MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
EXTRA CHAPTER 7 KEPERGIAN BELA


__ADS_3

Reyna langsung memeluk tubuh mungil gadis yang terus menangis dihadapannya itu, "Sabar Bel." Dia mencoba untuk menenangkan Bela yang terlihat sangat menyedihkan.


"Apa salahku Rey? Kenapa dia tega ngelakuin itu sama aku?" sesak Bela saat mengingat apa yang di lihatnya tadi.


Reyna melepas pelukannya dan mencoba menenangkan gadis di depannya, "Kamu tidak salah Bel."


Bela masih terus menangis, Reyna yang berada di depannya bingung harus berbuat apalagi.


"Tenangin dirimu dahulu, atau kamu mau pulang saja?" tanya Reyna yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Bela.


Reyna pamit untuk pergi ke ruang HRD, dia ingin meminta izin agar Bela dapat beristirahat sejenak di rumah. Gadis itu tidak tega setelah mendengar cerita teman sekaligus sahabatnya di kantor, memang mereka baru beberapa bulan kenal namun terasa sudah seperti sudah mengenal lama.


Setelah meminta surat izin dari bagian HRD, Reyna kembali keruangannya.


"Ini Bel, kamu langsung pulang saja." Reyna menyerahkan surat izin yang baru di pintanya. Dengan perlahan Bela mengambil surat yang berada di tangan Reyna sambil menyeka air matanya, gadis itu segera merapikan barang miliknya da n bergegas pulang.


Reyna dengan setia mengantarkan Bela sampai luar gedung, tidak ada yang mengetahui apa yang terjadi dengannya sebab Bela hanya tertunduk ketika berjalan.


"Terima kasih ya Rey, kamu memang sahabat terbaikku di kantor dan kamu percaya kan dengan ceritaku?" tanya Bela sambil menggenggam kedua tangan gadis yang telah di anggap sahabat baiknya.


"Apapun yang terjadi kamu harus tetap kuat, buktikan bahwa kamu layak untuk di cintai jangan mau kalah dengan masa lalu." Reyna memberi semangat agar gadis itu tidak terpuruk semakin dalam.


Bela hanya menganggukkan kepalanya pelan, rasanya dia tidak punya tenaga hari ini. Bela merasakan paruh jiwanya entah kemana, namun saat Bela memasuki mobilnya dia langsung mematikan ponsel dan berlalu meninggalkan tempatnya bekerja.


Sudah dua hari Bela tidak menghubungi Dika, pria itu juga tidak mencoba mencari tahu keberadaan sang kekasih. Dua hari pula Dika mulai menjauh dari Rere, dia ingin mengetahui siapa yang sebenarnya ada di hatinya saat ini.


Bela datang dengan perasaan sedikit lebih baik setelah izin cuti selama dua hari, gadis itu berjalan menuju ruangannya.

__ADS_1


"Bela," teriak Reyna saat melihat sahabatnya mulai masuk ke dalam ruangan.


Bela memutar bola matanya saat mendengar ucapan gadis di depannya, "Kangen kamu Bel."


"Kangen di traktir makan?" goda Bela.


Reyna terkekeh, "Kok tahu."


Bela tidak memperdulikan ucapan sahabatnya kembali, dia langsung mendudukan dirinya. Sambil perlahan Bela mulai mengerjakan pekerjaannya yang tertunda selama dua hari ini, dengan seksama gadis itu mengecek email yang masuk ke dalam akun miliknya.


"What?" teriak Bela yang langsung di hampiri oleh Reyna.


"Kenapa Bel? Ada apa?" tanya Reyna bingung sebab mendengar Bela berteriak histeris.


"Aku mau menghadap Pak Rian dahulu Rey," izin Bela langsung berlalu meninggalkan Reyna yang masih mematung di tempatnya.


"Permis Pak," ucap Bela setelah mengetuk pintu ruangan Rian. Terdengar suara sahutan yang menyuruhnya untuk masuk ke dalam sana, Bela perlahan membuka pintu ruangan di depannya.


"Maaf Pak saya mengganggu," Bela sedikit takut saat ingin bertanya.


"Kantor di sana sedang membutuhkan tenaga handal dan saya percaya kamu mampu," jelas Rian.


Bela memang sudah setahun ini bekerja di perusahaan Rian, Andini yang telah merekomendasikan gadis itu untuk bekerja di sana. Selama Bela berada di perusahaan Rian dia sangat berpotensi dan dapat bekerja dengan baik, itu membuat Rian percaya jika Bela bisa di andalkan untuk anak perusahaan miliknya yang berada di luar kota.


Bela sedikit tersanjung dengan ucapan Rian, dia tidak merasa seperti apa yang di bicarakan sang bos.


"Bapak yakin dengan kemampuan saya? Saya takut jika mengecewakan perusahaan ini kedepannya." Bela mencoba memberikan alasan agar bosnya itu berubah pikiran, dia tidak ingin menjadi bahan pembicaraan karyawan lain karena mendapat perlakuan berbeda.

__ADS_1


"Saya percaya dengan kamu, jadi saya mohon kamu mau untuk mengambil tugas ini." Rian mencoba meyakinkan Bela dengan penawaran yang tidak akan datang dua kali itu.


Bela mau tidak mau menyetujui permintaan bosnya, mungkin ini salah satu untuk membuatnya dapat melupakan masalah yang sedang terjadi. Dengan langkah pelan Bela kembali menuju ruangannya, dia akan membereskan semua barang-barang miliknya sebab besok sudah harus berangkat menuju kantor barunya.


"Kamu mau kemana Bel?" tanya Reyna yang baru kembali dari kamar mandi.


Reyna menatap heran Bela yang sedang merapikan barang miliknya, hingga gadis itu berteriak dan membuat Bela terkejut.


"Astaga Bela, jangan bilang kalau kamu di pecat oleh Pak bos?" tanya Reyna.


Bela menggelengkan kepalanya saat mendengar pertanyaan sahabatnya itu, setelah selesai Bela mengajak Reyna untuk makan siang bersama.


"Aku di pindah tugas ke luar kota oleh bos mulai besok," ucap Bela santai sambil memakan makanan miliknya.


Reyna tersedak saat mendengar penuturan Bela jika dirinya harus pergi untuk waktu yang lama, "Jadi kamu bakal meninggalkan aku di sini sendiri?" tanya Reyna dengan sedikit sedih sebab hanya dia yang mau berteman dengannya.


"Maafkan aku Rey, ini tugas dan aku harus menjalankannya. Tadi juga aku sempat menolak namun mungkin memang ini jalan satu-satunya agar aku bisa melupakan masalahku dengannya," ujar Bela dengan wajah yang berubah menjadi sedih.


Reyna langsung memeluk Bela, "Aku berdoa semoga kamu baik-baik di sana dan semua masalah kamu cepat selesai." Reyna kembali mengajak Bela untuk menghabiskan makanannya dan kembali ke kantor, berat rasa hati Reyna namun sebisa mungkin dia menutupi semuanya.


"Aku berharap kamu mendapatkan yang terbaik nantinya," gumam Reyna dalam hati.


Dika mulai merasakan perasaan rindu saat beberapa hari ini tidak mendapatkan pesan maupun telepon dari Bela, awalnya dia masa bodo dengan semua itu namun perasaannya kian hari makin kacau apalagi Rere terus saja menghubungi dirinya. Entah mengapa perasaannya terhadap Rere semakin memudar dan dia mulai melihat sisi lain dari gadis itu, ternyata Rere yang dahulu berbeda dengan Rere yang sekarang itu membuat penyesalan dalam hati Dika karena telah mengabaikan gadis sebaik Bela.


"Aku rindu kamu Bel, apa kamu tidak rindu padaku?" tanya Dika dalam hati. Pria itu mulai mengambil ponsel miliknya dan mencoba menghubungi gadis yang beberapa hari mulai mengisi pikirannya, tidak ada jawaban bahkan nomor Bela selalu di luar jangkauan itu membuat Dika bertanya dalam hati.


"Kemana kamu? Kenapa tidak bisa di hubungi ya? Apa aku coba datang ke tempat Rian saja." Dika mulai tidak sabar sebab sudah beberapa kali dirinya mencoba menghubungi Bela namun selalu gagal, dia tidak tahu jika Bela telah mengganti nomor ponselnya dan pergi keluar kota mengikuti tugas yang diberikan oleh sang bos.

__ADS_1


SAYANGI DIA YANG SEKARANG MENJADI MILIKMU, KARENA SUATU SAAT DIA AKAN PERGI MENINGGALKANMU KETIKA RASA YANG DI BERI TIDAK KAMU BALAS SEMESTINYA


__ADS_2