MUNGKINKAH KAU JODOHKU

MUNGKINKAH KAU JODOHKU
BAB 64 KEJUJURAN


__ADS_3

Rian segera melajukan mobilnya menuju ke arah rumah Reza, pria itu akan menitipkan gadis yang amat dia cintai itu kepadanya.


Tok tok tok


Rian mencoba mengetuk pintu rumah itu berkali-kali, namun tidak ada tanda-tanda jika rumah itu berpenghuni. Di saat Rian akan meninggalkan teras rumah itu, sebuah mobil memasuki pekarangan rumah. Tak lama orang yang di dalam mobil keluar, Reza merasa heran melihat Rian yang berada di rumahnya.


"Maaf ada yang bisa saya bantu?" tanya Reza, pria itu merasa heran mengapa Rian datang ke rumahnya.


"Bisa kita bicara sebentar? Ini soal Andini," ucap Rian.


Reza mempersilakan Rian untuk masuk ke dalam rumahnya, "Silakan masuk, dan tunggu sebentar," ucapnya. Rian mendudukkan dirinya di sofa yang berada di sana, sambil menunggu Reza kembali Rian melihat sekeliling ruangan itu. "Nyaman sekali di sini," gumam Rian.


"Ini silakan diminum," perintah Reza sambil menaruh segelas jus untuk Rian. "Kamu ingin berbicara apa?" tanya Reza yang masih penasaran dengan kedatangan pria itu di rumahnya.


"Apa perasaanmu untuk Andini masih ada?" tanya Rian yang tidak ingin membuang-buang waktu.


"Kenapa kamu bertanya seperti itu? Bukankah kamu sudah menjadi kekasih Andini sekarang?" tanya Reza yang tidak mengerti kenapa Rian menanyakan tentang perasaannya terhadap Andini, akankah harus di jawab atau dia harus berbohong.


"Buat apa kita menjadi kekasih tapi hatinya dia tetap sama kamu Reza," tutur Rian sambil mengingat tentang Andini yang mencurahkan semua isi hatinya semalam. Rian menyadari mencintai seseorang itu tidak harus memiliki, karena belum tentu orang yang kita cintai akan mencintai kita juga.


"Apa maksudmu?" tanya Reza yang masih tidak mengerti dengan perkataan Rian.


"Kembalilah kepada Andini Za, aku yakin hanya kamu yang di inginkan Andini," ujar Rian yang membuat Reza diam terpaku dengan pernyataan pria di depannya itu."


"Apa kamu sudah tidak waras menyerahkan kekasihnya kepada orang lain?" geram Reza yang tidak habis fikir dengan isi kepala pria itu.


"Aku dan dia sudah tidak memiliki hubungan apapun, dia ingin kembalikan kepadamu Za, kesalahan terbesar aku adalah memaksa dia untuk menerima aku padahal aku tahu hati dia hanya untukmu Za," jelas Rian yang sudah tidak tahan dengan pria itu.

__ADS_1


"Lalu apa yang harus aku lakukan sekarang?" tanya Reza, Reza menceritakan tentang acara lamaran dirinya yang gagal saat pernikahan Beni berlangsung.


"Maaf, saya tidak tahu kalau kamu akan melamar Andini," ucap Rian yang merasa tidak enak karena menghalangi hubungan mereka berdua.


"Sebenarnya perasaan kamu ke Andini seperti apa sih?" tanya Reza yang merasa penasaran dengan perasaan Rian kepada Andini.


"Susah di jelaskan bagaimana perasaan aku kepada Andini, kalau boleh jujur aku suka dengan Andini pada saat bertemu di puncak beberapa tahun yang lalu," terang Rian menceritakan tentang pertama kali dirinya menyukai Andini. "Tapi selama aku dekat dengan Andini tidak pernah sekalipun dia menerima aku, baru kemarin dia menerima aku. Mungkin karena dia merasa kasihan melihat aku yang selalu dia tolak jadi hari itu dia mau menerimaku, tapi ternyata hatinya tetap pada dirimu Za," tutur Rian yang merasa bodoh karena harus memaksakan perasaannya saat ini.


"Apa kamu rela jika aku bersama dengan Andini?" tanya Reza.


"Rela tidak rela aku harus merelakan Andini untukmu Za, karena sepertinya dia hanya menginginkan dirimu," ucap Rian. Setelah di rasa cukup Rian pamit pulang karena banyak pekerjaan menanti.


Reza terus memikirkan bagaimana perasaannya saat ini, karena dirinya sempat kecewa saat Andini menolaknya kemarin. "Apa yang harus aku lakukan sekarang," ucapnya saat berada di dalam kamar.


Reza terbangun saat ponselnya miliknya berdering, satu pesan masuk dari Fahmi yang menyuruh dirinya untuk segera datang ke cafe tempat biasa mereka bertemu. Reza langsung mengambil kunci mobil miliknya, di lantai bawah terdapat ayah dan ibunya yang sedang berbincang-bincang. "Mau keman kamu malam-malam Za," tanya ayah.


Selama di perjalanan Reza menerka-nerka apa yang ingin di bicarakan oleh Fahmi, Reza memarkirkan mobilnya setelah tiba di cafe tempat Fahmi sedang menunggunya.


Reza segera mencari keberadaan sahabatnya itu, setelah melihat di mana Fahmi berada Reza bergegas menghampiri. "Ada apa Mi kamu mau bertemu," tanyanya saat berada di hadapannya Fahmi.


"Duduk dahulu baru kamu tanya," perintah Fahmi dan Reza menurutinya. "Kamu mau pesan apa?" sambung Fahmi.


"Tidak usah repot-repot, aku cuma sebentar saja. Memang apa yang akan kamu bicarakan Fahmi?" tanya Reza yang tidak sabar dengan cerita Fahmi, "Pesan minum dahulu lah biar lebih santai berbicaranya," ujar Fahmi yang langsung memanggil pelayan untuk membuatkan sahabatnya itu minuman.


"Ini masalah yang lumayan serius menurutku Za, karena menyangkut soal masalah Andini," ucap Fahmi sambil meminum minuman miliknya.


"Ada apa dengan Andini?" tanya Reza.

__ADS_1


"Apa kamu tidak tahu jika Andini malam ini akan berangkat ke Inggris, dia mendapat tawaran pekerjaan di sana," tutur Fahmi dengan tenang. Karena pada awalnya dirinya tidak ingin memberitahu tentang masalah ini, tapi dia sendiri tidak tega jika sang sahabat harus kembali menahan rasa rindu yang pernah dirinya rasakan beberapa tahun lalu.


Reza yang mendengar berita dari Fahmi seketika terkejut, "Kamu jangan bercanda Mi," ucapnya tidak percaya. "Andini masih menjadi karyawan di kantorku Mi dan aku juga belum mendapatkan surat pengunduran diri darinya," sambung Reza yang tidak percaya dengan pernyataan Fahmi.


"Sekarang kamu minum dahulu dan segera telepon asisten pribadi kamu," perintah Fahmi sambil memberikan minuman untuk Reza.


Reza meminum sedikit minuman itu dan segera mengambil ponsel di saku celananya, dia segera menghubungi Surya asisten pribadi dirinya.


"Surya apakah ada surat pengunduran diri dari karyawan atas nama Andini?" tanya Reza yang langsung memberi pertanyaan setelah tersambung dengan asistennya itu.


"Ada Pak, suratnya ada di atas meja Bapak dari dua hari lalu," ucap Surya yang merasa heran karena surat itu sudah beberapa hari berada di meja bosnya. "Memang ada apa ya Pak?" sambungnya, belum sempat mendapatkan jawaban panggilan itu segera di matikan oleh Reza. Surya langsung menaikkan sebelah alisnya, ada apa dengan bos nya itu.


"Kamu benar Mi, dia memberikan surat pengunduran diri sudah dua hari yang lalu tapi aku tidak pernah sempat membukanya," ucap Reza yang merasa bingung harus melakukan apalagi. " Jam berapa dia berangkat Mi?" sambung Reza yang akan menyusul Andini.


Fahmi segera melihat jam yang melekat di tangannya, " 10 menit lagi pesawatnya akan berangkat dan kamu tidak mungkin punya waktu kesana Za," ujar Fahmi yang sudah geram dengan sahabatnya itu. Karena sebenarnya sudah dari sore dirinya mencoba menghubungi Reza tapi tidak ada jawaban dari dirinya.


"Kenapa tidak bilang dari tadi Mi," ucap Reza sambil mengacak-acak rambutnya.


"Aku sudah menghubungi kamu dari 2 jam yang lalu Za, tapi tidak ada jawaban dari kamu dan saat ini aku baru saja mengantarkan Bela dan Yani untuk mengantarkan Andini," tuturnya. "Sebenarnya sebelum aku ke sini Andini memberi pesan jangan memberi tahukan jika dia harus pergi beberapa tahun untuk mengejar mimpi dan cita-citanya," sambung Fahmi.


Reza yang merasa bersalah tidak dapat berkata lagi, dirinya menyesal tidak bisa menjadikan Andini milik kembali.


Happy reading, terima kasih sudah mampir membaca ceritaku.


Mohon like nya jangan lupa ya, komen dan vote nya juga di tunggu.


Terima kasih 🤗🤗🤗🤗🤗😊😊😊😊

__ADS_1


__ADS_2