
"Maaf aku tidak bilang kalau di antar Kak Raditya tadi," kekeh Siska.
"Ampun Kak bukan aku, Kak Rian tuh," sanggah Andini. Rian yang merasa di pojokan oleh kedua adik sahabatnya itu berpura-pura sedih dan marah, "Kalian jahat."
Raditya yang melihat tidak bisa menahan tawanya lagi, "Tidak udah lebay gitu mukanya."
"Dit, cewek yang waktu itu bagaimana?" tanya Rian tiba-tiba. Raditya yang mengerti maksud sahabat itu tertawa mendengar pernyataan darinya, "Baik bahkan lebih baik dari awal bertemu," ucapnya sambil membayangkan wajah gadis itu.
Andini dan Siska terdiam mendengar cerita dua orang pria di depannya, "Mereka cerita apa ya Sis?" bisik Andini yang masih bisa terdengar oleh Raditya maupun Rian.
"Kakak kamu itu sedang jatuh cinta Din," ucap Rian yang langsung mendapatkan lemparan bantal sofa yang ada di ruangan itu.
"Jangan gosip kamu Yan," balas Raditya.
Rian berjalan ke arah mejanya, dia menyuruh salah satu karyawan untuk membuatkan minuman. Di saat mereka tengah asik bercanda, Reza datang menghampiri dengan sebuah kantung berisi makanan.
"Hallo semuanya," sapa Reza tanpa mengetuk pintunya terlebih dahulu.
"Kamu kok ada di sini? Bukannya ada rapat ya?" tanya Andini saat melihat sang suami duduk di sebelahnya.
Reza memeluk pinggang Andini, "Tuh bosnya ada di sini semua," ucap Reza tanpa menghiraukan tatapan mereka.
"Kasian sama jomblo yang satu nih," ledek Rian sambil berjalan ke arah Siska.
"Siapa yang jomblo?" tanya Raditya yang tidak terima dirinya di bilang jomblo.
Mereka semua tertawa mendengar ucapan Raditya hingga suara ketukan pintu membuat terdiam sejenak, "Permisi Pak," ucap seorang wanita yang masuk ke dalam ruangan Rian. "Ini pesanannya Pak," sambungnya sambil menaruh beberapa gelas minuman yang di pesan oleh Rian.
"Jangan di lihat, deketin saja," goda Rian yang melihat mata sahabatnya itu tidak berkedip saat salah satu karyawannya masuk ke dalam sana.
"Apaan sih kalian," gerutu Raditya.
"Yakin tidak mau aku kenalkan?" goda Rian.
__ADS_1
Raditya yang merasa terus di ejek memilih untuk pergi ke toilet, "Aku keluar sebentar."
"Mau kemana kamu Dit?" panggil Rian yang tidak bisa menahan tawanya melihat tingkah sahabatnya itu.
Raditya tidak menghiraukan ucapan Rian, pemuda itu terus jalan keluar ruangan, hingga tidak menyadari saat keluar dari toilet dirinya bertabrakan dengan gadis yang sempat membuatnya tertarik.
"Maaf," ucap Raditya.
"Tidak apa-apa Pak, saya yang seharusnya minta maaf tidak melihat Bapak," ujar gadis itu.
"Perkenalkan nama saya Raditya, boleh tahu nama kamu?" tanya Raditya yang tidak menghilangkan kesempatan untuk mengetahui nama gadis di depannya itu.
Dengan ragu gadis itu menyebutkan siapa namanya, "Lucy."
"Senang bertemu denganmu Lucy," ucap Raditya. Lucy hanya bisa tersenyum dan meminta izin untuk menyelesaikan pekerjaan yang sempat tertunda, "Saya permisi dahulu ya Pak, sekali lagi saya minta maaf."
Lucy berlalu meninggalkan Raditya yang terus memperhatikan hingga gadis itu hilang masuk ke dalam sebuah ruangan, senyum manis Raditya tercipta saat pria itu menyadari telah mengetahui nama gadis itu.
"Hello guys," sapa Raditya yang kembali masuk ke dalam ruangan Rian. Semua yang berada di ruangan itu seketika terdiam menatap aneh dengan kelakuan pria itu, "Kak kamu masih normal kan?" tanya Andini yang langsung memegang kening sang kakak.
"Siapa yang bilang Kakak tidak normal?" selidik Andini.
"Lah itu kamu pakai segala periksa suhu tubuh segala, maksudnya apa coba?" marah Raditya.
Andini terkekeh mendengar omelan sang kakak, "Habis pas masuk langsung senyum-senyum sendiri sih."
"Jangan marah dong Kakakku yang ganteng, aku cuma bercanda tadi," sambung Andini yang sudah takut akan kemarahan Raditya.
Rian dan Reza hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat kelakuan kakak beradik itu, "Kak tidak malu sama mereka?" tanya Siska sambil menunjuk dua orang pria di depannya.
Andini segera menghampiri sang suami, "Sudah mending kita makan saja yuk," ajak Reza sambil membuka bungkusan yang dia bawa tadi.
Rian dan Raditya terlibat percakapan kecil ketika menyantap makanannya, "Yakin tidak mau aku kenalkan dengan perempuan yang tadi?" bisik Rian. Raditya menghentikan makannya sebentar, "Tidak perlu," ucapnya.
__ADS_1
Mereka melanjutkan makan siangnya karena setelah ini mereka semua akan mengadakan rapat membahas kerjasama yang akan mereka bangun bersama, "Aku rapat dulu ya sayang," pamit Reza saat di rasa sudah waktunya mereka untuk membahas urusan kantor.
"Iya, aku tunggu di sini saja ya," pinta Andini. Reza mengiyakan permintaan sang istri untuk menunggu di ruangan pria yang pernah menaruh hati padanya, Reza tidak pernah mempermasalahkan hal itu lagi karena sekarang gadis sudah di miliki seutuhnya.
"Kak, aku bagaimana ini kalau bekerja di sini?" tanya Siska saat para pria sudah pergi meninggalkan mereka berdua.
"Memang ada masalah apa?" potong Andini.
Siska menjelaskan apa yang sedang dirinya takuti, "Tenang Rian baik dan karyawan di sini juga lumayan ramah," jawab Andini atas kegundahan hati sang adik.
Siska takut jika dirinya akan mendapatkan banyak cercaan karena dekat dengan bos mereka, apalagi sekarang dirinya di jadikan sekretaris oleh Rian.
"Jangan dengarkan omongan mereka, toh kenyataan kalau kalian memang dekat bukan?" ujar Andini kepada sang adik.
Siska menganggukkan kepalanya, "Tapi aku tetap takut Kak," ucapnya.
Andini kembali memberikan penjelasan kepada Siska, tidak mudah memang tapi berhasil juga pada akhirnya.
Suara ketukan pintu mengalihkan pandangan Andini dan Siska, hingga Andini mengizinkan untuk masuk ke dalam.
"Maaf Bu, ini dokumen yang di butuhkan oleh Pak Rian," ucap gadis itu sambil menyerahkan sebuah map kepadanya.
Andini memeriksa dokumen itu dengan teliti, "Iya siapa namamu?" tanya Andini. Karena selama ini Andini tidak pernah melihat gadis itu, "Saya Lucy Bu," jawabnya.
"Kamu baru bekerja di sini?" tanya Andini lagi. Lucy mengiyakan pertanyaan wanita di depannya itu, "Sini kita bicara dahulu," ajak Andini. Siska memperhatikan gadis yang bernama Lucy itu, "Cantik juga. Apa Rian akan suka dengannya?" tanya Siska dalam hati.
Siska merasa tidak nyaman saat melihat gadis itu, ada perasaan cemburu saat melihat ada wanita yang mendekati prianya.
"Maaf Bu, saya harus kembali bekerja lagi," tolak Lucy sopan. Andini memaklumi pekerjaan Lucy yang pasti sangat banyak, karena dirinya pernah berada di posisi itu.
Saat Lucy akan keluar dari ruangan itu, dirinya tidak sengaja bertemu dengan Raditya. Sesaat pandangan mata mereka bertemu, sekilas Raditya tersenyum saat kembali bertemu dengan gadis yang beberapa hari mengisi pikirannya.
"Tidak usah di lihat seperti itu, kalau suka katakan," bisik Rian yang mengetahui jika Raditya menyukai salah satu karyawannya.
__ADS_1
Jangan lupa like jempolnya ya, komen dan rate nya juga jangan ketinggalan apalagi vote nya. Terima kasih banyak 🤗🤗🤗🤗