberikan bungkusan yang berisi makanan untuk sang kakak. Raditya sejenak melirik bungkusan itu sebelum kembali fokus terhadap laptop di depannya, "Taruh di meja dahulu sebentar lagi selesai," perintah Raditya.


"Aku kembali ke ruangan ya Kak," pamit Andini. Gadis itu berjalan menuju meja untuk menaruh makanan sang kakak lebih dahulu, baru dirinya pergi ke ruangan yang berada di sebelah ruangan milik sang kakak.


"Ah kenapa lapar lagi," ucap Andini yang baru saja masuk ke dalam ruangan miliknya. Dia mulai membuka satu persatu makanan yang di bawanya tadi, "Sepertinya ini enak," ucapnya.


Tak berselang lama dering ponsel membuat acara makannya terhenti sejenak, Andini segera melihat siapa orang yang sudah mengganggu acara makannya. Andini yang semula akan mengomel segera mengurungkan niatnya, "Iya sayang ada apa?" tanya Andini saat melihat panggilan masuk dari sang suami.


"Kamu sudah makan sayang?" tanya balik Reza, Andini menganggukkan kepalanya yang tak terlihat oleh Reza, "Sudah ini lagi sambil nyemil," jawab Andini yang terkekeh saat sang suami mengejeknya dari ujung sana.


"Terus saja ledek," ujar Andini yang tidak terima terus menerus di goda oleh sang suami. "Maaf sayang, jangan marah ya sama aku," pinta Reza. Andini mengiyakan permintaan maaf Reza, karena dirinya sedang enggan berdebat dengan sang suami. Entah mengapa gadis itu merasa ingin selalu dekat dengan Reza, "Nanti jangan sampai telat ya jemputnya," rengek Andini.


"Iya nanti selesai urusan di sini, aku langsung jemput kamu," jawab Reza yang sedang bertemu dengan salah satu kliennya di luar kantor. Setelah merasa cukup, mereka mengakhiri sambungan teleponnya dan mulai bekerja kembali.

__ADS_1


Jangan lupa like, komen, rate dan vote nya ya.


Mampir juga di ceritaku yang lainnya dengan cara klik profil aku, dan berikan juga jempol kalian di sana. Happy reading guys


__ADS_2