
Clara menggigit bibir bawahnya saat gadis itu berada di depan pintu rumah Bayu, perasaan gugup masih menghantui dirinya. Setelah Clara selesai bertemu dengan Raditya, gadis itu tidak dapat tidur nyenyak semalaman sehingga hari ini dia langsung bergegas menuju rumah Bayu.
Clara menghela nafasnya, "Mudah-mudahan bisa," gumamnya. Dengan perasaan takut Clara mencoba mengetuk pintu rumah di depannya.
Tak berselang lama seseorang yang ingin dia jumpai membukakan pintu untuknya, "Clara," ucap Bayu terkejut saat membuka pintu melihat sang kekasih sudah berdiri di sana.
"Hai Bayu, bisa kita bicara sebentar?" sapa Clara dengan perasaan takut mengingat telah mengkhianati kepercayaan yang diberikan oleh Bayu.
"Kamu mau bicara apa?" Bayu mengeryitkan dahi, apa yang ingin di bicarakan oleh kekasihnya.
"Bisakah kita bicara di dalam?" tanya Clara malu. Bayu yang menyadari kesalahannya segera mengajak Clara untuk masuk kedalam rumah, "Kamu mau minum apa?" tanya Bayu saat Clara sudah masuk dan duduk di atas sofa.
"Tidak perlu repot-repot, aku datang ke sini hanya ingin menyampaikan sesuatu," ucap Clara. Gadis itu meremas ujung roknya, dia merasa gugup dan juga bingung harus berbicara bagaimana dengan pria di depannya.
Bayu yang duduk berhadapan dengan Clara berpindah tempat di sebelah Clara, dia memegang kedua tangan Clara yang sudah mengeluarkan keringat akibat kegugupannya. "Ada apa sebenarnya? Kenapa kamu pulang tidak memberikan kabar padaku Ra?" tanya Bayu lembut. Clara merasa semakin bersalah dengan sikapnya yang mau menerima perjodohan sang ayah, Clara hanya tidak ingin di anggap durhaka sehingga mau tidak mau menyetujuinya.
"Maafkan aku," ucap Clara. Air mata yang di coba Clara pertahankan akhirnya runtuh juga, Bayu semakin di buat bingung dengan Clara yang terus-menerus menangis. Bayu menyentuh dagu Clara dan mengangkat wajahnya, "Ada apa? Kenapa menangis?" Bayu menghapus air mata di pipi Clara dengan kedua tangannya.
__ADS_1
"Maafkan aku Bay, hubungan kita harus sampai di sini," ucap Clara sambil terus menangis di hadapan Bayu.
Bayu sedikit terkejut akan ucapan Clara, dia menarik Clara agar berada di pelukannya. "Memang ada apa sehingga kita harus berpisah?" Bayu mencoba untuk menenangkan dirinya, sebisa mungkin Bayu menetralkan perasaan terkejutnya.
Clara melepas pelukan Bayu, dia mengusap air matanya dan mencoba menjelaskan yang sebenarnya terjadi. "Papah menjodohkan aku Bay," ujar Clara yang masih menahan tangisnya agar tidak kembali pecah.
"Dengan pria yang bertemu kemarin?" tanya Bayu yang langsung mendapat anggukan kepala dari Clara.
Bayu menarik nafasnya, "Aku serahkan semuanya padamu Ra, aku akan selalu dukung apapun yang menjadi pilihanmu dan aku akan selalu mencintaimu sampai kamu benar-benar bisa melupakanku," jelas Bayu. Pemuda itu menahan agar tidak menangis di depan gadis pujaannya, apakah ini yang namanya karma? Karma karena saat mendapatkan Clara dirinya tidak memperdulikan sahabat yang juga mencintai gadis yang sama.
"Kapan kamu mulai di jodohkan Ra?" tanya Bayu yang semakin penasaran.
"Perusahaan papah sudah di ambang kehancuran Bay dan yang bisa menyelamatkan hanya perusahaan Andrew, sedangkan syarat agar papah Andrew mau membantu papahku adalah menjodohkan anak mereka. Aku juga awalnya tidak setuju akan hal ini tetapi, aku bisa apa Bay?" jelas Clara sambil terus mengelap air matanya yang membanjiri wajah manisnya.
Bayu merasa tidak tega saat melihat wajah cantik Clara, gadis itu harus menanggung beban keluarga yang sangat di sayanginya. "Aku tidak apa-apa jika itu yang terbaik untuk kamu Ra, cinta itu tidak harus memiliki bukan? Aku akan bahagia jika kamu lebih bahagia," putus Bayu sambil memegang kedua pipi gadis yang sudah bukan kekasihnya lagi. "Aku harap kamu bisa bahagia Ra, orang tuamu lebih berharga dari apa yang kamu punya saat ini," sambung Bayu yang dari dalam hatinya tidak bisa melepaskan Clara.
Setelah di rasa beban yang di pikulnya telah berkurang, Clara pamit untuk kembali melanjutkan urusannya yang sempat tertunda. "Lusa aku harus kembali, jaga dirimu Bay. Semoga kamu mendapatkan kebahagiaan yang lebih dari aku," pesan Clara.
__ADS_1
Taksi yang di pesan oleh Clara telah tiba di depan rumah Bayu, terlihat dari kedua mata Clara rasa sedih yang sangat mendalam. "Bolehkah aku terakhir kali memelukmu?" tanya Bayu saat Clara sudah membuka pintu mobil taksi yang di pesannya. Clara menatap wajah Bayu dan menganggukkan kepalanya, "Jangan pernah menyesal telah mengenalku ya Bay," goda Clara yang nyaman dengan pelukan hangat dari Bayu.
"Kamu juga jangan rindu akan pelukan aku ya Ra, bagaimanapun juga kamu sudah milik orang lain," Bayu ikut meledek Clara hingga cubitan di perut mendarat dengan sempurna.
Clara melepaskan pelukannya, "Berbahagialah tanpa aku di sisimu," pesan Clara yang langsung masuk ke dalam taksi. Dia tidak ingin pertahanannya runtuh karena di hati yang paling dalam masih sangat mencintai Bayu, pemuda yang selama tiga tahun mengisi kekosongan hati dan harinya.
Clara menatap jalanan ibukota yang selalu padat, dalam hatinya terus saja memikirkan bagaimana perasaan Bayu saat ini. "Maafkan aku Bay, aku tidak niat menyakiti kamu tapi masalah keluarga membuat aku harus melakukan ini semua," ucap Clara sambil menaruh kepalanya di sandaran kursi mobil. Gadis itu mencoba memejamkan matanya sejenak tetapi, ponselnya berdering sehingga dia harus kembali membuka kedua matanya.
"Ya ada apa?" tanya Clara malas. Sang papah yang meneleponnya memberi pertanyaan kembali tanpa menjawab pertanyaan sang anak, "Sedang dimana kamu? Bukankah hari ini kamu harus mengurus surat-surat yang harus di bawa lusa?" tanya sang ayah tanpa basa-basi. Clara memutar bola matanya, "Aku sedang menuju kesana jadi tidak usah takut aku tidak kembali ke sana," ucapnya sambil mematikan panggilan dari sang papah.
Sang papah yang merasa kesal membanting ponselnya ke atas meja kerjanya, pria paruh baya itu langsung terduduk lemas dan menangkup wajahnya dengan kedua tangan. "Maafkan papah yang harus mengorbankan kamu nak," sesalnya. Clara yang masih berada di dalam mobil taksi menyuruh sang sopir untuk mengantarkannya ke kantor sang papah terlebih dahulu, sang sopir menganggukkan kepalanya tanda mengerti akan perintah penumpangnya.
Taksi yang Clara tumpangi tiba di tujuannya, dan gadis itu langsung menuju ruangan sang papah. Tanpa menunggu lama Clara langsung masuk ke dalam ruangan tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu, "Mana surat yang harus aku urus?" ketus Clara saat dirinya sudah masuk kedalam ruangan sang papah.
"Duduklah dahulu," ajak sang papah.
Clara yang sebenarnya malas, mau tidak mau mendudukan dirinya di sofa yang tersedia di ruangan sang papah. "Ada apa lagi? Bukankah semuanya sudah aku turuti?" tanya Clara tanpa menatap wajah sang papah.
__ADS_1
"Maafkan papah nak, papah tahu papah salah tapi tidak ada jalan lain agar kalian bisa hidup layak," jelas papah Clara. Clara yang sedang asik memainkan ponsel miliknya mengalihkan pandangannya ke arah sang papah, terlihat wajah menyesal di sana, wajah yang penuh dengan kasih sayang dan tidak akan pernah pudar itu. Clara langsung berhambur memeluk sang papah, "Mafkan Clara pah, Clara tidak bermaksud membuat papah sedih. Clara hanya tidak sanggup menerima kenyataan ini pah," tangis yang coba di tahan oleh Clara akhirnya keluar juga.
Clara mencoba menerima kenyataan yang ada dan dia berusaha mencintai Andrew walaupun di dalam hatinya masih terdapat nama Bayu.