MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 38 BELAJAR MENGERTI


__ADS_3

Andini yang tidak percaya akan kehadiran Reza disana berusaha menanyakan kepada para sahabatnya itu, mereka semua kompak menertawakan kepolosan Andini.


"Jadi kalian semua merencanakan ini semua?" tuduh Andini yang merasa seperti orang bodoh yang tidak tahu apa-apa saat ini, karena yang Andini tahu Reza akan kembali besok.


"Maaf ya Andini sayang, ini semua itu ide Beni," tunjuk Meli. Beni yang mendapat tatapan mengerikan dari Andini hanya bisa menggarukkan kepalanya yang tidak gatal itu.


"Maaf," ucap Beni yang sebenarnya tidak tega membohongi sahabatnya itu. Tapi mau bagaimana lagi Beni hanya ingin Andini tersenyum kembali seperti saat ini.


"Kalau bukan karena persahabatan kita Ben, mungkin aku sudah tidak bisa menahan emosiku saat ini."


"Tapi kamu bahagiakan Andini?" tanya Meli yang langsung mendapatkan anggukan kepala dari Andini, mereka tersenyum bahagia karena rencana mereka berhasil.


"Kita lanjut yuk naik permainan lainnya," ajak Dika yang daritadi hanya terdiam menatap percakapan antara mereka. Apalagi sepertinya Dika mulai menaruh hati terhadap salah satu dari sahabat Andini itu, dia ingin menyakinkan hatinya terlebih dahulu.


Mereka melanjutkan menaiki beberapa wahana permainan yang tersedia disana. Reza merasa bahagia saat melihat tawa lepas Andini ketika menaiki salah satu wahana *ekstrem *yang ada disana, terlihat wajah takut dan bahagia terpancar dari raut wajah Andini. Setelah dirasa lelah bermain, mereka bergegas pergi meninggalkan arena taman bermain itu dan kembali kerumah masing-masing. Reza meminta izin kepada Beni untuk meminjam mobilnya, Beni menyerahkan kunci mobilnya kepada Reza. Reza  segera mengajak Andini untuk pulang bersamanya, awalnya Andini menolak ajakan Reza karena dia merasa tidak enak dengan teman-temannya yang lain.


"Kamu kemana saja Kak, tidak ada kabar selama kamu disana?" tanya Andini saat mobil yang mereka naiki mulai meninggalkan parkiran taman bermain itu.


"Aku sedang mencoba untuk menahan rindu sama kamu Andini, aku sedang berusaha apakah bisa aku jauh dari kamu," jelas Reza sambil menatap wajah Andini yang juga sedang menatapnya balik. "Tapi ternyata aku tidak sanggup jauh dari kamu Andini, tanpa kamu tahu aku selalu menanyakan kabarmu sama Beni. Makanya dia tidak memberitahu siapapun kalau aku bisa pulang lebih cepat dari jadwal seharusnya, dan juga ini semua Beni yang merencanakan agar kamu bisa tersenyum kembali," ujar Reza yang menjelaskan semuanya.


Andini yang mendengar pernyataan Reza merasa bahagia bisa dicintai dengan amat sangat oleh lelaki itu, Andini berharap semoga perasaan Reza tidak akan pernah berkurang padanya disaat harus berjauhan nanti.


"Kita makan dulu ya disana," ajak Reza sambil menunjuk cafe didepannya. Andini mengiyakan ajakan Reza karena sebenarnya dia juga sudah mulai merasa lapar pada perutnya itu.

__ADS_1


Reza segera memarkirkan mobilnya itu, dan bergegas membukakan pintu mobil samping Andini sebelum perempuan itu keluar terlebih dahulu. Andini yang merasa di istimewakan tersenyum melihat tingkah Reza yang tidak biasa itu, dia merasakan perasaan yang sangat bahagia hari ini.


"Silakan keluar Tuan Putri," ucap Reza sambil memeragakan bagai pengawal yang sedang mengawal Ratunya itu.


"Terima kasih," ujar Andini dengan senyum cerianya. Reza segera menutup pintu mobilnya dan menggandeng tangan Andini untuk mengajaknya masuk kedalam cafe tersebut, Reza mengedarkan pandangannya kedalam cafe untuk mencari bangku yang kosong. Setelah melihat bangku kosong, Reza segera menarik bangku tersebut agar Andini bisa duduk disana. Tak lama seorang pelayan menghampiri mereka berdua, Reza memesankan makanan kesukaan Andini yang tersedia di cafe itu.


Selama menunggu pesanannya tiba Reza menceritakan kegiatannya selama di London kemarin, dia juga menceritakan bahwa dia sangat merindukan perempuan itu. Andini yang mendengarnya hanya bisa tersenyum dan memalingkan wajahnya, dia malu jika Reza melihat wajahnya yang bersemu merah. Saat pesanan mereka tiba, Reza dan Andini langsung menikmati dengan di selingi obrolan ringan. Setelah menyelesaikan makannya Reza mengajak Andini bergegas pulang.


"Kak, nanti mampir ketukang martabak depan komplek ya," pinta Andini yang ingin membelikan buah tangan untuk keluarganya.


"Siap nyonya," ledek Reza. Andini yang mendengarnya langsung mencubit lengan Reza.


"Aw aw aw, sakit sayang," rintih Reza sambil mengusap lengannya yang sedikit sakit. "Kamu kok jahat banget sih sama pacar sendiri," sambung Reza dengan nada memelas. Andini yang mendengarnya tidak bisa menahan tawanya, dia menertawakan Reza yang menurutnya sedikit manja itu.


"Sakit tahu, main tarik saja nanti kalau copot bagaimana?" tanya Andini, Reza yang mendengarnya hanya bisa tertawa terbahak-bahak.


"Mana bisa copot sih, emang itu hidung palsu hmmm?" goda Reza.


"Enak saja ini asli tahu," seru Andini. Mereka pun berhenti tepat di depan tukang martabak langganan Andini. Andini segera memesan martabak kesukaannya itu.


"Mang martabak biasa ya 2," ucap Andini kepada Mamang penjual martabak.


"Siap Neng, kemana saja jarang kelihatan? Eh tumben ditemenin cowok cakep Neng, biasanya sama Bang Radit," tanya si Mamang yang penasaran karena Andini biasa diantar oleh Kakak laki-lakinya itu.

__ADS_1


"Si Mamang kepo deh," protes Andini.


"Maaf Neng, habis Mamang penasaran sama cowok yang dateng sama Eneng," kekeh Mamang tukang martabak.


Mamang penjual martabak yang sudah tahu selera Andini segera membuatkan pesanan perempuan itu, Reza yang mendengar percakapan antara penjual martabak dan Andini hanya bisa tersenyum menanggapinya. Sekarang Reza mulai memahami apa yang di inginkan oleh perempuan itu, termasuk makanan kesukaannya. Reza mengantarkan Andini sampai depan rumahnya, awalnya Reza ingin mampir terlebih dahulu tetapi panggilan telepon dari Beni membuat Reza mengurungkan niatnya.


"Aku langsung pulang ya," ucap Reza setelah mengangkat panggilan Beiani.


"Tumben tidak mau mampir dulu?"


"Iya barusan Beni telepon, dia mau ngambil mobilnya," jawab Reza.


Reza kembali memasuki mobilnya dan berlalu meninggalkan Andini, Andini segera masuk kedalam rumahnya ketika dia sudah tidak melihat mobil yang Reza kendarai. Andini menghampiri keluarganya yang sedang berada di ruang keluarga itu, mereka sedang menonton televisi ketika Andini pulang.


"Assalamualaikum, aku pulang," salam Andini seraya memasuki ruang keluarga rumahnya.


"Waalaikumsalam," jawab mereka serempak.


"Dari mana De baru pulang?" tanya Kak Raditya sambil menatap bungkusan yang ada di tangan Andini. "Bawa apa tuh De, sini bagi dong," seru Kak Raditya sambil merebut bingkisan yang ada ditangan Andini.


"Giliran makanan saja kamu cepat Kak," ledek Andini. Ayah dan Ibu hanya tertawa melihat perdebatan kedua anaknya itu.


"Kak jangan dihabiskan," rengek Andini ketika martabak kesukaannya diambil oleh Kak Raditya.

__ADS_1


"Jangan pelit-pelit De sama Kakak sendiri," ledek Kak Raditya sambil menaruh martabak tersebut dimeja depannya . Mereka menikmati martabak tersebut sambil menonton televisi dan di selingi obrolan ringan, canda dan tawa tak lepas dari keluarga itu.


__ADS_2