MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 96 RENCANA BULAN MADU 2


__ADS_3

Raditya yang merasa bosan pergi ke sebuah mall seorang diri, tanpa sengaja dirinya bertemu Lucy di salah satu cafe saat pemuda itu ingin meminum kopi di sana.


"Lucy," sapa Raditya yang langsung menghampiri gadis itu. Lucy yang sedang memilih minuman terkejut saat melihat Raditya berada di depannya, dengan malu-malu Lucy membalas sapaan Raditya.


"Hai Pak Raditya," ucap Lucy lembut. Raditya memicingkan matanya, saat gadis yang di sapanya memanggil bapak padahal mereka sedang tidak di lingkungan kantor.


"Bisa tidak jika di luar kantor jangan panggil aku Bapak, kamu bisa panggil aku nama atau jika tidak nyaman kamu bisa panggil mas," usulnya. Lucy terlonjak kaget mendengar pernyataan Raditya, bukan dia tidak ingin memanggil namanya saja akan tetapi, Lucy merasa tidak enak jika harus memanggilnya seperti itu.


"Biar bagaimanapun Bapak itu teman bos saya, mana bisa saya panggil nama atau mas," Lucy menjelaskan posisinya saat ini.


"Okeh, bagaimana kalau kita berteman? Berteman tidak perlu melihat jabatan atau kedudukan bukan?" tawar Raditya. Pemuda itu sedang berusaha untuk mendapatkan hati Lucy, rasa yang pernah ada untuk Clara perlahan-lahan pudar dan tergantikan oleh sosok Lucy.


Lucy mengangguk pasrah saat pemuda di depannya tetap pada pendiriannya, "Baik Pak, eh maksud saya mas," ucap Lucy malu.


Ini adalah pengalaman pertama bagi Lucy di dekati oleh seorang pria, karena dari dahulu Lucy selalu menjaga jarak dengan yang namanya pria. Lucy merasakan ada yang berbeda dengan Raditya, pria itu tidak seperti para pria yang mencoba mendekatinya.


"Ah sampai lupa aku, kamu datang bersama siapa?" Raditya melihat sekeliling apakah ada seseorang yang datang bersama Lucy.


Lucy menggelengkan kepalanya, "Aku datang sendiri, tadi habis belanja keperluan rumah lalu mampir sebentar ke sini. Ini kafe milik temanku Milly," jelas Lucy. "Boleh aku duduk di sini?" tanya Raditya. "Bukankah dari tadi mas duduk di situ ya?" sindir Lucy, karena setahu dirinya dari awal datang hingga saat ini Raditya duduk di tempatnya berada. Raditya menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, "Aku lupa," kekehnya.

__ADS_1


Tidak berselang lama seorang wanita menghampiri meja mereka berdua, "Maaf ya aku baru datang tadi ada laporan yang harus aku periksa dahulu," ucap seorang gadis yang tiba-tiba datang. "Tidak masalah untuk owner seperti kamu pasti sangat sibuk," goda Lucy. Kedua mata Milly menatap heran dengan sahabatnya, "Siapa dia Lucy?" tanya Milly.


Lucy memukul keningnya pelan, "Aku lupa ... Milly kenalkan ini Raditya, mas Raditya ini Milly sahabat sekaligus owner di cafe ini," ucap Lucy memperkenalkan sahabat kepada teman bosnya itu.


"Sejak kapan sahabatku ini dekat dengan pria tampan dan manis seperti ini?" ledek Milly. Lucy yang mendengar ucapan Milly membelalakkan matanya, "Apa sih Mill, mas Raditya itu temannya bos aku Pak Rian," Lucy mencoba menjelaskan kepada sahabatnya siapa Raditya sebenarnya.


"Memang aku bilang apa? Bagus dong kalau kamu bisa dekat dengan pria, lagi pula dia terlihat baik," bisik Milly. Lucy tidak habis pikir dengan isi kepala dari wanita di sebelahnya itu, "Terserah kamu Mill," ucap Lucy pasrah.


Milly tekekeh melihat sahabatnya yang sedang merajuk itu, "Maaf aku terlalu sibuk dengan Milly hingga mengabaikan kamu mas," ujar Lucy malu.


Gadis itu malu saat melihat Milly yang tertawa saat mendengar dirinya memanggil pria di depannya dengan sebutan mas, Milly menyikut lengan Lucy. "Sepertinya kalian cocok," bisik Milly lagi.


"Maaf ya telat guys," ucap Meli yang langsung duduk di sebelah Bela.


"Aduh bumil kita terlihat lebih seksi dengan badan seperti ini, betul kan Yan?" tanya Bela sambil mengelus-elus perut Meli yang sudah semakin membesar. Kandungan Meli sudah memasuki usia tujuh bulan dan saatnya untuk mereka mulai membantu sahabatnya itu bersiap-siap untuk kelahiran sang buah hati l, Andini yang melihat itu sedikit iri dengan sahabatnya mengingat dirinya menikah tidak lama dari pernikahan Meli.


"Nanti sore aku mau berangkat ke luar kota, apa ada yang mau ikut?" tanya Andini sambil memakan kentang goreng pesanannya. Bela dan Yani menggelengkan kepalanya, mereka sudah tahu maksud dari Reza yang mengajak Andini berlibur ke luar kota. Awalnya Reza ingin membawa Andini untuk berlibur ke luar negeri akan tetapi, pekerjaan Reza untuk satu bulan ini sangatlah padat. Reza meminta pendapat kepada sahabatnya Fahmi dan Dika, mereka berdua mengusulkan jika mengajak Andini pergi berlibur sekaligus menjalankan pekerjaan yang memang sudah di atur waktunya.


"Tidak terima kasih, tugas kantor aku juga banyak Din," ucap Bela.

__ADS_1


"Aku juga, jadwal mengajar padat," sambung Yani.


Andini menghela nafasnya, "Tidak mungkin ibu hamil yang aku ajak," ucapnya lesu. Yani dan Bela hanya bisa tertawa melihat tingkah laku Andini, "Kan sekalian bisa jalan-jalan Din," usul Meli.


"Kalian kenapa sih tidak mau ikut, kan nanti kalau Kak Reza meeting aku punya teman di sana," rajuk Andini. Wanita itu terus saja memohon agar para sahabatnya ikut pergi bersamanya, "Andini sayang, kan kalian belum pernah yang namanya bulan madu jadi kenapa tidak sekalian saja kalian bulan madu disana, siapa tahu nanti pulang dari sana kamu dapat hadiah," ujar Meli yang langsung mendapat tendangan di kakinya. Meli tidak tahu jika Reza telah menyiapkan rencana untuk bulan madu mereka yang sempat tertunda lama itu, Meli mengaduh saat merasa tendangan di kakinya.


"Awawaw," ucapnya. Andini panik saat mendengar suara rintihan sahabatnya, "Ada apa Meli? Apa yang sakit?" tanya Andini panik.


Meli yang mendapat pertanyaan dari Andini sedikit terkejut, "Ah aku tidak apa-apa Din, tadi anak di dalam perutku sedikit bergerak," bohong Meli. Bela dan Yani menahan tawanya, mereka berdua hanya menggelengkan kepalanya saat Meli menatapnya.


Ponsel milik Andini berdering, satu pesan masuk ke dalamnya. Andini segera membukanya, "Siapa yang kirim pesan?" tanya Bela sambil meminum minuman miliknya.


"Kak Reza, kata suruh aku cepat pulang kan sebentar lagi kita berangkat takut kecapaian nanti," jelas Andini. Wanita itu pamit kepada sahabatnya untuk pulang lebih dahulu, "Aku pulang duluan ya, sampai jumpa nanti," pamit Andini. Wanita itu segera meninggalkan kafe dimana dirinya dan para sahabatnya berkumpul, Meli menatap Bela dan Yani satu persatu.


"Tadi kenapa kaki aku di tendang sih," gerutu Meli yang tidak terima atas perlakuan dua sahabatnya itu.


Bela meminta maaf atas perlakuannya tadi, "Maaf Mel, aku tidak berniat seperti itu hanya saja tadi kamu hampir membocorkan rencana yang sudah di bangun Reza," jelas Bela.


Segini dulu ya ceritanya, mohon minta like, komen, rate dan vote nya. Terima kasih telah berkenan meluangkan waktunya.

__ADS_1


__ADS_2