
Siska yang duduk bersebelahan dengan Riri terkejut saat melihat pria tadi, "Itukan?" ucapnya. Riri yang mendengar ucapan Siska bertanya, "Kenapa Sis?" tanya Riri.
Riri mengedarkan pandangannya mengikuti arah mata teman barunya itu, "Oh ... Itu namanya Rizal, dia salah satu model di sekolah ini," sambung Riri yang sepertinya mengerti maksud dari gadis itu.
Siska menatap temannya itu dengan bingung, "Model?" tanyanya. Riri menjelaskan jika Rizal adalah salah satu model di majalah ternama, pria itu juga menjadi rajanya di sekolah tersebut.
"Hati-hati dengan dia, dari gosip yang aku dengar dia itu suka menjual gadis untuk di jadikan model majalah ...," terang Riri. Gadis itu memang mengetahui masalah yang terjadi karena dia adalah salah satu korban dari Rizal, tapi apalah daya dirinya hanya gadis kampung biasa dan tidak bisa berbuat apa-apa.
Rizal tidak sengaja melihat kedua mata Siska yang juga sedang melihat ke arahnya, "Mangsa baru," gumamnya dengan senyum jahat khas miliknya. Rizal berjalan menghampiri Siska yang sedang asyik bercerita dengan Riri, "Hay boleh kenalan?" tanya Rizal saat sudah berada di samping tubuh Siska.
Siska memutar tubuhnya mencari sumber suara itu, "Ngapain ngajak kenalan?" tanya Riri dengan nada sinisnya. Semenjak kejadian itu Riri sangat membenci Rizal, dia tidak akan membiarkan siapapun menjadi korban berikutnya. Siska memegang kedua tangan Riri, gadis itu memberi isyarat jika dirinya akan baik-baik saja.
"Siska," ucap Siska. Rizal yang merasa perkenalannya mendapatkan sambutan segera ikut memperkenalkan dirinya, "Rizal."
"Kalau butuh bantuan boleh minta tolong sama aku," ucap Rizal. Pemuda itu berlalu meninggalkan Siska dan Riri di mejanya, Riri mencoba memperingatkan Siska, "Hati-hati Sis."
Tak berselang lama seorang pria paruh baya memasuki kelas, "Selamat pagi anak-anak," ucapnya. "Ada anak baru ya di sini?" tanya pria itu. "Ada Pak," jawab seluruh murid yang berada di kelas.
"Boleh perkenalkan dirimu dahulu?" perintahnya, Siska segera bangun dari duduknya dan berjalan menuju depan kelas.
"Perkenalkan nama saya Siska Cahaya Putri, panggil saja Siska. Saya baru pindah dari Jakarta," tutur Siska yang memperkenalkan dirinya itu. Banyak sorak dari teman-teman di depannya, "Jadi pacarku yuk Sis," ucap salah satu murid. Murid-murid yang lain hanya menyoraki pemuda itu, "Apa-apa," ucapnya lagi.
"Sudah-sudah, Siska silakan kamu kembali duduk. Sekarang buka buku matematikanya," ucap pria paruh baya itu yang ternyata adalah seorang guru matematika. Mereka semua memperhatikan sang guru dengan seksama, Siska melihat Riri sangat pandai dalam menjawab soal-soal yang di berikan gurunya.
"Kamu jago matematika ya Ri?" tanya Siska yang penasaran karena dari tadi dirinya melihat Riri dengan mudahnya menjawab semua pernyataan yang ada. Riri membantu Siska dalam pelajaran hari ini, dirinya beruntung bisa berteman baik dengan gadis di sebelahnya itu.
__ADS_1
Siska mendapatkan banyak bantuan dari Riri, "Kalau ada apa-apa silakan kamu tanya aku," ucap Riri saat guru matematika sudah keluar dari dalam kelas. "Terima kasih ya Ri," ucap Siska. Dirinya merasa terbantu duduk di sebelah Riri, karena Siska memang kurang pandai dalam pelajaran matematika.
Jam istirahat berbunyi Riri mengajak Siska pergi ke kantin, "Sis makan siang dulu yuk, aku lapar nih," ucap Riri. Siska merapikan buku-buku yang berada di atas mejanya, setelah selesai dia segera bangkit dari tempat duduknya.
"Yuk," ajak Siska.
Riri dan Siska berjalan menuju kanti dengan santainya, tanpa mereka sadari seseorang sedang menatapnya dengan tatapan yang tajam. "Tunggu tanggal mainnya," ucap orang itu.
Jam pulang sekolah tiba seluruh murid bersiap untuk menuju ke rumah masing-masing, "Kamu pulang sama siapa Sis?" tanya Riri sambil berjalan di koridor sekolah.
"Aku jalan saja sendiri, tidak jauh kok dari sini," jawab Siska.
Riri melanjutkan perjalanannya, "Sampai jumpa besok Sis," ujar Riri yang berlalu menaiki angkutan umum di depan sekolahnya. Siska berjalan seorang diri menuju rumah sang nenek , tanpa sepengetahuan dirinya Rizal mengikuti dari belakang.
Rizal berpura-pura jika dirinya juga melewati jalan yang sama, "Siska," sapanya. "Kok jalan sendiri, memang rumahmu di mana?" tanya Rizal berbasa-basi.
"Mau aku antar?" ajak Rizal, Siska menggelengkan kepalanya. "Tidak usah sudah hampir sampai kok," tolaknya.
"Baiklah kalau begitu aku duluan ya," ucap Rizal meninggalkan Siska berjalan seorang diri. "Sebenarnya ada apa ya dengan Rizal," gumam Siska yang terus memikirkan ucapan dari Riri tadi pagi. Gadis itu sungguh di buat penasaran dengan siapa sebenarnya Rizal itu, tak terasa Siska tiba di rumah sang nenek.
"Assalamualaikum," salam Siska saat memasuki rumah neneknya.
"Waalaikumsalam," jawab ibu yang baru keluar dari dalam kamarnya. "Sudah pulang sayang," sambung Maya yang berjalan ke arah anak bungsunya itu. Maya selalu menganggap Siska seperti anaknya sendiri, wanita itu tidak pernah membedakan mana anak kandungnya dan mana anak tirinya.
"Sudah Bu, aku ganti baju dulu ya," ujar Siska setelah menyalami tangan sang ibu. Siska berjalan menuju kamarnya, di sana terlihat Andini yang sedang merapikan bajunya.
__ADS_1
"Mau kemana Kak? Kok di bereskan?" tanya Siska heran.
"Besok Kakak harus pulang ke Jakarta, kan sudah selesai liburannya," ucap Andini. Sekilas nampak wajah kecewa Siska, "Tidak bisa lebih lama lagi Kak?" rengek Siska. Andini menghentikan aktivitasnya, gadis itu menatap wajah sang adik dan akan mencoba memberikan pengertian kepadanya.
"Kan kamu yang ingin tinggal di sini, terus kenapa sekarang kamu sedih?" tanya Andini pelan. Sesaat Siska terdiam mendengar pernyataan kakaknya itu, memang ini pilihannya dan tidak mungkin dia membatalkannya.
"Maaf Kak," ucapnya.
"Kalau memang kamu mau ikut ke Jakarta lagi ,ayo," ajak Andini.
Siska menggelengkan kepalanya, "Tidak Kak, aku mau di sini saja."
Andini kembali melanjutkan aktivitasnya, "Aku ganti baju dulu ya Kak," pamit Siska.
Andini sekilas melihat sang adik yang memasuki kamar mandi, dirinya tersentuh saat melihat wajah sedih ketika mendengar mereka akan kembali ke Jakarta.
"Ini pilihan kamu Sis, kalau saja kamu tidak memilih tinggal di sini," ucap Andini yang mendudukan dirinya di pinggir kasur.
"Sini Kak aku bantu," ujar Siska yang sudah mengganti seragam sekolahnya. Siska membantu Andini sampai pekerjaan sang kakak benar-benar selesai, "Beres," ucapnya bersamaan.
"Makan dulu yuk," ajak Andini yang merasakan lapar pada perutnya.
"Yuk Kak, aku juga sudah lapar sekali," kekeh Siska.
Mereka menuju ruang makan untuk melihat apakah ada makanan di sana, "Wah ada udang tepung," ujar Siska yang merasa bahagia saat melihat makanan kesukaannya.
__ADS_1
"Sudah makan dahulu Ibu sengaja masak makanan kesukaan kalian semua," pinta Maya yang juga membuatkan makanan kesukaan Andini dan juga Raditya.
Jangan lupa like, komen, rate dan vote nya ya. Terima kasih sudah berkenan mampir, mohon maaf jika masih banyak kesalahan dalam penulisan.