
Reza yang sudah rapih dengan kemeja kerjanya mengajak Andini untuk segera bergegas sarapan, "Ayo sayang."
Andini mengikuti sang suami dari belakang, terlihat seluruh keluarga Reza sudah berkumpul di sana.
"Kak Rini, kapan sampai?" tanya Reza saat melihat sang kakak yang tiba-tiba muncul.
"Tadi malam," jawab Rini.
"Sudah sarapan dahulu nanti kita lanjutkan lagi," ucap Lili.
"Aku berangkat ke kantor dulu ya," pamit Reza kepada sang Mamah setelah menyelesaikan sarapannya. Lili menganggukkan kepala, "Hati-hati," pesannya.
Andini yang melihat sang suami sudah menyelesaikan sarapannya bergegas menuju kamar untuk mengambi tas kerja Reza, "Jangan pulang dahulu sebelum aku datang menjemput," perintah Reza saat Andini menyerahkan tas kerjanya.
"Iya nanti aku tunggu sampai kamu datang menjemputku," ujar Andini.
"Aku berangkat duluan, ada rapat penting hari ini. Kamu tidak apa-apa kan naik taxi online nanti?" tanya Reza. Sebenarnya pria itu ingin sekali mengantarkan sang istri pergi bekerja tetapi, rapat hari ini lumayan penting untuk nasib perusahaannya ke depan
"Iya nanti aku naik taxi online saja," jawab Andini lembut.
Andini kembali mengingat tentang perdebatan kecil antara dirinya dan Reza semalam tapi semua berjalan dengan baik, pada akhirnya Reza mau tidak mau mengizinkan Andini untuk kembali bekerja di sana dengan satu perjanjian.
"Jangan lupa pesan aku ya sayang, aku berangkat dahulu," pamit Reza. Andini mengantarkan sang suami yang baru seminggu menikahinya, sampai mobil yang di kendarai Reza tidak terlihat lagi.
"Sini sayang kita mengobrol sebentar," ajak Lili saat melihat Andini melewati ruangan di mana dirinya dan sang anak sedang duduk berbincang-bincang.
Andini mengiyakan permintaan mertuanya itu dan dia duduk di sebelah Rini, "Halo sayang," sapa Andini kepada anak yang berada dalam gendongan kakak iparnya itu.
"Kamu masih bekerja Din," tanya Rini.
Andini yang semula sedang mengajak main sang keponakan segera menjawab pertanyaan Rini tanpa mengalihkan pandangan dari anak kecil yang imut dan menggemaskan itu, "Masih Kak."
"Kenapa tidak berhenti Din, memang uang dari Reza kurang?" tanya Rini. Andini yang mendengar pernyataan Rini hanya bisa pasrah dan mencoba menahan amarahnya, "Cukup kok Kak," ucap Andini.
__ADS_1
"Kalau cukup kenapa masih bekerja?" lagi-lagi pertanyaan Rini membuatnya tidak nyaman.
"Maaf Mah, Kak aku harus berangkat bekerja dahulu," pamit Andini. Lili hanya bisa menggelengkan kepalanya saat Andini sudah berlalu meninggalkan mereka berdua, "Kamu ya Rin jangan seperti itu sama adik iparmu pasti dia punya alasan untuk itu semua," jelas Lili yang mencoba memberi pengertian kepada sang anak.
"Tapi Mah kapan mereka akan punya anak kalau sama-sama sibuk," protes Rini.
Lili mengerti maksud dari anaknya itu tetapi, dia juga harus menghargai keputusan anak dan menantunya.
Lili mencoba mengalihkan pembicaraan yang ada, "Bagaimana kabar suami kamu di sana?" tanya Lili mencoba mencairkan suasana yang sempat menegang tadi.
"Baik Mah, Ayah sendiri bagaimana perusahaannya?"
"Ya lumayan, kamu tahu sendiri Reza tidak mau meneruskan perusahaan Ayah malah lebih memilih membuka perusahaan baru," jelas Lili sedih.
Percakapan mereka terjeda saat Andini datang menghampiri, "Aku pamit dulu ya Mah, Kak," ucapnya sambil menyalami tangan sang mertua dan kakak ipar.
"Kamu berangkat naik apa Din?" tanya Lili.
"Aku sudah pesan taxi online Mah," jawabnya.
"Terima kasih bi,'' ucap Andini.
Andini berjalan menuju taxi yang sudah di pesannya, dia harus segera sampai di kantor sebelum Rian datang.
"Duh pengantin baru kemana saja jam segini baru tiba?" tanya Rian yang sudah menunggu Andini dari tadi di ruangannya.
"Tuh kan pasti aku di ledek," ucap Andini cemberut. Rian tidak bisa menahan tawanya, pria itu tidak henti-hentinya menggoda Andini.
"Sudahlah Kak, aku datang ke sini untuk bekerja bukan menjadi badutmu," ketus Andini.
"Iya maaf," ucap Rian yang mencoba menahan tawanya. "Din sepertinya kamu akan Kakak pecat dan di gantikan oleh orang baru," sambung Rian. Andini terdiam saat Rian mengatakan bahwa dirinya akan di pecat dan di gantikan oleh orang lain, "Apa ada yang salah?" Tanyanya dalam hati.
"Tidak usah bengong seperti itu, kamu pasti kenal dengan gadis yang akan menggantikan posisi kamu di sini," jelas Rian.
__ADS_1
"Apa aku berbuat kesalahan ya Kak?" tanya Andini yang tidak percaya jika dirinya harus berhenti bekerja.
"Bukan begitu maksud Kakak Din, kamu jangan salah paham dahulu," pinta Rian yang tidak nyaman saat mengatakan itu semua.
"Lalu apa yang menyebabkan Kakak harus mencari pengganti aku di sini?" tanya Andini. Gadis itu masih tidak mengerti dengan apa yang terjadi saat ini, hingga Rian menceritakan semuanya.
"Reza ingin kamu membantu di perusahaan Ayahnya, oleh karena itu Kakak mencarikan pengganti untuk posisimu ini," tutur Rian.
"Siapa Kak yang menggantikan posisi aku?" tanya Andini penasaran, tak berselang lama ketukan di pintu membuat Andini melupakannya sejenak.
"Siska," panggil Andini saat orang yang baru saja mengetuk pintu itu masuk.
"Kak Dini," jawab Siska yang sebenarnya sudah mengetahui jika dirinya akan menggantikan pekerjaan sang kakak di perusahaan Rian.
"Jangan bilang kalau ...," ucap Andini sambil menunjuk ke arah Rian dan juga Siska. Orang yang di tunjuk Andini hanya menganggukkan kepalanya, "Iya Kak," kekeh Siska saat tahu maksud dari kakak tersayangnya itu.
"Astaga, sejak kapan kalian itu bisa dekat?" tanya Andini yang terkejut dengan status dua orang di depannya.
Rian menggaruk tengkuknya yang tidak gatal, Siska hanya bisa menahan malu saat sang kakak mulai menginterogasinya.
"Cepat ceritakan kepadaku apa yang sebenarnya terjadi?" cecar Andini.
Rian yang awalnya hanya tertawa, perlahan menceritakan semuanya. Hanya kejadian waktu Siska di Bogor yang tidak pria itu ceritakan, karena menurut Rian itu semua lebih baik di lupakan.
"Jadi kalian sudah kenal sejak lama?" tanya Andini sambil menggelengkan kepalanya. Gadis itu tidak percaya jika dunia sesempit ini, "Maaf ya Kak," ucap Siska yang merasa tidak enak karena menyembunyikan semuanya dari sang kakak.
"Maaf untuk apa Sis? Kakak malah bahagia akhirnya kamu bisa membuka hati untuk seseorang," ucapan Andini membuat Siska seketika menundukkan wajahnya. Gadis itu merasa malu apalagi dengan masa lalunya yang terbilang cukup tidak baik, tapi dia berusaha untuk melupakan semuanya.
"Aku berharap yang terbaik untuk kalian dan segera menyusulku," ucap Andini.
"Raditya saja dulu kasian itu jomblo satu," ujar Rian yang langsung membuat Siska dan Andini tertawa mendengarnya.
"Kenapa aku?" tanya Raditya yang tiba-tiba muncul di tengah-tengah mereka. Rian dan Andini terkejut dengan kedatangan sang kakak, Siska tertawa saat melihat perubahan wajah Rian maupun Andini.
__ADS_1
Jangan lupa like , komen, rate dan vote nya ya. Di tunggu loh sama aku🤭🤭🤭🤭